Posted by : Joko
24 Mar 2016
Nama: Syu'aib (Syuaib) bin Mikail
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim
as ⇒ Madyan ⇒
Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu'aib as
Usia: 110 tahun
Periode sejarah: 1600 - 1490 SM
Tempat diutus (lokasi): Madyan (di pesisir Laut Merah
di tenggara Gunung Sinai)
Jumlah keturunannya (anak): 2 anak perempuan
Tempat wafat: Yordania
Sebutan kaumnya: Madyan dan Ashhabul Aikah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 11 kali
Syu'aib (Shuayb, Shuaib, Shuaib,
Syuaib) artinya "Yang Menunjukkan Jalan Kebenaran"
Allah mengutus Nabi Syu'aib kepada penduduk Madyan
yang berada di bagian barat laut Hijaz, tepatnya di daerah al-Bada'. Allah
berfirman, "Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara
mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, Tidak ada ilah (sembahan) bagimu selain-Nya. Sesungguhnya
telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah
takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang
takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi
sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika
betul-betul kamu orang-orang yang beriman"."Dan janganlah kamu duduk
di tiap-tiap jalan dengan menakuti-nakuti dan menghalang-halangi orang yang
beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi
bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah
memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang berbuat kerusakan." (QS. Al-A'raf [7]: 85-86).
Penduduk Madyan adalah orang-orang pandai berdagang
dan bertani. Hanya saja mereka sering menipu dan licik dalam berinteraksi
terhadap sesama. Jika membeli barang milik orang lain, mereka minta agat
takaran atau timbangannya dilebihkan dari ukuran hak mereka. Sebaliknya, jika
menjual, mereka akan berlaku curang dan mengurangi timbangan atau takaran yang
menjadi hak orang lain.
Nabi Syu'aib melarang mereka melakukan perbuatan
tersebut dan mengingatkan akibat dari perbuatan tercela itu. Namun, mereka
tidak mengindahkannya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an, "Wahai nenek moyang kami atau melarang kami
mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki?. Sesungguhnya engkau
benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai." (QS. Hud [11]: 87).
Penduduk Madyan telah menempuh jalan sesat,
menyekutukan Allah, mengancam Nabi Syu'aib dan orang-orang yang beriman dengan
siksaan serta pengusiran. Hal ini sebagaimana terekam dalam al-Qur'an,
"Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Sy'uaib "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib
dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, kecuali kamu kembali
kepada agama kami". Berkata Syuaib: "Dan apakah (kamu akan mengusir
kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" (QS. Al-A'raf [7]: 88).
Kemudian berlakulah Sunatullah terhadap orang-orang
yang zhalim setelah mereka tetap dalam kebatilannya dan berada pada jalan yang
sesat. Allah berfirman, "Pemuka-pemuka dari
kaumnya (Syu'aib) yang kafir berkata (kepada sesamanya): "Sesungguhnya
jika kalian mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi)
orang-orang yang merugi'.Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka
mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu)
orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di
kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang
merugi. Maka Syu'aib meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku,
sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku
telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap
orang-orang yang kafir?" (QS. Al-A'raf [7]: 90-93).
Lalu Allah mengutus Nabi Syu'aib kepada Ashabul Aikah
(Penduduk Aikah) di daerah Tabuk. Demikianlah menurut riwayat sejarawan yang
paling kuat. Allah berfirman, "Penduduk
Aikah telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syuaib berkata kepada mereka:
"Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul
kepercayaan (yang diutus) kepada kalian. maka bertakwalah kepada Allah dan
taatlah kepadaku," (QS. Asy-Syu'ara [26]: 176-179).
Kata al-Aikah bermakna semak belukar yang melilit
pepohonan. Bentuk jamaknya adalah Aik. Mereka pun mulai menyembah Aikah
tersebut dan tidak menyembah Allah. Disamping itu, mereka juga selalu berbuat
curang dalam timbangan dan takaran. Nabi Syu'aib selalu mengingatkan mereka
tentang akibat dari perbuatan tersebut, tetapi mereka selalu menentangnya.
Kisah ini terekam dalam firman Allah, "Mereka
berkata: "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang
kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan
sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang
berdusta. Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk
orang-orang yang benar. Syu'aib berkata: "Tuhanku lebih mengetahui apa
yang kamu kerjakan".Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka
ditimpa adzab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya adzab itu adalah
adzab hari yang besar. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh,
Rabbmu Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang ," (QS. Asy-Syu'ara
[26]: 185-191).
Syu'aib ditetapkan oleh Allah untuk menjadi seorang
nabi yang tinggal di timur Gunung Sinai kepada kaum Madyan dan Aikah. Yaitu
kaum yang tinggal di pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai. Masyarakat
tersebut disebut karena terkenal perbuatan buruknya yang tidak jujur dalam
timbangan dan ukuran. Mereka menyembah berhala bernama Aikah, yaitu sebidang
tanah gurun yang ditumbuhi pepohonan.
Syu'aib memperingatkan perbuatan mereka yang jauh dari
ajaran agama, namun kaumnya menghiraukannya. Syu'aib menceritakan pada kaumnya
kisah-kisah utusan-utusan Allah terdahulu yaitu kaum Nuh, Hud, Shaleh, dan Luth
yang paling dekat dengan Madyan yang telah dibinasakan Allah karena enggan
mengikuti ajaran nabi. Namun, mereka tetap enggan. Akhirnya, Allah
menghancurkan kaum Madyan dengan bencana.
Ketika berdakwah bagi kaum Madyan, Nabi Syu'aib
menerima ejekan masyarakat yang tidak mau menerima ajarannya karena mereka enggan
meninggalkan sesembahan yang diwariskan dari nenek moyang kepada mereka. Namun,
Syu'aib tetap sabar dan lapang dada menerima cobaan tersebut. Ia tidak pernah
membalas ejekan mereka dan tetap berdakwah. Bahkan, dakwahnya semakin menggugah
hati dan akal. Dalam berdakwah kadang ia memberitahukan bahwa dia sebenarnya
sedarah dengan mereka. Hal ini memiliki tujuan agar kaumnya mau menuju jalan
kebenaran. Karena itulah ia diangkat menjadi rasul Allah yang diutus bagi
kaumnya sendiri. Nabi Syu'aib yang saat itu memiliki beberapa pengikut, mulai
mendapat ejekan kasar dari kaum lain. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai
penyihir dan pesulap ulung.
Allah menimpakan azab melalui beberapa tahap. Kaum
Madyan pada awalnya diberi siksa Allah melalui udara panas yang membakar kulit
dan membuat dahaga. Saat itu, pohon dan bangunan tidak cukup untuk tempat
berteduh mereka. Namun, Allah memberikan gumpalan awan gelap untuk kaum Madyan.
Kaum Madyan pun menghampiri awan itu untuk berteduh sehingga mereka
berdesak-desakan dibawah awan itu. Hingga semua penduduk terkumpul, Allah
menurunkan petir dengan suaranya yang keras di atas mereka. Saat itu juga Allah
menimpakan gempa bumi bagi mereka, menghancurkan kota dan kaum Madyan.
Makam Syu'aib terpelihara dengan baik di Yordania yang
terletak 2 km barat kota Mahis dalam area yang disebut Wadi Syu'aib. Situs lain
yang dikenal sebagai makam Syu'aib terletak di dekat Horns of Hattin di Lower
Galilee.
Di dalam Al-Quran, nama Syu'aib, disebutkan sebanyak
19 kali, yaitu :
Surat Al A’Raaf [7] : ayat 85, 88, 90, 92, dan 93.
Surat Huud (Hud) [11] : ayat 84, 85, 87, 88, 91, 92,
dan 94
Surat Asy Syu'araa [26] : ayat 177, 188, dan 189
Surat Al-Qashash (Al-Qasas) [28] : ayat 25 dan 27
Surat Al-'Ankabuut (Al-'Ankabut) [29] : ayat 36 dan 37
Diberdayakan oleh Blogger.







