Posted by : Joko
6 Apr 2016
Episode berikutnya dalam sejarah kemenangan kaum
muslimin di bawah bimbingan kenabian yang terjadi di bulan Ramadhan adalah
Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah). Peristiwa ini terjadi pada tahun delapan
Hijriyah. Dengan peristiwa ini, Allah SWT menyelamatkan kota Makkah dari
belenggu kesyirikan dan kedhaliman, menjadi kota bernafaskan Islam, dengan ruh
tauhid dan sunnah. Dengan peristiwa ini, Allah SWT mengubah kota Makkah yang
dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang
keimanan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
SEBAB TERJADINYA
Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin
Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota
kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Termasuk diantara nota
perjanjian adalah siapa saja diizinkan untuk bergabung dengan salah satu kubu,
baik kubu Rasulullah saw dan kaum muslimin Madinah atau kubu orang kafir
Quraisy Makkah. Maka, bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Rasulullah saw dan
suku Bakr bergabung di kubu orang kafir Quraisy. Padahal, dulu di zaman
Jahiliyah, terjadi pertumpahan darah antara dua suku ini dan saling bermusuhan.
Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan
senjata.
Namun, secara licik, Bani Bakr menggunakan kesempatan
ini melakukan balas dendam kepada suku Khuza’ah. Bani Bakr melakukan serangan
mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah ketika mereka sedang di mata air
mereka. Secara diam-diam, orang kafir Quraisy mengirimkan bantuan personil dan
senjata pada Bani Bakr. Akhirnya, datanglah beberapa orang diantara suku Khuza’ah
menghadap Rasulullah saw di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan
yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dan Bani Bakr.
Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar
perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui
isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar
kepada Rasulullah saw, namun beliau tidak menanggapinya dan tidak
memperdulikannya. Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar ra agar mereka
memberikan bantuan untuk membujuk Rasulullah saw. Namun usahanya ini gagal.
Terakhir kalinya, dia menemui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar
memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Rasulullah saw. Untuk kesekian
kalinya, Ali pun menolak permintaan Abu Sufyan. Dunia terasa sempit bagi Abu
Sufyan, dia pun terus memelas agar diberi solusi.
Kemudian, Ali memberikan saran,
“Demi Allah, Aku tidak mengetahui sedikit pun solusi
yang bermanfaat bagimu. Akan tetapi, bukankah Engkau seorang pemimpin Bani
Kinanah? Maka, bangkitlah dan mintalah sendiri perlindungan kepada orang-orang.
Kemudian, kembalilah ke daerahmu.”
Abu Sufyan berkata,
“Apakah menurutmu ini akan bermanfaat bagiku?”
Ali menjawab,
“Demi Allah, aku sendiri tidak yakin, tetapi aku tidak
memiliki solusi lain bagimu.”
Abu Sufyan kemudian berdiri di masjid dan berkata,
“Wahai manusia, aku telah diberi perlindungan oleh
orang-orang!”
Lalu dia naik ontanya dan beranjak pergi.
Dengan adanya pengkhianatan ini, Rasulullah saw
memerintahkan para shahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang.
Beliau mengajak semua shahabat untuk menyerang Makkah.
Beliau bersabda,
“Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak
mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”
Dalam kisah ini ada pelajaran penting yang bisa
dipetik, bahwa kaum muslimin dibolehkan untuk membatalkan perjanjian damai
dengan orang kafir. Namun pembatalan perjanjian damai ini harus dilakukan
seimbang. Artinya tidak boleh sepihak, tetapi masing-masing pihak tahu sama
tahu. Allah berfirman,
“Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan
dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan
sama-sama tahu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
(Qs. Al Anfal: 58)
KISAH HATIB BIN ABI BALTA’AH
Untuk menjaga misi kerahasiaan ini, Rasulullah saw
mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu
Khasyab dan Dzul Marwah pada awal bulan Ramadhan. Hal ini beliau lakukan agar
ada anggapan bahwa beliau hendak menuju ke tempat tersebut. Sementara itu, ada
seorang shahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat untuk
dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan
Rasulullah saw menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Surat ini
beliau titipkan kepada seorang wanita dengan upah tertentu dan langsung
disimpan di gelungannya. Namun, Allah Dzat Yang Maha Melihat mewahyukan kepada
NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau-pun mengutus Ali dan Al Miqdad
untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.
Setelah Ali berhasil menyusul wanita tersebut, beliau
langsung meminta suratnya. Namun, wanita itu berbohong dan mengatakan bahwa
dirinya tidak membawa surat apapun. Ali memeriksa hewan tunggangannya, namun
tidak mendapatkan apa yang dicari. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah shallallahu
‘alahi wa sallam tidak bohong. Demi Allah, engkau keluarkan surat itu atau kami
akan menelanjangimu.”
Setelah tahu kesungguhan Ali radhiyallahu ‘anhu,
wanita itupun menyerahkan suratnya kepada Ali bin Abi Thalib.
Sesampainya di Madinah, Ali langsung menyerahkan surat
tersebut kepada Rasulullah saw. Dalam surat tersebut tertulis nama Hatib bin
Abi Balta’ah. Dengan bijak Rasulullah saw menanyakan alasan Hatib. Hatib bin
Abi Balta’ah pun menjawab:
“Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi
Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan
tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku
bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara
tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang
bersama Anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku
ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana.”
Dengan serta merta Umar bin Al Khattab menawarkan
diri,
“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya,
karena dia telah mengkhianati Allah dan RasulNya serta bersikap munafik.”
Rasulullah saw dengan bijak menjawab,
“Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar… (Allah
berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah
Saya ampuni.”
Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, “Allah
dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Demikianlah maksud hati Hatib. Beliau berharap dengan
membocorkan rahasia tersebut bisa menarik simpati orang Quraisy terhadap
dirinya, sehingga mereka merasa berhutang budi terhadap Hatib. Dengan keadaan
ini, beliau berharap orang Quraisy mau melindungi anak dan istrinya di Makkah.
Meskipun demikian, perbuatan ini dianggap sebagai bentuk penghianatan dan
dianggap sebagai bentuk loyal terhadap orang kafir karena dunia. Tentang kisah
shahabat Hatib radhiyallahu ‘anhu ini diabadikan oleh Allah dalam firmanNya,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada
mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya
mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir
Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (Qs. Al
Mumtahanah: 1)
Satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah
Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu adalah bahwa sesungguhnya orang yang
memberikan loyalitas terhadap orang kafir sampai menyebabkan ancaman bahaya
terhadap Islam, pelakunya tidaklah divonis kafir, selama loyalitas ini tidak
menyebabkan kecintaan karena agamanya. Pada ayat di atas, Allah menyebut orang
yang melakukan tindakan semacam ini dengan panggilan, “Hai orang-orang yang
beriman……” Ini menunjukkan bahwa status mereka belum kafir.
PASUKAN MUSLIMIN BERGERAK MENUJU MAKKAH
Kemudian, Rasulullah saw keluar Madinah bersama 10.000
shahabat yang siap perang pada tanggal 10 Ramadhan 8 H. Beliau memberi Abdullah
bin Umi Maktum tugas untuk menggantikan posisi beliau di Madinah. Di tengah
jalan, beliau bertemu dengan Abbas, paman beliau bersama keluarganya, yang
bertujuan untuk berhijrah dan masuk Islam. Kemudian, di suatu tempat yang
disebut Abwa’, beliau berjumpa dengan sepupunya, Ibnul Harits dan Abdullah bin
Abi Umayah. Ketika masih kafir, dua orang ini termasuk diantara orang yang
permusuhannya sangat keras terhadap Rasulullah saw. Dengan kelembutannya,
Rasulullah saw menerima taubat mereka dan masuk Islam.
ABU SUFYAN MASUK ISLAM
“Abu Sofyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib dan
Abdullah bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah juga bertemu Rasulullah saw di Niqul
Uqab, daerah di antara Makkah dengan Madinah. Keduanya ingin masuk menemui
Rasulullah saw kemudian Ummu Salamah berkata kepada beliau tentang keduanya.
Ummu Salamah berkata,
‘Wahai Rasulullah, inilah anak paman dan bibimu, serta
keluargamu’.
Rasulullah bersabda,
“Aku tidak punya kepentingan dengan keduanya. Adapun
anak pamanku, ia telah merusak kehormatanku. Sedang anak bibiku dan keluargaku,
ia pernah mengatakan sesuatu tentang diriku di Makkah”
Ketika sabda Rasulullah disampaikan kepada keduanya,
Abu Sofyan bin Al-Harits –ketika itu membawa anak kecilnya– berkata,
“Demi Allah, Muhammad harus mengizinkan aku masuk.
Jika tidak, aku akan membawa anak kecil ini, kemudian kami berkelana ke dunia
hingga kami mati karena lapar dan haus”.
Ketika Rasulullah mendengar ucapan Abu Sofyan bin
Al-Harits tersebut, beliau terketuk hatinya, kemudian mengizinkan keduanya
masuk menemui beliau. Keduanya pun masuk dan mengucapkan salam kepada beliau”.
“Abu Sofyan bin Al-Harits menyatakan ke-Islamannya dan
permohonan maafnya akan dosa-dosa masa silamnya,
‘Aku bersumpah, ketika aku membawa bendera perang musyrik
Pasukan berkuda Lata mengalahkan pasukan berkuda Muhammad
Aku seperti orang yang berjalan di malam hari yang gelap dalam keadaan bingung
Dan sekarang aku telah mendapatkan petunjuk dan diberi petunjuk
Aku diberi petunjuk oleh pemberi petunjuk selain diriku
Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkanku
Dulu aku bersungguh-sungguh menghalang-halangi manusia dari Muhammad
Aku tetap dihormati kendati aku tidak bergabung dengan Muhammad
Bukan orang musyrik namanya bila tidak berkata dengan hawa nafsu
Kendati ia punya pikiran kotor dan berkata dusta
Aku ingin keridhaan mereka
Dan aku tidak dekat dengan kaum jika aku tidak diberi petunjuk di semua tempat
Katakan kepada Tsaqif, aku tidak ingin menyerang kalian
Dan katakan kepada Tsaqif, silakan ancam orang selain aku
Aku tidak ikut dalam pasukan yang menangkap Amir
Itu bukan ulah lisan dan tanganku
Kabilah-kabilah datang dari tempat jauh
Mereka datang dari Saham dan Surdad (nama tempat di wilayah ‘Ikk)’.”
“Para ulama mengatakan bahwa ketika Abu Sofyan bin
Al-Harits melantunkan bait syair berikut kepada Rasulullah, ‘Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkanku,
beliau menepuk dadanya, kemudian bersabda, ‘Engkaulah orang yang pernah
mengusirku?’”
Ketika Rasulullah saw berhenti di Marru Adz-Dzahran,
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Hati-hatilah hai orang-orang Quraisy
pagi ini. Demi Allah, jika Rasulullah memasuki Makkah dengan kekerasan dan
sebelum itu mereka (orang-orang Quraisy) tidak datang meminta jaminan keamanan
kepada beliau, maka itu adalah kehancuran mereka sepanjang zaman”.
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata,
“Setelah itu, aku duduk di atas Baghal milik Rasulullah yang berwarna putih dan keluar
dengan menaikinya. Ketika aku tiba di pohon ‘Arak, aku berkata, ‘Mudah-mudahan
aku dapat bertemu salah seorang pencari kayu bakar, atau penggembala unta, atau
penggembala kambing, atau orang yang mempunyai keperluan pergi ke Makkah, yang
bisa menjelaskan kepada mereka keberadaan Rasulullah, kemudian mereka datang
kepada beliau untuk meminta jaminan keamanan kepada beliau sebelum beliau
memasuki ke tempat mereka dengan kekerasan”.
Demi Allah, aku terus berjalan di atas baghal milik
Rasulullah dan mencari salah satu dari orang yang aku cari. Tiba-tiba aku
mendengar ucapan Abu Sofyan bin Harb dan Budail bin Warqa’ yang sedang tukar
pendapat. Abu Sofyan bin Harb berkata, “Aku tidak pernah melihat api dan markas
tentara seperti pada malam ini”.
Budail bin Warqa’ berkata, ‘Demi Allah, itu adalah
kabilah Khuza’ah yang sedang menyalakan api’.
Abu Sofyan bin Harb berkata, ‘Api kabilah Khuza’ah dan
markasnya tidak sebesar itu’.
Aku mengenali suara Abu Sofyan bin Harb. Aku berkata,
‘Hai Abu Handzalah’.
Abu Sofyan bin Harb juga mengenali suaraku, kemudian
ia berkata, ‘Hai Abu Al-Fadhl’.
Aku berkata, ‘Ya betul’. Abu Sofyan bin Harb berkata,
‘Ayah-ibuku menjadi tebusanmu, apakah gerangan yang menimpamu?’
Aku berkata, ‘Celakalah engkau wahai Abu Sofyan,
inilah Rasulullah sedang bersama pengikutnya. Demi Allah, hati-hatilah
orang-orang Quraisy pada pagi ini’.
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Ayah-ibuku menjadi
tebusanmu, bagaimana cara menghindar dari itu semua?”
Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, jika Rasulullah
berhasil menangkapmu, beliau pasti memenggal lehermu. Oleh karena itu, naiklah
di belakang baghal ini, hingga aku membawamu ke tempat Rasulullah, kemudian
engkau meminta jaminan keamanan untukmu kepada beliau”.
Abu Sofyan bin Harb pun naik di belakangku, sedang
kedua temannya pulang ke Makkah. Aku membawa Abu Sofyan bin Harb dan setiap
kali aku melewati api kaum muslimin, mereka bertanya, ‘Siapa orang ini?”
Ketika mereka melihat Baghal milik
Rasulullah dan aku berada di atasnya, mereka berkata, “Paman Rasulullah sedang
mengendarai Baghal beliau”.
Aku terus berjalan hingga melewati api Umar bin
Khaththab. Ia berkata, ‘Siapa ini?’
Ia mendekatiku dan ketika ia melihat Abu Sofyan bin
Harb, ia berkata, “Abu Sofyan musuh Allah. Segala puji bagi Allah yang telah
menaklukkanmu tanpa perjanjian sebelumnya”
Ketika Umar bin Khaththab berlari menuju tempat
Rasulullah, sedang aku memacu Baghal hingga
mendahului Umar bin Khaththab seperti halnya hewan pelan yang mendahului orang
yang jalannya pelan. Aku turun dari baghal kemudian masuk ke tempat Rasulullah
dan pada saat yang sama Umar bin Khaththab masuk ke tempat beliau.
Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah
Abu Sofyan. Allah telah menaklukkannya tanpa perjanjian sebelumnya. Oleh karena
itu, izinkan aku memenggal lehernya’.
Ibnu Abbas berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah
melindungi Abu Sofyan bin Harb”.
Setelah itu, aku duduk dekat Rasulullah dan memegang
kepala beliau sambil berkata, “Demi Allah, pada malam ini tidak boleh ada orang
lain selian diriku yang berbicara denganmu”.
Ketika Umar bin Khaththab banyak bicara tentang Abu
Sofyan bin Harb, Ibnu Abbas berkata,
“Tahan dirimu hai Umar. Demi Allah, seandainya Abu
Sofyan bin Harb berasal dari Bani Adi bin Ka’ab, engkau tidak akan berkata
seperti tadi. Engkau berkata seperti tadi, karena engkau tahu bahwa Abu Sofyan
bin Harb berasal dari Bani Abdu Manaf’.
Umar bin Khaththab berkata, ‘Tahan dirimu, hai
Al-Abbas. Demi Allah, ke-Islamanmu ketika engkau masuk Islam itu lebih aku
sukai daripada ke-Islaman Khaththab jika ia masuk Islam. Aku juga tahu kalau
ke-Islamanmu itu lebih disukai Rasulullah daripada ke-Islaman Khaththab jika ia
masuk Islam.
Rasulullah bersabda, ‘Hai Al-Abbas, pergilah dengan
Abu Sofyan bin Harb ke tempat istirahatmu dan menghadaplah kepadaku esok
hari’.”
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Aku membawa
pergi Abu Sofyan bin Harb ke tempat istirahatku dan ia menginap di tempatku”
Esok paginya, aku membawa Abu Sofyan bin Harb ke
tempat Rasulullah. Ketika beliau melihat Abu Sofyan bin Harb, beliau bersabda,
‘Celakalah engkau wahai Abu Sofyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk
mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?’
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Ayah-ibuku menjadi
tebusan bagimu, engkau amat lembut, mulia, dan penyambung hubungan
kekera-batan. Demi Allah, sungguh aku telah meyakini seandainya ada Tuhan lain
selain Allah, maka Tuhan tersebut pasti mencukupiku dengan sesuatu”.
Rasulullah bersabda, “Celakalah engkau hai Abu Sofyan,
apakah belum tiba bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?”
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Ayah-ibuku menjadi
tebusan bagimu, engkau amat lembut, mulia, dan penyambung kekerabatan. Adapun
hal ini, demi Allah, di hatiku masih terdapat ganjalan hingga sekarang ini”.
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata kepada Abu
Sofyan bin Harb, “Celakalah engkau, hai Abu Sofyan, masuk Islamlah. Bersaksilah
bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah sebelum engkau dipenggal lehermu”.
Abu Sofyan bin Harb pun bersaksi dengan syahadat yang
benar dan masuk Islam.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Sofyan bin Harb
adalah orang yang senang dengan kebanggaan, oleh karena itu, berikan sesuatu
kepadanya”.
Rasulullah bersabda,
“Ya, barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan bin Harb,
ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumah-nya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki
Masjidil Haram, ia aman.”
KEKUATAN PASUKAN KAUM MUSLIMIN YANG DISAKSIKAN ABU SUFYAN
“Ketika Abu Sofyan bin Harb telah pergi, Rasulullah
bersabda,
“Hai Al-Abbas, tahan Abu Sofyan bin Harb di tempat
sempit di depan gunung, agar pasukan Allah melewatinya dan ia melihat mereka”.
Aku segera keluar dan menahan Abu Sofyan bin Harb di
tempat yang diperintahkan Rasulullah. Tidak lama kemudian, berbagai kabilah
berjalan melewatinya dengan membawa bendera masing-masing. Setiap satu kabilah
lewat, Abu Sofyan bin Harb berkata, ‘Hai Al-Abbas, siapa ini?’.
Aku berkata, “Ini kabilah Sulaim”.
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Apa urusanku dengan
kabilah Sulaim”.
Kabilah lain lewat, kemudian Abu Sofyan bin Harb
berkata, “Hai Al-Abbas, ini siapa?”.
Aku berkata, “Ini kabilah Muzainah”.
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Apa urusanku dengan
kabilah Muzainah”.
Setiap kali kabilah lewat, Abu Sofyan bertanya
kepadaku tentang kabilah tersebut dan ketika aku telah menjelaskan kabilah
tersebut kepadanya, ia berkata, “Apa urusanku dengannya”. Itulah hingga
akhirnya Rasulullah lewat dengan pasukannya yang berwarna hijau
Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat
segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas,
siapakah mereka ini?”
Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama
Muhajirin dan Anshar.”
Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup
dan kuat menghadapi mereka.”
Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah
Nubuwwah.”
Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah
radhiyallahu ‘anhu. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata,
“Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya
tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”
Ketika ketemu Rasulullah saw, perkataan Sa’ad ini
disampaikan kepada Rasulullah saw. Beliau pun menjawab,
“Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari
diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”
Kemudian, Rasulullah saw memerintahkan agar bendera di
tangan Sa’ad diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata
bendera itu tetap di tangan Sa’ad. Ada yang mengatakan bendera tersebut
diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.
Rasulullah saw melanjutkan perjalanan hingga memasuki
Dzi Thuwa. Di sana Rasulullah saw menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot
beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’
beliau kepada Sang Pengatur alam semesta.
Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid
ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan
menunggu kedatangan Rasulullah saw di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam
memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Rasulullah saw dan memasuki Makkah
melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di
daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.
Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak
di punggung Mekah, kaum muslimin membuat kubah untuk Rasulullah saw. Dari kubah
inilah Rasulullah saw mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke
kota dari empat penjuru.
RASULULLAH MEMASUKI KOTA MAKKAH
Kemudian, Rasulullah saw memasuki kota Makkah dengan
tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:
“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang
nyata.” (Qs. Al Fath: 1)
Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah,
“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang
masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup
pintunya maka dia aman.”
Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram.
Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan
untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati.
Saat itu, beliau membaca firman Allah:
“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’:
81)
“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan
memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49)
Kemudian, Rasulullah saw memasuki Ka’bah. Beliau
melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah
ramalan.
Beliau bersabda,
“Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah,
sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”
Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua
gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau
mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok
Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu
keputusan Rasulullah saw.
Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu
bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka,
namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan pengampunan
kepada mereka yang telah memeranginya
Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau
bersabda:
“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah
menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang.
Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”
“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangkan
tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Merekapun menjawab, “Yang
baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”
“Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan
Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah
mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian
telah bebas!”
HARI KEDUA FATHU MAKKAH
Pada hari kedua, Rasulullah saw berkhutbah di hadapan
manusia. Setelah membaca tahmid beliau bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah. Maka
tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk
menumpahkan darah dan mematahkan batang pohon di sana. Jika ada orang yang
beralasan dengan perang yang dilakukan Rasulullah saw, maka jawablah:
“Sesungguhnya Allah mengizinkan RasulNya shallallahu ‘alahi wa sallam dan tidak
mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkan untukku beberapa saat di siang
hari. Hari ini Keharaman Makkah telah kembali sebagaimana keharamannya
sebelumnya. Maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak
hadir.”
Orang orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa
untuk memberikan Baiat.
PENGAJARAN RASULULLAH SAW
Rasulullah saw tinggal selama 20 hari di Makkah untuk memberikan
pengajaran Islam kepada masyarakat. Beliau juga mengutus pasukan ke berbagai
daerah sekitar Makkah untuk menghancurkan berhala-berhala yang selama ratusan
tahun disembah oleh suku-suku Arab.
Dahulu saat pertama kali berdakwah di bukti Shafa, beliau
dicaci maki dan dilempari kerikil. Kini seluruh penduduk Makkah menghadiri
dakwah beliau dengan mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang
menerima. Kini beliau dengan lantang mencabut paganisme dan budaya jahiliyah
sampai ke akar-akarnya. Di hari penaklukan Makkah, beliau berkhutbah:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah melenyapkan
fanatisme jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang dari diri kalian.
Manusia hanya ada dua; orang mukmin lagi bertakwa yang mulia di sisi Allah, dan
orang durjana yang celaka lagi hina di sisi Allah. Semua manusia keturunan
Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat (49): 13)
Rasulullah saw diizinkan Allah untuk berperang di
Makkah hanya pada hari penaklukan kota Makkah dari sejak terbit matahari hingga
ashar. Beliau tinggal di Makkah selama sembilan hari dengan selalu mengqashar
shalat dan tidak berpuasa Ramadhan di sisa hari bulan Ramadhan.
Sejak saat itulah, Makkah menjadi negeri Islam,
sehingga tidak ada lagi hijrah dari Makkah menuju Madinah.
Demikianlah kemenangan yang sangat nyata bagi kaum
muslimin. Telah sempurna pertolongan Allah. Suku-suku arab berbondong-bondong
masuk Islam. Demikianlah karunia besar yang Allah berikan.
Episode berikutnya dalam sejarah kemenangan kaum
muslimin di bawah bimbingan kenabian yang terjadi di bulan Ramadhan adalah
Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah). Peristiwa ini terjadi pada tahun delapan
Hijriyah. Dengan peristiwa ini, Allah SWT menyelamatkan kota Makkah dari
belenggu kesyirikan dan kedhaliman, menjadi kota bernafaskan Islam, dengan ruh
tauhid dan sunnah. Dengan peristiwa ini, Allah SWT mengubah kota Makkah yang
dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang
keimanan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
SEBAB TERJADINYA
Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin
Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota
kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Termasuk diantara nota
perjanjian adalah siapa saja diizinkan untuk bergabung dengan salah satu kubu,
baik kubu Rasulullah saw dan kaum muslimin Madinah atau kubu orang kafir
Quraisy Makkah. Maka, bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Rasulullah saw dan
suku Bakr bergabung di kubu orang kafir Quraisy. Padahal, dulu di zaman
Jahiliyah, terjadi pertumpahan darah antara dua suku ini dan saling bermusuhan.
Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan
senjata.
Namun, secara licik, Bani Bakr menggunakan kesempatan
ini melakukan balas dendam kepada suku Khuza’ah. Bani Bakr melakukan serangan
mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah ketika mereka sedang di mata air
mereka. Secara diam-diam, orang kafir Quraisy mengirimkan bantuan personil dan
senjata pada Bani Bakr. Akhirnya, datanglah beberapa orang diantara suku Khuza’ah
menghadap Rasulullah saw di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan
yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dan Bani Bakr.
Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar
perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui
isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar
kepada Rasulullah saw, namun beliau tidak menanggapinya dan tidak
memperdulikannya. Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar ra agar mereka
memberikan bantuan untuk membujuk Rasulullah saw. Namun usahanya ini gagal.
Terakhir kalinya, dia menemui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar
memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Rasulullah saw. Untuk kesekian
kalinya, Ali pun menolak permintaan Abu Sufyan. Dunia terasa sempit bagi Abu
Sufyan, dia pun terus memelas agar diberi solusi.
Kemudian, Ali memberikan saran,
“Demi Allah, Aku tidak mengetahui sedikit pun solusi
yang bermanfaat bagimu. Akan tetapi, bukankah Engkau seorang pemimpin Bani
Kinanah? Maka, bangkitlah dan mintalah sendiri perlindungan kepada orang-orang.
Kemudian, kembalilah ke daerahmu.”
Abu Sufyan berkata,
“Apakah menurutmu ini akan bermanfaat bagiku?”
Ali menjawab,
“Demi Allah, aku sendiri tidak yakin, tetapi aku tidak
memiliki solusi lain bagimu.”
Abu Sufyan kemudian berdiri di masjid dan berkata,
“Wahai manusia, aku telah diberi perlindungan oleh
orang-orang!”
Lalu dia naik ontanya dan beranjak pergi.
Dengan adanya pengkhianatan ini, Rasulullah saw
memerintahkan para shahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang.
Beliau mengajak semua shahabat untuk menyerang Makkah.
Beliau bersabda,
“Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak
mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”
Dalam kisah ini ada pelajaran penting yang bisa
dipetik, bahwa kaum muslimin dibolehkan untuk membatalkan perjanjian damai
dengan orang kafir. Namun pembatalan perjanjian damai ini harus dilakukan
seimbang. Artinya tidak boleh sepihak, tetapi masing-masing pihak tahu sama
tahu. Allah berfirman,
“Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan
dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan
sama-sama tahu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
(Qs. Al Anfal: 58)
KISAH HATIB BIN ABI BALTA’AH
Untuk menjaga misi kerahasiaan ini, Rasulullah saw
mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu
Khasyab dan Dzul Marwah pada awal bulan Ramadhan. Hal ini beliau lakukan agar
ada anggapan bahwa beliau hendak menuju ke tempat tersebut. Sementara itu, ada
seorang shahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat untuk
dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan
Rasulullah saw menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Surat ini
beliau titipkan kepada seorang wanita dengan upah tertentu dan langsung
disimpan di gelungannya. Namun, Allah Dzat Yang Maha Melihat mewahyukan kepada
NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau-pun mengutus Ali dan Al Miqdad
untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.
Setelah Ali berhasil menyusul wanita tersebut, beliau
langsung meminta suratnya. Namun, wanita itu berbohong dan mengatakan bahwa
dirinya tidak membawa surat apapun. Ali memeriksa hewan tunggangannya, namun
tidak mendapatkan apa yang dicari. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah shallallahu
‘alahi wa sallam tidak bohong. Demi Allah, engkau keluarkan surat itu atau kami
akan menelanjangimu.”
Setelah tahu kesungguhan Ali radhiyallahu ‘anhu,
wanita itupun menyerahkan suratnya kepada Ali bin Abi Thalib.
Sesampainya di Madinah, Ali langsung menyerahkan surat
tersebut kepada Rasulullah saw. Dalam surat tersebut tertulis nama Hatib bin
Abi Balta’ah. Dengan bijak Rasulullah saw menanyakan alasan Hatib. Hatib bin
Abi Balta’ah pun menjawab:
“Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi
Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan
tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku
bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara
tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang
bersama Anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku
ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana.”
Dengan serta merta Umar bin Al Khattab menawarkan
diri,
“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya,
karena dia telah mengkhianati Allah dan RasulNya serta bersikap munafik.”
Rasulullah saw dengan bijak menjawab,
“Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar… (Allah
berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah
Saya ampuni.”
Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, “Allah
dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Demikianlah maksud hati Hatib. Beliau berharap dengan
membocorkan rahasia tersebut bisa menarik simpati orang Quraisy terhadap
dirinya, sehingga mereka merasa berhutang budi terhadap Hatib. Dengan keadaan
ini, beliau berharap orang Quraisy mau melindungi anak dan istrinya di Makkah.
Meskipun demikian, perbuatan ini dianggap sebagai bentuk penghianatan dan
dianggap sebagai bentuk loyal terhadap orang kafir karena dunia. Tentang kisah
shahabat Hatib radhiyallahu ‘anhu ini diabadikan oleh Allah dalam firmanNya,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada
mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya
mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir
Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (Qs. Al
Mumtahanah: 1)
Satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah
Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu adalah bahwa sesungguhnya orang yang
memberikan loyalitas terhadap orang kafir sampai menyebabkan ancaman bahaya
terhadap Islam, pelakunya tidaklah divonis kafir, selama loyalitas ini tidak
menyebabkan kecintaan karena agamanya. Pada ayat di atas, Allah menyebut orang
yang melakukan tindakan semacam ini dengan panggilan, “Hai orang-orang yang
beriman……” Ini menunjukkan bahwa status mereka belum kafir.
PASUKAN MUSLIMIN BERGERAK MENUJU MAKKAH
Kemudian, Rasulullah saw keluar Madinah bersama 10.000
shahabat yang siap perang pada tanggal 10 Ramadhan 8 H. Beliau memberi Abdullah
bin Umi Maktum tugas untuk menggantikan posisi beliau di Madinah. Di tengah
jalan, beliau bertemu dengan Abbas, paman beliau bersama keluarganya, yang
bertujuan untuk berhijrah dan masuk Islam. Kemudian, di suatu tempat yang
disebut Abwa’, beliau berjumpa dengan sepupunya, Ibnul Harits dan Abdullah bin
Abi Umayah. Ketika masih kafir, dua orang ini termasuk diantara orang yang
permusuhannya sangat keras terhadap Rasulullah saw. Dengan kelembutannya,
Rasulullah saw menerima taubat mereka dan masuk Islam.
ABU SUFYAN MASUK ISLAM
“Abu Sofyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib dan
Abdullah bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah juga bertemu Rasulullah saw di Niqul
Uqab, daerah di antara Makkah dengan Madinah. Keduanya ingin masuk menemui
Rasulullah saw kemudian Ummu Salamah berkata kepada beliau tentang keduanya.
Ummu Salamah berkata,
‘Wahai Rasulullah, inilah anak paman dan bibimu, serta
keluargamu’.
Rasulullah bersabda,
“Aku tidak punya kepentingan dengan keduanya. Adapun
anak pamanku, ia telah merusak kehormatanku. Sedang anak bibiku dan keluargaku,
ia pernah mengatakan sesuatu tentang diriku di Makkah”
Ketika sabda Rasulullah disampaikan kepada keduanya,
Abu Sofyan bin Al-Harits –ketika itu membawa anak kecilnya– berkata,
“Demi Allah, Muhammad harus mengizinkan aku masuk.
Jika tidak, aku akan membawa anak kecil ini, kemudian kami berkelana ke dunia
hingga kami mati karena lapar dan haus”.
Ketika Rasulullah mendengar ucapan Abu Sofyan bin
Al-Harits tersebut, beliau terketuk hatinya, kemudian mengizinkan keduanya
masuk menemui beliau. Keduanya pun masuk dan mengucapkan salam kepada beliau”.
“Abu Sofyan bin Al-Harits menyatakan ke-Islamannya dan
permohonan maafnya akan dosa-dosa masa silamnya,
‘Aku bersumpah, ketika aku membawa bendera perang musyrik
Pasukan berkuda Lata mengalahkan pasukan berkuda Muhammad
Aku seperti orang yang berjalan di malam hari yang gelap dalam keadaan bingung
Dan sekarang aku telah mendapatkan petunjuk dan diberi petunjuk
Aku diberi petunjuk oleh pemberi petunjuk selain diriku
Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkanku
Dulu aku bersungguh-sungguh menghalang-halangi manusia dari Muhammad
Aku tetap dihormati kendati aku tidak bergabung dengan Muhammad
Bukan orang musyrik namanya bila tidak berkata dengan hawa nafsu
Kendati ia punya pikiran kotor dan berkata dusta
Aku ingin keridhaan mereka
Dan aku tidak dekat dengan kaum jika aku tidak diberi petunjuk di semua tempat
Katakan kepada Tsaqif, aku tidak ingin menyerang kalian
Dan katakan kepada Tsaqif, silakan ancam orang selain aku
Aku tidak ikut dalam pasukan yang menangkap Amir
Itu bukan ulah lisan dan tanganku
Kabilah-kabilah datang dari tempat jauh
Mereka datang dari Saham dan Surdad (nama tempat di wilayah ‘Ikk)’.”
Pasukan berkuda Lata mengalahkan pasukan berkuda Muhammad
Aku seperti orang yang berjalan di malam hari yang gelap dalam keadaan bingung
Dan sekarang aku telah mendapatkan petunjuk dan diberi petunjuk
Aku diberi petunjuk oleh pemberi petunjuk selain diriku
Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkanku
Dulu aku bersungguh-sungguh menghalang-halangi manusia dari Muhammad
Aku tetap dihormati kendati aku tidak bergabung dengan Muhammad
Bukan orang musyrik namanya bila tidak berkata dengan hawa nafsu
Kendati ia punya pikiran kotor dan berkata dusta
Aku ingin keridhaan mereka
Dan aku tidak dekat dengan kaum jika aku tidak diberi petunjuk di semua tempat
Katakan kepada Tsaqif, aku tidak ingin menyerang kalian
Dan katakan kepada Tsaqif, silakan ancam orang selain aku
Aku tidak ikut dalam pasukan yang menangkap Amir
Itu bukan ulah lisan dan tanganku
Kabilah-kabilah datang dari tempat jauh
Mereka datang dari Saham dan Surdad (nama tempat di wilayah ‘Ikk)’.”
“Para ulama mengatakan bahwa ketika Abu Sofyan bin
Al-Harits melantunkan bait syair berikut kepada Rasulullah, ‘Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkanku,
beliau menepuk dadanya, kemudian bersabda, ‘Engkaulah orang yang pernah
mengusirku?’”
Ketika Rasulullah saw berhenti di Marru Adz-Dzahran,
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Hati-hatilah hai orang-orang Quraisy
pagi ini. Demi Allah, jika Rasulullah memasuki Makkah dengan kekerasan dan
sebelum itu mereka (orang-orang Quraisy) tidak datang meminta jaminan keamanan
kepada beliau, maka itu adalah kehancuran mereka sepanjang zaman”.
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata,
“Setelah itu, aku duduk di atas Baghal milik Rasulullah yang berwarna putih dan keluar
dengan menaikinya. Ketika aku tiba di pohon ‘Arak, aku berkata, ‘Mudah-mudahan
aku dapat bertemu salah seorang pencari kayu bakar, atau penggembala unta, atau
penggembala kambing, atau orang yang mempunyai keperluan pergi ke Makkah, yang
bisa menjelaskan kepada mereka keberadaan Rasulullah, kemudian mereka datang
kepada beliau untuk meminta jaminan keamanan kepada beliau sebelum beliau
memasuki ke tempat mereka dengan kekerasan”.
Demi Allah, aku terus berjalan di atas baghal milik
Rasulullah dan mencari salah satu dari orang yang aku cari. Tiba-tiba aku
mendengar ucapan Abu Sofyan bin Harb dan Budail bin Warqa’ yang sedang tukar
pendapat. Abu Sofyan bin Harb berkata, “Aku tidak pernah melihat api dan markas
tentara seperti pada malam ini”.
Budail bin Warqa’ berkata, ‘Demi Allah, itu adalah
kabilah Khuza’ah yang sedang menyalakan api’.
Abu Sofyan bin Harb berkata, ‘Api kabilah Khuza’ah dan
markasnya tidak sebesar itu’.
Aku mengenali suara Abu Sofyan bin Harb. Aku berkata,
‘Hai Abu Handzalah’.
Abu Sofyan bin Harb juga mengenali suaraku, kemudian
ia berkata, ‘Hai Abu Al-Fadhl’.
Aku berkata, ‘Ya betul’. Abu Sofyan bin Harb berkata,
‘Ayah-ibuku menjadi tebusanmu, apakah gerangan yang menimpamu?’
Aku berkata, ‘Celakalah engkau wahai Abu Sofyan,
inilah Rasulullah sedang bersama pengikutnya. Demi Allah, hati-hatilah
orang-orang Quraisy pada pagi ini’.
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Ayah-ibuku menjadi
tebusanmu, bagaimana cara menghindar dari itu semua?”
Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, jika Rasulullah
berhasil menangkapmu, beliau pasti memenggal lehermu. Oleh karena itu, naiklah
di belakang baghal ini, hingga aku membawamu ke tempat Rasulullah, kemudian
engkau meminta jaminan keamanan untukmu kepada beliau”.
Abu Sofyan bin Harb pun naik di belakangku, sedang
kedua temannya pulang ke Makkah. Aku membawa Abu Sofyan bin Harb dan setiap
kali aku melewati api kaum muslimin, mereka bertanya, ‘Siapa orang ini?”
Ketika mereka melihat Baghal milik
Rasulullah dan aku berada di atasnya, mereka berkata, “Paman Rasulullah sedang
mengendarai Baghal beliau”.
Aku terus berjalan hingga melewati api Umar bin
Khaththab. Ia berkata, ‘Siapa ini?’
Ia mendekatiku dan ketika ia melihat Abu Sofyan bin
Harb, ia berkata, “Abu Sofyan musuh Allah. Segala puji bagi Allah yang telah
menaklukkanmu tanpa perjanjian sebelumnya”
Ketika Umar bin Khaththab berlari menuju tempat
Rasulullah, sedang aku memacu Baghal hingga
mendahului Umar bin Khaththab seperti halnya hewan pelan yang mendahului orang
yang jalannya pelan. Aku turun dari baghal kemudian masuk ke tempat Rasulullah
dan pada saat yang sama Umar bin Khaththab masuk ke tempat beliau.
Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah
Abu Sofyan. Allah telah menaklukkannya tanpa perjanjian sebelumnya. Oleh karena
itu, izinkan aku memenggal lehernya’.
Ibnu Abbas berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah
melindungi Abu Sofyan bin Harb”.
Setelah itu, aku duduk dekat Rasulullah dan memegang
kepala beliau sambil berkata, “Demi Allah, pada malam ini tidak boleh ada orang
lain selian diriku yang berbicara denganmu”.
Ketika Umar bin Khaththab banyak bicara tentang Abu
Sofyan bin Harb, Ibnu Abbas berkata,
“Tahan dirimu hai Umar. Demi Allah, seandainya Abu
Sofyan bin Harb berasal dari Bani Adi bin Ka’ab, engkau tidak akan berkata
seperti tadi. Engkau berkata seperti tadi, karena engkau tahu bahwa Abu Sofyan
bin Harb berasal dari Bani Abdu Manaf’.
Umar bin Khaththab berkata, ‘Tahan dirimu, hai
Al-Abbas. Demi Allah, ke-Islamanmu ketika engkau masuk Islam itu lebih aku
sukai daripada ke-Islaman Khaththab jika ia masuk Islam. Aku juga tahu kalau
ke-Islamanmu itu lebih disukai Rasulullah daripada ke-Islaman Khaththab jika ia
masuk Islam.
Rasulullah bersabda, ‘Hai Al-Abbas, pergilah dengan
Abu Sofyan bin Harb ke tempat istirahatmu dan menghadaplah kepadaku esok
hari’.”
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata, “Aku membawa
pergi Abu Sofyan bin Harb ke tempat istirahatku dan ia menginap di tempatku”
Esok paginya, aku membawa Abu Sofyan bin Harb ke
tempat Rasulullah. Ketika beliau melihat Abu Sofyan bin Harb, beliau bersabda,
‘Celakalah engkau wahai Abu Sofyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk
mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?’
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Ayah-ibuku menjadi
tebusan bagimu, engkau amat lembut, mulia, dan penyambung hubungan
kekera-batan. Demi Allah, sungguh aku telah meyakini seandainya ada Tuhan lain
selain Allah, maka Tuhan tersebut pasti mencukupiku dengan sesuatu”.
Rasulullah bersabda, “Celakalah engkau hai Abu Sofyan,
apakah belum tiba bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?”
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Ayah-ibuku menjadi
tebusan bagimu, engkau amat lembut, mulia, dan penyambung kekerabatan. Adapun
hal ini, demi Allah, di hatiku masih terdapat ganjalan hingga sekarang ini”.
Al-Abbas bin Abdul Muththalib berkata kepada Abu
Sofyan bin Harb, “Celakalah engkau, hai Abu Sofyan, masuk Islamlah. Bersaksilah
bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah sebelum engkau dipenggal lehermu”.
Abu Sofyan bin Harb pun bersaksi dengan syahadat yang
benar dan masuk Islam.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Sofyan bin Harb
adalah orang yang senang dengan kebanggaan, oleh karena itu, berikan sesuatu
kepadanya”.
Rasulullah bersabda,
“Ya, barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan bin Harb,
ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumah-nya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki
Masjidil Haram, ia aman.”
KEKUATAN PASUKAN KAUM MUSLIMIN YANG DISAKSIKAN ABU SUFYAN
“Ketika Abu Sofyan bin Harb telah pergi, Rasulullah
bersabda,
“Hai Al-Abbas, tahan Abu Sofyan bin Harb di tempat
sempit di depan gunung, agar pasukan Allah melewatinya dan ia melihat mereka”.
Aku segera keluar dan menahan Abu Sofyan bin Harb di
tempat yang diperintahkan Rasulullah. Tidak lama kemudian, berbagai kabilah
berjalan melewatinya dengan membawa bendera masing-masing. Setiap satu kabilah
lewat, Abu Sofyan bin Harb berkata, ‘Hai Al-Abbas, siapa ini?’.
Aku berkata, “Ini kabilah Sulaim”.
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Apa urusanku dengan
kabilah Sulaim”.
Kabilah lain lewat, kemudian Abu Sofyan bin Harb
berkata, “Hai Al-Abbas, ini siapa?”.
Aku berkata, “Ini kabilah Muzainah”.
Abu Sofyan bin Harb berkata, “Apa urusanku dengan
kabilah Muzainah”.
Setiap kali kabilah lewat, Abu Sofyan bertanya
kepadaku tentang kabilah tersebut dan ketika aku telah menjelaskan kabilah
tersebut kepadanya, ia berkata, “Apa urusanku dengannya”. Itulah hingga
akhirnya Rasulullah lewat dengan pasukannya yang berwarna hijau
Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat
segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas,
siapakah mereka ini?”
Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama
Muhajirin dan Anshar.”
Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup
dan kuat menghadapi mereka.”
Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah
Nubuwwah.”
Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah
radhiyallahu ‘anhu. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata,
“Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya
tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”
Ketika ketemu Rasulullah saw, perkataan Sa’ad ini
disampaikan kepada Rasulullah saw. Beliau pun menjawab,
“Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari
diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”
Kemudian, Rasulullah saw memerintahkan agar bendera di
tangan Sa’ad diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata
bendera itu tetap di tangan Sa’ad. Ada yang mengatakan bendera tersebut
diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.
Rasulullah saw melanjutkan perjalanan hingga memasuki
Dzi Thuwa. Di sana Rasulullah saw menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot
beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’
beliau kepada Sang Pengatur alam semesta.
Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid
ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan
menunggu kedatangan Rasulullah saw di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam
memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Rasulullah saw dan memasuki Makkah
melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di
daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.
Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak
di punggung Mekah, kaum muslimin membuat kubah untuk Rasulullah saw. Dari kubah
inilah Rasulullah saw mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke
kota dari empat penjuru.
RASULULLAH MEMASUKI KOTA MAKKAH
Kemudian, Rasulullah saw memasuki kota Makkah dengan
tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:
“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang
nyata.” (Qs. Al Fath: 1)
Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah,
“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang
masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup
pintunya maka dia aman.”
Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram.
Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan
untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati.
Saat itu, beliau membaca firman Allah:
“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’:
81)
“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan
memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49)
Kemudian, Rasulullah saw memasuki Ka’bah. Beliau
melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah
ramalan.
Beliau bersabda,
“Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah,
sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”
Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua
gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau
mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok
Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu
keputusan Rasulullah saw.
Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu
bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka,
namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan pengampunan
kepada mereka yang telah memeranginya
Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau
bersabda:
“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah
menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang.
Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”
“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangkan
tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Merekapun menjawab, “Yang
baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”
“Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan
Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah
mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian
telah bebas!”
HARI KEDUA FATHU MAKKAH
Pada hari kedua, Rasulullah saw berkhutbah di hadapan
manusia. Setelah membaca tahmid beliau bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah. Maka
tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk
menumpahkan darah dan mematahkan batang pohon di sana. Jika ada orang yang
beralasan dengan perang yang dilakukan Rasulullah saw, maka jawablah:
“Sesungguhnya Allah mengizinkan RasulNya shallallahu ‘alahi wa sallam dan tidak
mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkan untukku beberapa saat di siang
hari. Hari ini Keharaman Makkah telah kembali sebagaimana keharamannya
sebelumnya. Maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak
hadir.”
Orang orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa
untuk memberikan Baiat.
PENGAJARAN RASULULLAH SAW
Rasulullah saw tinggal selama 20 hari di Makkah untuk memberikan
pengajaran Islam kepada masyarakat. Beliau juga mengutus pasukan ke berbagai
daerah sekitar Makkah untuk menghancurkan berhala-berhala yang selama ratusan
tahun disembah oleh suku-suku Arab.
Dahulu saat pertama kali berdakwah di bukti Shafa, beliau
dicaci maki dan dilempari kerikil. Kini seluruh penduduk Makkah menghadiri
dakwah beliau dengan mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang
menerima. Kini beliau dengan lantang mencabut paganisme dan budaya jahiliyah
sampai ke akar-akarnya. Di hari penaklukan Makkah, beliau berkhutbah:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah melenyapkan
fanatisme jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang dari diri kalian.
Manusia hanya ada dua; orang mukmin lagi bertakwa yang mulia di sisi Allah, dan
orang durjana yang celaka lagi hina di sisi Allah. Semua manusia keturunan
Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat (49): 13)
Rasulullah saw diizinkan Allah untuk berperang di
Makkah hanya pada hari penaklukan kota Makkah dari sejak terbit matahari hingga
ashar. Beliau tinggal di Makkah selama sembilan hari dengan selalu mengqashar
shalat dan tidak berpuasa Ramadhan di sisa hari bulan Ramadhan.
Sejak saat itulah, Makkah menjadi negeri Islam,
sehingga tidak ada lagi hijrah dari Makkah menuju Madinah.
Demikianlah kemenangan yang sangat nyata bagi kaum
muslimin. Telah sempurna pertolongan Allah. Suku-suku arab berbondong-bondong
masuk Islam. Demikianlah karunia besar yang Allah berikan.
Diberdayakan oleh Blogger.







