Posted by : Joko
24 Mar 2016

Nama: Nuh
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as
Usia: 950 tahun
Periode sejarah: 3993 - 3043 SM
Tempat diutus (lokasi): Selatan
Irak
Jumlah keturunannya (anak): 4
putra
Tempat wafat: Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya: Kaum Nuh
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 43 kali
Allah berfirman, "Manusia
itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan
kabar gembira dan peringatan, Dan dia turunkan bersama mereka kitab yang
mengandung kebenaran untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara
yang mereka perselisihkan, (QS. Al-Baqarah [2]: 213).
Ibnu Abbas meriwayatkan tentang penafsiran ayat ini.
Dia berkata, "Jarak waktu antara Nabi Nuh
dan Nabi Adam adalah sepuluh abad. Mereka semua membawa syariat dari Allah lalu
berpecah belah. Allah lantas mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira
dan pemberi peringatan," Namun, setelah setan menggoda kaum Nuh
untuk menyembah selain Allah, maka meluaslah perilaku syirik dan penyembahan
berhala di kalangan anak manusia. Allah berfirman, "Mereka berkata, "Jangan sekali-kali kalian
meninggalkan (penyembahan ) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali
kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa, Yaghuts, Ya'uq,
dan Nasr,'"(QS. Nuh [71]:23).
Nabi Nuh dibesarkan di daerah Irak, di
kalangan masyarakat yang kufur dan sesat. Allah kemudian mengutus Nuh dengan risalahnya
guna mengeluarkan mereka dari lumpur kesesatan dan kegelapan pemikiran menuju
jalan petunjuk dan cahaya yang terang. Beliau adalah rasul pertama yang diutus
di bumi seperti yang disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim
tentang hadits syafaat dari Nabi Muhammad.
Kesesatan kaum Nabi Nuh
merupakan kesesatan Akidah pertama yang terjadi di muka bumi. Penyebabnya
adalah seperti yang telah disebutkan Ibnu ath-Thabari, "Pada mulanya kaum yang berada antara Nabi Adam dan
Nabi Nuh adalah orang yang saleh. Mereka juga memiliki pengikut patuh. Namun,
ketika para nabi dan orang-orang saleh meninggal, para pengikut tersebut
berkata, 'Jika kita membuat gambar mereka, tentunya kita akan lebih gemar
beribadah karena mengingat mereka.' Akhirnya, mereka membuat gambar para nabi
dan orang-orang saleh tersebut".
Setelah pembuat gambar itu mati, datanglah kelompok
lain yang telah dirasuki iblis seraya berkata, 'Mereka menyembah orang-orang
saleh tersebut dan minta diturunkan hujan.'Lantas, setiap orang menyembah
masing-masing berhala dan menjadikannya sembahan khusus. Setelah beberapa
kurun, untuk lebih meyakinkan lagi, mereka pun menjadikan gambar-gambar
tersebut sebagai patung-patung berjasad untuk disembah.
Kemudian mereka menyembahnya dengan beragam cara
penyembahan. Hal seperti inilah yang kemudian tersebar pada banyak zaman ketika
sejumlah pengikut seorang alim menggambar mereka. Mereka hanya akan merasa
khusyu' jika menggambar sang guru dan meletakkan di hadapannya. Bahkan, mungkin
saja setelah sang guru meninggal, mereka membuat patungnya dan meletakkan di
hadapan mereka. Inilah awal dari bentuk penyembahan berhala dan patung.
Nabi Nuh telah menyeru umatnya ke jalan Allah selama
950 tahun. Allah berfirman, "Sesungguhnya,
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama
seribu tahun kurang lima puluh tahun," (QS. Al-'ankabut[29]:14 ).
Beliau telah berdakwah siang dan malam secara
sembunyi-sembunyi dan terang-terangan; berdakwah tanpa merasa bosan dan penat,
menghadapi tulinya telinga dan kerasnya hati mereka. Hanya sedikit sekali yang
beriman, sebagian besar lainnya tetap ingkar. Allah lalu mewahyukan kepada
beliau, "Diwahyukan kepada Nuh,
'Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang
benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang
apa yang mereka perbuat," (QS. Hud [11]: 36).
Pada saat itulah, Nabi Nuh kemudian berdoa kepada
Allah sabagaimana terekan dalam firman-Nya, "Nuh
berkata, 'Ya Rabb, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang
kafir itu tinggal di atas bumi," (QS. Nuh [71]: 26).
Allah lantas memerintahkan Nuh untuk membuat kapal
guna menyelamatkan diri dan kaumnya yang beriman dari banjir dahsyat, "Mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin
kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, 'Jika
kalian mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejek kalian sebagaimana kalian
mengejek (kami). Maka kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa
adzhab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa adzhab yang kekal.
'Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air,
Kami berfirman, 'Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan)
sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah
terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman. 'Ternyata
orang-orang beriman yang bersama Nuh hanya sedikit. Dan dia berkata, 'Naiklah
kalian semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu
berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung.
Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh
terpencil, 'Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau
bersama orang-orang kafir. 'Dia (anaknya) menjawab, 'Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah! '(Nuh)
berkata, 'Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain
Allah Yang Maha Penyayang.' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya;
maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan, 'Wahai
bumi, telanlah airmu dan wahai langit (hujan) berhentilah,' Dan air pun disurutkan,
dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi,
dan dikatakan, 'Binasalah orang-orang zhalim," (QS. Hud [11]: 38-44).
Demikianlah, badai topan menimpa kaum Nuh yang ingkar,
sombong, dan berbuat kerusakan di muka bumi. Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan
pengikutnya yang beriman saat kapal mereka berlabuh di atas Bukit Judi, di
sebuah tempat yang dikenal dengan nama JaziraI Ibnu Umar. Saat ini, tempat
tersebut merupakan bagian timur Turki (Gunung Arafat).
Penumpang kapal pun keluar dan menetap di sana untuk
pertama kalinya setelah perpindahan baru ini, Prof. Mahmud Syakir
mengungkapkan, "demikianlah terjadinya perpindahan tempat tinggal penduduk
bumi untuk kedua kalinya dari selatan ar-Rafidin (Mesopotamia) ke berbagai
daerah pegunungan di utara. Pertambahan penduduk pun terjadi untuk kedua
kalinya di berbagai tempat". Dengan begitu, keturunan nabi Nuh dari
anak-anaknya yang telah ikut serta dalam kapal semakin bertambah.
Sam dan keturunannya berangkat menuju barat daya ke
arah jazirah Arab dan berpencar di sana. Ham dan keturunannya berangkat menuju
selatan dan menetap di bagian selatan Irak setelah bumi kering dan mulai tampak
subur kembali. Sebagian yang lain mengikuti langkah tersebut dan ada pula yang
berpencar menuju tenggara ke arah India.
Sementara itu, yang lainnya menuju barat daya melewati
Selat Bal el-Mandeb ke arah Afrika. Dari sana mereka menuju utara dan berbagai
tempat lainnya. Yafits, anak Nabi Nuh yang ketiga berangkat bersama
keturunannya ke arah timur dan ada juga yang menuju ke arah barat.
Kisah Banjir Dahsyat dalam Literatur Klasik dan Modern
Banjir dahsyat yang menimpa kaum Nabi Nuh merupakan
hasil dari kekufuran mereka kepada Allah. Peristiwa ini merupakan peristiwa
terdahsyat yang terjadi sepanjang sejarah dan peristiwa paling membekas dalam
jiwa manusia. Allah berfirman, "(Telah
kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami
tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka pelajaran bagi manusia.
Dan kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim adzhab yang sedih," (QS.
Al-Furqan [25]: 37).
Dari sini, kita mengetahui bahwa peristiwa banjir
dahsyat itu disebut dalam wahyu Allah secara rinci yang sudah pasti
kebenarannya. Kejadian tersebut bahkan terus dikisahkan melalui khazanah
peradaban mereka dari tahun ke tahun. Bangsa Sumeria merupakan pemilik tongkat
estafet pertama dalam mencatat peristiwa tersebut. Kemudian salinannya
dilanjutkan oleh bangsa-bangsa Akadia, Babylonia, dan Assyria.
Naskah asli peristiwa ini berbahasa Sumeria. Dr. Ahmad
Sausah, dalam bukunya, Tarikh wa Hadharah Wadi ar-Rafidin menukis kembali
ringkasan naskah tersebut sebagai berikut.
"Para Dewalah yang telah menjadikan banjir ini.
Semua ini akibat dosa, kesalahan, dan rusaknya perbuatan manusia. Para dewa pun
segera menghapus keberadaan manusia dari muka bumi ini dengan mengirimkan
banjir yang amat dahsyat."
Disebutkan pula bahwa peristiwa tersebut terjadi di
Irak Selatan pada ahir milenium ke 3 SM.
Penelitian terhadap bahtera Nabi Nuh telah disebutkan
di dalam majalah an-Nur al Islamiyyah seperti yang diungkapkan Mahmud Mushtafa.
Setelah 6 tahun meneliti, para ahli baru berhasil menemukan bahtera Nabi Nuh
yang disebutkan dalam al-Qur'an, tepatnya di daerah perbatasan Turki dan Iran.
Hal ini sesuai dengan pernyataan ketua tim penelitian tersebut. Pemerintah
Turki-pun merasa puas dengan hasil penelitian itu setelah bertahun-tahun para
peneliti mengalami penolakan yang keras. Pemerintah lantas menjadikan tempat
tersebut sebagai situs sejarah dalam bidang kepurbakalaan dan menyetujui
diadakan proses penggalian di sana pada tahun 1414 H.
Belum lama ini, di satu lokasi yang dieksplorasi
ditemukan kandungan material yang menyerupai perahu tertimbun. Ukuran perahu
tersebut lebih luas daripada perahu Queen Mary. Panjangnya mencapai setengah
perahu Queen Mary. Benda material ini ditemukan di atas ketinggian 7000 kaki
atau setara dengan 2.134 m. Hal itu merupakan fenomena yang aneh bagi jenis
kapal apapun. Panjang perahu mencapai 515 kaki dan lebal 139 kaki. Ukuran ini
serupa dengan ukuran yang disebutkan dalam Pasal Keenam dari Kitab Kejadian
bahwa itulah ukuran yang diperintahkan Allah kepada Nabi Nuh. Nabi Nuh
diperintahkan untuk membuat perahu dengan panjang 300 hasta dan lebar 50 hasta,
sedangkan satu hasta setara dengan 45,7 cm.
Di sekitar lokasi ditemukannya perahu tersebut, para
ahli dari Amerika dan Timur Tengah menemukan batu besar yang pada satu sisi
masing-masing telah dilubangi. Diyakini bahwa itu merupakan batu jangkar pada
masa lampau untuk menjaga keseimbangan kapal. Selain itu, tempat tersebut juga
dilacak dengan menggunakan radar. Hasilnya, didapati senyawa kimia yang tidak
lazim ditemukan, yaitu oksida besi.
Kepala Departemen Ilmuwan Arkeologi di Universitas
Attaturk Turki menyatakan bahwa perahu tersebut telah berusia labih dari
100.000 tahun dan dibuat oleh manusia. Tidak diragukan lagi bahwa itulah perahu
Nabi Nuh.
Keturunan Nabi Nuh
Nabi Nuh memiliki empat putra yaitu Yafit, Sam, Ham,
dan Kan'an. Kan'anlah yang pergi ke puncak gunung untuk berlindung dari banjir
dan akhirnya tenggelam. Mengenai ketiga putranya yang lain, Ibnu Katsir telah
menyebutkan bahwa seluruh bani Adam di bumi ini berasal dari ketiga anak Nabi
Nuh yang tersisa yaitu Sam, Ham, dan Yafits.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
"Sam adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang Habsyi, dan Yafits
adalah bapak orang Romawi." Imran bin Hushain meriwayatkan dari Nabi
sebuah hadits serupa dan di dalamnya terdapat redaksi berikut "Yang
dimaksud dengan Romawi di sini adalah Romawi pertama yaitu bangsa Yunani yang
dinasabkan kepada Rumi bin Labthi bin Yunan bin Yafits bin Nuh, "(Ibnu
Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah).
Di dalam kitab Nihayah al-Arab fi Ma'rifah Ansab
al-'Arab, al-Qalqasyandi menyebutkan bahwa para ahli nasab (genealogis) dan
para sejarawan telah sepakat, seluruh ras manusia setelah Nabi Nuh, bukan
berasal dari umat yang bersamanya di dalam perahu. Hal ini sesuai dengan firman
Allah, "(wahai) keturunan orang yang kami bawa Nuh," (QS. Al-Isra'
[17]: 3).
Sebab, mereka semua telah binasa dan tidak tersisa
lagi. Para ahli sepakat bahwa seluruh keturunan manusia berasal dari ketiga
anak Nabi Nuh, sesuai firman Allah, "Kami jadikan anak cucunya orang-orang
yang melanjutkan keturunan," (QS. Ash-Shaffat [37]: 77).
Yafits adalah anak tertua, Sam anak kedua, dan Ham
anak Nabi Nuh yang paling muda. Seluruh umat di dunia ini kembali kepada salah
satu dari mereka bertiga, dengan berbagai perbedaan pendapat dalam permasalahan
ini.
* Turki berasal dari keturunan Turk bin Kumar bin
Yafits. Termasuk ke dalam ras mereka adalah bangsa Qibjad, Tatar, dan
Khazlakhiyah, bangsa al-Ghazz di negara as-Shafad, al-Ghaur, al-'Alan,
asy-Syarkas, al-Azkasy, dan Rusia; semuanya berasal dari bangsa Turki.
* Al-Jaramiqah berasal dari keturunan Basil bin Asyur
bin Sam bin Nuh. Mereka adalah penduduk Mosul.
* Al-Jail berasal dari keturunan Basil bin Asyur.
Negeri mereka adalah Kailan di daerah timur.
* Ad-Dailam berasal berasal dari keturunan Madzai bin
Yafits.
* Bangsa Suryani berasal dari keturunan Suryan bin
Nabith bin Masy bin Adam bin Sam.
* Bangsa Sind berasal dari keturunan Kusy bin Ham.
* Bangsa az-Zanj/Negro berasal dari keturunan Zanj dan
tidak diketahui lagi selanjutnya dan kemungkinan sampai ke Ham.
* Bangsa ash-Shaqalibah berasal dari keturunan
asykanar bin Thugarma bin Yafits.
* Bangsa Cina berasal dari keturunan Shini bin Maghugh
bin Yafits.
* Bangsa Ibrani berasal dari anak Amir bin Syalikh bin
Arfakhsyadz bin Sam.
* Bangsa Persi berasal dari Anak Faris bin Lawud bin
Sam.
* Bangsa Francs berasal dari anak Thubal bin Yafits.
* Bangsa Qibthi berasal dari keturunan Qibthim bin
Mashr bin Baishar bin Ham.
* Bangsa Quth (Qoth) berasal dari anak Quth bin Ham.
* Bangsa Kurdi berasal darim keturunan Iran bin Asyur
bin Sam.
* Bangsa Kan'an berasal dari anak Kan'an bin Ham.
* Bangsa Lamman berasal dari anak Thubal bin Yafits.
Tempat tinggal mereka mulai dari wilayah barat hingga utara bagian utara laut
Romawi .
* Bangsa Nabth (Anbath) berasal dari penduduk Babylon
pada zaman kuno, keturunan Lanbith bin Asyur bin Sam.
* Bangsa India berasal dari keturunan Kusy bin Ham.
* Bangsa Armenia berasal dari anak Qahwil (Tamwil) bin
Nakhur, keturunan Nabi Ibrahim.
* Bangsa Atsban berasal dari anak Masyah bin Yafits.
* Bangsa Yunani berasal dari anak Yunan bin Yafits.
Mereka terdiri dari tiga golongan; bangsa Lithan berasal dari keturunan Lathin
bin Yunan, Bangsa Ighriq keturunan Ighriqis bin Yunan; bangsa Kaitami berasal
dari keturunan Katim bin Yunan, dan kepada kelompok Katim inilah bangsa Romawi
dinasabkan.
* Bangsa Zuwailah, penduduk Birqah pada zaman kuno
dikatakan berasal dari keturunan Huwailah bin Kusy bin Ham.
* Bangsa Ya'juj dan Ma'juj berasal dari anak Manghugh
bin Yafits.
* Bangsa Arab berasal dari anak Sam. Hal ini telah
disepakati oleh para ahli nasab (geneologis).
* Bangsa Barbar, terdapat perbedaan pendapat tentang
asal mereka apakah mereka berasal dari Arab atau dari yang lainnya.
Perbedaan Bahasa
Abu Hanifah ad-Dainuri menyebutkan bahwa pada masa
Raja Jamm pernah terjadi kerancuan bahasa di Babylon. Sebab, keturunan Nabi Nuh
banyak yang tinggal disana danmemenuhi daerah tersebut. Awalnya, mereka semua
berbahasa Suryani atau bahasa Nabi Nuh. Namun, suatu hari lidah mereka kacau,
dialek mereka berubah, dan sebagian bercampur dengan bahasa yang lain.
Akhirnya, setiap kelompok berbicara dengan bahasa yang diikuti keturunan mereka
hingga saat ini.
Mereka kemudian meninggalkan Babylon dan menyebar ke
berbagai arah. Kelompok pertama yang meninggalkan daerah Babylon adalah
anak-anak Yafits bin Nuh. Mereka tujuh bersaudara diantaranya at-Turk,
Al-Khazr, Shaqlab, Taris, Minsak, Kamari, dan Shin. Mereka lalu mengambil arah
timur dan utara. Setelah itu anak-anak Ham bin Nuh berangkat menyusul. Mereka
juga tujuh bersaudara diantaranya Sind, Hind, Zanj, Qibthi, Habsy, Nubah, dan
Kan'an. Mereka menuju arah antara selatan dan barat. Sementara itu anak Sam bin
Nuh tetap tinggal bersama sepupu mereka, Jamm-Raja Babylon, dengan segala
perubahan dan perbedaan bahasa mereka.
Perahu Nabi Nuh (Bahtera Nuh)
Dalam agama Islam, Nuh merupakan salah satu dari lima
nabi penting (Ulul Azmi). Ia diperintah untuk mengingatkan kaumnya agar
menyembah Allah yang saat itu menganut paganisme dengan menyembah berhala-berhala
Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nashr. Dalam Al-Qur'an, Nuh diperintah selama 950
tahun. Rujukan-rujukannya tentang Nuh dalam al-Qur'an bertebaran di seluruh
kitab. Surah dalam al-Qur'an yang cukup lengkap menceritakan kisah Nuh adalah
surah Hud dari ayat 27 hingga 51.
Berbeda dengan kisah-kisah Yahudi, yang menggunakan
istilah "kotak" atau "peti" untuk menggambarkan Bahtera
Nuh, surah Al-'Ankabut ayat 15 dalam al-Qur'an menyebutnya as-Safinati, sebuah
kapal biasa atau bahtera, dan dijelaskan lagi dalam surah Al-Qamar ayat 13
sebagai "bahtera dari papan dan paku." Surah Hud ayat 44 mengatakan
bahwa kapal itu mendarat di Gunung Judi, yang dalam tradisi merupakan sebuah
bukit dekat kota Jazirah bin Umar di tepi timur Sungai Tigris di provinsi Mosul,
Irak. Abdul Hasan Ali bin al-Husayn Masudi (meninggal 956) mengatakan bahwa
tempat pendaratan bahtera itu dapat dilihat pada masanya. Masudi juga
mengatakan bahwa Bahtera itu memulai perjalanannya di Kuffah di Irak tengah dan
berlayar ke Mekkah, dan di sana kapal itu mengitari Ka'bah, sebelum akhirnya
mendarat di Judi. Surah Hud ayat 41 mengatakan, "Dan Nuh berkata, 'Naiklah
kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan
berlabuhnya.'" Tulisan Abdullah bin 'Umar al-Baidawi abad ke-13 menyatakan
bahwa Nuh mengatakan, "Dengan Nama Allah!" ketika ia ingin bahtera
itu bergerak, dan kata yang sama ketika ia menginginkan bahtera itu berhenti.
Banjir itu dikirim oleh Allah sebagai jawaban atas doa
Nuh bahwa generasinya yang jahat harus dihancurkan, namun karena Nuh adalah
yang benar, maka ia terus menyebarkan peringatan itu, dan 70 orang penyembah
berhala bertobat, dan masuk ke dalam Bahtera bersamanya, sehingga keseluruhan
manusia yang ada di dalamnya adalah 78 orang (yaitu ke-70 orang ini ditambah 8
orang anggota keluarga Nuh sendiri). Ke-70 orang ini tidak mempunyai keturunan,
dan seluruh umat manusia setelah air bah adalah keturunan dari ketiga anak
lelaki Nuh. Anak lelaki (atau cucu lelaki, menurut beberapa sumber) yang
keempat yang bernama Kana'an termasuk para penyembah berhala, dan karenanya
ikut tenggelam.
Baidawi memberikan ukuran Bahtera itu yaitu panjang
300 hasta dan lebar 50 hasta, dan menjelaskan bahwa pada mulanya di tingkat
pertama dari tiga tingkat ini diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah
dijinakkan, pada tingkat kedua ditempatkan manusia, dan yang ketiga
burung-burung. Pada setiap lembar papan terdapat nama seorang nabi. Tiga lembar
papan yang hilang, yang melambangkan tiga nabi, dibawa dari Mesir oleh Og,
putera Anak, satu-satunya raksasa yang diizinkan selamat dari banjir. Tubuh
Adam dibawa ke tengah untuk memisahkan laki-laki dari perempuan.
Nuh berada di Bahtera selama lima atau enam bulan, dan
pada akhirnya ia mengeluarkan seekor burung gagak. Namun gagak itu berhenti
untuk berpesta memakan daging-daging bangkai, dan karena itu Nuh mengutuknya
dan mengeluarkan burung merpati, yang sejak dahulu kala telah dikenal sebagai
sahabat manusia. Masudi menulis bahwa Allah memerintahkan bumi untuk menyerap
airnya, dan bagian-bagian tertentu yang lambat menaati perintah ini memperoleh
air laut sebagai hukumannya dan karena itu menjadi kering dan tidak ada
kehidupan. Air yang tidak diserap bumi membentuk laut, sehingga air dari banjir
itu masih ada.
Nuh meninggalkan Bahtera pada tanggal 10 Muharram, dan
ia bersama keluarganya dan teman-temannya membangun sebuah kota di kaki Gunung
Judi yang dinamai Thamanin ("delapan puluh"), dari jumlah mereka.
Tinjauan sejarah terhadap zaman Nabi Nuh
Dari catatan sejarah disebutkan perjalanan sejarah
kuno negeri Rafidin telah melintas dengan tiga zaman :
1. Zaman batu kuno. Seorang arkeolog yang bernama
Svelli telah menemukan peninggalan-peninggalan zaman ini pada tahun 1954 M.
2. Zaman batu modern (peradaban Jarmo). Bret Watt,
seorang arkeolog pada tahun 1948 M telah menemukan salah satu pusat terpenting
dari zaman ini di desa Jarmo, yang terletak di sebelah barat kota Sulaimaniyah.
Para sejarawan telah mengetahui sejarah pusat zaman ini sekitar tahun 6500 SM,
yaitu masa-masa setelah munculnya masyarakat-masyarakat perkampungan.
Pada zaman batu modern telah muncul peradaban zaman
Tel Hassunah, yang terletak di sebelah selatan Mosul. Masa zaman ini sekitar
tahun 5750 SM. Seorang arkeolog, Mallowan pada tahun 1931 M telah menemukan
beberapa sampel yang menggambarkan peradaban Tel Hassunah di Niwana, dekat
Mosul. Dan ditemukan pula beberapa sampel lain dari peradaban ini di beberapa
tempat di sebelah utara Irak.
Dan di Tel Halaf, dekat daerah Ra'sul Ain Syria,
dimana sungai al-Khabur bersumber, seorang arkeolog Jerman, Paron (Pone
Ophneim) telah menemukan beberapa sampel yang mencerminkan peradaban zaman batu
modern ini.
3. Zaman tembaga batu di lembah ar-Rafidin. Peradaban
zaman ini tercermin di tiga tempat penting, yang berurutan seperti berikut ini.
* Tel Abied, dekat kota Ur kuno, sebelah selatan
negeri ar-Rafidin, yang ditemukan oleh ekspedisi musium Inggris, yang dipimpin
Dr. Houl dan di bawah pengawasan Leonard Wooly (seorang sejarawan). Di Ur
ditemukan patung yang terbuat dari tanah yang memiliki nilai-nilai keagamaan.
* Peradaban zaman Uruk (al-Wuraka'), yang ditemukan
oleh ekspedisi Jerman.
* Peradaban zaman Jamdah Nashar. Beberapa peninggalan
zaman ini telah ditemukan oleh ilmuwan Linkdone pada tahun 1920 M di Tel Shaghir,
yang terletak di dekat kota Keisy kuno yang disebut "Jumdah Nashar".
Di akhir zaman ini, seperti telah disampaikan dalam
buku-buku sejarah, telah terjadi topan besar yang disertai banjir menerpa
negeri Maa Bainan Nahrain (negeri yang terletak di anatara dua sungai).
Berbagai penggalian yang dilakukan di Ur, Uruk, Keisy, dan Syurubak, menetapkan
adanya kejadian banjir bandang antara zaman Abied dan zaman Sulalat pertama.
Banjir besar terjadi di akhir zaman Jumdah Nashar. Seorang arkeolog, Wooly telah
menemukan lapisan lumpur yang cukup tebal di kota Ur dengan kedalaman dua
setengah meter. Wooly juga menemukan beberapa peninggalan tempat tinggal
manusia di atas lapisan-lapisan lumpur ini dan juga dibawahnya. Dari temuan itu
dia menyimpulkan bahwa lumpur ini dibawa oleh air sungai Tigris dan Efrat.
Kisah angin topan yang disebutkan dalam kitab suci
beberapa zaman lebih dulu daripada topan ini. Dengan menukil dari ilmuwan De
Morghan, arkeolog Countonoe menyimpulkan peristiwa itu pada zaman muthir yaitu
zaman poliustussin yang diikuti oleh zaman jalid di akhir putaran ke empat,
dimana banyak orang binasa. Lembar catatan yang ditemukan di perpustakaan Asyur
Baniba'al telah mengabadikan topan ini.
Nabi Nuh di dalam Al-Quran
Di dalam Al-Quran, nama Nuh as, disebutkan di 43 ayat
dalam 28 surat.
Ringkasan Kisah Nabi Nuh
Nuh adalah nabi ketiga sesudah Adam dan Idris. Beliau
merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamak bin
Mutawasylah bin Idris. Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa
"fatrah" masa kekosongan di antara dua nabi di mana biasanya manusia
secara berangsur-angsur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang
meninggalkan mereka dan kembali syirik serta meninggalkan amal kebajikan,
melakukan kemungkaran dan kemaksiatan.
Kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut,
sehingga ketika Nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang
menyembah berhala. Yaitu patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka
sendiri disembahnya sebagai Tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta
menolak segala kesengsaraan dan kemalangan. Berhala-berhala yang dipertuhankan,
menurut kepercayaan mereka, mempunyai kekuatan ghaib. Berhala-berhala tersebut
diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera kebodohan
mereka. Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis
itu, mengajak mereka meninggalkan syirik (meninggalkan penyembahan berhala) dan
kembali kepada tauhid menyembah Allah, Tuhan sekalian alam.
Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat
tenaganya berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecakapan dan
kesabaran dalam setiap kesempatan, siang maupun malam dengan cara
berbisik-bisik atau secara terang-terangan dan terbuka, ternyata hanya sedikit sekali
dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya.
Nabi Nuh memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat
dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat
dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya. Akan tetapi dalam waktu yang
cukup lama (ratusan tahun), Nabi Nuh tidak berhasil menyadarkan dan menarik
kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya, bertauhid dan beribadat kepada
Allah, kecuali sekelompok kecil kaumnya. Harapan Nabi Nuh akan kesadaran kaumnya
ternyata makin hari makin berkurang. Pada saat itu Allah menyuruh Nabi Nuh
untuk tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka
itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam. Dan Allah memerintahkan
nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar.
Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah
perahu/kapal besar, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai
mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut. Mereka dengan
rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembuatan kapal yang
diperintahkan itu. Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya,
agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi menyelesaikan pembuatan
kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan cemoohan kaumnya yang kebetulan
atau sengaja melalui tempat pembuatan kapal itu.
Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal, Nabi Nuh
menerima wahyu dari Allah, "Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba
perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda daripada-Ku maka segeralah angkut
bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap
jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari
bumi, air yang deras dan dahsyat. Dan dalam waktu yang cepat telah menjadi
banjir besar melanda seluruh kota dan desa, menggenangi daratan yang rendah
maupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat
berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah
terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan
oleh Nabi Nuh atas perintah Allah. Dengan iringan "Bismillahi majraha wa
mursaha", belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air,
menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut.
Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal
memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang
bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putra
sulungnya yang bernama Kan'aan. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa
cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putra kandungnya yang berada dalam
keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang. Nabi Nuh secara spontan,
terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil
puteranya. Kan'aan, yang sudah tersesat dan telah terkena racun rayuan setan
dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras
ajakan dan panggilan ayahnya. Akhirnya Kan'aan disambar gelombang yang ganas
dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan
air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian
puteranya dalam keadaan tidak beriman kepada Allah. Beliau berkeluh-kesah dan
berseru kepada Allah. Kepadanya Allah berfirman, "Wahai Nuh! Sesungguhnya
dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari
ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang
yang kafir daripada kaummu. Coretlah namanya dari daftar keluargamu. Hanya
mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalan mu dan beriman kepada-Ku
dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku
janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun orang-orang
yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa
nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang
telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau
sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan
janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang
bodoh."
Nabi Nuh segera sadar setelah menerima teguran dari
Allah, Ia sangat menyesali kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada
Allah memohon ampun dan maghfirahnya.
Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya,
habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim. Sesuai dengan kehendak dan hukum
Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas
bukit "Judie".
Kaum Nuh tinggal di sebelah selatan Irak, yang
sekarang terletak di kota Kufah.
Judi adalah bukit yang berhadapan dengan semenanjung
Ibnu Umar, yang sekarang menjadi perbatasan Suria (Syria) - Turki, di tepian
sebelah timur sungai Tigris. Bukit Judi ini terlihat jelas dari daerah Ainu
Diwar, Syria.
Diberdayakan oleh Blogger.







