Posted by : Joko
6 Apr 2016
PERANG HUNAIN

Ketika
Hawazin mengetahui kesuksesan kaum muslimin dalam penaklukan Makkah, mereka
khawatir pasukan Muhammad akan menyerang mereka dan menghancurkan rumah-rumah
mereka. Maka sebelum terjadi, mereka berpikir untuk menyerang kaum muslimin
lebih dulu dan menyiapkan segala yang dibutuhkannya.
Malik bin 'Auf
al-Nashriy mengumpulkan orang-orang Hawazin dan Tsaqif. Dia berjalan membawa
pasukannya hingga tiba di Wadi Authas (lembah Authas). Berita
ini telah sampai ke telinga kaum muslimin setelah 15 hari dari penaklukan
Makkah dan mereka segera bersiap-siap menghadapi kabilah Hawazin dan
Tsaqif. Malik rupanya cukup cerdik. Dia memutuskan untuk memerintahkan
pasukannya meninggalkan Wadi Authas dan menyingkir ke puncak Hunain di lorong
sempit sebuah lembah. Wadi Authas dibiarkan tanpa pertahanan. Di tempat itu,
Malik mengatur dan memberikan perintah-perintahnya. Di antara perintahnya
adalah jika kaum muslimin tiba di lembah, maka pasukannya harus segera
menyerang mereka secara serentak dan memberi pukulan yang mematikan sehingga
barisan mereka bubar. Serangan ini diharapkan akan mengacaukan barisan
pasukan pemburu dan pemanah Muhammad sehingga sebagian mereka dengan sebagian yang
lain campur aduk dan saling memukul. Di tengah suasana itu, pasukan Malik akan
melancarkan serangan gencar dan keras. Malik akhirnya menetapkan strategi
ini dan menunggu kedatangan pasukan Islam.
Tidak berapa lama
pasukan kaum muslimin tiba. Rasululah bergerak dengan membawa 10.000 pasukan
yang baru menaklukkan Makkah ditambah 2.000 pasukan dari orang Quraisy yang
baru masuk Islam di Makkah. Pasukan besar ini dan sejumlah para pengikutnya
bergerak untuk berperang. Mereka tiba di lembah Hunain sore hari, kemudian
berencana istirahat di sana hingga menjelang fajar. Akan tetapi, di ujung akhir
malam, pasukan bergerak, sementara Rasul yang menunggang bagal putihnya
berada di barisan akhir pasukan. Pasukan bergerak menuruni lembah dan tidak
merasakan adanya ancaman. Namun, di tengah keheningan itu, tiba-tiba
kabilah-kabilah musuh menyerang mereka. Malik bin 'Auf telah
memberi komando kaum prianya untuk menyerang kaum muslimin secara mendadak.
Serangan dilancarkan dengan sangat kejam. Kaum muslimin dihujani anak panah.
Mereka dalam kegelapan waktu fajar tidak merasakan apa-apa kecuali hujan
anak panah yang menimpa mereka dari semua arah. Mereka panik dan bingung karena
serangan yang munculnya secara tiba-tiba. Keadaan mereka kacau dan menjadi tumpang.
Pasukan Muhammad mengalami goncangan yang sangat berat. Mereka
mundur dalam posisi terus terserang dan meninggalkan medan tanpa menunggu
komando apa pun. Ketakutan telah menguasai mereka dan kecemasan menerkam hati
mereka. Setiap orang dari mereka takut terhadap musuh. Mereka terpaksa lari
meninggalkan Rasul tanpa menunggu perintah. Beliau dibiarkan tertinggal
di ujung belakang pasukan. Mereka benar-benar dalam keadaan terserang yang
memaksa mereka berlomba-lomba melarikan diri. Tidak ada yang tersisa dan
tetap bertahan di medan kecuali Rasulullah dan 'Abbas serta sekelompok kecil
pasukan. Sisa-sisa pasukan yang masih bertahan untuk menemani Rasul terus
melakukan perlawanan. Mereka tetap bertahan di tengah kepungan serangan musuh.
Rasul berdiri di tengah lingkaran kecil para sahabatnya dari kalangan Muhajirin
dan Ansor serta Ahlu Bait (keluarga Rasul). Di tengah
penjagaan ketat di tengah segelintir para sahabatnya yang masih
memberikan perlawanan sambil bertahan, beliau memanggil-manggil kaum muslimin
yang lari.
"Di mana
orang-orang itu!?" seru Rasul. Sejarah Perang Hunain
Akan tetapi, kaum
muslimin tidak mendengar panggilan ini. Mereka juga tidak menoleh kepada Nabi
karena takut, goncang, dan ngeri akan hantaman maut, apalagi melihat gabungan
pasukan Hawazim dan Tsaqif yang masih terus melempari mereka dengan lemparan
maut yang amat dahsyat, menikam setiap pasukan yang ditemukan, dan menghujani
mereka dengan anak panah. Mereka terus lari dan mundur meninggalkan
induk pasukan. Karena itu, wajar jika mereka tidak mendengar panggilan Rasul
dan tidak bisa memenuhinya. Rasulullah pada waktu itu yang berdiri dan bertahan
sendiri (dengan segelintir sahabatnya) dalam keadaan terkucil merupakan posisi
yang paling agung sekaligus mengkhawatirkan. Masa dan detik yang dijalaninya
adalah masa yang paling mengkhawatirkan dan sulit. Hampir semua pasukannya
meninggalkan beliau. Mereka semua lari meninggalkan Rasul dan tidak ada bedanya
apakah yang dari kalangan para sahabat yang lama (kecuali beberapa sahabatnya
yang militan) ataukah para sahabat yang baru (baru masuk Islam). Akan tetapi,
Rasul tidak berputus asa. Beliau terus-menerus memanggil dan mengajak
para sahabatnya yang lari agar segera kembali dan turun ke medan laga, namun
mereka tidak mendengarkannya. Akan tetapi, pada sisi lain, orang-orang yang
baru masuk Islam yang mendengar Muhammad dirajam kepungan bahaya, justru
membicarakannya dengan komentar-komentar sinis dan bergembira atas bencana yang
menimpa beliau.
"Hari ini
sihir [Muhammad] telah batal!" kata Kaldah bin Hambal dengan sinis. Sejarah Perang Hunain
"Hari ini aku
menyaksikan pembalasan dendamku pada Muhammad," ucap Syaibah bin 'Utsman
bin Thalhah, "hari ini aku benar-benar telah membunuh Muhammad!"
"Kekalahan
mereka tidak sampai hanya berhenti di bawah laut ini," kata Abu Sufyan.
Mereka ini dan
orang-orang yang segolongannya yang mengatakan perkataan-perkataan kejam adalah
orang-orang yang berada dalam pasukan kaum muslimin. Mereka berasal dari
kalangan orang-orang yang baru masuk Islam di Makkah. Mereka datang berperang
bersama Rasulullah, akan tetapi kekalahan (keterdesakan pasukan Islam)
menampakkan apa yang disembunyikan jiwa mereka. Berbeda dengan niat ikhlas para
sahabat Rasul yang juga sama-sama ikut lari. Demikian itu karena
tidak ada cita-cita apapun dalam jiwa mereka untuk kerja mencari sesuatu dalam
peperangan.
Posisi Rasul
benar-benar sulit. Waktu itu adalah waktu yang amat sulit dan dahsyat. Dalam
situasi yang begitu sulit dan berat, Rasul memutuskan untuk tetap di medan
peperangan dan bahkan terus maju ke medan sambil bertahan dari serangan musuh
dengan bagal putihnya. Orang yang bersama beliau adalah pamannya, 'Abbas bin
'Abd al-Muththalib, dan Abu Sufyan bin Harits bin 'Abd al-Muththalib. Abu
Sufyan memegang tali kendali bagalnya dan berusaha bertahan. Sedangkan
pamannya, 'Abbas, ikut pula memanggil-manggil dengan suaranya yang lantang yang
sekiranya didengar orang dari semua lorong. 'Abbas meneriakkan suara lantangnya
agar mereka segera kembali ke induk pasukan.
"Hai kaum Ansor!"
teriak 'Abbas, "Hai orang-orang yang ngobrol!"
'Abbas
mengulang-ulang seruannya hingga gema suaranya dari dinding ke dinding lembah
memantul dan mengirimkan gelombang suara yang sahut-menyahut. Sayup-sayup, gema
suara itu akhirnya terdengar oleh kaum muslimin yang sedang terpojok kena
gempuran musuh. Mereka menjadi ingat Rasulullah. Ingat pada jihad mereka.
Terlintas di benak mereka suatu gambaran tentang akibat kekalahan karena
serangan kaum musyrik dan akibat kemenangan syirik atas mereka. Akhirnya,
mereka menyadari bahwa kekalahan perang ini akan membawa akibat kehancuran
agama dan kaum muslimin. Karena itu, mereka berteriak sahut-menyahut dari semua
arah untuk menyambut panggilan 'Abbas. Mereka segera kembali ke induk pasukan
dan terjun ke lautan peperangan dan menghangatkan diri dengan apinya dalam
keberanian yang tinggi dan jarang ditemui. Mereka berkumpul di seputar Rasul.
Jumlah pasukan lambat laun semakin bertambah. Mereka memasuki medan laga dan
meladeni perang tanding, melawan musuh, dan memanggang diri di
tungku api peperangan. Melihat sambutan ini, Rasul bertambah tenang. Beliau
mengambil segenggam pasir, lalu melemparkannya ke wajah musuh seraya
mengucapkan, "Syaahatil Wujuuh/Amat buruklah wajah-wajah
(kalian)!"
Sejarah Perang
Hunain Kaum muslimin terus merangsek ke tengah
medan dengan menganggap kematian di jalan Allah adalah kenikmatan.
Peperangan semakin dahsyat sehingga Hawazin dan Tsaqif yakin bahwa mereka
berada di tengah-tengah kebinasaan. Maka, mereka pun melarikan diri dalam
keadaan kalah tanpa menunggu waktu. Harta benda dan wanita-wanita mereka
ditinggalkan di belakang menjadi harta rampasan perang (ghanimah) kaum
muslimin. Pasukan kaum muslimin berusaha memburu mereka dan berhasil menawan
mereka dalam jumlah yang cukup besar. Korban terbunuh dari pihak
musuh juga besar. Pengejaran dihentikan ketika mereka sampai di Wadi
Authas (lembah Authas). Di tempat itu, kaum muslimin masih
sempat menewaskan beberapa musuh dan menyerang sisa-sisanya
dengan keras. Akan tetapi, komandan mereka, Malik bin 'Auf, berhasil
melarikan diri ke Thaif dan berlindung di sana. Dengan demikian, Allah
memenangkan kaum muslimin dengan kemenangan yang semakin menguatkan
posisi mereka. Dalam hal ini, Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya):
"Sesungguhnya
Alah telah menolong kamu (hai para mukiminin di medan peperangan yang banyak,
dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena
banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu
sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke
belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada
Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman. Dan, Allah menurunkan bala
tentara yang kamu tidak melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada
orang-orang kafir. Dan, demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir" (QS. At-Taubah 25-26).
Kaum muslimin memperolah harta ghanimah yang
banyak. Jika dihitung menurut ukuran saat ini, jumlahnya 22.000 unta,
40.000 kambing, dan 4.000 ons perak. Orang-orang musyrik yang terbunuh banyak.
Gadis-gadis dan wanita-wanita Hawazin yang tertawan ada 6.000 orang. Mereka
diboyong ke Wadi Ji'ranah(lembah Ji'ranah)
sebagai tawanan. Sementara korban di pihak kaum muslimin jumlahnya juga tak
terhitung karena banyaknya. Kitab-kitab sirah menyebutkan ada dua kabilah kaum
muslimin yang musnah. Nabi saw. kemudian melakukan shalat ghaib untuk mereka.
Rasulullah saw. meninggalkan ghanimah dan para tawanan ini di Ji'ranah,
kemudian dilanjutkan untuk mengepung Thaif, tempat perlindungan Malik bin 'Auf
setelah kekalahannya di Hunaian. Rasul memerintahkan agar kepungan semakin
diperketat, namun Thaif bagi Bani Tsaqif adalah kota yang memiliki benteng yang
kuat. Penduduknya mempunyai pengetahuan perang untuk menghadapi kepungan.
Mereka juga memiliki kekayaan alam yang melimpah. Di samping itu, Tsaqif
menguasai teknik melempar tanah dan tombak dengan baik. Dalam peperangan ini,
mereka melempari kaum muslimin dengan lembing dan anak panah. Di antara kaum
muslimin banyak yang terbunuh. Tidak mudah bagi kaum muslimin untuk menembus
pertahanan musuh. Karena itu, mereka mendirikan kemah yang jaraknya cukup jauh
dari benteng musuh. Kaum muslimin tinggal di perkemahan itu sambil menunggu apa
yang akan diperbuat Allah terhadap mereka. Dan, tidak lama kemudian bantuan
datang. Nabi saw. meminta bantuan pada Bani Daus untuk melempari Thaif dengan
manjanik. Mereka datang kepada Nabi saw. setelah empat hari dari pengepunangan
dengan membawa peralatan senjata. Kaum muslimin menyerang pasukan Thaif dan
melemparinya dengan manjanik. Mereka juga mengirimkan senjata sejenis
"tank" yang dibawa masuk dari bawah pertahanan musuh. Dengan senjata
itu, mereka merangkak, lalu merayap tembok benteng Thaif untuk
membakarnya. Sayang, mereka tidak merasa ada potongan-potongan besi yang
dipanaskan dengan api dan siap menjebak mereka. Potongan-potongan besi itu
benar-benar berhasil menghalau mereka dan membakar dababah (sejenis tank untuk alat merangkak dan merayap
tembok) mereka. Mereka lari. Tha'if memanaskan potongan-potongan besi
sampai meleleh, kemudian melemparkannya ke dababah sehingga membakarnya. Potongan-potongan
besi itulah yang membahayakan kaum muslimin sehingga mereka lari. Ketika mereka
lari, Tsaqif masih melempari mereka dengan panah dan banyak di antara mereka
yang terbunuh. Dengan demikian, kaum muslimin gagal memasuki Tha'if.
Kegagalan ini
memaksa kaum muslimin menggunakan taktik baru. Mereka menggunduli kebun-kebun
Bani Tsaqif dan membakarnya dengan harapan mereka akan menyerah. Namun, mereka
tidak menyerah. Akan tetapi, sebelum serangan berikutnya dilancarkan, bulan
haram (bulan-bulan yang dimuliakan suku-suku Arab dan haram di dalamnya
melakukan peperangan) telah mulai tiba karena Dzulqa'dah telah tampak.
Rasulullah saw. memutuskan kembali dari Tha'if menuju Makkah dan singgah di
Ji'ranah, tempat penyimpanan harta ghanimah dan tawanan mereka. Kemudian Malik
bin 'Auf datang menyusul tempat persinggahan Rasul karena beliau telah berjanji
kepadanya bahwa jika Malik datang kepada Rasul dalam keadaan muslim, maka
beliau mengembalikan harta dan keluarganya serta menambahnya 1.000 unta. Malik
datang dengan menyatakan keislamannya. Dia mengambil apa yang dijanjikan Rasul.
Hal itu menyebabkan para sahabat khawatir bagian ghanimah mereka akan berkurang
jika Rasul tetap memberikannya kepada orang Hawazin itu. Karena itu,
mereka menuntut ghanimah segera dibagikan di antara mereka dan masing-masing
memaksa untuk mengambil tiap harta fai'-nya (rampasan perang).
Mereka saling berbisik-bisik membicarakan persoalan harta ghanimah sehingga
bisik-bisik itu sampai terdengar Rasul. Beliau berdiri di samping seekor unta,
lalu mengambil selembar bulunya dari bagian punuk dan meletakkannya di
antara kedua jarinya, kemudian menariknya seraya bersabda, "Hai
manusia! Demi Allah, tidaklah aku menguasai (memonopoli) sebagian dari
harta jarahan (fai') kalian dan tidak juga selembar bulu unta ini kecuali
seperlimanya. Yang seperlima dikembalikan kepada kalian. Maka, penuhilah
penjahit dan yang dijahit. Sesungguhnya khianat pada keluarga amat memalukan.
Dia pasti akan terkena api dan air neraka pada hari kiamat."
Beliau
memerintahkan tiap sahabat mengembalikan apa yang telah diambilnya dari harta
ghanimah sehingga harta tersebut terbagi dengan adil. Kemudian beliau
membaginya menjadi lima bagian. Seperlimanya dipisahkan untuk dirinya sendiri
dan sisanya (empat per lima) dibagikan kepada para sahabatnya. Tiap-tiap
bagian, beliau berikan kepada Abu Sufyan dan anaknya, Mu'awiyah, Harits bin
Harits, Harits bin Hisyam, Suhail bin 'Amru, Huwaithab bin 'Abd
al-'Uzza, Hakim bin Hizam, al-'Alla bin Jariyah (lima orang yang terakhir ini
adalah dari bani Tsaqif), 'Uyayyinah bin Hashan, Aqra' bin Habis, Malik
bin 'Auf an-Nashariy, dan Shafwan bin Umayyah. Masing-masing orang diberi 100
unta sebagai tambahan atas bagian mereka sekaligus sebagai pengikat dan
penyejuk hati mereka (sebagai bagian dari mu'allaf). Beliau juga memberikan 50
ekor unta kepada orang-orang selain mereka (mu'allaf) sebagai
tambahan bagian mereka. Beliau telah memenuhi semua kebutuhan orang-orang
mu'allaf. Dalam pembagian harta ghanimah ini, beliau berada dalam puncak
kedermawanan dan kemuliaan serta kearifan dan kegeniusan sikap politisnya.
Akan tetapi,
sebagian kaum muslimin masih ada yang tidak mengetahui hikmah kemuliaan dan
pembagian Rasul ini. Perbuatan beliau sempat membuat kaum Ansor saling membicarakannya
di antara sesama mereka. Mereka berkata kepada sesama kaum mereka, "Demi
Allah, Rasulullah telah menemui (bergabung dengan) kaumnya!" Perkataan
itu berpengaruh pada jiwa mereka. Sa'ad bin Ubadah yang juga ikut
menggunjingkan kebijakan Rasul ini, perkataannya sampai terdengar beliau, Lalu
beliau bertanya, "Di manakah posisimu mengenai hal itu, hai Sa'ad?!"
"Tidak lain
saya menjadi bagian dari kaumku, wahai Rasul," jawab Sa'ad. Dia bahkan
mendukung perkataan kaumnya.
"Kalau
begitu, kumpulkan kaummu untukku di tempat ini!" pinta Rasul pada
Sa'ad.
Sa'ad kemudian
mengumpulkan mereka, lalu Rasul berbicara kepada orang-orang yang tidak puas
ini. "Hai orang-orang Ansor," sapa Rasul, "ucapan-ucapan kalian
telah sampai kepadaku. Kalian telah menemukan hal yang baru dalam diri kalian
karena aku. Bukankah aku telah mendatangi kalian dalam keadaan tersesat
lalu Allah memberi kalian hidayah, dalam keadaan kekurangan lalu Allah
mengayakan kalian, dan dalam keadaan saling bermusuhan lalu Allah mempersatukan
hati kalian."
"Benar, Allah
dan Rasul-Nya lebih memberi keamanan dan lebih utama," jawab mereka
serempak.
"Mengapa
kalian tidak menjawabku, hai orang-orang Ansor?!" tanya Rasul kemudian.
"Dengan apa
kami harus menjawabmu, wahai Rasulullah?" kata mereka. "Hanya milik
Allah dan Rasul-Nya segala anugerah dan keutamaan," tambah mereka.
Rasulullah
kemudian melanjutkan sabdanya, "Demi Allah, seandainya kalian
menghendaki, pasti kalian akan mengatakan, membenarkan, dan membenarkan! Engkau
datang kepada kami dalam keadaan dibohongi, lalu kami membernarkanmu, dalam
keadaan terlonta-lonta lalu kami menolongmu, dalam keadaan terbuang lalu kami
memberi perlinungan kepadamu, dan dalam keadaan kekurangan lalu kami memberi
kecukupan kepadamu. Hai kaum Ansor, apakah kalian menemukan dalam diri kalian
kelunakan pada dunia yang saya harus menyatukan kalian dengannya menjadi suatu
kaum agar selamat dan saya menyerahkan kalian pada Islam kalian. Hai
orang-orang Ansor, apakah kalian tidak ridha terhadap orang-orang yang pergi
dengan kambing-kambing dan unta, sementara kalian kembali pada kendaraan kalian
dengan Rasulullah? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
seandainya tidak ada hijrah, pasti saya menjadi orang di antara kaum Ansor.
Seandainya orang-orang berjalan ke suatu bukit dan oang-oang Ansor ke bukit yang
lain, pasti saya berjalan di bukit kaum Ansor. Ya Allah, rahamatilah kaum
Ansor, anak-anak kaum Ansor, anak-anak dari anak-anak kaum Ansor ..." Belum
habis pidato Rasul ini, kaum Ansor menangis dengan tangis yang keras dan
menyayat hati hingga air mata mereka membasahi janggut-janggut mereka.
"Kami lebih
ridha dengan Rasulullah sebagai bagian (kami)," jawab mereka dengan air
mata yang masih membasah. Kemudian mereka kembali ke kemah-kemah dan kendaraan
mereka.
Setelah itu,
Rasulullah saw. keluar dari Ji'ranah menuju Makkah dalam keadaan ihram untuk
umrah. Beliau berangkat dengan pasukannya. Setelah selesai melakukan umrah,
beliau mengangkat 'Utab bin Usaid menjadi Gubernur Makkah, sementara Mu'adz bin
Jabal ditunjuk sebagai guru yang akan membina penduduk Makkah dan memberi
pemahaman mereka tentang Islam. Kemudian beliau bersama kaum Ansor dan
Muhajirin kembali ke Madinah.
Diberdayakan oleh Blogger.







