Posted by : Joko
23 Mar 2016
|
Nama
|
Isa bin Maryam binti Imran, Maryam adalah nama
Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya,
kecuali Isa dan Yunus)
|
|
Garis Keturunan
|
Adam as ⇒
Syits ⇒ Anusy ⇒
Qainan ⇒ Mahlail ⇒
Yarid ⇒ Idris as ⇒
Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir
⇒ Falij ⇒ Ra'u
⇒ Saruj ⇒
Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim
as ⇒ Ishaq as ⇒
Yahudza ⇒ Farish ⇒
Hashrun ⇒ Aram ⇒
Aminadab ⇒ Hasyun ⇒
Salmun ⇒ Bu'az ⇒
Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud
as ⇒ Sulaiman as ⇒
Rahab'am ⇒ Radim ⇒
Yahusafat ⇒ Barid ⇒
Nausa ⇒ Nawas ⇒
Amsaya ⇒ Izazaya ⇒
Au'am ⇒ Ahrif ⇒
Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur
⇒ Sahim ⇒
Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa
as
|
|
Usia
|
33 tahun
|
|
Periode sejarah
|
1 SM - 32 M
|
|
Tempat diutus (lokasi)
|
Palestina
|
|
Jumlah keturunannya (anaknya)
|
-
|
|
Tempat wafat
|
Diangkat oleh Allah ke langit
|
|
Sebutan kaumnya
|
Bani Israil
|
|
Jumlah penyebutan di Al-Quran
|
di dalam Al-Qur'an nama Isa disebutkan
sebanyak 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan
sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali
|
Matahari tampak akan tenggelam, angin pun bertiup
sepoi-sepoi di sekitar pepohonan. Harum semerbak mulai memenuhi mihrab Maryam.
Bau itu menembus jendela mihrab dan mengepakkan sayapnya di sekeliling gadis
perawan yang khusuk dalam salat tanpa seorang pun mendengar suaranya. Maryam
merasa bahwa udara dipenuhi dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali
melakukan salatnya dengan khusuk dan mengungkapkan syukur kepadaAllahSWT.
Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat
paruhnya ke atas dan mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya
lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di
sekitamya. Maryam ingat bahwa beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang
tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua batu yang tumbuh di luar mesjid. Maryam
menyelesaikan salatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum
selesai beliau siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:
“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah
memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia
(yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali ‘Imran: 42)
Maryam berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan
semakin bertambah. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat
yang memancarkan cahaya. Maryam merasa bahwa pada hari-hari terakhir terdapat
perubahan pada suasana ruhaninya dan fisiknya. Di tempat itu tidak terdapat
cermin sehingga ia tidak dapat melihat perubahan itu. Tetapi ia merasa bahwa
darah, kekuatan dan masa mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan
dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak. Beliau menyadari bahwa ia sedang
gugup. Beliau merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang luar
biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan kelemahan, maka bertambahlah kekuatan
dalam ruhnya. Perasaan yang demikian ini justru membangkitkan kerendahan
hatinya. Maryam mengetahui bahwa ia akan memikul tanggung jawab besar.
“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril)
berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu
dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yong semasa dengan kamu).”
(QS. Ali ‘Imran: 42)
Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam
memahami bahwa Allah SWT telah memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya
penghulu para wanita dunia. Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para
malaikat kembali berkata kepada Maryam:
“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu,
sujud dan rukuklah bersama orang-orangyang ruku.” (QS. Ali ‘Imran: 43)
Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita
gembira agar beliau meningkatkan kekhusukannya, sujudnya, dan rukuknya kepada
Allah SWT. Maryam lupa terhadap pohon mawar dan beliau kembali salat. Maryam
merasakan bahwa sesuatu yang besar akan akan terjadi padanya. Beliau merasakan
hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat ini.
Matahari meninggalkan tempat tidurnya sementara malam telah
bangkit sedangkan bulan duduk di atas singgasananya di langit dan di
sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan putih. Kemudian datanglah
pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam salatnya. Beliau menyelesaikan
salatnya dan teringat pohon mawar itu lalu beliau membawa air di suatu bejana
dan pergi untuk menyiramnya.
Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat
yang tidak jauh dari mesjid yang hanya ditempuh beberapa langkah darinya.
Tempat itu jauh dari jangkauan manusia sehingga tak seorang pun mendekatinya.
Tempat itu sudah dijadikan tempat yang khusus bagi Maryam untuk melakukan salat
di dalamnya atau beribadah. Maryam mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya.
lalu beliau meletakkan bejana, kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana
tangkainya semakin panjang pada dua malam yang dilaluinya.
Tiba-tiba, Maryam mendengar suara derap kaki yang
mengguncang bumi. Beliau tidak mendengar suara kaki yang berjalan, tetapi
beliau mendengar suara kaki yang menetap di atas batu serta pasir. Maryam
merasakan ketakutan. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke
sebelahnya namun ia tidak mendapati sesuatu pun. Kemudian kedua matanya mulai
berputar-putar dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam
gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Maryam berkata dalam dirinya,
siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Maryam memandang kepada wajah orang
asing itu, dan menyebabkan ia gelisah. Wajah orang itu sangat aneh, di mana
dahinya bercahaya lebih daripada cahaya bulan. Meskipun kedua matanya
memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan
kerendahan hati yang mengagumkan.
Pandangan pertama yang dilihat oleh Maryam kepada
orang itu mengisyaratkan, bahwa orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh
orang yang menyembah Allah SWT selama julaan tahun. Maryam bertanya kepada
dirinya, siapa gerangan orang ini? Kemudian seakan-akan orang asing itu membaca
pikiran Maryam dan berkata: “Salam kepadamu wahai Maryam.” Maryam dibuat
terkejut mendengar adanya suara manusia di depannya. Maryam berkata sebelum
menjawab salamnya:
“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu
kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam:
18)
Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia
bertanya kepadanya, “Apakah engkau manusia yang
mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?” Kemudian orang itu
tersenyum dan berkata:
“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang
utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam:
19)
Orang asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya
sehingga tempat itu dipenuhi cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai
cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di
sana terdapat cahaya yang sangat jernih. Kemudian terngianglah di kepala Maryam
kalimat: “Aku adalah seorang utusan Tuhanmu.”
Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril) yang telah
berubah wujud menjadi manusia.
Maryam mengangkat kepalanya dengan gemetar menahan
luapan cinta. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia. Maryam
memperhatikan kejernihan dahinya dan kesucian wajahnya. Benar apa yang
diduganya bahwa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah
Allah SWT selama jutaan tahun. Kemudian Maryam mengingat kembali
kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril. Malaikat itu telah mengatakan bahwa ia
adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam seorang anak
laki-laki yang suci. Maryam ingat bahwa dirinya adalah seorang perawan yang belum
tersentuh oleh seorang pun. Ia belum menikah dan belum dilamar oleh seseorang
pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui pernikahan.
Pikiran-pikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada
Jibril:
“Maryam berkata: Bagaimana akan ada
bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun
menyentuhku dan aku bukan (pula) seorangpezina!” (QS. Maryam: 20)
Jibril berkata:
“Demikianlah Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu
adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi
manusia sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah
diputushan.“‘ (QS. Maryam: 21)
Maryam menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah
Jibril berkata kepadanya bahwa ini adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu
yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus
(ketika) melahirkan tanpa disentuh oleh seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT
mendptakan Nabi Adam tanpa seorang ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya
Nabi Adam tidak ada pria dan wanita. Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun
diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.
Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan laki-laki
dan perempuan; biasanya ia memiliki ayah dan ibu, tetapi mukjizat terjadi
ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi. Kemudian Jibril meneruskan
pembicaraannya:
“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu
(dengan kelahiran searangputra yang didptakan) dengan kalimat (yang datang)
dari-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia
dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia
berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk
di antara orang-orang yang saleh.” (QS. Ali ‘Imran: 45-46)
Keheranan Maryam semakian bertambah. Betapa tidak,
sebelum mengandung anak itu di perutnya ia telahmengetahui namanya. Bahkan ia
menhetahui bahwa anaknya itu akan berbicara dengan manusia saat ia masih kecil.
Sebelum Maryam menggerakan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril
mengangkat tangannya dan mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah
hembusan udara yang bercahaya yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Maryam.
Lalu cahaya tersebut ke jasad Maryam dan memenuhinya. Tak sempat Maryam
melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa
meninggalkan suara.
Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak
menggigil. Maryam segera kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia
tenggelam dalam salat yang khusuk dan ia pun menangis. Maryam merasakan
kegembiraan, kebingungan dan kegoncangan serta kedamaian yang dalam. Kini,
Maryam tidak lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahwa
ia tidak lagi sendirian. Ia menggerakkan tangannya yang dipenuhi dengan cahaya,
kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak, seorang anak yang
akan menjadi kalimat Allah SWT dan ruh-Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika
anak itu besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi
dengan cinta dan kasih sayang.
Maryam di malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun
di waktu Subuh. Belum lama ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut
ketika melihat mihrab dipenuhi dengan buah-buahan yang sebenarnya tidak lagi
musim. Maryam heran melihat hal itu. Ia mulai mengingat apa yang telah terjadi
padanya kemarin, yaitu bagaimana kejadian saat menyiram pohon mawar, bagaimana
pertemuannya dengan malaikat Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya
padanya, bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana tidurnya yang nyenyak.
Maryam berkata kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang banyak: Apakah
aku akan memakan sendirian buah-buahan ini. Kemudian ada suara dalam dirinya
yang berkata: “Engkau tidak lagi sendirian wahai
Maryam. Kini, engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik."
Dan Maryam mulai makan.
Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam
berbeda dengan kandungan umumnya wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak
merasa berat; ia tidak merasakan sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya
tidak membuncit seperti umumnya wanita. Alhasil, kehamilan yang dialaminya
dipenuhi dengan nikmat yang baik. Datanglah bulan yang kesembilan. Ada sebagian
ulama yang mengatakan bahwa Maryam tidak mengandung Isa selama sembilan bulan,
tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai mukjizat.
Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang
jauh. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui
hakikat sesuatu itu. Kakinya membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi
dengan pohon kurma. Tempat itu tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun karena
saking jauhnya; tempat yang tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.
Tak seorang pun yang mengetahui Maryam bahwa sedang
hamil dan ia akan melahirkan. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu
tertutup. Orang-orang mengetahui bahwa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak
ada seorang pun yang mendekatinya. Maryam duduk beristirahat di bawah pohon
kurma yang besar dan tinggi. Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya, dan
rasa sakit tersebut semakin terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:
“Maka rasa sakit akan melahirkan anak
memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai alangkah
baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi
dilupakan.” (QS. Maryam: 23)
Rasa sakit saat melahirkan anak yang dialami wanita
suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain yang segera menantinya.
Bagaimana manusia akan menyambut anaknya ini? Apa yang mereka katakan
tentangnya? Bukankah mereka mengetahui bahwa ia adalah wanita yang masih
perawan? Bagaimana seorang gadis perawan bisa melahirkan? Apakah manusia akan
membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seseorang pun yang
menyentuhnya? Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya.
Maryam berpikir bagaimana reaksi manusia kepadanya dan bagaimana perkataan
mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan kesedihan. Belum lama
Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan dilupakan, tiba-tiba anak
yang baru lahir itu memanggilnya:
“Janganlah kamu bersedih hati,
sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah
pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu ahan mengugurkan buah
kurma yang masak kepadamu makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu
rnelihat seorang manusia, maka katakantah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar
berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan
seorang manusia pun pada hari ini.’” (QS. Maryam: 24-26)
Maryam melihat al-Masih yang tampan wajahnya. Wajahnya
tidak kemerah-merahan dan rambutnya tidak keriting seperti anak-anak yang lahir
di saat itu, tetapi ia berkulit lembut dan putih. Anak itu diselimuti dengan
kesucian dan kasih sayang; anak itu berbicara kepada Maryam agar ia
menghilangkan kesedihannya dan meminta padanya agar menggoyangkan batang-batang
pohon kurma supaya jatuh darinya sebagian buahnya yang lezat dan Maryam dapat
memakan dan meminum darinya sehingga hatinya pun penuh dengan kedamaian serta kegembiraan
dan tidak berpikir tentang sesuatu pun. Jika Maryam melihat atau menemui
manusia, maka hendaklah ia berkata kepada mereka bahwa ia bernazar kepada Allah
SWT untuk berpuasa dan tidak berbicara kepada seseorang pun.
Maryam melihat al-Masih dengan penuh kecintaan. Anak
itu baru dilahirkan beberapa saat tetapi ia langsung memikul tanggung jawab
ibunya di atas pundaknya. Selanjutnya, ia akan memikul penderitaan orang-orang
fakir. Maryam melihat bahwa wajah anak itu menyiratkan tanda yang sangat aneh.
Yaitu tanda yang mengisyaratkan bahwa ia datang ke dunia bukan untuk mengambil
darinya sesuatu, tetapi untuk memberinya segala sesuatu. Maryam mengulurkan
tangannya ke pohon kurma yang besar. Belum lama ia menyentuh batangnya hingga
jatuhlah darinya buah kurma yang masih muda dan lezat. Maryam makan dan minum
dan kemudian ia memangku anaknya dengan penuh kasih sayang.
Saat itu, Maryam merasakan kegoncangan yang hebat.
Silih-berganti ketenangan dan kegelisahan menghampirinya. Segala pikirannya
tertuju pada satu hal, yaitu Isa. Ia bertanya-tanya dalam dirinya: Bagaimana
orang-orang Yahudi akan menyambutnya, apa yang akan mereka katakan tentangnya,
apa yang akan mereka katakan terhadap Maryam, apakah para pendeta dan para
pembesar Yahudi percaya bahwa Maryam melahirkan seorang anak tanpa disentuh
oleh seseorang pun? Bukankah mereka terbiasa hidup dengan suasana pencurian dan
penipuan? Apakah seseorang di antara mereka akan percaya—padahal ia jauh dari
langit—bahwa langit telah memberinya seseorang anak.
Akhirnya, masa pengasingan Maryam telah berakhir dan
Maryam harus kembali ke kaumnya. Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar.
Pasar besar yang terletak di jalan yang dilalui Maryam menuju mesjid dipenuhi
dengan manusia. Mereka sibuk dengan jual-beli. Mereka duduk berbincang-bincang
sambil minum anggur. Belum lama Maryam melewati pasar itu sehingga manusia
melihatnya membawa seorang anak kecil yang didekapnya. Salah seorang bertanya: “Bukankah ini Maryam yang masih perawan? Lalu, anak
siapa yang dibawanya itu?” Seorang yang mabuk berkata: “Itu adalah anaknya.” Mari kita dengar cerita
apa yang akan disampaikannya. Akhirnya, orang-orang Yahudi mulai “mengepung”
dengan berbagai macam pertanyaan: “Anak siapa
ini wahai Maryam, mengapa engkau tidak mengembalikannya, apakah itu memang
anakmu, bagaimana engkau datang dengan membawa seorang anak sedangkan engkau
adalah gadis yang masih perawan?”
“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu
sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang
pezina.” (QS. Maryam: 28)
Maryam dituduh melakukan pelacuran. Mereka menyerang
Maryam tanpa terlebih dahulu mendengarkan sanggahannya atau mengadakan
penelitian atau membuktikan bahwa perkataan mereka memang benar. Maryam dicerca
sana-sini dan ia diingatkan, bahwa bukankah ia seseorang yang tumbuh dari rumah
yang baik dan bukanlah ibunya seorang pelacur? Lalu mengapa semua ini terjadi
padanya? Menghadapi semua tuduhan itu, Maryam tampak tenang dan tetap
menunjukkan kebaikannya. Wajahnya dipenuhi dengan cahaya keyakinan. Ketika
pertanyaan semakin menjadi-jadi dan keadaan semakin sulit, maka Maryam
menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ia menunjuk ke arah anaknya dengan
tangannya. Maryam menunjuk Isa.
Orang-orang yang ada di situ tampak kebingungan.
Mereka memahami bahwa Maryam berpuasa dari berbicara dan meminta kepada mereka
agar bertanya kepada anak itu. Para pembesar Yahudi bertanya: “Bagaimana mereka akan melontarkan pertanyaan kepada
seorang anak kecil yang baru lahir beberapa hari? Apakah anak itu akan berbicara
di buaiannya” Mereka berkata kepada Maryam:
“Bagaimana kami akan berbicara dengan
anak kecil yang masih dalam ayunan?” (QS. Maryam: 29)
Berkata Isa:
“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia
memberiku al-Kitab (injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia
menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku
hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang
sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadahu, pada hari
aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup
kembali. ” (QS. Maryam: 30-33)
Belum sampai Isa menuntaskan pembicaraannya sehingga
wajah-wajah para pendeta dari kalangan Yahudi dan para uskup tampak pucat.
Mereka menyaksikan mukjizat terjadi di depan mereka secara langsung. Anak kecil
itu berbicara di buaiannya; anak kecil yang datang tanpa seorang ayah; anak
kecil yang mengatakan bahwa Allah SWT telah memberinya al-Kitab dan
menjadikannya seorang Nabi. Ini berarti bahwa kekuasaan mereka sebentar lagi
akan hancur. Setiap orang dari mereka akan menjadi tidak berarti ketika anak
kecil itu dewasa. Tak seorang pun di antara mereka yang dapat “menjual
pengampunan” kepada manusia atau menghakimi mereka melalui pemyataan bahwa ia
adalah wakil dari langit yang turun di bumi. Atau pernyataan, bahwa hanya dia
yang mengetahui syariat.
Para pendeta Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi
kepribadian yang akan datang kepada mereka dengan kelahiran anak kecil ini.
Kedatangan al-Masih berarti mengembalikan manusia kepada penyembahan
semata-mata kepada Allah SWT. Ini berarti menghapus agama Yahudi yang sekarang
mereka yakini. Perbedaan antara ajaran-ajaran Musa dan tindakan-tindakan
orang-orang Yahudi menyerupai perbedaan antara bintang-bintang di langit dan
lumpur-lumpur di jalan. Para pendeta Yahudi menyembunyikan kisah kelahiran Isa
dan bagaimana ia berbicara di masa buaian. Mereka justru menuduh Maryam yang
masih perawan dengan kebohongan yang besar. Mereka menuduh Maryam melakukan
pelacuran, padahal mereka menyaksikan sendiri mukjizat pembicaraan anaknya di
masa buaian.
Mula-mula cerita tentang itu mereka sembunyikan untuk
beberapa saat. Meskipun demikian, berita tentang kelahiran Isa sampai ke Hakim
Romawi, yaitu Heradus. Ia memimpin orang-orang Palestina dan orang-orang Yahudi
dengan kekuatan pedang. Ia menakut-nakuti mereka dengan menumpahkan darah serta
banyaknya mata-mata yang dimilikinya. Pada suatu hari, ia duduk di istananya
dan meminum anggur. Lalu ia mendengar berita yang samar tentang kelahiran
seseorang anak tanpa ayah; seorang anak yang dikatakan ia mampu berbicara saat
masih di buaian, lalu ia menyampaikan pembicaraan yang menjurus pada ancaman
terhadap kekuasaan Romawi. Kemudian bergetarlah kursi yang ada di bawah tubuh
Heradus. Ia memerintahkan untuk diadakan suatu pertemuan mendadak yang dihadiri
oleh para pengawalnya dan para mata-matanya. Pertemuan itu pun terlaksana.
Heradus duduk dengan wajahnya yang hitam mengkilat, lalu ia memutarkan
pandangannya ke arah mata-matanya dan bertanya: “Bagaimana
berita anak kecil yang berbicara di buaiannya?”
Salah seorang kepala mata-mata berkata: “Tampak bahwa masalahnya tidak benar. Kami telah mendengar
isu-isu sekitar anak kecil yang mereka katakan bahwa ia membuat mukjizat dengan
berbicara saat ia masih belia. Lalu saya mengutus anak buahku untuk mencari
kebenaran berita itu, tetapi mereka tidak menemukannya. Jelas bagi kami, bahwa
berita itu dilebih-lebihkan.” Kemudian salah satu anggota mata-mata
raja berkata: “Aku telah mendapatkan bukti yang
terpercaya bahwa tiga orang dari orang-orang Majusi datang di balik suatu
bintang yang mereka lihat menyala di suatu langit dan bintang tersebut
mengisyaratkan kelahiran anak kecil yang membawa mukjizat, yaitu anak kecil
yang akan menyelamatkan kaumnya.” Hakim berkata: “Bagaimana ia dapat menyelamatkan kaumnya dan kaum siapa
yang diselamatkannya?” Salah seorang mata-mata berkata: “Anak buahku tidak mengetahuinya karena orang-orang
pandai dari Majusi itu pergi dan tak seorang pun menemukan mereka.”
Hakim berkata:
“Bagaimana mereka dapat pergi dan bersembunyi lalu bagaimana cerita anak kecil
ini? Apakah di sana ada persekongkolan untuk menentang Romawi?” Hakim
melompat dari tempat duduknya ketika ia menyebut Romawi, dan ia mulai berbicara
dengan keadaan emosi: “Aku menginginkan kepala
tiga orang yang cerdik itu dan aku juga menginginkan kepala anak kecil itu. Dan
aku menginginkan informasi yang lengkap. Sungguh masalah ini semakin samar hai
orang-orang yang bodoh.” Lalu kepala mata-mata berkata: “Barangkali ini hanya mimpi yang dibayangkan orang-orang
Yahudi bahwa mereka melihatnya.” Hakim berkata: “Sungguh kepala-kepala kalian semua akan terbang lebih
cepat dari merpati jika kalian tidak mendatangkan cerita secara lengkap tentang
anak ini. Kebingungan dan kekacauan apa yang aku rasakan! Pergilah kalian dari
sini.”
Anak buah Heradus dan para mata-mata pergi, sedangkan
ia masih duduk memikirkan masalah tersebut. Tampaknya masalah itu sangat
menggelisahkannya. Ia tidak peduli dengan kedatangan agama baru kepada manusia
tetapi yang dipikirkannya adalah kekuasaan Romawi yang ia menjadi simbolnya.
Kemudian Heradus menetapkan untuk memanggil pemuka orang Yahudi dan bertanya
kepadanya tentang masalah ini. Para pengawalnya yang khusus memanggil orang
Yahudi itu. Tidak beberapa lama orang Yahudi itu ada di depan hakim. Heradus
berkata: “Aku ingin berbicara kepadamu tentang
suatu masalah yang sangat menggelisahkanku.” Pendeta Yahudi itu
berkata: “Aku ingin mengabdi kepadamu.”
Heradus berkata: “Aku
mendengar berita-berita yang saling berlawanan tentang anak kecil yang bisa
berbicara di masa buaiannya dan ia mengatakan bahwa ia akan menyelamatkan
kaumnya. Maka bagaimana berita yang sebenarnya tentang itu?” Pendeta
itu berkata—dan ia merasa bahwa pertanyaan itu sepertinya berupa jebakan yang
tidak diketahuinya secara pasti: “Apakah tuan
yang mulia peduli dengan agama Yahudi?”
Heradus berkata dalam keadaan emosi: “Aku tidak peduli sedikit pun selain kekuasaan Romawi.
Jawablah pertanyaanku wahai pendeta.” Pendeta Yahudi itu telah
melihat Isa berbicara di buaiannya. Ia memahami bahwa seandainya ia mengatakan
itu, maka ia akan mendapatkan penderitaan pada dirinya, maka ia lebih memilih
sedikit berbohong. Ia berkata kepada Heradus bahwa ia mendengar cerita itu
tetapi ia meragukannya.
Heradus berkata: “Apakah
benar agama kalian berbicara tentang kedatangan seorang penyelamat bagi rakyat
kalian?” Pendeta berkata: “Ini benar
wahai tuan yang mulai.” Heradus berkata: “Apakah kalian mengetahui ini adalah persekongkolan menentang keamanan
kerajaan Romawi? Apakah kalian menyadari ini adalah bentuk pengkhianatan?”
Pendeta berkata: “Aku harap tuan membiarkan aku
meluruskan suatu pemikiran yang sederhana. Berita tentang hal itu adalah berita
yang kuno. Berita ini diyakini ketika rakyat menjadi tawanan di Bebel sejak
ratusan tahun.”
Heradus berkata: “Apakah
memang di sana ada yang membenarkan berita ini? Sekarang, apakah kamu secara
pribadi membenarkannya? Apakah engkau melihat anak kecil itu yang mereka
katakan bahwa ia dilahirkan tanpa seorang ayah?” Pendeta itu
berkata: “Apakah ada seorang yang percaya wahai
tuan yang mulia jika dikatakan ada seorang anak yang lahir tanpa seorang ayah.
Ini adalah mimpi rakyat biasa.”
Heradus berkata: “Tidak
ada sesuatu yang mengusir tidur dari mata seorang penguasa selain mimpi-mimpi
rakyat. Pergilah wahai pendeta dan jika engkau mendengar berita-berita, maka
sampaikanlah kepadaku sebelum engkau sampaikan kepada istrimu.” Belum
lama pendeta itu pergi sehingga Heradus berpikir, bagaimana seandainya pendeta
itu berbohong. Ia menangkap benang kebohongan pada kedua matanya. Ia mengetahui
kebohongan ini karena ia sendiri sangat pandai berbohong. Kemudian bagaimana
cerita tiga orang cerdik yang mereka mengikuti bintang? Apakah di sana terdapat
persekongkolan menentang Romawi yang tidak diketahuinya?
Heradus berteriak di tengah-tengah pengawalnya dan
memerintahkan mereka untuk menangkap semua orang yang mendengar cerita ini atau
ia akan melihat akibatnya. Mula-mula dia memerintahkan untuk mencari gadis
perawan yang melahirkan anak itu dan membunuh setiap anak yang lahir di saat
itu. Sementara itu, Maryam keluar dari Palestina menuju ke Mesir. Sebelumnya,
pada suatu malam, datanglah kepadanya seseorang yang belum pernah dilihatnya
dan orang itu menyampaikan salam kepadanya serta menyerukannya dan sambil
berkata: “Bawalah anakmu wahai Maryam dan
keluarlah menuju Mesir.” Dengan nada ketakutan Maryam bertanya, “Mengapa? Bagaimana aku keluar menuju ke Mesir; dan
bagaimana aku bisa mengenali jalan?” Orang asing itu menjawab, “Keluarlah engkau niscaya Allah SWT akan melindungimu.
Sesungguhnya Hakim Romawi mencari anakmu dan ingin membunuhmu.”
Maryam bertanya: “Kapan
aku keluar?” Orang asing itu menjawab: “Sekarang
juga. Janganlah engkau khawatir sedikit pun karena engkau keluar bersama
seorang Nabi yang mulia. Semua nabi diusir oleh kaumnya dari negeri mereka dan
rumah mereka. Demikianlah hukum kehidupan. Kejahatan selalu berusaha untuk menyingkirkan
kebaikan tetapi pada akhirnya, kebaikan akan kembali menduduki singgasananya.
Keluarlah wahai Maryam.” Akhirnya, Maryam pun pergi menuju ke Mesir.
Maryam melalui gurun Saina’ bersama suatu kafilah yang menuju Mesir. Maryam
berjalan membawa Isa di jalan yang sama yang pernah dilalui Nabi Musa di mana
ditampakkan kepada Nabi Musa api yang suci dan beliau dipanggil dari sisi thur
al-Aiman. Setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, Maryam sampai di
Mesir. Mesir yang dipenuhi dengan kebaikan, kemuliaan, kebudavaan klasik serta
cuacanya yang stabil mempakan tempat yang terbaik untuk pertumbuhan Isa as.
Al-Masih tumbuh dan berkembang serta menjalani masa
kecilnya di Mesir. Kemudian datanglah kepada Maryam orang asing yang telah
memerintahkannya untuk meninggalkan Palestina. Kali ini, ia memerintahkannya
untuk kembali ke Palestina. Orang asing itu berkata kepadanya: “Raja yang lalim telah mati, maka kembalilah bersama
anakmu wahai Maryam. Telah datang kesempatan emas bagi Isa untuk menduduki singgasananya.
Isa akan menjadi penyayang orang-orang fakir dan orang-orang yang benar.
Kembalilah wahai Maryam.” Maryam pun kembali. Dalam perjalanan
Maryam melalui banyak mata air di sungai Jordania.
Isa pun tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa
mudanya. Isa keluar dari rumahnya dan menuju tempat penyembahan kaum Yahudi.
Saat itu bertepatan dengan hari Sabtu. Di sana tidak ada satu rumah pun dari
rumah kaum Yahudi yang dapat menyalakan api atau memadamkannya pada hari Sabtu,
atau mengambil buah di hari itu. Dilarang bagi seorang wanita untuk membikin
adonan roti atau seseorang anak kecil mencuci anjingnya. Nabi Musa telah
memerintahkan untuk menghormati hari Sabtu dan hanya mengkhususkanya untuk
beribadah kepada Allah SWT.
Terdapat hikmah di balik penghormatan hari Sabtu
sehingga hari Sabtu menjadi hari yang sangat disucikan di kalangan orang-orang
Yahudi. Mereka melaksanakannya dengan berbagai macam tradisi dan mereka
mencurahkan segala konsentrasi mereka untuk menjaga hari Sabtu dan tidak
meremehkannya. Sebab, mereka meyakini bahwa hari Sabtu adalah hari yang dijaga
dari langit sebelum Allah menciptakan manusia sebagaimana mereka percaya bahwa
Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu jalur saja, yaitu menjaga hari
Sabtu. Mereka bangga karena mereka dapat menjaganya meskipun hal itu
menyebabkan mereka kalah di kancah peperangan atau mereka tertawan di tangan
musuh. Bahkan saking ketatnya mereka mempertahankan kehormatan hari Sabtu
sampai-sampai mereka menambah-nambahi berbagai macam larangan di hari Sabtu.
Majelis kaum Yahudi menetapkan ratusan larangan yang tidak boleh dilakukan di
hari Sabtu, seseorang dilarang untuk memakai gigi palsu di hari Sabtu. Seorang
yang sakit dilarang untuk memakai perban atau memakai minyak di tempat yang
sakit pada hari Sabtu atau memanggil dokter. Dilarang pula di hari Sabtu untuk
menulis dua huruf abjad; dilarang juga untuk mempertahankan diri pada hari
Sabtu; dilarang untuk panen dan belajar di hari Sabtu. Kemudian, bepergian di
hari Sabtu diharuskan untuk tidak lebih dari dua ribu yard. Dilarang juga
dihari Sabtu untuk membawa sesuatu ke luar rumah.
Jadi, banyaknya syariat, hukum serta larangan-larangan
biasanya diikuti dengan banyaknya keburukan atau paling tidak membantu
terciptanya keburukan. Setiap timbul suatu larangan, maka timbul bersamanya
cara untuk menghindar darinya. Demikianlah, kehidupan kaum Yahudi dipenuhi
dengan kemunafikan yang luar biasa di mana secara lahiriah mereka menampakkan
penghormatan terhadap hari Sabtu, tetapi secara batiniah mereka berusaha
menodai kehormatan dengan berbagai macam cara.
Meskipun kelompok Farisiun bertanggung jawab terhadap
tugas pelaksanaan syariat dan mengawasinya dengan banyak mendapatkan
jarninan-jaminan, maka kita akan melihat bahwa mereka siap untuk menciptakan
berbagai rekayasa dan tipu daya yang memungkinkan mereka untuk menghindar dari
hukum-hukum syariat di saat yang tepat. Saat yang tepat adalah saat di mana
syariat-syariat tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka atau
dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk mendapatkan mata pencaharian yang
haram yang sudah siap masuk pada kantong mereka. Misalnya, terdapat kaidah
syariat yang menetapkan perjalanan pada hari Sabtu tidak boleh melebihi dua
ribu yard. Namun orang-orang Farisiun mengadakan walimah di mana mereka
mengundang orang-orang untuk menghadiri acara tersebut pada hari Sabtu, padahal
tempat diadakannya acara itu berjarak lebih dari dua ribu yard dari rumah
mereka. Lalu, bagaimana mereka dapat melaksanakan hal tersebut? Sangat mudah
sekali. Mereka meletakkan pada sore hari Sabtu sebagian makanan yang berjarak
dua ribu yard dari rumah mereka lalu setelah itu mereka mendirikan suatu tempat
tinggal di mana mereka dapat berjalan setelahnya dan menempuh dua ribu yard
yang lain. Dari sini mereka dapat menambah jarak yang mereka inginkan. Begitu
juga agar mereka menghindar dari larangan membawa sesuatu ke luar rumah pada
hari Sabtu, maka mereka membuat tipu daya yang lain. Yaitu mereka mendirikan
gerbang-gerbang pintu dan jendela di berbagai jalan sehingga seluruh kota
seperti rumah besar yang dimungkinkan bagi mereka untuk membawa segala sesuatu
dan bergerak di dalamnya.
Contoh lain yang menunjukan bagaimana orang-orang
Yahudi mempermainkan syariat sedangkan mereka mengklaim menjaganya adalah,
bahwa syariat Musa menetapkan agar seorang anak menginfaki kedua orang tuanya
saat mereka menginjak usia tua dan membutuhkannya. Tetapi kaum Farisiun
memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk lari dan menghindar dari tanggung
jawab ini dengan suatu tipu daya yang sederhana. Ketika seorang anak dituntut
oleh kedua orang tuanya untuk memberi nafkah, maka ia pergi ke para pendeta dan
bersepakat kepada mereka untuk mewakafkan semua hartanya dan kekayaannya kepada
haikal, yaitu tempat sembahan kaum Yahudi. Saat itu kedua orang tuanya tidak
mampu mengambil sesuatu pun darinya. Ketika mereka berdua telah putus asa dan
tidak lagi menuntut padanya untuk memberi nafkah, maka semua harta kekayaannya
akan dikembalikan kepadanya oleh para pendeta, dengan catatan hendaklah ia
memberikan bagian tertentu dari hartanya kepada para pendeta itu. Demikianlah
yang terdapat dalam Injil Mata.
Di tengah-tengah suasana kebodohan pemikiran yang luar
biasa ini, juga terdapat sikap keras kepala dan kejumudan berpikir yang
mengelilingi kaum Yahudi. Terdapat tujuh tingkat kesucian dan dua puluh enam
salat yang harus mereka lakukan saat mereka membasuh tangan sebelum memakan
makanan, namun mereka menganggap bahwa meniadakan pembacaan salat-salat sebagai
bentuk pembunuhan terhadap jiwa dengan cara bunuh diri dan tercegah dari
kehidupan abadi. Demikianlah kekerasan sikap masyarakat Yahudi yang menunjukkan
bahwa moral mereka telah rusak dan dipenuhi dengan kemunafikan yang tiada
taranya.
Sementara itu, Isa berjalan menuju tempat beribadah.
Orang-orang berjalan di sekelilingnya. Mereka tampak membanggakan
pakaian-pakaian yang berwarna dan berharga sedangkan Isa berjalan dengan
memakai baju putih dan menampakkan kezuhudannya. Rambut Isa tampak lembut yang
mencapai kedua bahunya dan tampak ia basah terkena air awan yang menurunkan
gerimis. Kemudian kedua kakinya berjalan di atas tanah sehingga tanah itu
dipenuhi dengan bau harum yang tidak diketahui sumbernya. Baju yang dipakai
oleh Isa terbuat dari bulu domba yang sangat sederhana dan kasar. Meskipun hari
itu hari Sabtu, Isa memetik buah di suatu kebun dan mengambil dua buah yang
beliau berikan kepada anak kecil yang fakir dan lapar. Tindakan semacam ini
menurut kepercayaan Yahudi dianggap sebagai tindakan yang menentang agama
Yahudi.
Isa mengetahui bahwa menjalankan agama yang hakiki
bukan terletak pada ketaatan eksternal sementara hati jauh dari sikap rendah
diri. Oleh karena itu, Isa mencabut buah dan memberikan makan kepada manusia
pada hari Sabtu. Beliau menyalakan api untuk wanita-wanita tua sehingga mereka
tidak mati kedinginan.
Isa sering mengunjungi tempat sesembahan orang Yahudi.
Isa berdiri di dalamnya dan mengamati para pendeta dan manusia yang hilir mudik
di sekitarnya. Sesampainya Isa di tempat sembahan, ia berdiri di dalamnya. Isa
mengamat-amati apa yang ada di dalamnya. Dinding-dinding tempat beribadah itu
terbuat dari kayu gahru yang memiliki bau yang harum. Di samping itu, terdapat
kelambu-kelambu yang terbuat dari kain-kain yang mengagumkan yang dicampur
dengan emas. Juga terdapat lampu-lampu yang terulur dari atap dan juga ada
lilin-lilin yang memenuhi ruangan dengan cahaya. Meskipun demikian, kegelapan
menyelimuti hati orang-orang yang ada di situ.
Nabi Isa berdiri cukup lama di
tempat penyembahan itu. Setiap kali ia memutarkan wajahnya, ia mendapati para
pendeta di sana. Terdapat dua puluh ribu pendeta. Nama-nama mereka tercatat
dalam haikal. Mereka adalah kaum Waliyun yang memakai saku-saku yang besar yang
di dalamnya ada kitab-kitab syariat. Sedangkan kaum Farisiun, mereka memakai
pakaian yang lebar yang sisi-sisinya tertenun dengan emas. Mereka adalah
pembantu haikal yang resmi dengan memakai baju-baju mereka yang putih. Adapun
kaum Shaduqiyun adalah kelompok para pendeta aristokrat yang bersekutu dengan
penguasa di mana mereka memperoleh kekayaan melalui persekutuan ini. Nabi Isa
memperhatikan bahwa jumlah pengunjung haikalita lebih sedikit daripada jumlah
para pendeta dan para tokoh agama. Tempat penyembahan itu dipenuhi dengan
kambing dan merpati yang dibeli oleh para pengunjung tempat penyembahan itu.
Mereka menyerahkannya sebagai kurban kepada Allah. Yaitu kurban yang disembelih
di dalam tempat persembahan di atas tempat penyembelihan. Alhasil setiap
langkah yang diayunkan oleh para pejalan di tempat penyembahan itu akan
menghasilkan uang.
Di tempat penyembahan Yahudi itulah tersingkap hakikat
kehidupan kaum Yahudi. Nilai satu-satunya yang disembah oleh manusia di zaman
itu adalah uang. Jadi, kemewahan materi atau kekayaan adalah nilai satu-satunya
yang karenanya manusia akan bergulat satu sama lain. Dalam hal itu, tidak ada
perbedaan antara tokoh-tokoh pembawa ajaran syariat dengan manusia-manusia
biasa. Kaum Shaduqiyun dan kaum Farisiun bekerja sama di antara mereka di dalam
haikal itu seakan-akan mereka di dalam suatu pasar di mana mereka
memanfaatkannya untuk diri mereka dengan terus mencari kurban-kurban di
dalamnya. Seringkali kaum Shaduqiyun dan Farisiun berseteru dalam persoalan
syariat dan hukum. Demikian juga, mereka berseteru dalam menentukan kurban yang
harus mereka raih di haikal itu. Kaum Farisiun berpendapat bahwa hewan-hewan
kurban itu harus dibeli dari harta haikal sedangkan kaum Shaduqiyun menganggap
bahwa harta dari haikal adalah hak mereka. Oleh karena itu, mereka menganggap
bahwa hewan kurban itu harus dibeli dengan jumlah tersendiri. Begitu juga kaum
Farisiun mewajibkan untuk membakar hewan yang disembelih di atas tempat penyembahan,
sedangkan kaum Shaduqiyun mereka mengambil hewan sembelihan ini untuk diri
mereka sendiri.
Di dalam Talmud disebutkan bahwa kaum Shaduqiyun
menjual merpati di toko-toko mereka yang mereka miliki. Mereka sengaja
memperbanyak kesempatan-kesempatan yang diharuskan di dalamnya untuk
mengorbankan burung-burung merpati sehingga harga seekor burung merpati saja
mencapai beberapa Dinar. Melihat hal itu, salah satu tokoh Farisiun yaitu
Sam’an bin Amlail mengeluarkan fatwa yang intinya mengurangi kesempatan-kesempatan
yang diharuskan di dalamnya seseorang menyerahkan merpati sebagai kurban.
Setelah itu, harga burung cuma mencapai seperempat Dinar. Pergulatan antara
kedua kelompok itu mendatangkan pukulan berat bagi pemilik toko yang menyimpan
burung merpati terutama anak-anak dari kepala pendeta.
Nabi Isa memperhatikan apa yang terjadi di
sekelilingnya; Nabi Isa melihat kaum fakir yang tidak mampu membeli hewan
kurban sehingga mereka tidak mampu berkurban; Nabi Isa melihatbagaimana para
pendeta memperlakukan mereka dan memangsa mereka seperti serigala yang buas.
Nabi Isa berpikir di dalam dirinya, mengapa binatang-binatang itu mereka bakar
lalu dagingnya menjadi asap di udara, padahal di sana terdapat ribuan kaum
fakir yang mati kelaparan? Mengapa mereka mengira bahwa Allah SWT ridha ketika
tempat penyembelihan dilumuri dengan darah, lalu hewan kurban itu dibawa ke
rumah-rumah para pendeta dan toko-toko mereka untuk dijual? Mengapa orang-orang
fakir banyak berhutang dan mengeluarkan banyak uang untuk membeli binatang-binatang
kurban? Mengapa binatang-binatang kurban itu harus dimiliki dan hanya dirawat
oleh para pendeta lalu apa yang mereka lakukan dengan uang-uang ini? Lalu, di
manakah tempat orang-orang fakir di haikal itu? Bukankah hal yang aneh ketika
seseorang memasuki rumah dengan keharusan membawa uang?
Nabi Isa pergi dari tempat penyembahan itu dan ia
meninggalkan kota menuju gunung. Dada Nabi Isa dipenuhi dengan kecemburuan yang
suci terhadap yang Maha Benar. Wajahnya tampak semakin pucat ketika melihat
berbagai macam kejahatan memenuhi dunia. Nabi Isa berdiri di atas sebuah bukit
dan beliau mulai melakukan salat. Tetesan-tetesan air mata mulai berlinang dari
pipinya dan jatuh ke bumi. Nabi Isa mulai merenung dan menangis. Di sana
terdapat bunga yang nyaris mati karena kehausan lalu ketika ia mendapatkan
tetesan air mata al-Masih, maka bunga itu mekar kembali dan mendapatkan
kehidupan. Tetesan air mata al-Masih menyelamatkannya, sebagaimana beliau akan
menyelamatkan manusia dengan dakwahnya. Di malam yang penuh berkah ini pula,
dua orang Nabi yang mulia meninggalkan bumi, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Zakaria.
Kedua Nabi itu dibunuh oleh penguasa. Sejak kepergian mereka berdua, bumi
kehilangan banyak dari kebaikan. Pada malam itu juga, turunlah wahyu kepada Isa
bin Maryam. Allah SWT memutuskan perintah-Nya agar ia memulai dakwahnya.
Nabi Isa menutup lembaran halus dari kehidupannya
yaitu lembaran yang penuh dengan tafakur dan ibadah. Beliau memulai
perjalanannya yang berat dan penuh tantangan serta penderitaan: beliau mulai
berdakwah di jalan Allah SWT; beliau mulai membangun kerajaan yang tegak
berdasarkan kerendahan hati dan cinta. Kerajaan yang penguasanya bertujuan
untuk membebaskan dan menyucikan ruh. Kerajaan yang memancarkan sikap rendah
diri dan cinta. Nabi Isa ingin menyelamatkan ruhani. Ajaran Nabi Isa
berdasarkan keimanan terhadap hari kiamat dan kebangkitan. Nilai-nilai dan
pemikiran tersebut tidak ditemukan dalam kehi-dupan orang-orang Yahudi.
Syariat Musa menetapkan pemberlakuan hukum qisas: barangsiapa
yang memukulmu di pipi sebelah kananmu, maka pukullah pipi sebelah kanannya.
Lalu bagaimanakah orang-orang Yahudi menerapkan hukum qisas tersebut? Jika yang
dipukul mampu untuk menghancurkan rumah orang yang memukul, maka ia tidak perlu
merasa puas hanya sekadar memukul pipi sebelah kanannya, namum jika ia tidak
mampu, maka hendaklah ia memukul pipi sebelah kanannya. Namun boleh jadi
hatinya dipenuhi dengan dendam karena ia tidak dapat menghancurkan rumahnya.
Jadi, kebencian adalah pelabuhan tempat bersinggahnya
syariat Musa. Meskipun beliau adalah seorang Nabi yang merupakan cermin cinta
Ilahi yang besar namun syariatnya kini berada di bawah kekuasaan hati-hati yang
mati, yaitu hati-hati yang penuh dengan dendam dan kebencian. Lalu, apa yang
dilakukan Nabi Isa terhadap semua ini? Allah SWT telah mengutusnya dan
memperkuat Taurat yang dibawa oleh Musa sebagaimana Allah SWT menurunkannya
kepada Musa. Jadi, seorang nabi tidak menghancurkan tugas nabi sebelumnya. Para
nabi bagaikan satu mata rantai yang tujuannya adalah satu, yaitu menciptakan
kesucian dan mempertahankan kebenaran serta mengesakan Allah SWT.
Kemudian apa yang dilakukan Nabi Isa terhadap syariat
qisas cersebut? Yang jelas, tindakan yang dilakukkan oleh Nabi Isa murni dari
ilham yang didapatnya dari Allah SWT. Nabi Isa mengem-balikan kaum kepada
tujuan asli dari syariat. Nabi Isa mengembalikan mereka kepada hikmah syariat
yang asli. Nabi Isa mengembalikan mereka kepada cinta. Nabi Isa tidak
mengatakan sesuatu pun kepada orang yang memukul pipi sebelah kanannya. Nabi
Isa tidak berusaha untuk memukul pipi sebelah kanannya. Al-Masih justru akan
membalikkan pipi sebelah kirinya. Inilah syariat Nabi Isa yang tidak berbeda
sedikit pun dengan syariat Nabi Musa. Ia merupakan kedalaman yang mengagumkan
dari kedalaman syariat Nabi Musa. Nabi Isa ingin menetapkan kepada kaum di
sekelilinginya tentang sesuatu yang penting. Nabi Isa ingin memberitahu mereka
bahwa syariat bukan mengajari kalian untuk meletakkan dendam pada diri kalian
lalu kalian memukul lawan kalian. Syariat yang hakiki adalah, hendaklah kalian
menebar kasih sayang, pemaaf, dan cinta.
Terdapat banyak binatang-binatang buas di hutan.
Binatang-binatang itu mencintai diri mereka sendiri. Mereka bermusuhan dan
saling membunuh demi makanan dan minuman. Mereka memberikan makan kepada
anak-anaknya. Perbedaan antara manu-sia dan binatang adalah perbedaan pada
tingkat cinta. Hewan tidak akan mampu melampui derajat cintanya kepada makhluk
yang lain. Atau dengan kata lain, hewan tidak dapat membagi cintanya kepada
jenis yang lain. Sedangkan manusia mampu melakukan hal itu. Di situlah manusia
mampu dapat mencapai kemuliaannya dan kemanusiaannya. Al-Masih memberitahu
kaumnya bahwa manusia tidak akan menjadi manusia sempurna kecuali setelah ia
mencintai orang lain sebagaimana ia mendntai dirinya sendiri.
“Aku mendengar bahwa dikatakan,
hendaklah engkau mencintai orang yang dekat denganmu dan membenci musuhmu,
sedangkan aku berkata kepada kalian, cintailah musuh kalian dan doakanlah orang
yang melaknati kalian. Berbuat baiklah kepada pembenci kalian dan salatlah
untuk orang-orang berbuat buruk kepada kalian.” (Injil Mata).
Dakwah Nabi Isa datang dan menghapus syariat Nabi Musa
dalam bentuk eksternal. Jika kita berusaha membandingkan dua syariat tersebut dalam
bentuk yang sederhana, maka pada hakikat-nya dakwah Nabi Isa bertujuan untuk
menghapus bid’ah yang dilakukan oleh kaum Farisiun dan Shaduqiun terhadap
syariat Nabi Musa dan menunjukkan hakikat syariat ini dan tujuan-tujuannya yang
tinggi. Di tengah-tengah masa materialisme yang sangat luar biasa dan dunia
dipenuhi dengan penyembahan terhadap emas dan tersebarnya berbagai macam
kejahatan, munculah dakwah al-Masih sebagai reaksi ideal yang menunjukkan
ketinggian dan kesucian. Al-Masih mengetahui bahwa ia mengajak manusia untuk
menciptakan perilaku ideal dalam kehidupan; Al-Masih menyadari bahwa dakwahnya
penuh dengan idealisme tetapi idealisme ini sendiri pada saat yang sama
merupakan solusi satu-satunya untuk mengobati kehidupan dari kesengsaraan dan penyakit-penyakit
menular; Al-Masih mengetahui bahwa tidak semua manusia tidak mampu untuk
mencapai puncak yang diisyaratkannya. Tetapi paling tidak, hendaklah setiap
orang berusaha sedikit mendaki sehingga ia selamat.
Dakwah Nabi Isa terdiri dari kesudan yang mengagumkan;
dakwah Nabi Isa bertujuan untuk menyelamatkan ruh atau dakwah yang dapat
dianggap sebagai pedoman perilaku individu, bukan suatu system
perincian-perincian tersebut dan hanya memfokuskan kepada sumber utama, yaitu
ruh. Isa ingin menghidupkan ruhani manusia dan membimbingnya untuk mencapai
cahaya Sang Pencipta. Oleh karena itu, Isa datang dengan didukung oleh ruhul
kudus. Ruhul kudus adalah Jibril. Kita tidak mengetahui bagaimana Allah SWT
memperkuat Isa dengan Ruh Kudus: apakah Jibril menemaninya dan menyertainya
sepanjang pengutusannya? Jibril turun kepada nabi untuk menyampaikan risalah
atau membawa mukjizat atau justru mendatangkan hukuman atas kaumnya, tetapi ia
tidak bersama mereka sepanjang waktu. Oleh karena itu, apakah memang Jibril menemani
Isa sehingga beliau diangkat ke langit?
Hampir saja hati menjadi tenang dengan tafsiran ini
karena dalam kehidupan Nabi Isa terdapat sisi-sisi malaikat di mana beliau
mempunyai kemampuan yang luar biasa yang berupa mukjizat-mukjizat. Bahkan kemampuan
beliau sampai pada batas menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah SWT.
Begitu juga, beliau memiliki kemampuan yang luar biasa di mana beliau dengan
hanya meniupkan pada suatu tanah, maka tanah itu terbentuk menjadi burung dan
ia terbang dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa sama sekali tidak
mendekati wanita sepanjang hidupnya sehingga beliau diangkat oleh Allah SWT.
Beliau tidak menikah. Ini juga sifat malaikat di mana kita saksikan bahwa
sebagian para nabi yang diutus oleh Allah SWT dan memiliki beberapa wanita
bahkan kitab-kitab Yahudi menyebutkan bahwa jumlah istri-istri nabi mereka
Sulaiman misalnya, mencapai seribu wanita.
Isa hidup dalam keadaan tenggelam dalam ibadah seperti
anak dari bibinya, yaitu Yahya. Jika Yahya khusuk beribadah dan tinggal di
gunung dan gurun bahkan dia menginap di gua, maka hal itu adalah hal yang alami
baginya, sedangkan Isa hidup justru di tengah-tengah masyarakat kota.
Persoalannya adalah, bukan hanya Isa tidak terkait hubungan dengan seorang
wanita dan bukan hanya mukjizat-mukjizat yang diperolehnya yang luar biasa yang
berhubungan dengan ruh, tetapi yang lebih dari itu adalah, bahwa beliau
didukung oleh ruhul kudus sepanjang masa dakwahnya. Tentu itu adalah nikmat
yang tak seorang pun dari para nabi sebelumnya diberi. Allah SWT berfirman:
“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan:
‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu
Aku menguatkan kamu dengan roh kudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di
waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku
mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu
kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku,
kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya)
dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak
dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan
(ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup)
dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari
keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka
berkata: ‘Ini tidak lain hanya sehir yang nyata.’ Dan (ingatlah), ketika Aku
ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: ‘Berimanlah kepada-Ku dan kepada
rasul-Ku.’ Mereka nienjawab: ‘Kami telah beiiman dan saksikanlah (wahai rasul)
bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).’” (QS.
al-Maidah: 110-111)
Ayat-ayat tersebut menyebutkan lima mukjizat Nabi Isa.
Pertama, bahwa beliau mampu berbicara dengan manusia saat beliau masih di
buaian. Kedua, beliau diajari Taurat dan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa
telah tersembunyi dan telah mengalami perubahan yang dilakukan oleh orang-orang
cerdik dari kaum Yahudi. Ketiga, beliau membentuk tanah seperti burung kemudian
meniupkannya lalu tanah itu menjadi burung. Keempat, beliau mampu menghidupkan
orang-orang yang mati. Kelima, beliau mampu menyembuhkan orang yang buta dan
orang yang belang. Terdapat mukjizat yang keenam yang disebutkan dalam
Al-Qur’an al-Karim:
“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut
Isa berkata: ‘Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan
dari langit kepada kami?’ Isa menjawab: ‘Bertakwalah kepada Allah jika
betul-betul kamu orangyang beriman.’ Mereka berkata: ‘Kami ingin memakan
hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu
telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan
hidangan itu.’ Isa putra Maryam berdoa: ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya
kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari
raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah
kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu: beri rezekilah kami dan Engkaulah
Pemberi rezeki Yang Paling Utama.’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan
menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah
(turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku ahan menyiksanya dengan siksaan
yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.’”
(QS. al-Maidah: 112-115)
Mukjizat yang keenam itu adalah turunnya makanan dari
langit karena permintaan Hawariyin. Juga terdapat mukjizat yang ketujuh yang
terdapat surah Ali ‘Imran yaitu beliau diberi kemampuan melihat hal-hal yang
gaib melalui panca inderanya meskipun beliau tidak menyaksikannya secara
langsung. Oleh karena itu, beliau memberitahu kepada sahabat-sahabatnya dan
murid-muridnya apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah
mereka:
“Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu
makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu
adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu benar-benar
beriman. ” (QS. Ali ‘Imran:: 49)
Inilah mukjizat Nabi Isa yang ketujuh yang didahului
oleh mukjizat kelahirannya yang sangat mengagumkan. Beliau lahir tanpa seorang
ayah, lalu diikuti mukjizat berikutnya di mana beliau diangkat dari bumi ke
langit ketika penguasa yang lalim berusaha menyalibnya. Barangkali pembaca akan
bertanya-tanya: mengapa mukjizat-mukjizat seperti ini diperoleh oleh Nabi Isa?
Kita mengetahui bahwa mukjizat adalah hal yang luar biasa yang Allah SWT
berikan kepada nabi-Nya. Tetapi pemberian itu menjadi sempuma jika mukjizat itu
disesuaikan dengan keadaan zaman diutusnya nabi tersebut sehingga mukjizat itu
sangat berpengaruh dalam jiwa kaum dan mampu menggoncangkan hati mereka dan menjadikan
mereka berimana kepada pemilik mukjizat ini. Jadi, mukjizat menjadi suatu hal
yang luar biasa. Oleh karena itu, Allah SWT berkehendak agar mukjizat ini
sesuai dengan zaman diutusnya nabi tersebut.
Jadi, setiap mukjizat yang dibawa oleh rasul selalu
berlain-lainan. Nabi Saleh diutus di tengah-tengah kaum yang melihat bagaimana
seekor unta yang melahirkan dari gunung atau mampu membelah batu-batuan gunung.
Sedangkan Nabi Musa diutus di tengah-tengah kaum yang gemar memainkan sihir
sehingga sihir mendapat tempat istimewa. Oleh karena itu, mukjizat yang dibawa
oleh Nabi Musa bentuk lahirnya seakan-akan menyerupai sihir, tetapi pada
hakikatnya ia justru menjatuhkan sihir. Mukjizat itu berupa tongkat yang
menjadi ular dan kemudian ular itu memakan tongkat-tongkat para tukang sihir.
Lain halnya dengan Nabi Isa, beliau diutus di
tengah-tengah kaum materialis yang mengingkari ruh dan hari kebangkitan. Mereka
menduga bahwa manusia hanya sekadar tubuh tanpa ruh. Mereka adalah kaum yang
meyakini bahwa darah makhluk adalah ruhnya atau jiwanya. Taurat yang ada di
tangan Yahudi menyebutkan bahwa tafsir an-Nafst adalah darah. Disebutkan di
dalamnya: “Janganlah engkau memakan darah dari
tubuh manusia karena jiwa setiap tubuh adalah darahnya. “
Nabi Isa diutus di tengah-tengah kaum yang mereka
disesatkan oleh falsafah yang dasarnya mengatakan bahwa penciptaan alam
memiliki sumber pertama, seperti sebab dari akibat. Jadi, alam memiliki wujud
yang mendahuluinya. Di tengah-tengah masa yang niaterialis ini, di mana ruh
diingkari, maka secara logis mukjizat Nabi Isa terkait dengan usaha menunjukkan
alam ruhani. Demikianlah Isa dilahirkan tanpa seorang ayah. Mukjizat ini cukup
untuk membungkam kaum yang mengatakan bahwa alam memiliki sumber pertama. Jelas
bahwa alam tidak memiliki wujud yang mendahuluinya. Kita berada di hadapan Sang
Pencipta yang mengadakan sistem bagi segala sesuatu dan menjadikan sebab bagi
segala sesuatu. Dia menjadikan proses kelahiran anak berasal dari hubungan
laki-laki dan wanita, tetapi Pencipta ini sendiri menciptakan sebab-sebab dan
sebab-sebab itu tunduk kepadanya sedangkan Dia tidak tunduk kepada sebab-sebab
itu. Dengan kehendak-Nya yang bebas, Dia mampu memerintahkan kelahiran anak
tanpa melalui ayah sehingga anak itu lahir. Dan, kelahiran Isa pun terjadi
tanpa seorang ayah. Cukup ditiupkan ruh kepadanya:
“Lalu Kami tiupkan ke dalamnya
(tubuhnya) roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan
Allah) yang besar bagi semesta alam. ” (QS. al-Anbiya’: 91)
Kelahiran Isa membawa mukjizat yang luar biasa yang
menegaskan dua hal: pertama, kebebasan kehendak Ilahi dan ketidak terkaitannya
dengan sebab karena Dia adalah Pencipta sebab-sebab, kedua pentingnya ruh dan
menjelaskan kedudukannya serta nilainya di antara kaum yang hanya mementingkan
fisik sehingga mereka mengingkari ruh. Seandainya kita mengamati sebagian besar
mukjizat Nabi Isa, maka kita akan melihatnya dan mendukung pandangan tersebut.
Misalnya, mukjizat Nabi Isa yang mampu membentuk tanah seperti burung lalu
beliau meniupkannya sehingga tanah itu menjadi burung. Mukjizat ini pun
menguatkan adanya ruh. Semula ia berupa tanah yang bersifat fisik yang tidak
dapat disifati dengan kehidupan tetapi ketika Nabi Isa meniupnya, maka
segenggam tanah itu menjadi burung yang memiliki kehidupan, Sungguh sesuatu
yang bukan fisik masuk ke dalamnya. Sesuatu itu adalah ruh. Ruh itu masuk ke
dalam tanah sehingga ia menjadi burung. Jadi, ruh adalah nilai yang hakiki,
bukan jasad atau fisik. Di samping itu, juga ada mukjizat menghidupkan
orang-orang yang mati. Bukankah ini juga menunjukkan adanya ruh dan adanya hari
akhir atau hari kebangkitan. Orang yang mati telah ditelan oleh bumi di mana
anggota tubuhnya telah hancur berantakan sehingga ia hampir menjadi
tulang-belulang yang hancur lalu al-Masih memanggilnya dan tiba-tiba dia hidup
kembali dan bangkit dari kematiannya.
Seandainya orang yang mati hanya berupa fisik
sebagaimana dikatakan orang-orang Yahudi, maka ia tidak akan mampu bangkit dari
kematiannya karena fisiknya telah hancur tetapi mayit itu mampu bangkit dari
kematian. Jasadnya kembali hidup dan ia bangkit dari kuburannya serta
berbicara. Jadi, ruh adalah nilai yang hakild. bukan fisik atau jasad. Kalau
begitu, di sana terdapat hari kebangkitan dan hari kiamat. Hal ini bukanlah
mustahil sebagaimana yang dikatakan orang-orang Yahudi, karena setelah kematian
jasad menjadi tanah yang berterbangan di udara. Itu bukan mustahil tetapi
mungkin-mungkin saja. Dalil dari hal itu adalah, kebangkitan orang-orang yang
telah mati di hadapan mata kepala mereka sendiri. Nabi Isa telah menghidupkan
mereka agar kaumya vakin bahwa kiamat fisik akan terjadi dari kematian dan itu
adalah benar dan bahwa hari akhir adalah benar.
Juga terdapat mukjizat yang lain, yaitu beliau mampu
memberi tahu kaumnya tentang apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka,
tanpa terlebih dahulu beliau masuk ke rumah mereka atau dapat bocoran dari
seseorang. Mukjizat ini menetapkan bahwa panca indera bukanlah nilai yang
hakiki. Nabi Isa tidak melihat apa yang ada di rumah mereka tetapi ruhnya mampu
untuk melihat dan berbicara atau memberitahu mereka. Jadi, ruhani adalah nilai
yang hakiki, bukan fisik. Demikianlah mukjizat-mukjizat Isa datang untuk
memberitahukan pentingnya ruh dan kebebasan kehendak Ilahi. Mukjizat-mukjizat
Nabi Isa—sebagaimana dikatakan oleh guru kami Muhammad Abu Zahra’—termasuk dari
jenis propagandanya dan sesuai dengan tujuan risalahnya, yaitu dakwah untuk
mendidik ruhani dan keimanan kepada hari kebangkitan dan hari kemudian, dan di
sana ada kehidupan lain di mana seseorang yang berbuat baik akan dibalas
kebaikannya dan orang yang berbuat buruk akan dibalas keburukannya.
Lalu, apakah mukjizat menghidupkan orang-orang yang
mati masih memberikan celah kepada para pengingkar akhirat untuk terus
mengingkarinya atau memberikan ruangan kepada penentang hari kebangkitan untuk
meneruskan penentangannya? Kami telah mengatakan bahwa orang-orang Yahudi telah
diracuni dengan pikiran ketidakpercayaan atau penentangan pada hari akhirat
serta tidak beriman kepada hari akhir, maka menghidupkan orang-orang yang mati
yang dibawa atau dikuasai oleh Isa menjadi suatu pukulan telak bagi mereka yang
membuat mereka beriman, tetapi mereka masih menentang tanda-tanda kebesaran
Allah.
Nabi Isa menutup lembaran kehidupannya yang lembut dan
dan ia mulai berdakwah di jalan Allah. Beliau didukung oleh ruhul kudus dan
mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Al-Qur’an al-Karim menceritakan kepada kita
bahwa esensi dakwah al-Masih tidak banyak berubah dari esensi dakwah para nabi
sebelumnya, yaitu menyuarakan Islam yang intinya adalah menebarkan tauhid yang
sempurna hanya serta menyerahkan diri kepada Allah: “Sembahlah Allah, Tuhanku
dan Tuhan kalian.”
Al-Qur’an memberitahu kita bahwa yang mengatakan
kalimat tersebut adalah Isa. Kalimat tersebut adalah kalimat yang sama yang
pernah disampaikan seluruh nabi, meskipun nama mereka, sifat mereka, mukjizat
mereka, baju mereka, bahasa mereka, usia mereka, bentuk mereka, dan warna kulit
mereka tidak sama. Mereka semua bersepakat untuk menyuarakan Islam dan hanya
menyerahkan diri kepada Allah SWT serta beriman bahwa Allah SWT adalah Tuhan
mereka dan Tuhan alam semesta. Tiada sekutu bagi-Nya dan tiada yang setara
dengan-Nya. Dia Maha Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada sesuatu
pun yang menyerupai-Nya.
Isa tidak mengatakan persoalan tauhid lebih banyak
atau lebih sedikit dari apa yang pemah disampaikan oleh para nabi. Al-Qur’an
datang kira-kira setelah lima ratus tahun dari pengangkatan Nabi Isa. Allah
SWT, melalui ilmu-Nya yang azali mengetahui apa yang terjadi di tengah-tengah
kaum Masehi di mana mereka berselisih tentang hakikat Isa. Oleh karena itu,
Al-Qur’an al-Karim berusaha menyingkap dialog mereka yang belum terjadi. Allah
SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:
‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku
dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau,
tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku
pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada
diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib. Aku tidak
pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku
(mengatakannya) yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu,’ dan aku menjadi
saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau
wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha
Menyaksikan atas segala sesuatu.’” (QS. al-Maidah: 116-117)
Nabi Isa pergi berdakwah di jalan Allah SMT. Inti
dakwahnya adalah, bahwa tidak ada perantara antara Pencipta dan makhluk; tidak
ada perantara antara seorang penyembah dan yang disembah. Allah SWT menurunkan
kitab Injil kepada Nabi Isa. Ia adalah kitab suci yang datang untuk membenarkan
Taurat dan berusaha menghidupkan syariatnya yang pertama. Injil adalah cahaya,
petunjuk, dan peringatan bagi orang-orang yang bertakwa. Nabi Isa ingin meluruskan
tafsiran orang-orang Yahudi terhadap syariat di mana mereka menyampaikan tafsir
dari syariat itu secara harfiah dan sesuai dengan kepentingan mereka. Nabi Isa
menenangkan orang-orang yang yang menjaga syariat bahwa ia tidak datang untuk
menghilangkan syariat, tetapi ia datang untuk menyempurnakannya dan
menyelesaikan tugas para nabi. Namun Isa lebih menekankan pada penafsiran
esensinya, bukan kepada bentuk lahiriahnya.
Nabi Isa memberi pengertian kepada orang-orang Yahudi
bahwa sepuluh wasiat yang dibawa oleh Isa mengandung makna-makna yang lebih
dalam dari apa yang mereka bayangkan. Wasiat yang keenam bukan hanya melarang
pembunuhan materi, sebagaimana yang mereka pahami tetapi juga menyangkut
penindasan dan usaha rnencelakakan orang lain. Sedangkan wasiat yang ketujuh
bukan hanya melarang zina (dalam pengertian terjadinya hubungan antara
laki-laki dengan perempuan melalui cara-cara yang tidak sah), tetapi zina
berarti segala bentuk perbuatan yang menjurus kepada dosa. Misalnya, ketika
mata diarahkan kepada lawan jenis disertai syahwat dan hasrat seksual, maka itu
pun berarti zina. Nabi Isa berkata: “Sesungguhnya
lebih baik bagi manusia untuk menghindarkan matanya dari sesuatu yang dapat
menghancurkannya daripada ia harus hancur dengan mata itu sendiri. Syariat yang
dibawa oleh Isa melarang untuk melanggar sumpah dan janji Nabi Isa memberi
pengertian kepada kaumnya bahwa hendaklah mereka tidak melakukan sumpah palsu
karena merupakan “kesalahan besar jika nama Allah dibuat main-main di atas
mulut-mulut manusia.” (Injil Mata 21 sampai 48).
Dakwah Nabi Isa juga berbenturan dengan arus
materialisme yang sangat mendominasi masyarakat saat itu. Oleh karena itu,
beliau mengingatkan manusia dari perbuatan munaflk, pamrih, tamak, dan gila
pujian. Begitu juga beliau mengingatkan mereka dari sifat rakus terhadap
kekayaan dunia; beliau mengingatkan agar jangan sampai mereka menimbun harta di
dunia. Yakni, hendak lah mereka tidak memfokuskan perhatian mereka pada
urusan-urusan duniawi semata yang sifatnya tidak abadi. Tetapi hendaklah
rnereka memfokuskan perhatian mereka pada hal-hal yang bersifat samawi
(ukhrawi) karena itu bersifat abadi.
Nabi Isa memberitahu kepada masyarakatnya agar mereka
menjadi orang-orang yang teliti saat memilih gaya hidup mereka karena pada
gilirannya akal mereka akan menjadi cermin darinya. Kecenderungan manusia itu
terkait kuat dengan hatinya. Jika hati tertuju kepada cahaya langit, maka
kehidupan manusia akan tampak bersinar tetapi jika hati tertuju pada kegelapan
dunia, maka kehidupannya pun tampak gelap. Nabi Isa mengingatkan kaumnya dari
sikap pamrih dan cinta dunia. Beliau mengajak mereka untuk teliti dalam memilih
majikan yang mereka mengabdi kepadanya karena manusia tidak dapat mengabdi
kepada dua majikan dalam satu waktu. Boleh jadi ia akan menjadikan harta
sebagai majikannya, atau boleh jadi ia akan menjadikan Allah SWT sebagai
tuannya. Jika ia menyembah harta, maka berarti ia jauh dari penyembahan
terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, hendaklah manusia menjauhi dunia, seperti makanan
dan pakaian di mana mereka akan dikuasai oleh kegelisahan dan ketidaktenangan
serta keraguan tentang penjagaan Allah SWT kepada mereka. Allah SWT telah
berjanji untuk memenuhi kebutuhan hamba-hamba-Nya dalam kehidupan. Ketika
timbul kegelisahan dan keraguan pada diri mereka, maka itu dikarenakan keraguan
mereka terhadap penjagaan Allah SWT dan ketidakpercayaan mereka kepada
janji-janjinya dan rahmat-Nya serta bimbingan-Nya. Allah SWT-lah yang
menciptakan mereka dan Dia pula yang menjamin kehidupan mereka dan melindungi
mereka. Bahkan Dia juga melindungi makhluk yang paling kecil urusannya seperti
burung di langit dan kumbang-kumbang di kebun.
Nabi Isa memberitahu kaumnya bahwa hanya memperhatikan
dunia adalah hal yang salah, yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang
beragama. Itu adalah sikap para penyembah berhala karena penyembah berhala
tidak mengetahui apa yang lebih baik darinya, sedangkan orang-orang yang
beragama mengetahui bahwa di sana terdapat bimbingan Ilahi yang mengajak mereka
untuk percaya kepada Allah SWT dan tidak begitu peduli dengan dunia. Allah SWT
mengetahui kebutuhan-kebutuhan mereka lebih daripada apa yang mereka ketahui;
Allah SWT akan melindungi mereka dan akan menjamin kehidupan mereka. Karena
itu, yang layak bagi mereka adalah, hendaklah mereka memohon agar diberi
kekuasaan Allah SWT dan kebaikan dari-Nya. Yakni kehidupan ruhani dan apa yang
dikandungnya dari kebahagiaan abadi.
Di samping itu, Nabi Isa menasihati mereka agar jangan
terlalu pusing dengan kejadian-kejadian yang akan datang dan
persoalan-persoalan esok hari karena esok hari sudah berjalan sebagaimana
mestinya. Jika kebutuhan dan penderitaan datang silih berganti, maka bantuan
dan perlindungan Ilahi pun terus datang silih berganti. Dakwah Nabi Isa juga
berbenturan dengan dualisme yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Kita
saksikan sebagaimana mereka suka mendapatkan kebaikan yang ditujukan kepada
diri mereka, maka mereka pun biasa untuk melakukan kejahatan kepada orang-orang
lain. Demikianlah, kehidupan orang-orang Yahudi dicemari sikap dualisme ini.
Nabi Isa mewasiatkan kepada manusia agar mereka memperlakukan sesama mereka
sesuai dengan akidah yang mengatakan: “Perlakukanlah orang lain sebagaimana
engkau memperlakukan dirimu sendiri”
Nabi Isa terus melangsungkan dakwahnya dan mengajak
manusia untuk menyembah Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya, sebagaimana
beliau juga mengajak manusia untuk membersihkan dan menyudkan ruhani serta hati
dan berasaha memasuki kerajaan langit. Dakwah Nabi Isa itu sangat memukul
kalangan para pendeta Yahudi. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Nabi Isa
bagaikan senjata yang siap menerpa wajah mereka dan menyatakan peperangan
terhadap mereka serta menyingkap kedok kemunafikan mereka. Mula-mula
pemerintahan Romawi tidak turut campur dalam masalah tersebut karena mereka
melihat bahwa itu hanya sekadar perselisihan internal antara kelompok-kelompok
Yahudi. Bagi mereka, selama orang-orang Yahudi sibuk dengan masalah mereka
sendiri dan tidak peduli dengan kekuasaan, mereka pun tidak turut campur.
Kemudian para pendeta Yahudi mulai merancang suatu
persekongkolan untuk menyingkirkan Isa. Mereka ingin mengusir Isa dan
membuktikan bahwa Isa datang untuk menghancurkan syariat Musa. Syariat Musa
memutuskan untuk merajam wanita yang berzina. Para pendeta Yahudi menghadirkan
wanita yang salah yang berhak dirajam. Mereka berkumpul di sekeliling Isa dan
bertanya kepadanya: “Tidakkah syariat menetapkan
untuk merajam wanita yang bersalah?” Isa menjawab: “Benar,” Mereka berkata: “Ini adalah wanita yang bersalah.” Isa
memandang wanita itu dan ia pun melihat para pendeta Yahudi. Isa mengetahui
bahwa para pendeta Yahudi lebih banyak kesalahannya daripada wanita tersebut.
Para pendeta itu menunggujawaban Isa. Jika ia mengatakan bahwa wanita itu tidak
berhak dibunuh, maka berarti ia menentang syariat Musa, dan jika ia mengatakan
bahwa ia berhak dibunuh, maka ia justru menghancurkan dirinya sendiri yang
membawa syariat cinta dan toleransi. Nabi Isa memahami bahwa ini adalah
persekongkolan. Beliau tersenyum dan wajahnya tampak bercahaya. Kemudian beliau
melihat para pendeta Yahudi dan wanita itu sambil berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang tidak memiliki
kesalahan, maka hendaklah ia merajam wanita itu.”
Suara beliau yang keras itu memecahkan keheningan
tempat penyembahan. Beliau menetapkan peraturan baru yang berhubungan dengan
hukum yang dijatuhkan kepada orang yang ber-buat salah. Hendaklah orang yang
tidak berbuat salah menghukum orang yang salah dan tidak berhak seseorang pun
dari kalangan manusia untuk menghukum orang yang bersalah jika ia sendiri
bersalah, tetapi yang menghukumnya adalah Allah SWT yang Maha Suci dan Maha
Tinggi dan Allah SWT adalah Maha Pengasih di antara yang mengasihi.
Nabi Isa keluar dari tempat penyembahan itu.
Tiba-tiba, wanita itu mengejar dari belakangnya. Lalu wanita itu mengeluarkan
dari pakaiannya satu botol dari minyak yang berharga. Ia berdiri di depan Isa
dan menjatuhkan dirinya di atas kedua kaki Isa lalu menciumnya dan membasuhnya
dengan minyak wangi dan air mata. Setelah itu, ia mengeringkan kedua kakinya
dengan rambutnya. Bagi wanita itu, al-Masih mempakan harapan terakhir yang
dapat menyelamatkannya. Lalu keluarlah dari belakang Isa seorang tokoh pendeta
Yahudi. Ia berdiri menyaksikan pemandangan tersebut dan ia merasa kagum
terhadap kasih sayang Isa. Isa melihat kepadanya dan bertanya; “Seorang kreditor yang memiliki dua orang debitor, salah
satunya berhutang lima ratus dinar dan yang lain lima puluh dinar.”
Pendeta itu berkata: “Ya.” Isa
berkata: “Tak seorang pun dari mereka berdua
yang merniliki uang yang cukup untuk melunasi uangnya. Lalu si kreditor
memaafkan mereka dan membebaskan mereka dari hutang.” Pendeta
berkata: “Ya.” Kemudian Isa bertanya:
“Siapa di antara mereka yang paling senang
kepada kreditor itu?” Pendeta menjawab: “Tentu yang berhutang lebih besar.” Isa
berkata: “Benar apa yang engkau ucapkan. Lihadah
wanita ini. Aku telah masuk ke rumahmu tetapi engkau tidak memberikan kepadaku
air agar aku dapat membasuh wajahku, tetapi wanita itu membasuh kedua kakiku
dengan air mata lalu ia mengusapnya dengan rambut kepalanya. Begitu juga engkau
tidak memberikan ciuman kepadaku tetapi wanita ini tidak merasa puas dengan
hanya mencium kedua kakiku. Jadi, hatimu sungguh sangat keras tetapi hati
wanita itu dipenuhi dengan rasa cinta. Maka barangsiapa yang banyak mencintai
niscaya kesalahan-kesalahannya akan diampum.” Kemudian Isa menoleh
ke wanita itu dan memerintahkannya untuk bangkit dari tanah sambil berkata: “Ya Allah, ampunilah wanita ini dan hilangkanlah kesalahan-kesalahannya.”
Nabi Isa berusaha menyadarkan para pendeta Yahudi
bahwa para dai yang menyeru di jalan Allah SWT bukanlah algojoalgojo yang
bengis yang menerapkan hukum syariat tanpa melihat keadaan masyarakat yang
bersalah, tetapi mereka datang dan membawa ajaran Allah SWT yang merupakan
ajaran yang penuh dengan rahmat kepada manusia. Jadi, rahmat adalah tujuan
semua dakwah Ilahi ini. Bahkan diutusnya para nabi itu sendiri mengandung
rahmat Allah SWT terhadap kaum mereka.
Isa terus berdoa kepada Allah SWT agar merahmati
kaumnya. Beliau menyuruh kaumnya agar menyayangi diri mereka sendiri dan
beriman kepada Allah SWT. Kehidupan Nabi Isa menggambarkan kezuhudan dan
ketaatan dalam ibadah. Mu’tamar bin Sulaiman berkata, sebagaimana diri wayatkan
Ibnu ‘Asakir: “Nabi Isa menemui kaumnya dengan
memakai pakian dari wol. Beliau keluar dalam keadaan tidak beralas kaki sambil
menangis serta wajahnya tampak pucat karena kelaparan dan bibimya tampak kering
karena kehausan. Nabi Isa berkata, “salam kepada kalian wahai Bani Israil. Aku
adalah seseorang yang meletakkan dunia di tempatnya sesuai dengan izin Allah
SWT, tanpa bermaksud membanggakan diri. Apakah kalian mengetahui di mana
rumahku?” Mereka menjawab: “Di mana rumahmu wahai Ruhullah?”
Nabi Isa menjawab: “Rumahku
adalah mesjid, wewangianku adalah air makananku adalah rasa lapar, pelitaku
adalah bulan di waktu malam dan salatku di waktu musim dingin di saat matahari
terletak di timur, bungaku adalah tanaman-tanaman bumi, pakaianku terbuat dari
wol, syiarku adalah takut kepada Tuhan Yang Maha Mulia, teman-temanku adalah
orang-orang yang fakir, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang miskin.
Aku memasuki waktu pagi dan aku tidak mendapati sesuatu pun di rumahku begitu
juga aku memasuki waktu sore dan aku tidak menemukan sesuatu pun di rumahku.
Aku adalah seseorang yang jiwanya bersih dan tidak tercemar. Maka siapakah yang
lebih kaya daripada aku?”
Isa terus melakukan dakwahnya. Ia didukung oleh
mukjizat dari Allah SWT. Nabi Isa mampu membuat bentuk burung dari tanah
kemudian ia meniupnya, maka tanah itu menjadi burung dengan izin Allah SWT.
Selain itu, ujung bajunya yang sederhana jika tersentuh orang yang sakit, maka
orang itu akan sembuh. Bahkan jika Isa meletakkan tangannya di atas mata orang
yang buta atau orang yang terkena sakit belang niscaya ia akan sembuh. Jadi,
Nabi Isa didukung oleh mukjizat yang luar biasa. Bahkan beliau mampu
menghidupkan orang-orang yang mati dari kuburan mereka sehingga mereka keluar
dalam keadaan hidup dengan izin Allah SWT.
Diberdayakan oleh Blogger.







