Posted by : Joko
23 Mar 2016

Nama: Idris bin Yarid, nama
aslinya Akhnukh, nama Ibunya Asyut
Garis Keturunan: Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as
Usia: 345 tahun
Periode sejarah: 4533 - 4188 SM
Tempat diutus (lokasi): Irak
Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis)
Tempat wafat Allah mengangkatnya ke langit
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 2 kali
Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam, putra dari
Yarid bin Mihla'iel (Mahlail) bin Qinan (Qainan) bin Anusy bin Shiyth (Syits)
bin Adam as. Nabi Idris as menjadi keturunan pertama yang diutus menjadi nabi
setelah Adam.
Dalam agama Yahudi dan Nasrani, Idris dikenal dengan
nama Henokh.
Nabi Idris dianugerahi kepandaian dalam berbagai
disiplin ilmu, kemahiran, serta kemampuan untuk menciptakan
alat-alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, seperti pengenalan tulisan, matematika,
astronomi, dan lain sebagainya. Menurut suatu kisah, terdapat suatu masa di
mana kebanyakan manusia akan melupakan Allah sehingga Allah menghukum manusia
dengan bentuk kemarau yang berkepanjangan. Nabi Idris pun turun tangan dan
memohon kepada Allah untuk mengakhiri hukuman tersebut. Allah mengabulkan
permohonan itu dan berakhirlah musim kemarau tersebut dengan ditandai turunnya
hujan.
Idris dilahirkan di Mesir.
Mereka menyebutnya dengan Hirmisal Haramisah, menurut Bahasa Suryani. Idris
lahir di kota Manfis (Manaf). Ada yang mengatakan Idris dilahirkan di Babilonia
dan Hijrah ke Mesir. Ketika melihat sungai Nil, dia berkata:
"Babilonia". yang berarti, sungai seperti sungai kalian, sungai
besar, sungai yang penuh berkah. Pada zamannya dibangun 188 kota, yang terkecil
diantaranya adalah ar-Ruha.
Nabi Idris berdakwah untuk menegakkan agama Allah,
mengajarkan tauhid, dan beribadah menyembah Allah serta memberi beberapa
pendoman hidup bagi pengikutnya supaya selamat dari siksa dunia dan akhirat.
Nabi Idris dinyatakan dalam Al-Quran sebagai manusia
pilihan Allah sehingga Dia mengangkatnya ke langit. Ibnu Abi Hatim dalam
tafsirnya meriwayatkan bahwa Nabi Idris wafat saat beliau sedang berada di
langit keempat ditemani oleh seorang malaikat.
Dakwah Nabi Idris
Allah berfirman, "Dan
ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam kitab (al-qur'an). Sesungguhnya
dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi," (QS. Maryam
[19]:56).
Para sejarawan kuno dan ahli sejarah para nabi
mengatakan bahwa beliau adalah Idris bin Burd, ada juga yang berpendapat bin
Yarid. Nama aslinya adalah Akhnukh. Latar belakang dinamakan Idris karena
beliau sering membaca kitab dan shuhuf Nabi Adam serta Nabi Syits. Ibu beliau
bernama Asyut. Beliau adalah orang pertama yang menulis dengan pena, menjahit
pakaian, mengenakan pakaian berjahit, serta orang pertama yang mempelajari ilmu
perbintangan dalam ilmu hutang.
Allah mengutus beliau kepada anak cucu Qabil dan
mengangkatnya ke langit. Dalam sebuah hadits riwayat Anas bin Malik disebutkan
dari Abu Dzar bahwa Rasulullah pada saat Mi'raj melihat Nabi Idris di langit ke
empat. Nabi Idris berkata pada beliau, "Selamat wahai Nabi yang baik dan
saudara yang baik pula." Nabi Muhammad lantas bertanya, " Siapakah dia,
wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Dia adalah Idris."
Disebutkan pula dalam Tarikh ath-Thabariy bahwasanya
Burd melahirkan Akhnukh yaitu Idris dan Allah mengangkatnya (Akhnukh) sebagai
nabi. Saat itu, Nabi Adam telah berusia 622 tahun dan telah menerima 30 suhuf.
Ada juga sebuah hadits tentang ini. Rasulullah
bersabda, "Wahai Abu Dzar, ada empat rasul yang berbangsa Suryani, mereka
adalah Adam, Syist, Nuh, dan Akhnukh…" Hingga ada pula yang mengatakan
bhwa Nabi Idris diutus Allah pada masanya kepada seluruh penduduk bumi. Selain
itu, Allah menghimpun ilmu orang-orang terdahulu padanya.
Di dalam Qashash al-Anbiya disebutkan bahwa para ahli
berbeda pendapat mengenai lokasi Nabi Idris dilahirkan dan dibesarkan. Sebagian
berpendapat, beliau dilahirkan di Mesir, tepatnya di Manaf (Memphis) dan mereka
menamakannya dengan Harmas al-Haramisah. Sebagian ahli yang lain berpendapat
bahwa beliau dilahirkan dan dibesarkan di Babylon. Dalam bahasa Suryani
"Babil" berarti sungai. Nabi Idris lalu memerintahkan seluruh pengikutnya
untuk berpindah ke Mesir.
Pada zaman Nabi Idris, manusia berbicara dengan 72
bahasa. Merekan telah mampu mendesain kota-kota mewah. Kota
yang telah dibangun pada waktu itu sebanyak 188 kota. Saat itu bumi dibagi
menjadi empat bagian dan setiap bagian tersebut memiliki raja sendiri.
Nama-nama raja tersebut adalah Elaus, Zous, Asghalebioos, dan Zous Amon.
Nabi Idris mewarisi ilmu Nabi Syits bin Adam. Setelah
beranjak dewasa, Allah mengangkatnya sebagai nabi. Beliaupun melarang
orang-orang berbuat kerusakan yang menentang syariat Nabi Adam dan Nabi Syits,
tetapi hanya sedikit yang menaatinya. Sebagian besar menentang dakwah beliau.
Beliau lalu berniat untuk berpindah ke tempat yang lebih banyak penduduknya dan
mau menerima ajakannya yaitu daerah Mesir.
Beliau kemudian memerintahkan seluruh pengikutnya
untuk meninggalkan Babylon. Mereka berkata, "Bila kita berpindah,
tempat manakah yang serupa dengan tempat kita?"
"Jika kita berpindah karena Allah, kita akan
diberi rezeki yang serupa dengan tempat itu." Jawab
beliau. Mereka pun berangkat dan sampai di Mesir. Mereka melihat sungai Nil.
Nabi Idris pun berhenti di sana dan bertasbih memuji Allah. Di Mesir, beliau
berdakwah menyeru umat manusia menuju jalan Allah.
Nabi Idris sangat hati-hati dalam berbicara, pendiam, berwibawa,
dan memiliki berbagai petuah serta untaian kata-kata indah dalam nasihatnya,
seperti "Janganlah kalian dengki terhadap orang lain yang mendapatkan
kemakmuran. Sebab, kenikmatan yang mereka rasakan itu sedikit saja." Ucapan
beliau yang lain adalah, "Cinta dunia dan cinta akhirat, keduanya tidak
akan berkumpul dalam satu hati, selamanya."
Menjelang wafat, Nabi Idris berwasiat kepada
keturunannya agar mereka mengikhlaskan diri beribadah kepada Allah semata.
Selain itu, hendaknya mereka selalu berpegang pada kejujuran dan keyakinan sdi
setiap urusan hidup mereka. Beliaupun kemudian diangkat Allah ke langit.
Idris adalah kakek dari ayah Nabi Nuh: Nuh bin Lamak
bin Mutawasylah bin Akhnukh. Ada berpendapat, dinamai Idris karena dia banyak
dia banyak belajar. Nama sebenarnya adalah Akhnukh. Allah menyifatinya dengan
beberapa hal : pertama, dia adalah seorang yang jujur; kedua, dia adalah
seorang nabi; ketiga, firman Allah,
"Warafa'nahu makanan 'aliyya" 'Kami mengangkatnya ke
tempat (martabat) yang tinggi," (QS. Maryam [19]: 57). Ada dua pendapat
mengenai penafsiran firman Allah tersebut.
Pertama, bahwa Nabi Idris mendapatkan
"kedudukan" yang tinggi, seperti firman-Nya kepada Rasulullah, "kami
tinggikan sebutan (nama)mu," (QS. Al-Insyirah [94]: 4). Allah memuliakan
Idris dengan kenabian dan menurunkan tiga puluh shuhuf kepadanya. Tidak hanya
itu, Nabi Idris adalah nabi pertama yang menulis dengan pena; mempelajari ilmu
perbintangan, ilmu hitung (aritmetika); orang pertama yang menjahit dan memakai
baju darik kain. Sebab, para pendahulunya tidak mengenakan pakaian dari kain,
tetapi dari kulit.
Kedua, maksud dari kata "tinggi" dalam ayat
tersebut adalah " tempat" yang sangat tinggi. Demikianlah argument
yang lebih kuat. Sebab, ketinggian yang disandingkan dengan tempat berarti
ketinggian tempat, bukan tingginya derajat. Kemudian, para ulama berbeda
pendapat mengenai hal ini.
Sebagian mereka berpendapat bahwa Allah mengangkat
Nabi Idris ke langit atau ke surga. Dengan begitu, dia dalam kondisi hidup,
tidak mati. Sementara itu yang lain berpendapat, "Allah mengangkatnya ke
langit dan melepaskan ruhnya. Kemudian Ibnu Abbas bertanya kepada Ka'ab
mengenai firman Allah, "Kami mengangkatnya ke tempat (martabat) yang
tinggi," (QS. Maryam [19]: 57).
Menurut Ka'ab, malaikat pencabut nyawa mendatangi Nabi
Idris. Nabi Idris pun mengajaknya bicara sampai malaikat menunda pencabutan
nyawanya. Lantas malaikat itu membawanya ke langit dengan kedua sayapnya.
Sesampainya di langit ke empat, malaikat itu berkata, "Aku sebenarnya
diutus mencabut nyawamu di langit ke empat. Mendapat perintah demikian itu, aku
pun bertanya, 'Bagaimana caranya, sedangkan dia ada di bumi?!'" Ketika
Idris menoleh, malaikat maut menatapnya kemudian mencabut nyawanya di tempat
itu.
Ketahuilah, Allah memuji Idris dengan menaikannya ke
langit. Sebab biasanya, yang diangkat ke langit hanya mereka yang memiliki dan
kedudukan yang tinggi. Karena itu, Allah berfirman mengenai para malaikat, "Malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada
mempunyai rasa angkuh untuk menyembahnya," (QS. Al-Anbiya' [21]: 19), (al-Fakhrurrazi,
Tafsir a-Raziy, jilid X, hlm. 322).
Idris di dalam Al-Qur'an
Di dalam Al-Quran, nama Idris as disebutkan 2 kali,
yaitu :
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah)
Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang
sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat
yang tinggi. (QS. Maryam [19]:56,57)
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli.
Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka
kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (QS.
al-Anbiyaa' [21]:85,86)
Idris dalam Hadits
Dalam sebuah hadits, Idris disebutkan sebagai salah
seorang dari nabi-nabi pertama yang berbicara dengan Muhammad dalam salah satu
surga selama Mi'raj.
Diriwayatkan dari Abbas bin Malik: ... Gerbang telah
terbuka, dan ketika aku pergi ke surga keempat, disana aku melihat Idris.
Jibril berkata (kepadaku). 'Ini adalah Idris; berilah dia salammu.' Maka aku
mengucapkan salam kepadanya dan ia mengucapkan salam kepadaku dan berkata.
'Selamat datang saudaraku yang alim dan nabi yang saleh.; ... (Sahih Bukhari
5:58:227)
Idris dipercayai sebagai seorang penjahit berdasarkan
hadits ini:
Ibnu Abbas berkata, "Daud adalah seorang pembuat
perisai, Adam seorang petani, Nuh seorang tukang kayu, Idris seorang penjahit
dan Musa adalah penggembala." (dari al-Hakim).
Nasihat dan Ajaran Idris
Kepada Nabi Idris dinisbatkan beberapa hikmah
(kata-kata bijak) berikut ini.
1. Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya,
seseorang dikatakan tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang
diperolehnya itu.
2. Kesabaran yang disertai iman kepada Allah (akan)
membawa kemenangan.
3. Orang yang bahagia adalah orang yang waspada dan
mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal salehnya.
4. Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa,
maka ikhlaskanlah niatmu. Demikian pula (untuk) puasa dan shalatmu.
5. Janganlah bersumpah palsu dan janganlah
menutup-nutupi sumpah palsu supaya kamu tidak ikut berdosa.
6. Taatlah kepada rajamu dan tunduklah kepada
pembesarmu serta penuhilah selalu mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada
Allah.
7. Janganlah iri hati kepada orang-orang yang nasibnya
baik, karena kesenangan yang mereka peroleh sebenarnya sangat sedikit.
8. Barangsiapa tidak merasa cukup, maka tidak ada
sesuatu pun yang membuatnya puas.
Diberdayakan oleh Blogger.







