Posted by : Joko
6 Apr 2016
PERANG
MU’TAH
Peperangan
ini tercatat di dalam sejarah sebagai
sebuah peperangan
besar, di mana tentara Islam yang berjumlah 3.000 orang melawan
200.000 tentara Romawi Nasrani. Sekalipun demikian dahsyatnya peperangan
Mu’tah, sahabat yang mati syahid hanya 12 orang, dan mereka
memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala untuk mendakwahi dan memerangi manusia hingga mereka
mengikrarkan kalimat tauhid. Maka kemuliaan bagi yang mengikuti agamanya dan
kehinaan bagi yang menyelisihinya.
Sebagaimana
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memulai dakwah dari kerabatnya yang terdekat
dari kabilah Quraisy lalu bangsa Arab secara umum dan siapa saja yang dekat
atau datang kepadanya dari berbagai penjuru, maka demikian pula beliau
memerangi musuh pertama yang terdekat yaitu kafir Quraisy para penyembah
berhala kemudian bagnsa Arab di sekitar Mekah dan Madinah dan lainnya lalu ahli
kitab dari bangsa Yahudi di Madinah dan sekitarnya.
Dan
sekarang tiba saatnya untuk memerangi bangsa Romawi yang beragama Nasrani dan
nanti akan tiba gilirannya memerangi kaum Majusi para penyembah api dan seluruh
umat kafir hingga agama Allah tinggi dan jaya di permukaan bumi, di atas semua
agama sekalipun orang-orang kafir benci dengan kemenangan Islam. Inilah Islam
dan inilah jihad yang merahmati umat manusia dan tidak membiarkan mereka
berlarut-larut dalam laknat Allah dengan tetap dalam kekafiran, tetapi Islam
mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik dan kufur kepada cahaya Islam.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah
takjub dengan orang-orang yang masuk surga dalam keadaan diikat rantai besi.”
(HR. Bukhari). Maksudnya bahwa mereka tertawan oleh tentara Islam lalu diikat
dengan rantai besi kemudian digiring ke negeri Islam dan akhirnya mereka masuk
Islam sehingga berbahagia dengan surga.
Dan
termasuk hikmah ilahiyyah tatkala orang-orang kafir dari berbagai bangsa tidak
bersatu padu dalam satu waktu untuk menyerang kaum muslimin. Tatkala kafir
Quraisy memerangi kaum muslimin, maka bangsa Arab lainnya diam menunggu hasil
dari Quraisy. Ketika seluruh bangsa Arab dan Yahudi bersekutu memerangi kaum
muslimin, maka umat Nasrani diam menunggu hasil peperangan tersebut. Demikian
pula tatkala umat Islam berperang melawan Romawi, maka bangsa Persia Majusi
diam menunggu hasil peperangan ini hingga semua bangsa dan semua agama
ditundukkan oleh kaum muslimin. Firman Allah:
خَيْرًا وَكَفَى اللهُ الْمُؤْمِنِينَ
الْقِتَالَ
“Dan
Allah memelihara kaum muslimin dari peperangan.” (QS. Al Ahzab: 25)
SEBAB TERJADINYA
PERANG MU’TAH
Sebab
terjadinya perang ini adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengirim surat melalui utusannya, Harits bin
Umair radhiallahu
‘anhu kepada Raja Bushra. Tatkala utusan ini sampai di Mu’tah
(Timur Yordania), ia dihadang dan dibunuh, padahal menurut adat yang berlaku
pada saat itu –dan berlaku hingga sekarang- bahwa utusan tidak boleh dibunuh
dan kapan saja membunuh utusan, maka berarti menyatakan pengumuman perang. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam marah akibat tindakan jahat ini, beliau
mengirim pasukan perang pada Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah yang dipimpin oleh
Zaid bin Haritsah.
Sabda
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Jika
Zaid mati syahid, maka Ja’far yang menggantikannya. Jjika Ja’far mati syahid,
maka Abdullah bin Rawahah penggantinya.”
Ini
pertama kali Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengangkat tiga panglima sekaligus karena
beliau mengetahui kekuatan militer Romawi yang tak tertandingi pada waktu itu.
TENTARA
ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA BERANGKAT
Pasukan
ini berangkat hingga tiba di Ma’an wilayah Syam dan sampai kepada mereka berita
bahwa Raja Romawi bernama Heraklius telah tiba di Balqa bersama 100.000 tentara
dan bergabung bersama mereka kabilah-kabilah Arab yang beragama Nasrani yang
berjumlah 100.000 tentara sehingga total tentara musuh berjumlah 200.000
tentara. Setelah para sahabat bermusyawarah, sebagian mereka mengatakan, “Kita
mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam agar beliau menambahkan kekuatan tentara
atau memerintahkan kepada kita sesuatu.”
Lalu
panglima mereka yang ketiga, Abdullah bin Rawahah radhiallahu
‘anhu, menyemangati mereka seraya mengatakan, “Wahai kaum! Demi
Allah, sesungguhnya apa yang kalian takutkan sungguh inilah yang kalian cari
(yakni) mati syahid. Kita tidak memerangi manusia karena banyaknya bilangan dan
kekuatan persenjataan, tetapi kita memerangi mereka karena agama Islam ini yang
Allah muliakan kita dengannya. Bangkitlah kalian memerangi musuh karena
sesungguhnya tidak lain bagi kita melainkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu
menang atau mati syahid.”
Maka
sebagian mereka berkata, “Demi Allah, Ibnu Rawahah benar.” Lalu mereka
berangkat sampai mereka tiba di Balqa tempat musuh berada.
Ini
munjukka betapa besar keberanian para sahabat dalam jihad memerangi musuh-musuh
Allah, semoga Allah melaknat Syi’ah yang mencela para sahabat.
PERTEMPURAN
Tentara
Islam dan tentara kufur saling berhadapan. Perlu kita ketahui, tentara di medan
perang dibagi menjadi lima pasukan, yaitu: pasukan depan, belakang, kanan,
kiri, dan tengah sebagai pasukan inti. Tentara musuh dengan jumlah yang sangat
banyak mengharuskan seorang tentara dari sahabat melawan puluhan tentara musuh.
Akan tetapi, tentara Allah yang memiliki kekuatan iman dan semangat jihad untuk
meraih kemulian mati syahid tidak merasakannya sebagai beban berat bagi mereka
sebab kekuatan mereka satu banding sepuluh –sebagaimana digambarkan oleh AllahSubhanahu
wa Ta’ala dalam ayat,
“Jika
ada di antara kalian 20 orang yang bersabar maka akan mengalahkan 200 orang.”
(QS. Al Anfal: 65)
Tentara
Allah sebagai wali dan kekasih-Nya yang berperang untuk meninggikan agama-Nya,
maka pasti Allah bersama mereka. Adapun orang-orang kafir sebanyak apapun
bilangan dan kekuatan mereka, maka ibarat buih yang tidak berarti apa-apa.
Peperangan
berkecamuk dengan dahsyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera
kaum muslimin dan keberanian para panglima Islam dalam maju memerangi musuh,
hingga mati syahidlah panglima pertama, Zaid bin Haritsaradhiallahu
‘anhu. Lalu bendara perang diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin
Abi Thalib radhiallahu
‘anhu. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kannya
terputus, lalu bendera dibawa dengan tangannya kirinya hingga terputus pula dan
merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh. Sebagai balasannya, Allah
menggantikan kedua tangannya dengan dua sayap agar di surga ia dapat terbang ke
mana saja. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih
antara tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniannya
dalam menyerang musuh.
Kemudian
bendera perang dibawa oleh panglima ketiga. Abdullah bin Rawahahradhiallahu
‘anhu dan berperang hingga mati syahid menyusul kedua
rekannya. Agar bendera perang tidak jatuh maka mereka mengangkatnya dan
bersepakat untuk menyerahkannya kepada Khalid bin Walid radhiallahu
‘anhu, maka beliau membawa bendera perang.
Setelah
peperangan yang luar biasa, keesokan harinya Khalid radhiallahu
‘anhu –dengan kecerdasan siasat baru dengan mengubah posisi
pasukannya dari semula; yaitu pasukan depan ke belakang dan sebaliknya, pasukan
kanan ke kiri dan sebaliknya, sehingga tampak bagi musuh bahwa kaum muslimin
mendapat bantuan tentara yang baru dan menimbulkan rasa takut dalam hati mereka
dan menjadi sebab kekalahan mereka.
Setelah
berperang lama, Khalid radhiallahu
‘anhu menilai bahwa kekuatan musuh jauh tidak sebanding dengan
kekuatan kaum muslimin. Maka beliau menarik mundur pasukannya dengan selamat
hingga ke Madinah, sedang musuh tidak mengejar mereka karena khawatir
kalau-kalau ini dilakukan oleh kaum muslimin sebagai siasat perang untuk
mengajak Romawi menuju medan perang yang lebih terbuka di padang pasir –yang
akan merugikan Romawi.
Dalam
perang ini, Khalid radhiallahu
‘anhu berperang habis-habisan hingga sembilan pedang patah di
tangannya. Ini menunjukkan betapa besarnya peperangan tersebut dan betapa besar
perjuangan para sahabat demi Islam. Maka semoga Allah melaknat orang-orang
Syi’ah yang tidak mengakui keutamaan para sahabat. Seandainya Syi’ah mencela
seorang saja dari sahabat biasa, sungguh cukuplah sebagai kejelekan mereka,
lalu bagaimana jika yang mereka cela adalah kebanyakan sahabat bahkan yang
paling utama di antara mereka. Sungguh tidak ada kebaikan yang dilakukan oleh
siapa pun kecuali para sahabat merupakan pendahulunya dan mendapat pahalanya.
Sekalipun
demikian dahsyatnya peperangan Mu’tah, sahabat yang mati syahid hanya dua belas
orang, dan mereka memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Adapun pasukan musuh
tidak dapat dipastikan bilangan mereka yang terbunuh, tetapi diperkirakan
sangat banyak. Hal ini dapat diketahui dari hebatnya peperangan yang terjadi.
RASULULLAH SHALLALLAHU
‘ALAIHI WA SALLAM BERKISAH TENTANG PERANG
Tampak
mukjizat kenabian, tatkala Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallammenyampaikan kepada para sahabat di Madinah
tentang kematian tiga panglimanya.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam naik mimbar dalam keadaan sedih meneteskan
air mata seraya berkata, “Bendera
perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil
oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera perang dibawa oleh
Siafullah (Pedang Allah –yakni Khalid bin Walid, pen.) hingga Allah memenangkan
kaum muslimin.” Setelah itu, beliau mendatangi keluarga Ja’far dan
menghibur mereka serta membuatkan makanan untuk mereka.
PELAJARAN DARI KISAH:
- Boleh mengangkat beberapa pemimpin dalam satu waktu
dengan syarat tertentu dan memimpin secara berurutan.
- Kaum muslimin mengangkat Khalid sebagai panglima perang
merupakan dalil bolehnya ijtihad di masa hidupnya Rasulullah.
- Keutamaan tiga panglima (Zaid, Ja’far, Abdullah bin
Rawahah) dan keutamaan Khalid bin Walid sebab dalam peperangan ini
Rasulullahh shallallahu
‘alaihi wa sallam menamainya dengan Saifullah (Pedang
Allah).
- Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sedih atas kematian tiga panglimanya,
menunjukkan rahmatnya kepada umatnya dan bahwasanya beliau berusaha
menentramkan jiwanya untuk bersabar terhadap musibah. Dan ini lebih baik
daripada yang tidak sedih dan tidak tersentuh oleh musibah sama sekali.
- Hakikat hidup dan ‘izzah (kemuliaan)
yang disingkap oleh Abdullah bin Rawahahradhiallahu
‘anhu bahwa sesungguhnya kemenangan bukanlah karena
kekuatan dan jumlah secara materi, melainkan agama dan ketaatan kepada
Allah. LihatSirah
Nabawiyyah karya Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad: 521-526 dan
Sirah Nabawiyyah karya Dr. Akram: 2:267-270
Diberdayakan oleh Blogger.







