Posted by : Joko
24 Mar 2016

Nama: Ismail bin Ibrahim
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒
Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as
⇒ Ismail as
Usia: 137 tahun
Periode sejarah: 1911 - 1774 SM
Tempat diutus (lokasi): Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) 12 anak
Tempat wafat: Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya: Amaliq dan Kabilah Yaman
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 12 kali
Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, dan anak mereka yang
masih menyusu, Ismail, berjalan ke suatu tempat yang diperintahkan Allah.
Ibrahim diperintahkan untuk berhenti di sebuah lembah yang tandus. Hal itu
dilakukan setelah beliau menunaikan kewajiban dan mensyukuri semua nikmat
Allah. Beliau lalu kembali pulang ke kota al-Khalil (Hebron) di Palestina
dengan meninggalkan Hajar dan anaknya di lembah tersebut. Dengan bertawakal,
berharap Allah melindungi anak dan istrinya, Ibrahim berdoa seperti yang
tertuang dalam firman Allah, "Ya Rabb,
sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb,
(yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati
sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari
buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur," (QS. Ibrahim [14]: 37).
Allah mengeringkan air di tempat Hajar dan bayinya
berada hingga mereka sangat kehausan. Hajar segera mencari air dari sumber yang
ada. Dia bolak-balik antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, tetapi tidak
mendapatkan apa-apa. Saat dia kembali menemui Ismail, dia melihat percikan air
dari bawah tungkai kaki anaknya. Air tersebut terpancar melalui perantara
Jibril.
Abu Syuhbah berkata dalam bukunya, "Jibril turun menyerupai seekor burung. Dia lalu
mengepakkan sayapnya ke bumi, ada juga yang berpendapat dengan tungkainya, maka
keluarlah air Zamzam. Karena sangat senangnya, Hajar lalu mengumpulkan tanah
untuk membendung aliran air itu seraya berseru, 'Zami zami ('Berkumpullah,
berkumpullah').' Dia dan bayinya pun lantas minum hingga dahaga mereka hilang
dan tidak merasakan haus lagi setelah itu. Pada saat demikian, Hajar mendengar
suara yang berkata, 'Janganlah kamu takut terlantar. Sebab, di sini akan ada
Baitullah yang hendak dibangun anak ini beserta ayahnya. Sungguh, Allah tidak
akan menyia-nyiakan hambanya.'"
Setelah itu, datanglah sekelompok kabilah Jurhum yang
merantau dari Yaman. Mereka tinggal di dekat tempat yang kemudian menjadi kota
Mekah dan minta izin kepada Hajar agar diperbolehkan tinggal di sana. Hajar
senang dan tidak lagi merasa sepi di tempat yang gersang itu. Mereka bermukim
di sana dan membangun tempat tinggal. Ketika Ismail beranjak dewasa, dia mampu
berbahasa Arab sehingga menjadi leluhur orang-orang Arab Musta'rabah
(pendatang). Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu Syuhbah di dalam kitabnya.
Al-Azraqi berkata dalam Tarikh Makkah, "Setelah peristiwa banjir besar, lokasi Ka'bah dulu
telah hilang. Lokasi tersebut berbentuk bukit kecil berwarna merah yang tidak
terjangkau oleh aliran air. Saat itu, manusia hanya tahu bahwa di sana ada
tempat yang amat bernilai, tanpa mengetahui pasti lokasinya. Dari seluruh
penjuru dunia, mereka yang dizhalimi, menderita, dan butuh perlindungan datang
ke tempat ini untuk berdoa, dan doa mereka pun dikabulkan. Manusia pun selalu
mengunjunginya hingga Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun Ka'bah
kembali. Sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi, Baitullah selalu menjadi tempat
yang dimuliakan dan diperbaiki terus oleh setiap agama dan umat dari satu
generasi ke generasi lainnya. Tempat itu juga selalu dikunjungi para malaikat
sebelum Nabi Adam turun ke bumi."
Nabi Ibrahim berulang kali mengunjungi keluarganya.
Suatu hari, beliau bermimpi menyembelih putranya, Ismail. Ismail pun memenuhi
perintah itu, Namun, Allah menggantikannya dengan seekor sembelihan yang besar
seperti tercantum dalam firman-Nya, "Tatkala
anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata,
'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
pikirkanlah bagaimana pendapatmu! ' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku,
lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan
mendapatiku termasuk orang yang sabar. 'Maka ketika keduanya telah berserah
diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk
melaksanakan perintah Allah), lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh,
engkau membenarkan mimpi itu. 'Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami
abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
'Selamat sejahtera bagi Ibrahim. 'Demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang
beriman," (QS. As-Shaffat [37]: 102-111).
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun
Ka'bah, beliau bergegas ke Mekah. Saat itu, Ibrahim melihat Ismail tengah
meruncingkan anak panah di dekat sumur Zamzam. Mereka pun saling bersalaman dan
berpelukan. Nabi Ibrahim berkata, "Allah
memerintahlan aku agar membangun Baitullah untuk-Nya". Ismail
berkata, "Laksanakanlah perintah Rabbmu, aku akan membantu ayah dalam
urusan agung ini."
Nabi Ibrahim pun mulai membangun Ka'bah, sedangkan
Ismail menyodorkan batu untuknya. Ibrahim berkata pada Ismail, "Bawakan batu yang paling bagus, aku akan
meletakkannya di salah satu sudut ini agar menjadi tanda bagi manusia."Jibril lalu memberi tahu Ismail tentang Hajar
Aswad: Batu yang diturunkan Allah dari surga. Ismail pun menyodorkannya dan
Ibrahim meletakan pada tempatnya. Selama membangun, mereka berdua senantias
berdoa, "Ya Rabb kami, terimalah (amal)
dari kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,"(QS.
Al-Baqarah [2]: 127).
Ketika bangunan Ka'bah semakin tinggi, Nabi Ibrahim
tidak mampu lagi mengangkat bebatuan. Dia lantas berdiri di atas sebuah batu,
yang kemudian disebut maqam Ibrahim, hingga sempurnanya pembangunan Baitullah.
Allah kemudian memerintahkan Ibrahim menyeru umat manusia agar melaksanakan
ibadah haji. Allah berfirman, "Serulah
manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan
berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari
segenap penjuru yang jauh agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka
dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan
atas rezeki yang diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah
sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang
sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada
di badan) mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, dan melakukan Thawaf di
sekeliling rumah tua (Baitullah)," (QS. Al-Hajj [22]: 27-29).
Diberdayakan oleh Blogger.







