Posted by : Joko
24 Mar 2016
Nama: Sulaiman (Sulaeman, Sulayman) bin Daud (Dawud)
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as
⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim
as ⇒ Ishaq as ⇒
Yahudza ⇒ Farish ⇒
Hashrun ⇒ Aram ⇒
Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun
⇒ Bu'az ⇒
Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud
as ⇒ Sulaiman as
Usia 66 tahun
Periode sejarah 989 - 923 SM
Tempat diutus (lokasi) Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) Rahab'an (Ruhba'am/Rehabeam)
Tempat wafat Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 21 kali
Dalam kisah-kisah para nabi, khususnya nabi
sulaeman, seringkali kita mendengarkan beliau adalah nabi yang dapat berinteraksi dengan jin, binatang dan lainnya.
Seperti kisah nabi sulaiman dengan ratu balqis,
diceritakan bahwa; Setelah membangunkan Baitul Muqaddis, Nabi Sulaiman menuju
ke Yaman. Tiba di sana, disuruhnya burung hud-hud (sejenis pelatuk) mencari
sumber air. Tetapi burung berkenaan tiada ketika dipanggil. Ketiadaan burung
hud-hud menimbulkan kemarahan Sulaiman. Selepas itu burung hud-hud datang
kepada Nabi Sulaiman dan berkata: “Aku telah terbang untuk mengintip dan
terjumpa suatu yang sangat penting untuk diketahui oleh tuan…”. Itulah
sepenggal kisah sulaeman berinteraksi dengan hewan (burung hud-hud). Untuk
selengkapnya, silakan simak kisah nabi sulaeman as di bawah ini :
Biografi Nabi Sulaiman
Sulaiman (sekitar 975-935 SM) merupakan anak Nabi Daud
Sejak kecil lagi baginda telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikirannya.
Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 970 SM. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali
di dalam Al-Quran. Ia wafat di Rahbaam, Baitul Maqdis-Palestina.
Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan rasul.
Setelah Sulaiman cukup umur dan ayahandanya wafat, Sulaiman diangkat menjadi
raja di kerajaan Israil. Ia berkuasa tak hanya atas manusia, namun juga atas
binatang dan makhluk halus seperti jin dan lain-lain. Baginda dapat memahami
bahasa semua binatang
Istana Nabi Sulaiman sangat indah. Dibangun dengan
gotong royong manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam,
tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan
ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi mutiara, dan
sebagainya.
Nabi Sulaiman dianugerahkan Allah kebijaksanaan sejak
remaja. Ia juga memiliki berbagai keistimewaan, termasuk mampu berbicara,
memahami dan bahasa hewan sehingga semua makhluk itu mengikuti kehendaknya.
Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah
memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman dan keduanya mengucapkan; segala puji
bagi Allah yang melebihkan kami dan banyak hambanya yang beriman. Dan Sulaiman
telah mewarisi Daud dan dia berkata; Wahai manusia, kami telah diberi
pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya
semua ini benar-benar satu anugerah yang nyata.”
Ia juga dapat menundukkan jin dan angin, sehingga
dapat disuruh melakukan apa saja, termasuk mendapatkan tembaga cair yang selalu
keluar dari perut bumi untuk dijadikan perkakasan, bangunan istana, benteng,
piring-piring besar dan tungku-tungku.
Firman Allah bermaksud: “Dan Kami (tundukkan) angin
bagi Sulaiman yang perjalanannya pada waktu petang, sama dengan perjalanan
sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian daripada jin
ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya.
Dan siapa yang menyimpang antara mereka daripada perintah Kami, Kami rasakan
kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”
Kebijaksanaan Nabi Sulaeman
Kebijaksanaan Sulaiman dapat dilihat melalui berbagai
peristiwa yang dilaluinya. Misalnya, beliau coba mengetengahkan ide kepada
bapaknya, Nabi Daud a.s bagi menyelesaikan perselisihan antara dua pihak, yaitu
antara pemilik kebun dan pemilik kambing.
Walaupun ketika itu usianya masih muda, pendapatnya
bernas. Mulanya Nabi Daud memutuskan pemilik kambing supaya menyerahkan
ternaknya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi disebabkan ternaknya memasuki
dan merusakkan kebun itu. Sulaiman yang mendengar keputusan bapaknya
menyelanya: “Wahai bapakku, menurut pandanganku, keputusan itu sepatutnya
berbunyi; kepada pemilik tanaman yang telah musnah tanaman diserahkanlah
kambingnya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan dimanfaatkan bagi
keperluannya. “Manakala tanamannya yang binasa itu diserahkan kepada pemilik
kambing untuk dijaga sehingga kembali kepada keadaan asal. Kemudian
masing-masing menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing
pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau menderita kerugian lebih daripada
sepatutnya.” Pendapat yang dikemukakan Sulaiman disetujui kedua pihak. Malah
khalayak ramai yang menyaksikan perbicaraan itu kagum dengan kebolehan beliau
menyelesaikan perselisihan terbabit.
Nabi Sulaeman Naik Tahta
Bertitik tolak daripada peristiwa itu, kewibawaan
Sulaiman semakin tersebar dan ia juga sebagai bibit permulaan kenabian
Sulaiman. Melihat kecerdasan akal yang ditonjolkannya itu, Nabi Daud menaruh
kepercayaan dengan mempersiapkannya sebagai pengganti dalam kerajaan Bani
Israel. Namun, abangnya Absyalum tidak merelakan beliau melangkah lebih jauh
dalam hiraki pemerintahan itu, malah mendakwa dia yang sepatutnya dilantik
sebagai putera mahkota kerana Sulaiman masih muda dan tidak berpengalaman.
Absyalum mau mendapatkan tahta itu dari bapak dan adiknya. Justru, dia mulai
menunjukkan sikap baik terhadap rakyat, dengan segala masalah mereka ditangani
sendiri dengan segera, membuatkan pengaruhnya semakin meluas.
Sampai satu ketika, Absyalum mengistiharkan dirinya
sebagai raja, sekaligus merampas kekuasaan bapaknya sendiri. Tindakannya itu
mengakibatkan huru-hara di kalangan Bani Israel. Melihatkan keadaan itu, Nabi
Daud keluar dari Baitul Maqdis, menyeberangi Sungai Jordan menuju ke Bukit
Zaitun. Tindakannya itu semata-mata mau mengelakkan pertumpahan darah, namun
Absyalum dengan angkuh memasuki istana bapanya. Di Bukit Zaitun, Nabi Daud
memohon petunjuk Allah supaya menyelamatkan kerajaan Bailtul Maqdis daripada
dimusnahkan anaknya yang durhaka itu. Allah segera memberi petunjuk kepada Nabi
Daud, yaitu memerangi Absyalum. Namun, sebelum memulai peperangan itu, Nabi
Daud berpesan kepada tentaranya supaya tidak membunuh anaknya itu, malah jika
boleh ditangkap hidup-hidup. Bagaimanapun, kuasa Allah melebihi segalanya dan
ditakdirkan Absyalum mati juga kerana dia mau bertarung dengan tentara
bapaknya.
Kemudian, Nabi Daud kembali ke Baitul Maqdis dan
menghabiskan sisa hidupnya selama 40 tahun di istana itu sebelum melepaskan
takhta kepada Sulaiman. Kewafatan Nabi Daud memberikan kuasa penuh kepada Nabi
Sulaiman untuk memimpin Bani Israel berpandukan kebijaksanaan yang dianugerah
Allah.
Setelah membangunkan Baitul Muqaddis, Nabi Sulaiman
menuju ke Yaman. Tiba di sana, disuruhnya burung hud-hud (sejenis pelatuk)
mencari sumber air. Tetapi burung berkenaan tiada ketika dipanggil. Ketiadaan
burung hud-hud menimbulkan kemarahan Sulaiman. Selepas itu burung hud-hud
datang kepada Nabi Sulaiman dan berkata: “Aku telah terbang untuk mengintip dan
terjumpa suatu yang sangat penting untuk diketahui oleh tuan…”
Firman Allah, bermaksud: “Maka tidak lama kemudian
datanglah hud-hud, lalu ia berkata; aku telah mengetahui sesuatu, yang kamu
belum mengetahuinya dan aku bawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting
yang diyakini.
“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang
memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana
yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah…”
Mendengar berita itu, Nabi Sulaiman mengutuskan surat
mengandungi nasihat supaya menyembah Allah kepada Ratu Balqis. Surat itu dibawa
burung hud-hud dan diterima sendiri Ratu Balqis. Selepas dibaca surat itu, Ratu
Balqis menghantarkan utusan bersama hadiah kepada Sulaiman. Dalam al-Quran
diceritakan: “Tatkala utusan itu sampai kepada Nabi Sulaiman, seraya berkata;
apakah patut kamu menolong aku dengan harta?
“Sesungguhnya apa yang diberikan Allah kepadaku lebih
baik daripada apa yang diberikannya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan
hadiahmu.
“Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan
mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya dan
pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan
mereka menjadi tawanan yang tidak berharga.”
Utusan itu kembali ke negeri Saba dan menceritakan
pengalaman yang dialami di Yaman kepada Ratu Balqis, sehingga dia berhajat
untuk berjumpa sendiri dengan Sulaiman. Keinginan Ratu Balqis untuk datang itu
diketahui Nabi Sulaiman terlebih dulu. Beliau segera memerintahkan seluruh
tentaranya yang terdiri dari manusia, hewan dan jin untuk membuat persiapan
bagi menyambut kedatangan Ratu Balqis. Nabi Sulaiman kemudian menitahkan untuk
memindahkan singasana Ratu Balqis ke istana beliau.
Surah An-Naml
38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah
di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum
mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
39. Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin:
“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu
berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya
lagi dapat dipercaya.”
40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI
Kitab “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka
tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:
“Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau
mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya
dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar,
maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”
41. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; maka
kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang
tidak mengenal(nya).”
Manakala Ratu Balqis tiba, ia ditanya oleh Sulaiman:
“Seperti inikah singgahsanamu?” Dengan terperanjat, Ratu Balqis menjawab:
“Seakan-akan singgasana ini singgasanaku” Kemudian Ratu Balqis dipersilakan
masuk ke istana Nabi Sulaiman. Namun, ketika berjalan di istana itu, sekali
lagi Ratu Balqis terpedaya, karena menyangka lantai istana Sulaiman terbuat
dari air, sehingga ia menyingkap kainnya.
Firman Allah yang bermaksud: Dikatakan kepadanya;
masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia (Ratu Balqis) melihat lantai istana
itu, dikiranya air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.
Berkatalah Sulaiman; “sesungguhnya ia istana licin
yang diperbuat daripada kaca”. Berkatalah Balqis; “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman dan
kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Peristiwa itu menyebabkan Ratu Balqis berasa sangat
aib dan menyadari kelemahannya, sehingga dia memohon ampun atas kesilapannya
selama ini dan akhirnya dia diperisterikan oleh Nabi Sulaiman.
Kisah Sulaiman dan tentaranya yang terdiri daripada
manusia, hewan dan jin dalam menjalankan dakwah Allah terhadap Ratu Balqis.
Kematian beliau berlainan dengan manusia biasa. Nabi Sulaiman wafat dalam
keadaan duduk di kerusi, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan
memperhatikan jin yang bekerja.
Firman Allah:
“Tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman,
tidak ada yang menunjukkan kepada mereka setelah kematiannya itu melainkan
rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, nyatalah bagi
jin itu bahawa sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak
akan tetap dalam seksa yang menghinakan.”
Diberdayakan oleh Blogger.







