Posted by : Joko
23 Mar 2016

Nama: Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim
as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub
as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats
⇒ Imran ⇒ Harun as
Usia: 123 tahun
Periode sejarah: 1531 - 1408 SM
Tempat diutus (lokasi): Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak): -
Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu') di Jordania
(sekarang)
Sebutan kaumnya: Bani Israil dan Fir'aun (gelar raja
Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 20 kali
Harun bin Imran bin Qahats bin Azar bin
Lawi bin Yaakub bin Ishak bin Ibrahim. Beliau adalah kakak Nabi Musa, diutus
untuk membantu Musa memimpin Bani Israel ke jalan yang benar.
Firman Allah: "Dan
Kami telah menganugerahkan kepadanya sebahagian rahmat Kami, yaitu saudaranya,
Harun menjadi seorang nabi."
Harun dilahirkan empat tahun sebelum Musa. Beliau yang
fasih berbicara dan mempunyai pendirian tetap sering mengikuti Musa dalam
menyampaikan dakwah kepada Firaun, Hamman dan Qarun. Nabi Musa sendiri mengakui
saudaranya fasih berbicara dan berdebat, seperti diceritakan al-Quran: "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya
daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan
(perkataan) ku, sesungguhnya aku kawatir mereka akan berdusta."
Nabi Harun hidup selama 123 tahun. Beliau wafat 11
bulan sebelum kematian Musa, yaitu sebelum Bani Israil memasuki Palestina.
Mengenai Bani Israel, mereka sukar dipimpin, namun dengan kesabaran Musa dan
Harun, mereka dapat dipimpin supaya mengikuti syariat Allah, seperti terkandung
dalam Taurat ketika itu.
Selepas Harun dan Musa meninggal dunia, Bani Israel
dipimpin oleh Yusya' bin Nun. Namun, selepas Yusya' mati, lama-kelamaan mereka
meninggalkan syariat yang terkandung dalam Taurat, sehingga menimbulkan
perselisihan dan perbedaan pendapat, akhirnya menyebabkan perpecahan Bani
Israel.
Pengutusan Nabi Harun
Riwayat Nabi Harun tidak terpisahkan dengan Nabi Musa,
dan dakwahnya dilakukan bersama dengan Musa, karena tugas Nabi Harun untuk
membantu Nabi Musa dalam berdakwah.
Pada masa Nabi Yusuf, sekelompok bani Israil telah
menetap di daerah Mesir setelah bermigrasi dari negeri Kan'an. Mereka adalah
pemeluk agama tauhid yang berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim, berbeda
dengan para fir'aun yang menyembah patung dan berhala. Seiring kemajuan zaman,
petumbuhan bani Israil pun berkembang pesat.
Para fir'aun khawatir jika mereka mencampuri urusan
politik dan agama kehidupan masyarakat Mesir. Akhirnya, mereka menyiksa bani
Israil dengan siksaan yang pedih. Hal ini terekam dalam firman Allah, "(ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari
(Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang
seberat-beratnya. Mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan
hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat
cobaan-cobaan yang besar dari Rabbmu," (QS. Al-Baqarah [2]: 49).
Ditengah kesulitan yang dialami bani Israil, Allah
berkehendak atas kelahiran Musa. Sang ibu pun menyembunyikan kelahirannya,
sebagaimana firman Allah, "Dan kami
ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir
terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir
dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan
mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para
rasul," (QS. Al-Qashash [28]: 7).
Janji Allah untuk untuk menjaga bayi ini pun terbukti.
Fir'aun memperbolehkan istrinya mencari seorang ibu yang mau menyusui bayi
tersebut. Dia pun menemukan ibu Musa dan menyuruhnya agar menyusui sang bayi.
Musa dibesarkan di lingkungan istana Fir'aun, di
tangan para dukun dan pemuka-pemuka agama mereka. Ketika dewasa, Allah
memberinya ilmu dan hikmah. Pada suatu hari, ada orang Mesir yang mengejek dan
memaksa seseorang bani Israil melakukan suatu pekerjaan untuknya. Orang bani
Israil itu lantas meminta pertolongan Nabi Musa. Dia pun menolongnya dan
memukul orang Mesir itu, dan tanpa sengaja orang itu mati.
Pada hari berikutnya, orang bani Israil kembali
berkelahi dengan orang Mesir yang lain. Orang bani Israil itu lantas meminta
pertolongan lagi kepada Nabi Musa. Akan tetapi Nabi Musa malah membentak dan
memarahi orang Israil itu karena seringnya dia berbuat buruk. Orang Israil itu
mengira Musa akan membunuhnya. Dia pun segera bertanya, "Apakah engkau ingin membunuhku seperti orang
Mesir kemarin?"
Mendengar cerita pembunuhan itu, orang Mesir tersebut
segera menemui kaumnya dan menceritakan apa yang terjadi. Fir'aun pun segera
mengirim pasukan mencari Musa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun,
salah seorang yang menyayangi Musa segera memberi tahunya setelah mendengar
sesuatu yang terjadi di istana Fir'aun. Dia menyuruh Musa pergi meninggalkan
bahaya ancaman Fir'aun. Musa pun pergi meninggalkan Mesir menuju Madyan, daerah
di bagian barat laut Jazirah Arab.
Di Madyan, Musa tinggal di rumah orang tua yang
beriman, yaitu Nabi Syuaib. Setelah orang tua itu (Nabi Syuaib) melihat
keluhuran akhlak dan tanggung jawab Musa yang sangat tinggi, dia lalu
menikahkan Musa dengan salah satu putri beliau. Musa kemudian ingin kembali ke
mesir setelah beberapa lama tinggal di Madyan.
Ketika sampai di Bukit Tursina, Musa tersesat. Tibalah
waktu malam saat Allah hendak memberikan tugas kenabian dan wahyu kepadanya.
Pada saat itu, malam terasa dingin dan Musa melihat cahaya api dari kejauhan.
Dia lantas menyuruh keluarganya agar tidak meninggalkan tempat mereka karena
dia ingin pergi mencari sedikit api untuk penerangan. Tatkala dia sampai ke
tempat api tersebut, Allah berfirman kepadanya, "Sungguh,
Aku ini Allah, tidak ada ilah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah
shalat untuk mengingat-Ku," (QS. Thaha [20]: 14).
Hal itu kemudian menjadi tanda awal kenabian Musa
sebagai Kalimullah. Permintaan Musa pun dikabulkan dan Allah mengutus pula
saudaranya, Harun sebagai pendampingnya.
Allah memerintahkan mereka berdua (Musa dan Harun)
agar bertutur lemah lembut saat memperingatkan Fir'aun. Selain itu, mereka juga
diperintahkan untuk mengatakan kepada Fir'aun, "Kami
adalah utusan Rabb alam semesta kepadamu. Lepaskanlah bani Israil dan jangan
siksa mereka. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk."
Pada saat itulah kesombongan menguasai Fir'aun hingga
dia berkata kepada Musa, "Bukanlah kami
yang mengasuhmu sewaktu kecil?1" Dia pun menyebutkan berbagai
kebaikannya terhadap Musa, bahkan mulai mengejek dan menuduh Nabi Musa dan Nabi
Harun melakukan sihir. Fir'aun lalu memerintahkan tukang sihirnya untuk
menghadapi mereka berdua. Ahli sihir Fir'aun pun berdatangan dan melemparkan
tali-tali mereka dan menyihirnya menjadi ular untuk menandingi Musa. Nabi Musa
lantas melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular dan menelan
ular-ular mereka atas pertolongan Allah.
Melihat mukjizat itu, para ahli sihir Fir'aun pun
mengimani Musa dan syariat Allah yang dia bawa. Mereka juga tidak memedulikan
berbagai ancaman Fir'aun. Mereka semua berkata seperti yang diabadikan
al-Qur'an, "Sesungguhnya kami telah beriman
kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang
telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya)
dan lebih kekal (adzab-Nya)," (QS. Thaha [20]: 73).
Fir'aun lalu berencana membunuh Musa dan Harun serta
semakin keras menyiksa bani Israil. Nabi Musa memerintahkan mereka untuk
menguatkan jiwa dan bersabar. Dia kemudian berdoa kepada Allah agar menurunkan
adzab yang pedih kepada Fir'aun dan kaumnya. Allah berfirman,"Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang,
kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti yang
jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang
berdosa. )," (QS. Al-A'raf [7]: 133).
Ketika Fir'aun dan kaumnya sudah tidak berdaya dengan
adzab dengan adzab yang menimpa mereka, dia pun meminta kepada Musa agar berdoa
kepada Allah untuk menghentikan siksaan itu. Fir'aun kemudian berjanji tidak
akan lagi menyiksa bani Israil. Nabi Musa lantas memohon kepada Allah agar
menghentikan siksaan itu dan Allah pun mengakhirinya. Namun, Fir'aun ingkar
janji, dan dia kembali menyiksa bani Israil untuk kedua kalinya.
Sementara itu, bani Israil berkumpul dan meminta
kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar dia membawa mereka keluar dari Mesir. Nabi
Musa dan Nabi Harun pun membawa kaumnya dan berangkat ke arah negeri Kan'an
melewati Sinai. Fir'aun beserta bala tentaranya mengejar mereka. Namun, Nabi
Musa dan Nabi Harun beserta kaumnya dapat menyeberangi laut dengan mukjizat
yang telah Allah berikan kepada Musa. Fir'aun dan pasukannya juga ikut
menyeberang laut mengejar mereka, tetapi Allah menenggelamkan Fir'aun beserta
seluruh tentaranya.
Nabi Musa dan Nabi Harun serta bani Israil tiba di
padang pasir negeri Sinai. Setelah melihat banyak perbedaan antara daerah itu
dan negeri sungai Nil yang subur (Mesir), mereka mengajukan berbagai permintaan
kepada Nabi Musa. Nabi Musa telah menerima Taurat. Di dalamnya terdapat beragam
syariat samawiyah. Kaumnya mulai menyeleweng, terlebih setelah Nabi Musa pergi
untuk menerima lembaran wahyu. As-Samiri telah mempengaruhi bani Israil untuk
menyembah anak sapi sehingga mereka meminta kepada Musa agar dibuatkan patung
untuk disembah.
Nabi Musa lantas marah dan mengecam permintaan mereka.
Dia ingin menjadikan sebuah pusat pemerintahan untuk kaumnya. Dia kemudian
pergi menuju kota Ariha (Jericho), tetapi kaumnya tidak mau dan berkata seperti
termaktub dalam al-Qur'an, "Mereka berkata,
'wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasuki, selagi mereka ada di
dalamnya, karena itu, pergilah engkau bersama Rabbmu, dan berperanglah kalian
berdua, biarlah kami tetap (menanti) di sini saja,' " (QS. Al-Ma'idah [5]:
24).
Di saat mereka menolak untuk masuk negeri yang
disucikan itu, Allah membalasnya dengan adzab. Mereka pun tersesat di lembah
Tih selama 40 tahun. Beberapa tahun setelah itu, Nabi Harun wafat lalu disusul
Nabi Musa. Setelah Nabi Musa wafat, bani Israil baru merasakan buruk dan
bodohnya perbuatan serta tingkah laku mereka kepada Nabi Musa. Karena itu,
mereka mengangkat Yusya' bin Nun sebagai Raja. Dialah yang kemudian membawa
mereka menyeberangi sungai Jordan (asy-Syari'ah) menuju kota Ariha dan tinggal
di sana.
Diberdayakan oleh Blogger.







