Posted by : Joko
23 Mar 2016
Nama: Ibrahim bin Azar
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒Ibrahim
as
Usia: 175 tahun
Periode sejarah: 1997 - 1822 SM
Tempat diutus (lokasi): Ur di daerah selatan Babylon
(Irak)
Jumlah keturunannya (anak): 13 anak
Tempat wafat: Al-Khalid (Hebron, Palestina/Israel)
Sebutan kaumnya: Bangsa Kaldan
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 69 kali
Ibrahim (tahun 1997 SM s/d 1822 SM) merupakan nabi dalam
agama Samawi, dan sering disebut sebagai "bapak para nabi". Ia
mendapat gelar Khalil Allah atau Sahabat Allah. Selain itu beliau bersama
anaknya, Nabi Ismail terkenal sebagai pengasas Kaabah.
Ibrahim, Bapak Para Nabi
Nabi Ibrahim al-Khalil dilahirkan
di Ur, daerah bagian selatan Irak. Beliau lahir di kalangan masyarakat
penyembah berhala. Mereka membuat patung pada zaman Raja Namrud bin Kan'an.
Ayahnya, Azar adalah seorang yang cukup pandai dalam membuat berhala yang
menyesatkan ini. Dia lalu memerintahkan Ibrahim untuk menjualnya ke pasar.
Ibrahim pun membawanya dan berteriak di pasar, "Siapa yang mau membeli
benda berbahaya dan tidak bermanfaat ini?!"
Ketika Ibrahim beranjak dewasa, beliau mengingkari
perlakuan kaumnya yang menyembah berhala-berhala itu. Hal ini terekam dalan
firman Allah, "Sungguh, sebelum dia (Musa
dan Harun) telah kami berikan kepada Ibrahim petunjuk, dan Kami telah
mengetahui dia," (QS. Al-Anbiya' [21]: 51).
Dalam benaknya, terlintas beragam pertanyaan dan
penalaran tentang kaumnya. Mereka hidup dalam kelalaian dan kesesatan karena
keyakinan yang rusak terhadap berhala, patung, dan bintang. Allah berfirman,
"(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, 'Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai
tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata,"
(QS. Al-An'am [6]: 74).
Setelah Ibrahim bersenjatakan kebenaran dan logika
ketika Allah menjadikan beberapa sebab itu untuknya, pertengkaran pun terjadi
antara Ibrahim dan orang-orang kafir serta orang-orang yang sesat.
Beliau pun mengingatkan ayahnya dengan sangat
bijaksana dan penuh nasihat. Akan tetapi, sang ayah bersikeras berada dalam
kesesatan dan kebodohannya. Nabi Ibrahim tetap mengajal kaumnya untuk beribadah
kepada Allah semata dan menghancurkan berhala.
Berita tentang beliau lalu tersebar ke seluruh
penduduk Babylon hingga Raja Namrud mengajaknya berdebat. Mereka berdua pun
bertemu. Nabi Ibrahim melancarkan berbagai argumen dan dalil-dalil sehingga
dapat mematahkan semangat lawannya. Ini tercatat dalam firman Allah, "Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim," (QS. Al-Baqarah [2]: 258).
Pada suatu hari, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala
yang ada dan meninggalkan salah satunya (yang paling besar) karena ada tujuan
tertentu. Ketika orang-orang berdatangan ke tempat tersebut, mereka menemukan
semuanya hancur berantakan, mereka pun marah, dendam, dan berjanji akan
memberikan hukuman yang sangat berat kepada orang yang telah melakukannya.
Setelah berusaha mencari pelakunya, mereka mengetahui bahwa Ibrahim bin Azar
yang melakukannya. Setelah itu, mereka pun menyidangnya. Di dalam firman Allah
disebutkan, "Mereka bertanya, 'Apakah
engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?'
Dia (Ibrahim) menjawab, 'Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya. Maka
tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara. 'Maka mereka kembali
kepada kesadaran mereka dan berkata, 'Sesungguhnya kalianlah yang menzalimi
(diri sendiri)," (QS. Al-Anbiya' [21]: 62-64).
Semuanya terdiam setelah mendapat tamparan keras dari
hujjah Nabi Ibrahim tersebut. Bagi mereka, tidak ada cara lain kecuali
membakarnya setelah beliau membuat mereka berada dalam kebuntuan yang paling
buruk.
"Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak berbuat. 'Kami (Allah)
berfirman, 'Wahai api, jadilah kami dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim. 'Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka
Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi," (QS. Al-Anbiya'
[21]: 68-70).
Disinilah, Ibrahim dengan kecemerlangan pikirannya
memandang perlu untuk berhijrah membawa kemurnian agamanya. Beliaupun berhijrah
bersama istrinya (Sarah) dan keponakannya (Luth) ke tempat yang sangat
diberkahi Allah untuk seluruh alam. Allah berfirman, "Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia
(Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang
diperintahkan) Rabbku. Sungguh, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,"
(QS. Al-Ankabut [29]:26).
Adzab yang menimpa Penduduk Babylon setelah
Nabi Ibrahim berhijrah
Dr. Jamal Abdul Hadi menyebutkan dalam kitabnya,
Jazirah al-'Arab bahwa naskah-naskah Sumeria kuno telah diungkap melalui
gubahan seorang penyair Sumeria. Naskah tersebut menceritakan tentang
berakhirnya kota Ur (Babylon) yang diperintah Raja Namrud pada pertengahan abad
ke-20 SM, yaitu saat kepergian Nabi Ibrahim beserta keponakannya Luth. Ur, kota
tempat kelahiran Nabi Ibrahim itu mengalami dua kekalahan telak dari bangsa
Ailam dan Amorite. Allah berfirman, "Demikianlah
Kami menjadikan sebagian orang-orang zhalim berteman dengan sesamanya, sesuai
dengan apa yang mereka kerjakan," (QS. Al-An'am [6]: 129).
Penyair itu mengungkapkan, "Kuda jantan terpisah
dari habitatnya. Kawanannya pun tercerai berai bersama angin." Dia juga
menyebutkan sejumlah nama-nama kota besar Sumeria, lalu mengisahkan akhir
kematian kota tersebut. Kemudian, dia menjelaskan ketetapan langit tentang
kehancuran kota itu, pertumpahan darah penduduknya, isak yang berkepanjangan,
bangkai manusia yang berserakan karena tertembus tombak atau hantaman peluru
batu. Demikianlah yang terjadi, hingga sengatan matahari melunturkan
lemak-lemak mereka. Mereka yang selamat menjadi hina dan kelaparan. Sang ibu kehilangan
anaknya. Sang ayah meninggalkan darah dagingnya. Para istri berpisah dari
suaminya. Mahabenar Allah yang berfirman, "Betapa
banyak (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Rabb mereka dan
rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan terhadap penduduk negeri itu dengan
perhitungan yang ketat, dan Kami adzab mereka dengan adzab yang mengerikan (di
akhirat). Sehingga mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan
akibat perbuatan mereka, itu adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan
adzab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang
yang mempunyai akal! (Yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah
menurunkan peringatan kepada kalian," (QS.Ath-Thalaq [65]: 8-10).
Pembangunan Ka'bah
Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa Nabi
Adam adalah orang pertama yang membangun Baitul Atiq. Sementara itu, Nabi
Ibrahim yang membangun kembali Baitul Atiq dengan mengangkat fondasinya bersama
Ismail setelah peristiwa banjir besar.
Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, dan anak mereka yang
masih menyusu, Ismail, berjalan ke suatu tempat yang diperintahkan Allah.
Ibrahim diperintahkan untuk berhenti di sebuah lembah yang tandus. Hal itu
dilakukan setelah beliau menunaikan kewajiban dan mensyukuri semua nikmat Allah.
Beliau lalu kembali pulang ke kota al-Khalil (Hebron) di Palestina dengan
meninggalkan Hajar dan anaknya di lembah tersebut. Dengan bertawakal, berharap
Allah melindungi anak dan istrinya, Ibrahim berdoa seperti yang tertuang dalam
firman Allah, "Ya Rabb, sesungguhnya aku
telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai
tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, (yang
demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian
manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka bersyukur," (QS. Ibrahim [14]: 37).
Allah mengeringkan air di tempat Hajar dan bayinya
berada hingga mereka sangat kehausan. Hajar segera mencari air dari sumber yang
ada. Dia bolak-balik antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, tetapi tidak
mendapatkan apa-apa. Saat dia kembali menemui Ismail, dia melihat percikan air
dari bawah tungkai kaki anaknya. Air tersebut terpancar melalui perantara
Jibril.
Abu Syuhbah berkata dalam bukunya, "Jibril turun menyerupai seekor burung. Dia lalu
mengepakkan sayapnya ke bumi, ada juga yang berpendapat dengan tungkainya, maka
keluarlah air Zamzam. Karena sangat senangnya, Hajar lalu mengumpulkan tanah
untuk membendung aliran air itu seraya berseru, 'Zami zami ('Berkumpullah,
berkumpullah').' Dia dan bayinya pun lantas minum hingga dahaga mereka hilang
dan tidak merasakan haus lagi setelah itu. Pada saat demikian, Hajar mendengar
suara yang berkata, 'Janganlah kamu takut terlantar. Sebab, di sini akan ada
Baitullah yang hendak dibangun anak ini beserta ayahnya. Sungguh, Allah tidak
akan menyia-nyiakan hambanya.'"
Setelah itu, datanglah sekelompok kabilah Jurhum yang
merantau dari Yaman. Mereka tinggal di dekat tempat yang kemudian menjadi kota
Mekah dan minta izin kepada Hajar agar diperbolehkan tinggal di sana. Hajar
senang dan tidak lagi merasa sepi di tempat yang gersang itu. Mereka bermukim
di sana dan membangun tempat tinggal. Ketika Ismail beranjak dewasa, dia mampu
berbahasa Arab sehingga menjadi leluhur orang-orang Arab Musta'rabah
(pendatang). Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu Syuhbah di dalam kitabnya.
Al-Azraqi berkata dalam Tarikh Makkah, "Setelah peristiwa banjir besar, lokasi Ka'bah dulu
telah hilang. Lokasi tersebut berbentuk bukit kecil berwarna merah yang tidak
terjangkau oleh aliran air. Saat itu, manusia hanya tahu bahwa di sana ada
tempat yang amat bernilai, tanpa mengetahui pasti lokasinya. Dari seluruh
penjuru dunia, mereka yang dizhalimi, menderita, dan butuh perlindungan datang
ke tempat ini untuk berdoa, dan doa mereka pun dikabulkan. Manusia pun selalu
mengunjunginya hingga Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun Ka'bah kembali.
Sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi, Baitullah selalu menjadi tempat yang
dimuliakan dan diperbaiki terus oleh setiap agama dan umat dari satu generasi
ke generasi lainnya. Tempat itu juga selalu dikunjungi para malaikat sebelum
Nabi Adam turun ke bumi."
Nabi Ibrahim berulang kali mengunjungi keluarganya.
Suatu hari, beliau bermimpi menyembelih putranya, Ismail. Ismail pun memenuhi
perintah itu, Namun, Allah menggantikannya dengan seekor sembelihan yang besar
seperti tercantum dalam firman-Nya, "Tatkala
anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata,
'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
pikirkanlah bagaimana pendapatmu! ' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku,
lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan
mendapatiku termasuk orang yang sabar. 'Maka ketika keduanya telah berserah
diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk
melaksanakan perintah Allah), lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh,
engkau membenarkan mimpi itu. 'Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami
abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
'Selamat sejahtera bagi Ibrahim. 'Demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang
beriman," (QS. As-Shaffat [37]: 102-111).
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun
Ka'bah, beliau bergegas ke Mekah. Saat itu, Ibrahim melihat Ismail tengah
meruncingkan anak panah di dekat sumur Zamzam. Mereka pun saling bersalaman dan
berpelukan. Nabi Ibrahim berkata, "Allah
memerintahlan aku agar membangun Baitullah untuk-Nya". Ismail
berkata, "Laksanakanlah perintah Rabbmu, aku akan membantu ayah dalam
urusan agung ini."
Nabi Ibrahim pun mulai membangun Ka'bah, sedangkan
Ismail menyodorkan batu untuknya. Ibrahim berkata pada Ismail, "Bawakan batu yang paling bagus, aku akan
meletakkannya di salah satu sudut ini agar menjadi tanda bagi manusia."Jibril
lalu memberi tahu Ismail tentang Hajar Aswad: Batu yang diturunkan Allah dari
surga. Ismail pun menyodorkannya dan Ibrahim meletakan pada tempatnya. Selama
membangun, mereka berdua senantias berdoa, "Ya
Rabb kami, terimalah (amal) dari kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar,
Maha Mengetahui,"(QS. Al-Baqarah [2]: 127).
Ketika bangunan Ka'bah semakin tinggi, Nabi Ibrahim
tidak mampu lagi mengangkat bebatuan. Dia lantas berdiri di atas sebuah batu,
yang kemudian disebut maqam Ibrahim, hingga sempurnanya pembangunan Baitullah.
Allah kemudian memerintahkan Ibrahim menyeru umat manusia agar melaksanakan
ibadah haji. Allah berfirman, "Serulah
manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan
berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari
segenap penjuru yang jauh agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka
dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan
atas rezeki yang diberikan-Nya kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah
sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang
sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada
di badan) mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, dan melakukan Thawaf di
sekeliling rumah tua (Baitullah)," (QS. Al-Hajj [22]: 27-29).
Pembangunan Masjidil Aqsha
Palestina merupakan daerah Arab
sejak lebih dari 5000 tahun lalu ketika bangsa-bangsa Semit bermigrasi ke
wilayah tersebut. Bangsa Kan'an bermukim di sana dan kemudian menjadi dua
kelompok besar. Kelompok pertama mendiami daerah Syam selat (Palestina dan
Yordania Timur) dan mereka disebut bangsa Kan'an). Sementara itu, kelompok
kedua tinggal di daerah pantai Syam di antara Gunung Amanos dan Gunung Karmel.
Mereka lalu disebut sebagai bangsa Kan'an Laut atau bangsa Fenisia.
Bangsa Kan'an memiliki kerajaan-kerajaan yang unggul
dalam bidang pertanian dan perdagangan. Pada saat mereka yang berdomisili di
wilayah Palestina ini mulai membangun peradaban sejarah mereka di sana, Nabi
Ibrahim dan keponakannya, Nabi Luth berhijrah ke sana, seperti yang telah kami
sebutkan tentang dakwah beliau pada bab sebelumnya. Hal ini juga sesuai dengan
firman Allah, "Kami selamatkan dia
(Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh
alam," (QS. Al-Anbiya' [21]: 71).
Masjidil Adsha yang diklaim Zionis Yahudi sebagai
tanah dan sejarah mereka secara dusta adalah nama tempat suci umat Islam di
bumi Palestina. Masjidil Aqsha adalah masjid kuno yang telah ada sejak zaman
Nabi Ibrahim hingga masa Nabi Muhammad. Di dalam as-Shahihain disebutkan satu
hadits riwayat Abu Dzar al-Ghifari yang pernah bertanya, "wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama
dibangun di muka bumi?" Beliau menjawab, "Masjidil Haram." Dia bertanya
lagi, "Lalu?" Beliau
menjawab, "Masjidil Aqsha."
"Berapa lama jarak (pembangunan)
keduanya?" tanya Abu Dzar lagi. Beliau menjawab, "Empat puluh tahun."
Menurut para cendekiawan, Masjidi Aqsha lebih luas
cakupannya daripada sekadar bangunan yang memiliki nama tersebut. Menurut
syariat, semua bangunan yang berada di dalam pagar besar yang memiliki beberapa
pintu itu termasuk masjid. Ke lokasi masjid inilah disunahkan bepergian dan di
sanalah digandakan pahala shalat. Masjid ash-Shakhrah (Masjid Kubah Batu [Dome
of The Rock]) juga termasuk di dalamnya. Batu tersebut memiliki sejarah
leluhur. Orang pertama yang shalat di sana adalah Nabi Adam. Nabi Ibrahim
menjadikan tempat itu sebagai tempat ibadah dan tempat sembelihan. Allah
menyifati Nabi Ibrahim ini di dalam firman-Nya, "Ibrahim
bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah
seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik,"
(QS. Ali 'Imran [3]: 67).
Di tempat itu pula, Nabi Ya'qub membangun
masjidnya setelah melihat tiang dari cahaya di atasnya. Di sanalah Nabi
Yusya' mendirikan kubah zaman atau kemah tempat berkumpul yang dibuat oleh
Nabi Musa di bumi Tih (Sinai) sebagai tempat menerima wahyu. Di sana pula Nabi
Daud membangun mihrabnya dan Nabi Sulaiman membangun masjid besar
yang dinisbahkan pada namanya sebagai tempat beribadah dan mengesakan Allah.
Batu itulah yang menjadi tempat berpijak Nabi
Muhammad ketika beliau diperjalankan pada malam mi'raj. Orang pertama yang
membangun masjid di atasnya pada periode keislaman adalah Khalifah Abdul Malik
bin Marwan al-Umawi, Ibnu Taimiyah berkata, "Masjidil
Aqsha telah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim dan direnovasi megah oleh Nabi
Sulaiman."
Kisah Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim adalah putera Aazar {Tarih} bin Tahur bin
Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh
A.S.. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam
kerajaan Babilonia yang saat itu diperintah oleh seorang raja zalim bernama
Namrudz bin Kan'aan. Sebelum itu tempat kelahirannya berada dalam keadaan
kucar-kacir. Ini adalah karena Raja Namrud mendapat petanda bahwa seorang bayi
akan dilahirkan disana dan bayi ini akan tumbuh dan merampas takhtanya. Antara
sifat insan yang akan menentangnya ini ialah dia akan membawa agama yang
mempercayai satu tuhan dan akan menjadi pemusnah batu berhala. Insan ini juga
akan menjadi penyebab Raja Namrud mati dengan cara yang dahsyat. Oleh itu Raja
Namrud telah mengarahkan semua bayi yang dilahirkan di tempat ini dibunuh,
manakala golongan lelaki dan wanita pula telah dipisahkan selama setahun.
Walaupun berada dalam keadaan cemas, kehendak Allah
tetap terjadi. Isteri Aazar telah mengandung namun tidak menunjukkan
tanda-tanda kehamilan. Pada suatu hari dia terasa seperti telah tiba waktunya
untuk melahirkan anak dan sedar sekiranya diketahui Raja Namrud yang zalim
pasti dia serta anaknya akan dibunuh. Dalam ketakutan, ibu nabi Ibrahim telah
bersembunyi dan melahirkan anaknya di dalam sebuah gua yang berhampiran.
Selepas itu, dia memasuki batu-batu kecil dalam mulut bayinya itu dan
meninggalkannya keseorangan. Seminggu kemudian, dia bersama suaminya telah
pulang ke gua tersebut dan terkejut melihat nabi Ibrahim a.s masih hidup.
Selama seminggu, bayi itu menghisap celah jarinya yang mengandungi susu dan
makanan lain yang berkhasiat. Semasa berusia 15 bulan tubuh Nabi Ibrahim telah
membesar dengan cepatnya seperti kanak-kanak berusia dua tahun. Maka kedua
ibubapanya berani membawanya pulang kerumah mereka.
Nabi Ibrahim mencari Tuhan yang sebenarnya
Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di
Mesopotamia beragama politeisme yaitu menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut
paganisme. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling
penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan
karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil nabi
Ibrahim a.s. sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia
berusaha mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.
Dalam al-Quran Surah al-Anaam (ayat 76-78)
menceritakan tentang pencariannya dengan kebenaran. Pada waktu malam yang
gelap, beliau melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: "Inikah Tuhanku?" Kemudian apabila bintang itu
terbenam, ia berkata pula: "Aku tidak suka kepada yang terbenam
hilang". Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya),
dia berkata: "Inikah Tuhanku?" Maka setelah bulan itu terbenam,
berkatalah dia: "Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh
Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat". Kemudian apabila
dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia:
"Inikah Tuhanku? Ini lebih besar". Setelah matahari terbenam, dia
berkata pula: "Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari
apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya)". Inilah daya logika
yang dianugerahi kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang
dipercayai kaumnya serta menerima tuhan yang sebenarnya.
Melihat tanda Kekuasaan Allah
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya
keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid
yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk
menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung
ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:"
Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "
Nabi Ibrahim yang sudah bertekad ingin memerangi
kesyirikan dan penyembahan berhala yang berlaku di dalam kaumnya ingin
mempertebal iman dan keyakinannya lebih dulu, untuk menenteramkan hatinya serta
membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin mangganggu pikirannya dengan
memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan
kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Ia memohon kepada Allah: "Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau
menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati." Allah menjawab
permohonannya dengan berfirman: Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada
kekuasaan-Ku?." Nabi Ibrahim menjawab:"Betul, wahai Tuhanku, aku
telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali
melihat itu dengan mata kepala-ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan
ketenangan hati dan agar semakin tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan
kepada kekuasaan-Mu."
Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim lalu
diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung, lalu setelah memperhatikan dan
meneliti bagian-bagian tubuh burung itu, ia memotongnya menjadi
berkeping-keping, mencampur-baurkannya, dan kemudian tubuh burung yang sudah
hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di empat puncak bukit yang
berbeda dan berjauhan. Setelah dikerjakan apa yang telah diperintahkan oleh
Allah itu, diperintahkan-Nya Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah
terkoyak tubuhnya dan terpisah jauh setiap bagian tubuhnya itu.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan
empat ekor burung itu dalam keadaan utuh dan bernyawa seperti sedia kala begitu
mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya. Lalu hinggaplah empat
burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya
sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali
makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang
tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah keinginan Nabi Ibrahim untuk
menenteramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman
dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di
langit atau di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya, dan hanya kata
"Kun Fayakun", maka terjadilah apa yang Dikehendaki-Nya.
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim sama sebagaimana kaumnya yang
lain, bertuhan dan menyembah berhala, ia adalah pedagang dari patung-patung
yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan dariya orang membeli patung-patung yang
dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus
ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah
kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan
persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan
bodoh. Beliau merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi
penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan
mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut
ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang
halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah
sebagai nabi dan rasul dan bahwa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan
ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah
lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti
lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna
sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah
kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada
berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran setan yang memang menjadi musuh
kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya
agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari
berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan
semua makhluk yang dihidupkan memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta
menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya
mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yang ditanggapinya sebagai
dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina
kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu
dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka
dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki
namun seakan-akan tidak ada hubungan diantara mereka. Ia berkata kepada Nabi
Ibrahim dengan nada gusar: "Hai Ibrahim!
Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah
yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah
engkau membangkitkan amarahku dan coba mendurhakaiku. Jika engkau tidak
menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu, tidak engkau hentikan usahamu
mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari
rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah
suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan
mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya
dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah
seraya berkata: "Wahai ayahku! Semoga
engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan
tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak
menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu." Lalu
keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih karena
gagal mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kafir.
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyadarkan
ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang
baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari
lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan
Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt
hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan
usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam
itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya
untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih
persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang
bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan
mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka
anuti dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa apabila mereka sudah tidak
berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan
oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebatilan kepercayaan mereka
maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahwa mereka
hanya meneruskan apa yang bapa-bapa dan nenek moyang mereka lakukan sejak
turun-temurun dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama
yang telah mereka warisi.
Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat
lagi untuk berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang keras kepala dan yang
tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh
beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mereka tidak akan
menyimpang daripada cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun telah Nabi
Ibrahim menasihati mereka berkali-kali bahwa mereka dan bapa-bapa mereka keliru
dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis. Nabi Ibrahim kemudian merancang
akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka
lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung
mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat
menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk
kerajaan Babilonia bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada
suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal
di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan
dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil
meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak
semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai
menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta
berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka
merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular
dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.
"Inilah dia kesempatan yang ku
nantikan." kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah
kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara
burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin
kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat
beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan
hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu.
Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap
kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:"Mengapa
kamu tidak makan makanan yang lezat yang disajikan bagi kamu ini? Jawablah aku
dan berkata-katalah kamu." Kemudian disepak, ditamparlah
patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada
di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada
lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala
pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung,
tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan
terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada
hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang
telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan
persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:"Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu
mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang
melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain
menambah keterangan dengan berkata:"Bahkan
dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di
kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat
itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yang
tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan
patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang
dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap
kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar
dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab
dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat
turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim
agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat
dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara
terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu,
seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara
yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari
tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang
rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang
disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap Raja Namrudz yang
akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan
cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang
telah berani menghancurkan persembahan mrk. Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh Raja
Namrud:"Apakah engkau yang melakukan
penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang
dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:"Patung
besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya
saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya."
Raja Namrudpun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat
bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?"
Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan
atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan
persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya
karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada Raja
Namrud itu:"Jika demikian halnya, mengapa
kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat
dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat,
bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah
bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu
berpikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang
keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan
yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di
atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan
persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya
itu, Raja Namrud mencetuskan keputusan bahwa Nabi Ibrahim harus dibakar
hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan
tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir
menyaksikan pengadilan itu:"Bakarlah ia dan
belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhkan. Nabi Ibrahim
harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa
yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan
oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran
disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap
penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar
sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk
yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru
kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka.
Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa
sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan
mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala
ia bersalin. Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk
upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit,
berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri
Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat
yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang
ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu,
Nabi Ibrahim diangkat ke atas sebuah gedung yang tinggi lalu dilemparkan ia
kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:"Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan
bagi Ibrahim."
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia
dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap
menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah
tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban
keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang
terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa
dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai
yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian
yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api,
hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba
pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang
ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mula
mempersoalkan kepercayaan kepada Raja Namrud. Malah anak perempuan Raja Namrud
sendiri iaitu Puteri Razia mula mempercayai agama yang dibawa oleh beliau. Lalu
Puteri itupun mengaku di hadapan khalayak ramai bahwa tuhan nabi Ibrahim a.s.
adalah tuhan yang sebenarnya. Ini telah menaikkan kemarahan beliau yang
mengarahkan tentara untuk membunuh puterinya itu. Puteri itupun meluru ke arah
api yang besar itu lalu berkata "Tuhan Nabi Ibrahim selamatkanlah
aku". Puteri Razia pun turut terselamat dari terbakar dan dalam api yang
membara itu kedengaran dia mengucap kalimah syahadah. Tindakan durhaka
puterinya menjadikan hati Raja Namrud semakin membara. Sebaik sahaja puteri
Razia keluar dari api tersebut beliau serta tenteranya telah mengejarnya
kedalam hutan. Ini memberi peluang kepada Nabi Ibrahim serta adik tirinya
Sarah, bapanya Azaar serta anak saudaranya Nabi Luth untuk melarikan diri. Raja
Namrud dan tenteranya puas mencari Puteri Razia tetapi puteri itu telah hilang.
Selepas sekian lama, merekapun pulang dan mendapati bahwa Nabi Ibrahim turut
terlepas. Setelah peristiwa ini, Raja Namrud kian gelisah karena rakyatnya mula
hilang kepercayaan dengan kekuasaannya. Oleh itu, beliau berazam pula untuk
membunuh Tuhan nabi Ibrahim.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi
Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan
kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan
patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan
kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka
yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat
kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka
dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa
pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi Ibrahim.
Kisah Nabi Ibrahim di dalam Al-Quran
Di dalam Al-Quran, nama Ibrahin as, disebutkan 69 kali
yang tersebar di 25 surat, yaitu pada QS. 2:124, 2:125, 2:126, 2:130, 2:131,
2:132, 2:135, 2:136, 2:140, 2:258, 2:260, 3:65, 3:67, 3:68, 3:84, 3:95, 3:97,
4:54, 4:125, 4:163, 6:74, 6:75, 6:76, 6:77, 6:78, 6:79, 6:80, 6:83, 6:161,
9:70, 9:114, 11:69, 11:70, 11:74, 11:75, 11:76, 12:6, 12:38, 14:35, 15:51,
16:120, 16:123, 19:41, 19:46, 19:58, 21:51, 21:60, 21:62, 21:69, 22:26, 22:43,
22:78, 26:69, 29:16, 29:31, 33:7, 37:83, 37:104, 37:109, 43:26, 51:24, 53:37,
57:26, 60:4, 78:19.
Diberdayakan oleh Blogger.







