Posted by : Joko
24 Mar 2016

Nama: Yahya bin Zakaria
Garis Keturunan
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒
Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒
Yahudza ⇒ Farish ⇒
Hashrun ⇒ Aram ⇒
Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun
⇒ Bu'az ⇒
Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud
as ⇒ Sulaiman as ⇒
Rahab'am ⇒ Aynaman ⇒
Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒
Bal'athah ⇒ Barkhiya ⇒
Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒
Sulaiman ⇒ Daud ⇒
Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim
⇒ Dan ⇒
Zakaria as ⇒ Yahya as
Usia 32 tahun
Periode sejarah 1 SM - 31 M
Tempat diutus (lokasi) Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) -
Tempat wafat Damaskus
Sebutan kaumnya Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 5 kali
Nabi Yahya (Yohanes) adalah
anak Nabi Zakaria. Dalam Al-Qur'an Nabi Yahya tidak banyak diuraikan, hanya dijelaskan
beliau dikaruniai hikmah dan ilmu semasa kanak-kanak. Beliau hormat pada orang
tuanya, dan tidak sombong ataupun durhaka. Beliau pintar dan tajam
pemikirannya, beribadah siang malam.
Di kalangan bani Israil, beliau dikenal sebagai ahli
agama dan hafal Taurat. Ia berani mengambil keputusan, tidak takut dihina
orang, dan tidak menghiraukan ancaman penguasa dalam usahanya menegakkan
kebenaran. Ia menganjurkan orang bertobat, dan sebagai tanda, ia memandikan
orang yang bertobat di sungai Jordan, yang sebenarnya adalah mandi besar, dan
disebut pembaptisan dalam ajaran Kristen.
Kisah Nabi Yahya tidak terpisahkan dengan
kisah ayahnya (Nabi Zakaria). Nabi Zakaria diutus kepada bani Israil ketika
kemaksiatan, kemungkaran, kezhaliman, dan kerusakan merajalela di kalangan
mereka. Selain itu, raja-raja kejam serta zhalim juga berkuasa di sana dan
selalu berbuat kerusakan. Herodes, penguasa Palestina adalah raja yang paling
jahat dan suka melanggar. Dialah yang memerintahkan membunuh Nabi Zakaria dan
Nabi Yahya.
Nabi Zakaria memulai dakwah dengan mengajak kaumnya
menyembah Allah dan memperingatkan mereka tentang akibat buruknya perbuatan
mereka jika tidak segera bertaubat. Meski sudah renta dan rambutnya memutih,
dia terus berdakwah menyeru kaumnya. Selain itu, Nabi Zakaria juga tak pernah
letih berdoa kepada Allah agar dikarunia putra yang dapat menggantikannya dalam
memikul tugas dakwah ini setelah dia wafat nanti. Hal ini dikisahkan dalam
firman Allah, "Dia (Zakaria) berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya
tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah
kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir
terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul,
maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku
dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang
yang diridhai." (QS. Maryam [19]: 4-6).
Allah lantas mengabulkan permohonannya. Sebagaimana
firman-Nya, "Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu
akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum
pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia." (QS. Maryam [19]: 7).
Nabi Yahya dilahirkan tiga bulan lebih awal dari
kelahiran Nabi Isa. Dia kemudia dibesarkan dan dididik oleh orang tuanya dengan
kebaikan dan ketakwaan, seperti firman Allah, "Wahai Yahya, ambillah
(pelajarilah) kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan, Kami berikan
kepadanya (Yahya) hikmah selagi ia masih kanak-kanak" (QS. Maryam [19]:
12).
Sejak kecil, Allah telah memberinya ilmu dan hikmah
dan setelah dewasa dia diangkat menjadi nabi. Nabi Yahya terkenal dengan
sifatnya yang lemah lembut, penuh kasih saying, bersih, apik, dan zuhud. Selain
itu, dia juga banyak menangis karena takut kepada Allah, senantiasa mengajak
kaumnya bertaubat dan meninggalkan kemaksiatan, serta mengingatkan mereka
tentang akibat dari pelanggaran yang mereka lakukan. Nabi Yahya membaptis
umatnya dengan membasuh dosa-dosa dan kesalahan mereka di sungai Jordan
(asy-Syari'ah) dan dia pula yang membaptis Nabi Isa.
Nabi Yahya meninggal karena dibunuh. Hal ini
dikisahkan dalam satu riwayat bahwa pada zaman itu, salah satu raja yang
terkenal jahat dan zhalim, Herodes ingin menikah dengan perempuan yang tidak
halal baginya. Perempuan tersebut bernama Herodia yang tidak lain ialah
keponakannya sendiri, anak perempuan saudara kandungnya.
Wanita itu sangat cantik; memiliki tubuh dan
penampilan yang amat menarik. Ketika mendengar berita tersebut, Nabi Yahya
spontan melarang dan menentang pernikahan itu serta mengumumkan pembatalannya.
Sikap Yahya ini pun tersebar ke seluruh penjuru kota. Merasa tidak senang, wanita
itu berencana membunuh Yahya. Untuk memenuhi keinginannya, Herodia bersolek
menemui pamannya yang tidak lain adalah calon suaminya dengan wajah
berseri-seri dan menggoda. Dia lantas menjerat Herodes dengan tipu daya hingga
pamannya terlena dengan ucapannya yang lembut. Pamannya kemudian bertanya,
"Apakah yang dapat aku lakukan untukmu?"
Herodia menjawab, "Jika tuanku berkenan, aku
hanya menginginkan kepala Yahya bin Zakaria."
Sang raja pun mengabulkan permintaan calon istrinya
tersebut dengan mengutus seseorang untuk memenggal kepala Nabi Yahya. Allah
berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan
membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang
menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan
menerima siksa yang pedih." (QS. Ali-'Imran [3]: 21).
Di dalam Al-Quran, nama Yahya as, disebutkan sebanyak
5 kali, seperti berikut ini.
Pada Surat Maryam [19]:ayat 7-15, Firman Allah SWT :
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira
kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami
belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata:
"Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah
seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang
sangat tua". Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman:
"Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu
sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". Zakaria
berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman:
"Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia
selama tiga malam, padahal kamu sehat". Maka ia keluar dari mihrab menuju
kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di
waktu pagi dan petang. Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan
sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,
dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa).
Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua
orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan
atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari
ia dibangkitkan hidup kembali.
Pada Surat Aali 'Imran (Ali 'Imran) [3] : ayat 39,
Firman Allah SWT :
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang
ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya
Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang
membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri
(dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".
Pada Surat Al-An'aam (Al-An'am) [6] : ayat 85, Firman
Allah SWT :
Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk
orang-orang yang shaleh.
Pada Surat Al-Anbiyaa' (Al-Anbiya') [21] : ayat 90,
Firman Allah SWT :
Maka Kami memperkenankan do'anya, dan Kami anugerahkan
kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan
yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka
adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.
Diberdayakan oleh Blogger.







