Posted by : Joko
24 Mar 2016
Nama: Shalih bin Ubaid
Garis Keturunan: Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒ Iram
(Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud
⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih
as
Usia: 70 tahun
Periode sejarah: 2150 - 2080 SM
Tempat diutus (lokasi): Daerah al-Hijr (Mada'in Salih,
antara Madinah dan Syria)
Jumlah keturunannya (anak): -
Tempat wafat: Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya: Kaum Tsamud
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 10 kali
Kaum Tsamud bermukim di daerah al-Hijr. Saat ini
daerah tersebut dinamakan dengan Mada'in Salih: satu wilayah pegunungan
diantara Madinah dan Syam (Syria). Allah berfirman, "(Terhadap)
kaum Tsamud yang memotong batu-batuan besar di lembah," (QS. Al-Fajr [89]:
9).
Mereka ahli dalam memahat batu pegunungan dan
menjadikannya sebagai tempat tinggal. Selain itu, mereka juga pandai mengolah
tanah datar dan mengubahnya menjadi istana. Alla berfirman, "Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian
khalifah-khalifah setelah kaum 'Ad dan menempatkan kalian di bumi. Di tempat
yang datar kalian dirikan istana-istana dan bukit-bukit kalian pahat menjadi
rumah-rumah, Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kalian membuat
kerusakan di bumi," (QS. Al-a'raf [7]: 74).
Negeri mereka memiliki keistimewaan dengan kesuburan
tanahnya, selain posisi geografisnya yang berada di jalur perdagangan antara
Syam dan Yaman. Hal itu, membuat sumber kehidupan mereka melipah dan makmur.
Namun, kaum Tsamud membalas semua kenikmatan itu dengan menyimpang dari jalan
Allah. Mereka akhirnya diadzab seperti kaum Hud karena kekufuran dan
pengingkaran mereka terhadap nikmat Allah.
Allah lalu mengutus rasul-Nya dari kalangan mereka
sendiri, yaitu Nabi Shalih. Beliau memberikan peringatan kepada mereka tentang
akibat dari buruknya perbuatan itu. Akan tetapi, mereka mengejek, mendustakan,
dan meminta bukti yang tak dapat dibantah sebagai pembenaran terhadap kenabian
beliau. Nabi Shalih pun mendatangkan seekor unta yang menjadi mukjizatnya.
Beliau lantas meminta mereka agar tidak menyakitinya. Hal ini terekam dalam
firman Allah, "Sesungguhnya telah datang
kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian. Ini (seekor) unta betina dari
Allah sebagai tanda untuk kalian. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah
disakiti, nanti akibatnya kalian akan mendapatkan siksaan yang pedih,"(QS.
Al-A'raf [7]: 73)
Unta betina tersebut tinggal beberapa waktu di
perkampungan kaum Tsamud. Ia pun makan tumbuh-tumbuhan dan minum air pada satu
hari dan meninggalkannya pada hari yang lain. Ini merupakan suatu hal yang
mendorong sebagian mereka untuk percaya dengan mukjizat Nabi Shalih. Kaum
Tsamud lantas khawatir akibat semua itu serta bahaya yang mengancam kekuasaan
mereka. Tampaklah rasa hasut dan kedengkian mereka ketika sembilan orang
diantara mereka bersekongkol untuk membunuh unta tersebut. Kisah ini disebutkan
dalam firman Allah, "Di kota itu ada
sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan
perbaikan. Mereka berkata, 'Bersumpahlah kalian dengan (nama) Allah bahwa kita
pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita
akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan
keluarganya itu, dan sungguh, kita orang yang benar.' Dan mereka membuat tipu
daya, dan Kami pun membuat tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka,
perhatikanlah akibat dari tipu daya mereka, bahwa kami membinasakan mereka dan
kaum mereka semua. Maka, itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena
kezhaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui," (QS. An-Naml [27]:
48-52).
Demikianlah siksaan pedih yang menimpa kaum Tsamud.
Semua itu akibat kekufuran mereka kepada Allah dan penyembelihan terhadap unta
mukjizat Nabi Shalih. Allah menyelamatkan Nabi Shalih dan orang-orang yang
beriman, dari adzhab yang menimpa kaum itu. Keutuhan sebagian tempat tinggal
mereka pun bisa menjadi pelajaran dan peringatan.
Ibnu Katsir meriwayatkan di dalam Tarikh-nya bahwa
Rasulullah menutup kepala dan mempercepat kendaraannya ketika melewati
pemukiman kaum Tsamud di al-Hijr (Mada'in Salih). Selain itu, beliau juga
melarang para sahabatnya untuk masuk ke pemukiman mereka, kecuali dalam keadaan
menangis. Di dalam sebuah riwayat disebutkan "Jika kalian tidak bisa
menangis, paksalah untuk bisa menangis karena merasa takut tertimpa (adzab)
seperti yang menimpa mereka."
Kisah Nabi Saleh (Shalih/Shaleh)
Shaleh (Shalih) merupakan salah seorang nabi dan rasul
dalam Agama Islam yang telah diutus kepada kaum Thsamud. Nabi Shaleh telah
diberikan mukjizat yaitu seekor unta betina yang dikeluarkan dari celah batu
dengan izin Allah untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT kepada kaum Thsamud.
Malangnya kaum Thsamud masih mengingkari ajaran Nabi Saleh, malah mereka
membunuh unta betina tersebut. Akhirnya kaum Thsamud dibalas dengan azab yang
amat dahsyat yang menyebabkan tubuh mereka hancur berkecai.
Tsamud adalah nama suatu suku yang dimasukkan bahagian
dari bangsa Arab oleh ahli sejarah dan ada pula yang menggolongkan mereka ke
dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama "
Alhijir " terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan
dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang dikirim
oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka
terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud.
Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam
yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum
Tsamud. Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah,
binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag
indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang rata dan
dipahatnya dari gunung. Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram,
sejahtera, dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan alam dan mengaku bahwa
kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.
Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah
berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berkorban, tempat
mereka meminta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan
kebaikan serta kebahagiaan. Mereka tidak dapat melihat atau memikirkan lebih
jauh dan apa yang dapat mereka jangkau dengan pancaindera.
Nabi Saleh dan Kaum Tsamud
Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan
membiarkan hamba-hamba-Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya
pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mereka keluar dari
jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan
azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mereka diperingatkan dan diberi
petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan
dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada
mereka telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku
mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya,
terkenal tangkas, cerdik, pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.
Dikenalkan mereka oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang
sepatutnya mereka sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta
mereka, menciptakan alam sekitar mereka, menciptakan tanah-tanah yang subur
yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup mereka, mencipta
binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mereka dan dengan
demikian memberi kepada mereka kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan
lahir dan batin. Tuhan Yang Esa itulah yang harus mereka sembah dan bukan
patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak
berkuasa memberi sesuatu kepada mereka atau melindungi mereka dari ketakutan
dan bahaya.
Nabi Saleh memperingatkan mereka bahwa ia adalah
seorang daripada mereka, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan
darah. Mereka adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan
dan sesuku dengan mereka. Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mereka
dan sesekali tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang akan membawa
kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mereka. Ia menerangkan kepada mereka
bahwa dia adalah pesuruh dan utusan Allah, dan apa yang diajarkan dan
didakwahkan kepada mereka adalah amanat Allah yang harus dia sampaikan kepada
mereka untuk kebaikan mereka semasa hidup dan sesudah mereka mati di akhirat
kelak. Dia berharap yang kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan
bersungguh-sungguh apa yang dia serukan dan anjurkan agar mereka segera
meninggalkan penyembahan kepada patung berhala itu dan percaya beriman kepada
Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon keampunan kepada-Nya atas dosa
dan perbuatan syirik yang selama ini telah mereka lakukan. Allah maha dekat
kepada mereka dengan mendengarkan doa mereka dan memberi keampunan kepada yang
bersalah apabila dimintanya.
Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan
dakwahnya yang bagi mereka merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan
datang dari saudara atau anak mereka sendiri. Maka serentak ditolaknya ajakan
Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya:"Wahai
Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, pikiranmu tajam
dan pendapat serta semua pertimbanganmu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat
tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari
engkau sebetulnya untuk memimpin kami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang
kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi
ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan. Akan
tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu
tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi
adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami?
Engkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang
kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi
sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk
selama-lamanya. Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena seruanmu dan
kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap
kosongmu bahkan meragui kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang
kami dengan meninggalkan persembahan mereka dan mengikuti jejakmu."
Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan
menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah
mengurniai mereka rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan
kepada mereka kisah kaum-kaum yang mendapat seksaan dan azab dari Allah karena
menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu dapat
terjadi ke atas mereka jika mereka tidak mahu menerima dakwahnya dan mendengar
nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota
dari keluarga besar mereka dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah
daripada mereka atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah yang
ditugaskan kepadanya dan Allahlah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk
usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mereka.
Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakannya
terdiri dari orang-orang yang berkedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi
Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya
mereka yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala
dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya
dan berkata kepadanya:
"Wahai Saleh! Kami kira bahwa
engkau telah dirasuk syaitan dan terkena sihir. Engkau telah menjadi sinting
dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan pikiranmu sudah kacau
sehingga engkau tidak sedar yang engkau telah mengeluarkan kata-kata yang tidak
masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahwa
engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah
kelebihanmu daripada kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal
ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi
nabi atau rasul daripada engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan
kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala
dan pemimpin bagi kaummu. Jika engkau merasa bahwa engkau cerdas dan cergas dan
mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam
dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca
penyembahan kami dan nenek moyangmu sendiri. Kami tidak akan mengikuti jalanmu
dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih
dahulu.
Nabi Saleh menjawab: "
Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mengharapkan
sesuatu apapun daripadamu sebagai balasan atas usahaku memberi penerangan
kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan
bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan
daripada-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu dan bagaimana
aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku,
padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku.
Janganlah sesekali kamu harapkan bahwa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan
melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan
penyembahan nenek moyang kami yang jahil itu. Siapakah yang akan melindungiku
dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya
akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu."
Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah
Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutnya dan
berpihak kepadanya, para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak
membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendapat perhatian terutama
dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mereka menentang Nabi Saleh
dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam
bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.
Allah memberi mukjizat kepada Nabi Saleh
Nabi Saleh sadar bahwa tentangan kaumnya yang menuntut
bukti daripadanya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan
pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para
pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mereka. Nabi Saleh
membalas tentangan mereka dengan menuntut janji dengan mereka apabila dia
berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta bahwa mereka akan meninggalkan
agama dan penyembahan mereka dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman
kepadanya.
Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka
kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu
mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan
perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon
dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya
dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang
mereka tunjuk.
Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha
Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar
dari perutnya seekor unta betina.
Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari
perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka: " Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan
biarkanlah dia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah, dia mempunyai
giliran untuk mendapatkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk
mendapatkan minuman bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah
akan menurunkan azab-Nya apabila kamu mengganggu binatang ini." Kemudian
berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa
mendapat gangguan dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah
perigi yang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada
hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum, tiada seekor binatang lain
berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada
pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta
Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang
melintang di dalam kerongkong.
Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendatangkan mukjizat
yang mereka tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk
menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pengaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya
telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilangkan banyak
keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik ternakan
yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang
bermaharajalela di ladang dan kebun-kebun mereka serta ditakuti oleh
binatang-binatang peliharaannya.
Unta Nabi Saleh Dibunuh
Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum
Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh dan selagi orang
masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh apabila
untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk
melenyapkan binatang itu dari atas bumi mereka, muncullah tiba-tiba seorang
janda bangsawan yang kaya raya yang akan menyerah dirinya kepada siapa yang
dapat membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang
mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah
seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.
Dua macam hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita
itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama
Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan
pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian
yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah
mati dibunuh.
Dengan bantuan tujuh orang lelaki bersembunyilah
kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya dilalui oleh unta dalam
perjalanannya ke perigi tempat ia minum dan begitu unta-unta yang tidak berdosa
itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda' yang disusul oleh Gudar
dengan menikamkan pedangnya di perutnya.
Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para
pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang
mendapat sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin
seakan-akan mereka kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang
gilang- gemilang. Berkata mereka kepada Nabi Saleh:"
Wahai Saleh! Untamu telah mati dibunuh, cobalah datangkan akan apa yang engkau
katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul
termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."
Nabi Saleh menjawab:"
Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika
kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah
engkau akan tibanya masa azab yang Allah telah janjikan dan telah aku sampaikan
kepada kamu. Kamu telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu
kepada-Nya. Janji Allah tidak akan meleset. Kamu boleh bersuka-ria dan
bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang
setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan takdir-Nya yang
tidak dapat ditunda atau dihalang."
Ada kemungkinan menurut ahli tafsir bahwa Allah
melalui rasul-Nya, Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi
kesempatan, kalau-kalau mereka sadar akan dosanya dan bertaubat minta ampun
serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.
Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu
bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk
mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.
Turunnya azab Allah yang dijanjikan
Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang
akan menimpa di atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari
pertama bila mereka terbangun dari tidur, wajah mereka menjadi kuning dan akan
berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari
keempat turunlah azab Allah yang pedih.
Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi
Saleh kepada kaum kelompok sembilan orang yaitu kelompok pembunuh unta
merancang melakukan pembunuhan ke atas diri Nabi Saleh mendahului tibanya azab
yang diancamkan itu. Mereka mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama
akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih
tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh,
jika diketahui identitas mereka sebagai pembunuhnya. Rancangan mereka ini
dirahasiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapapun kecuali
kesembilan orang itu sendiri.
Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh bagi
melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gelita dan sunyi-senyap
jatuhlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang datang dari langit dan yang
seketika merebahkan mereka di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Demikianlah Allah telah melindungi rasul-Nya dari perbuatan jahat
hamba-hamba-Nya yang kafir.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah
ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin
pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestina, meninggalkan Hijir dan
penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat
beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.
Kisah Nabi Saleh dalam al-Quran
Kisah Nabi Saleh telah diceritakan dalam 9 ayat, yaitu
surah Al-A'raaf [7]: ayat 73, 75, dan 77; surah Hud [11]: ayat 61, 62, 66, dan
89; surah Asy-Syu'araa [26]: ayat 142 dan 155; surah Al-Naml [27]: ayat 45.
Pengajaran dari kisah Nabi Saleh
Pengajaran yang menonjol yang dapat dipetik dari kisah
Nabi Saleh ini ialah bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh
sekelompok kecil warga masyarakat yang negatif dapat membinasakan masyarakat
itu seluruhnya.
Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur,
bahkan tersapu bersih di atas bumi karena dosa dan pelanggaran perintah Allah
yang dilakukan oleh beberapa orang pembunuh unta Nabi Saleh as Di sinilah
letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf, nahi mungkar.
Ini karena dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu
kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang
terjadi di dalam masyarakat dan perlindungan kita, kita telah membebaskan diri
dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu.
Bersikap acuh tak acuh terhadap maksiat dan
kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan
penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.
Diberdayakan oleh Blogger.







