Posted by : Joko
23 Mar 2016

Nama : Hud bin Abdullah
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒ Iram
(Aram) ⇒ 'Aush ('Uks) ⇒ 'Ad ⇒
al-Khulud ⇒ Rabah ⇒
Abdullah ⇒ Hud as
Usia: 130 tahun
Periode sejarah: 2450 - 2320 SM
Tempat diutus (lokasi):
Al-Ahqaf (lokasinya antara Yaman dan Oman)
Jumlah keturunannya (anak): -
Tempat wafat: Bagian Timur Hadramaut
(Yaman)
Sebutan kaumnya: Kaum 'Ad
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 7 kali
Kaum 'Ad tinggal di daerah al-Ahqaf, tepatnya diantara
ar-Rub' al-Khali dan Hadramaut. Allah berfirman, "Ingatlah
(Hud) saudara kamu 'Ad, yaitu ketika dia mengingatkan kaumnya tentang
bukit-bukit pasir," (QS.al-Ahqaf [46]: 21).
Allah telah memberikan mereka tubuh besar dan kuat,
sebagaimana terekam dalam firman-Nya, "Ingatlah
ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan
Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan," (QS. Al-A'raf
[7]: 69).
Kaum 'Ad adalah kabilah Arab yang
tinggal di bagian selatan Jazirah Arab setelah kaum Nabi Nuh yang beriman
selamat dari banjir dahsyat. Mereka lalu membangun rumah, perindustrian, dan
memiliki peradaban maju yang belum pernah ada sebelumnya. Allah melukiskan kota
mereka dalam firman-Nya, "Tidakkah
engkau (Muhammad) memerhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap (kaum) 'Ad?
(Yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum 'Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang
tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri
lain,"(QS. Al-Fajr [89]: 6-8).
Para sejarawan menggambarkan secara detail kota ini
dengan menyebutkan berbagai istana mereka yang begitu besar, megah, dihiasi
batu-batu permata, dan dikelilingi pagar-pagar tinggi. Beragam nikmat dan
kebaikan yang melimpah ruah ini selayaknya mereka syukuri. Akan tetapi, mereka
justru tenggelam dalam kenikmatan-kenikmatan fisik dan kesenangan duniawi.
Mereka lantas menyembah tiga berhala, yaitu Shada, Shamud, dan Haba.
Allah kemudian mengutus Nabi Hud untuk mengajak mereka
ke jalan yang lurus setelah sebelumnya menyekutukan Allah. Mereka menyekutukan
Allah tanpa didasari bukti nyata. Kaum 'Ad pun menyingkirkan syariat Allah dari
kehidupan mereka. Allah berfirman, "(kaum) 'Ad telah mendustakan para
rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kalian tidak bertakwa?Sungguh, aku ini seorang
rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian. Karena itu, bertakwalah kepada
Allah dan taatlah kepadaku. Dan, aku tidak meminta imbalan kepada kalian atas
ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Rabb seluruh alam. Apakah kalian mendirikan
istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati,
dan kalian membuat benteng-benteng dengan harapan kalian hidup kekal? dan,
apabila kalian menyiksa, maka kalian lakukan secara kejam dan bengis. Maka,
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan, tetaplah kalian bertakwa
kepada-Nya yang telah menganugerahkan kepada kalian apa yang kalian ketahui.Dia
(Allah) telah menganugerahkan kepada kalian hewan ternak, anak-anak,
kebun-kebun, dan mata air," (QS. Asy-Syu'ara [26]: 123-134)
Nabi Hud mengajak kaumnya dengan cara yang baik,
tetapi mereka justru menentang ajakan beliau. Allah berfirman, "Mereka berkata, 'Apakah kedatanganmu kepada kami
agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah
oleh nenek moyang kami? Maka, buktikanlah ancamanmu kepada kami, jika kamu
benar!' "(QS. Al-A'raf [7]: 70).
Ketika Hud menggunakan segala cara yang meyakinkan
untuk memberi petunjuk kepada kaumnya, tanda-tanda kesombongan dari mereka pun
mulai tampak dalam menentang ajaran beliau. Mereka berkata kepada beliau
sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an, "mereka
menjawab, 'sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat. (Agama kami) ini
tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang terdahulu. Dan kami (sama
sekali) tidak akan diadzhab,"(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 136-138).
Allah pun meng-adzhab mereka dengan adzhab yang sangat
pedih setelah Nabi Hud beserta pengikutnya yang beriman diselamatkan. Peristiwa
tersebut terekam dalam Al-Qur'an, "Maka
ketika mereka melihat adzhab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah
mereka, mereka berkata, 'Inilah awan yang akan menurunkan huja kepada kita.'
(Bukan!) Tetapi itulah adzha yang kalian minta agar disegerakan datangnya,
(yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala
sesuatu dengan perintah Rabbnya, sehingga mereka (kaum 'Ad) menjadi tidak
tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.
Demikianlah kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa,"(QS. Al-Ahqaf
[46]: 24-25).
Wilayah Kaum 'Ad
Al-Qur'an menyebutkan wilayah kaum 'Ad terbatas di
daerah al-Ahqaf. Al-Ahqaf ialah jamak dari hiqf yang berarti padang pasir.
Al-Qur'an tidak menentukan lokasi tepatnya. Akan tetapi beberapa ahli
menyebutkan bahwa wilayah itu berada diantara Yaman dan Oman.
Majalah A m'intresse Prancis menjelaskan motif
hancurnya peradaban kota Iram atau Ubar. Kota tersebut telah dilanda badai
pasir yang sangat dahsyat. Badai pasir itu telah mampu menimbun kota tersebut
dengan ketebalan mencapai sekitar 12 meter. Peristiwa ini dikuatkan juga oleh
Al-Qur'an dalam surah Fushshilat.
"Maka, Kami tiupkan angin
yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena
Kami ingin agar mereka itu merasakansiksaan yang menghinakan dalam kehidupan di
dunia. Sedangkan adzhab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi
pertolongan," (QS. Fushshilat [41]: 16).
Data sejarah mengungkapkan bahwa di wilayah al-ahqaf
telah terjadi perubahan iklim dari tanah subuh menjadi gurun sahara.
Sebelumnya, daerah tersebut merupakan tanah yang produktif; wilayahnya luas dan
membentang hijau, seperti yang diinformasikan Al-Quran labih dari 1400 tahun
yang lalu.
Gambar yang diperoleh salah satu satelit buatan milik
Badan Antariksa Amerika Serikat (USA), NASA tahun 1990 telah mengungkap tentang
sistem saluran dan bendungan kuno yang pernah dipergunakan kaum 'Ad sebagai
irigasi. Bendungan dan saluran air ini mampu memasok kebutuhan air untuk
masyarakat sampai 200.000 orang. Hal itu sebagaimana pengambilan gambar aliran
dua sungai kering yang berada di dekat pemukiman kaum 'Ad. Salah seorang
peneliti yang melakukan penelitian di wilayah tersebut menyebutkan bahwa
wilayah yang berada di sekitar kota Ma'rib sangat subur. Dipastikan seluruh
daerah yang membentang antara kota Ma'rib dan Hadramaut adalah perkebunan.
Kisah Nabi Hud dan Kaum 'Ad
'Ad adalah nama bapak suatu suku yang hidup di jazirah
Arab di suatu tempat bernama Al-Ahqaf terletak di utara Hadramaut antara Yaman
dan Umman, yang termasuk suku tertua sesudah kaum Nabi Nuh serta terkenal
dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yang besar dan kuat. Mereka
dikarunia oleh Allah tanah yang subur dengan sumber-sumber airnya yang mengalir
dari segala penjuru sehinggakan memudahkan mereka bercocok tanam untuk bahan
makanan mereka. dan memperindah tempat tinggal mereka dengan kebun-kebun bunga
yang indah-indah. Berkat karunia Tuhan itu mereka hidup makmur, sejahtera dan
bahagia serta dalam waktu yang singkat mereka berkembang biak dan menjadi suku
yang terbesar diantara suku-suku yang hidup di sekelilingnya.
Sebagaimana kaum Nabi Nuh, kaum Hud (suku 'Ad) ini
tidak mengenal Allah Yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta. Mereka membuat patung-patung
yang diberi nama Shamud dan Alhattar dan itu yang disembah sebagai tuhan mereka
yang menurut kepercayaan mereka dapat memberi kebahagiaan, kebaikan dan
keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah. Ajaran
Nabi Idris as dan Nabi Nuh as sudah tidak berbekas dalam hati, jiwa serta cara
hidup mereka sehari-hari. Mereka tenggelam dalam kenikmatan hidup, berkat tanah
yang subur dan memberikan hasil yang melimpah ruah. Menurut anggapan mereka
adalah karunia dan pemberian kedua berhala yang mereka sembah. Karenanya mereka
senantiasa sujud kepada kedua berhala itu, mensyukurinya sambil memohon
perlindungannya dari segala bahaya dan mushibah berupa penyakit atau
kekeringan.
Sebagai akibat dan buah dari aqidah yang sesat itu,
pergaulan hidup mereka dikuasai oleh tuntutan dan pimpinan Iblis, di mana
nilai-nilai moral dan akhlak tidak menjadi dasar penimbangan atau kelakuan dan
tindak-tanduk seseorang. Tetapi kebendaan dan kekuatan lahiriahlah yang
menonjol sehingga timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang dalam
masyarakat di mana yang kuat menindas yang lemah, yang besar memperkosa yang
kecil, dan yang berkuasa memeras yang di bawahnya. Sifat-sifat sombong,
congkak, iri-hati, dengki, hasut dan benci-membenci yang didorong oleh hawa
nafsu yang merajalela dan menguasai penghidupan mereka, sehingga tidak memberi
tempat kepada sifat-sifat belas kasihan, sayang menyayangi, jujur, amanat dan
rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku 'Ad tatkala Allah mengutus
Nabi Hud sebagai nabi dan rasul kepada mereka.
Nabi Hud bersama Kaumnya
Sudah menjadi sunnah Allah sejak diturunkannya Adam ke
bumi bahwa dari masa ke semasa jika hamba-hamba-Nya sudah berada dalam
kehidupan yang sesat, sudah jauh menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang
dibawa oleh Nabi-nabi-Nya diutuslah seorang Nabi atau Rasul yang bertugas untuk
menyegarkan kembali ajaran-ajaran nabi-nabi yang sebelumnya. Dan mengembalikan
masyarakat yang sudah tersesat ke jalan yang lurus dan benar, serta mencuci
bersih jiwa manusia dari segala tahayul dan syirik. Kemudian menggantinya dan
mengisinya dengan iman tauhid dan aqidah yang sesuai dengan fitrah.
Demikianlah, maka kepada suku 'Ad yang telah
dimabukkan oleh kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak
mengenal Tuhannya yang mengurniakan itu semua. Di utuslah kepada mereka, Nabi
Hud seorang dari suku mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan
berpengaruh serta terkenal sejak kecilnya dengan kelakuan yang baik, budi
pekerti yang luhur dan sangat bijaksana dalam pergaulan dengan kawan-kawannya.
Nabi Hud memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaumnya suku 'Ad kepada
tanda-tanda adanya Allah, yang berupa alam sekeliling mereka. Dan bahwa
Allahlah yang menciptakan mereka semua serta memberi karunia kepada mereka
dengan segala kenikmatan hidup yang berupa tanah subur, air yang mengalir serta
tumbuh-tumbuhan yang tegak dan kuat. Dialah yang seharusnya mereka sembah dan
bukan patung-patung yang mereka buat sendiri. Mereka sebagai manusia adalah
makhluk Tuhan paling mulia yang tidak sepatutnya merendahkan diri sujud
menyembah batu-batu yang dapat mereka hancurkan sendiri.
Diterangkan oleh Nabi Hud bahwa dia adalah utusan
Allah yang diberi tugas untuk membawa mereka ke jalan yang benar, beriman
kepada Allah yang menciptakan mereka, menghidupkan dan mematikan mereka,
memberi rezeki atau mencabutnya dari mereka. Ia tidak mengharapkan upah dan
menuntut balas jasa atas usahanya memimpin dan menuntut mereka ke jalan yang
benar. Ia hanya menjalankan perintah Allah dan memperingatkan mereka bahwa jika
mereka tetap menutup telinga dan mata mereka terhadap ajakan dan dakwahnya.
Maka mereka akan ditimpa azab dan dibinasakan oleh Allah sebagaimana terjadinya
atas kaum Nuh yang mati binasa tenggelam dalam air bah akibat kesombongan
mereka menolak ajaran dan dakwah Nabi Nuh, serta tetap bertahan pada
kepercayaan mereka kepada berhala dan patung-patung yang mereka sembah dan puja
itu.
Bagi kaum 'Ad seruan dan dakwah Nabi Hud itu merupakan
barang yang tidak pernah mereka dengar. Mereka melihat bahwa ajaran yang dibawa
oleh Nabi Hud itu akan mengubah cara hidup mereka serta mengubah peraturan dan
adat istiadat yang telah mereka kenal dan warisi dari nenek moyang mereka.
Mereka tercengang dan merasa heran bahwa seorang dari suku mereka sendiri telah
berani berusaha merombak tatacara hidup mereka serta menggantikan agama dan
kepercayaan mereka dengan sesuatu yang baru, yang tidak mereka kenal dan tidak
diterima oleh akal pikiran mereka. Dengan serta-merta ditolaklah oleh mereka
dakwah Nabi Hud itu dengan berbagai alasan dan tuduhan negatif terhadap diri
beliau serta ejekan-ejekan dan hinaan yang diterimanya dengan kepala dingin dan
penuh kesabaran.
Berkatalah kaum 'Ad kepada Nabi
Hud:"Wahai Hud! Ajaran dan agama apakah yang engkau hendak anjurkan kepada
kami? Engkau ingin agar kami meninggalkan sesembahan kami kepada tuhan-tuhan
kami yang berkuasa ini, dan menyembah tuhan mu yang tidak dapat kami jangkau
dengan pancaindera kami dan tuhan yang menurut kamu tidak bersekutu. Cara
persembahan yang kami lakukan inilah yang telah kami warisi dari nenek moyang
kami dan tidak sesekali kami akan meninggalkannya, bahkan sebaliknya engkaulah
yang seharusnya kembali kepada aturan nenek moyangmu dan jangan mencederai
kepercayaan serta agama kami dengan membawa suatu agama baru yang tidak kami
kenal.
"Wahai kaumku! jawab Nabi Hud,
Sesungguhnya Tuhan yang aku serukan ini kepada kamu untuk menyembah-Nya,
walaupun kamu tidak dapat menjangkau-Nya dengan pancainderamu, namun kamu dapat
melihat dan merasakan wujudnya dalam diri kamu sendiri sebagai ciptaannya. Dan
dalam alam semesta yang mengelilingimu beberapa langit dengan matahari, bulan
dan bintang-bintangnya, serta bumi dengan gunung-gunungnya, sungai,
tumbuh-tumbuhan, dan binatang-binatang yang kesemuanya bermanfaat bagi kamu
sebagai manusia. Dan membuat kamu dapat menikmati kehidupan yang sejahtera dan
bahagia. Tuhan itulah yang harus kamu sembah dan menundukkan kepala kamu
kepada-Nya.Tuhan Yang Maha Esa tiada bersekutu, tidak beranak dan tidak diperanakan.
Walaupun kamu tidak dapat menjangkau-Nya dengan pancainderamu, Dia ada
didekatmu, serta mengetahui segala gerak-gerik dan tingkah lakumu, mengetahui
isi hatimu, denyut jantungmu dan jalan pikiranmu. Tuhan itulah yang harus
disembah oleh manusia dengan kepercayaan penuh kepada KeEsaan-Nya dan
kekuasaan-Nya, dan bukan patung-patung yang kamu buat dengan tanganmu sendiri,
kemudian kamu sembah sebagai tuhan padahal ia suatu barang yang pasif, tidak
dapat berbuat sesuatu yang menguntungkan atau merugikan kamu. Alangkah bodohnya
dan dangkalnya pikiranmu jika kamu tetap mempertahankan agamamu yang sesat itu
dan menolak ajaran dan agama yang telah diwahyukan kepadaku oleh Allah Tuhan
Yang Maha Esa itu."
"Wahai Hud!" jawab
kaumnya,"Gerangan apakah yang menjadikan engkau berpandangan dan
berpikiran lain daripada yang sudah menjadi pegangan hidup kami sejak dahulu
kala dan menjadikan engkau meninggalkan agama nenek moyangmu sendiri. Bahkan
membuatmu menghina dan merendahkan martabat tuhan-tuhan kami, serta membodohi
kami dan menganggap kami berakal sempit dan berpikiran dangkal? Engkau mengaku
bahwa engkau terpilih menjadi rasul utusan Tuhanmu untuk membawa agama dan
kepercayaan baru kepada kami, dan mengajak kami keluar dari jalan yang sesat
menurut pengakuanmu ke jalan yang benar dan lurus. Kami merasa heran dan tidak
dapat diterima akal kami sendiri bahwa engkau telah dipilih menjadi utusan
Tuhan. Apakah kelebihan kamu di atas seseorang daripada kami, engkau tidak
lebih tidak kurang adalah seorang manusia biasa seperti kami, hidup makan minum
dan tidur tiada bedanya dengan kami, mengapa engkau yang dipilih oleh Tuhanmu?
Sungguh engkau menurut anggapan kami, seorang pendusta besar atau mungkin
engkau berpikiran tidak sehat terkena kutukan tuhan-tuhan kami yang selalu
engkau ejek hina dan cemoohkan."
"Wahai kaumku!" jawab Nabi
Hud, "aku bukanlah seorang pendusta dan pikiranku tetap waras dan sehat
tidak kurang sesuatu pun dan ketahuilah bahwa patung-patung yang kamu
pertuhankan itu tidak dapat mendatangkan gangguan atau penyakit bagi badanku
atau pikiranku. Kamu kenal aku, sejak lama aku hidup di tengah-tengah kalian,
bahwa aku tidak pernah berdusta dan berbohong. Sepanjang pergaulanku dengan
kalian, tidak pernah terlihat pada diriku tanda-tanda ketidak wajaran
perlakuanku atau tanda-tanda yang meragukan kewarasan pikiranku dan
kesempurnaan akalku. Aku adalah benar utusan Allah yang diberi amanat untuk
menyampaikan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang sudah tersesat dan sudah
jauh menyimpang dari jalan yang benar, yang diajar oleh nabi-nabi yang
terdahulu. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terlalu lama
terlantar dalam kesesatan, dan hidup dalam kegelapan tanpa diutus-Nya seorang
rasul yang menuntun mereka ke jalan yang benar dan penghidupan yang
diridhai-Nya. Maka percayalah kamu kepadaku, gunakanlah akal pikiranmu,
berimanlah dan bersujudlah kepada Allah Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang
menciptakan kamu, menciptakan langit dan bumi, menurunkan hujan dan menyuburkan
tanah ladangmu, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Bersembahlah kepada-Nya dan mohon
ampunlah atas segala perbuatan salah dan tindakan sesatmu. Agar Dia menambah
rezekimu dan kemakmuran hidupmu dan terhindarlah kamu dari azab dunia
sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Nuh dan kelak azab di akhirat.
Ketahuilah bahwa kamu akan dibangkitkan kembali kelak dari kuburmu, dan
dimintai pertanggung-jawaban atas segala perbuatanmu di dunia ini, dan amalanmu
yang baik mendapat ganjaran baik, serta yang hina dan buruk akan mendapat
ganjaran api neraka. Aku hanya menyampaikannya risalah Allah kepada kamu, dan
dengan ini telah memperingati kamu akan akibat yang akan menimpa dirimu jika
kamu tetap mengingkari kebenaran dakwahku."
Kaum 'Ad menjawab: "Kami bertambah
yakin dan tidak ragu lagi bahwa engkau telah mendapat kutukan tuhan-tuhan kami,
sehingga menyebabkan pikiran kamu kacau dan akalmu berubah menjadi sinting.
Engkau telah mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal bahwa jika kami
mengikuti agamamu, akan bertambah rezeki dan kemakmuran hidup kami dan bahwa
kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami dan menerima segala ganjaran
atas segala amalan kami. Mungkinkah kami akan dibangkitkan kembali dari kubur
kami setelah kami mati dan menjadi tulang-belulang. Dan apakah azab serta
siksaan yang engkau ancamkan kepada kami? Semua ini kami anggap bohong belaka.
Ketahuilah bahwa kami tidak akan menyerah kepadamu dan mengikuti ajaranmu
karena bayangan azab dan siksa yang engkau bayang-bayangkan kepada kami. Bahkan
kami menentang kepadamu, datangkanlah apa yang engkau ancamkan itu, jika benar
kata-katamu dan bukan seorang pendusta."
"Baiklah!", jawab Nabi
Hud," Jika kamu meragukan kebenaran kata-kataku dan tetap berkeras kepala
tidak menghiraukan dakwahku dan meninggalkan persembahanmu kepada berhala-berhala
itu. Maka tunggulah saat tibanya pembalasan Tuhan di mana kamu tidak akan dapat
melepaskan diri dari bencananya. Allah menjadi saksiku bahwa aku telah
menyampaikan risalah-Nya dengan sepenuh tenagaku kepada mu, dan akan tetap
berusaha sepanjang hidupku memberi penerangan dan tuntunan kepada jalan yang
baik, yang telah digariskan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya."
Pembalasan Allah Atas Kaum 'Ad
Pembalasan Tuhan terhadap kaum 'Ad yang tetap
membangkang itu diturunkan dalam dua tahap. Tahap pertama berupa kekeringan
yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka, sehingga menimbulkan
kecemasan dan kegelisahan. Sehingga mereka tidak memperolehi hasil dari
ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya. Dalam keadaan demikian Nabi
Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahwa kekeringan itu adalah suatu
permulaan siksaan dari Allah yang dijanjikan. Dan bahwa Allah masih memberi
kesempatan kepada mereka untuk sadar akan kesesatan mereka dan kembali beriman
kepada Allah dengan meninggalkan sesembahan mereka yang batil kemudian
bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Sehingga hujan turun kembali dan
terhindar dari bahaya kelaparan yang mengancam. Akan tetapi mereka tetap belum
percaya dan menganggap janji Nabi Hud itu adalah janji kosong belaka. Mereka
bahkan pergi menghadap berhala-berhala mereka memohon perlindungan dari musibah
yang mereka hadapi.
Tantangan mereka terhadap janji Allah yang diwahyukan
kepada Nabi Hud, segera mendapat jawapan dengan datangnya musibah tahap kedua.
Yaitu dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di
atas mereka, yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira. Karena dikiranya
bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun
mereka yang sedang mengalami kekeringan. Melihat sikap kaum 'Ad yang sedang
bersuka ria itu, berkatalah Nabi Hud: "Mega hitam itu bukanlah mega hitam
dan awan rahmat bagi kamu, tetapi mega yang akan membawa kehancuranmu sebagai
pembalasan Allah untuk membuktikan kebenaran kata-kataku yang selalu kamu
sangkal dan kamu dustai".
Sesaat kemudian menjadi kenyataanlah apa yang
disampaikan Nabi Hud itu, bahwa bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu.
Tetapi angin taufan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang
merusakkan bangunan-bangunan rumah dari dasarnya, membawa berterbangan semua
perabot-perabot dan harta benda serta melempar jauh binatang-binatang ternak.
Keadaan kaum 'Ad menjadi panik, mereka berlari kesana sini mencari
perlindungan. Suami tidak tahu di mana isterinya berada dan ibu juga kehilangan
anaknya, sedang rumah-rumah menjadi sama rata dengan tanah. Bencana angin
taufan itu berlangsung selama delapan hari tujuh malam, sehingga menamatkan
riwayat kaum 'Ad dalam keadaan yang menyedihkan itu untuk menjadi pengajaran
dan bagi umat-umat yang akan datang.
Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah
mendapat perlindungan Allah dari bencana yang menimpa kaumnya. Setelah keadaan
cuaca kembali tenang dan tanah Al-Ahqaf sudah menjadi sunyi senyap dari kaum
'Ad, pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut, di mana
ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana.
Hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah bukit, sekitar 50 km dari
kota Siwun, dikunjungi para penziarah yang datang dari sekitar daerah itu,
terutamanya dan bulan Sya'ban.
Kisah Nabi Hud Dalam Al-Quran
Kisah Nabi Hud diceritakan dalam 7 ayat, yaitu Surat Hud
[11]: ayat 50, 53, 58, 60, dan 89, Surat Al-A'raaf [7]: ayat 65, Surat
Asy-Syu'araa [26]: ayat 124.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Hud
Nabi Hud telah memberi contoh dan sistem yang baik
serta patut ditiru dan diikuti oleh juru dakwah dan ahli penerangan agama.
Beliau menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala itu dengan penuh
kesabaran, ketabahan dan kelapangan dada. Ia tidak sesekali membalas ejekan dan
kata-kata kasar mereka dengan hal yang serupa. Tetapi menolaknya dengan
kata-kata yang halus, yang menunjukkan bahwa beliau dapat menguasai emosinya
dan tidak sampai kehilangan akal atau kesabaran.
Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar ketika kaumnya
mengejek dengan menuduhnya telah menjadi gila dan sinting. Ia dengan lemah
lembut menolak tuduhan dan ejekan itu dengan berkata:"Aku tidak gila dan
bahwa tuhan-tuhanmu yang kamu sembah tidak dapat menggangguku atau mengganggu
pikiranku sedikit pun, aku ini adalah rasul utusan Allah kepadamu dan
betul-betul aku adalah seorang yang jujur bagimu, menghendaki kebaikanmu dan
kesejahteraan hidupmu, agar kamu terhindar dan selamat dari azab dan siksaan
Allah di dunia maupun di akhirat."
Dalam berdialog dengan kaumnya, Nabi Hud selalu
berusaha mengetuk hati nurani mereka dan mengajak mereka berpikir secara rasional,
menggunakan akal dan pikiran yang sehat dengan memberikan bukti-bukti yang
dapat diterima oleh akal mereka tentang kebenaran dakwahnya, kesesatan jalan
mereka. Juga hidayah itu adalah dari Allah, Dia akan memberinya kepada siapa
yang Dia kehendakinya.
Diberdayakan oleh Blogger.







