Posted by : Joko
23 Mar 2016
Nama
|
Daud (Dawud, David) bin Isya
|
Garis Keturunan
|
Adam as ⇒
Syits ⇒ Anusy ⇒
Qainan ⇒ Mahlail ⇒
Yarid ⇒ Idris as ⇒
Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir
⇒ Falij ⇒ Ra'u
⇒ Saruj ⇒
Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim
as ⇒ Ishaq as ⇒
Yahudza ⇒ Farish ⇒
Hashrun ⇒ Aram ⇒
Aminadab ⇒ Hasyun ⇒
Salmun ⇒ Bu'az ⇒
Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud
as
|
Usia
|
100 tahun
|
Periode sejarah
|
1063 - 963 SM
|
Tempat diutus (lokasi)
|
Palestina (dan Israil)
|
Keturunannya (anaknya)
|
Sulaiman (Sulaeman)
|
Tempat wafat
|
Baitul Maqdis (Yerusalem)
|
Sebutan kaumnya
|
Bani Israil
|
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak
|
18 kali
|
Daud (Dawud, DavĂd, Dawit) adalah nabi sekaligus raja
dalam kerajaan Israel (Bani Israil). Daud merupakan keturunan Yahudza bin
Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil.
Nabi Daud adalah ayah dari Nabi Sulaiman, dan moyang
dari Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Isa.
Ketika masih muda, Daud menyertai tentara Bani Israil
di bawah pimpinan Thalut melawan pasukan bangsa Palestina yang dipimpin Jalut
(Goliath). Daudlah yang berhasil membunuh Jalut, sehingga dipuji sebagai
pahlawan perang. Setelah Raja Thalut meninggal, Daud menggantikannya sebagai
raja. Allah mengangkat Daud sebagai nabi dan rasul-Nya. Kepadanyalah diturunkan
kitab Zabur. Beliau memiliki sejumlah mukjizat, kecerdasan akal, mengerti
bahasa burung, dan melembutkan besi hanya dengan menggunakan tangan kosong.
Perawakan Nabi Daud tidak terlalu tinggi, bermata biru, berambut tidak lebat,
berhati suci dan bersih.
Dia sangat dicintai oleh bani Israil. Allah
menganugerahi nabi Daud dengan kerajaan dan kenabian: kebaikan dunia dan
akhirat. Kerajaan itu istimewa, begitu juga dengan kenabian. Dan, keduanya
disatukan pada diri Daud. Allah berfirman, "Sungguh,
telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), "Hai
gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama
Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya," (QS. Saba' [34]:
10).
Allah memberikannya suara yang merdu: suara yang tidak
diberikan kepada siapa pun selain dia. Sehingga, ketika dia sedang melantunkan
Zabur, burung-burung turut berhenti di udara untuk mengagungkan Allah. Begitu
juga dengan gunung, ia menjawab dan ikut bertasbih bersamanya pada pagi dan
sore hari. Allah juga memberinya kemampuan untuk memutuskan perkara dengan adil
diantara manusia. Dia mampu menengahi dan menyelesaikan pertengkaran dan
perselisihan yang terjadi pada masyarakatnya. Hal itu membuat bani Israil lebih
menghormati, menghargai, dan memuliakannya.
Daud yang mulai pembangunan Bait Suci yaitu Baitul
Muqaddis yang kemudian diselesaikan oleh anaknya Nabi Sulaiman, yang sekarang
menjadi tempat Masjid Al-Aqsa. Daud meninggal dalam usia 100 tahun dan dikebumikan
di Baitul Muqaddis/Maqdis (Yerusalem).
Berlalulah tahun-tahun yang cukup panjang dari
wafatnya Musa. Setelah Nabi Musa, datanglah para nabi dan mereka telah mati dan
anak-anak Israil setelah Musa telah kalah. Kitab suci mereka telah hilang,
yaitu Taurat. Ketika Taurat telah hilang dari dada mereka maka ia pun tercabut
dari tangan mereka. Musuh-musuh mereka menguasai peti perjanjian yang di
dalamnya terdapat peninggalan keluarga Musa dan Harun. Bani Israil terusir dari
keluarga mereka dan rumah mereka. Keadaan mereka sungguh sangat tragis.
Kenabian telah terputus dari cucu Lawi, dan tidak tersisa dari mereka kecuali
seorang wanita yang hamil yang berdoa kepada Allah SWT agar Dia memberinya anak
laki-laki. Lalu ia melahirkan anak laki-laki dan menamainya dengan nama
Asymu'il yang dalam bahasa Ibrani berarti Ismail. Yakni Allah SWT mendengar
doaku.
Ketika anak itu tumbuh dewasa, ibunya itu mengirimnya
ke mesjid dan menyerahkannya kepada lelaki saleh agar belajar kebaikan dan
ibadah darinya. Anak itu berada di sisinya. Pada suatu malam—ketika ia telah
menginjak dewasa—ia tidur, lalu ia mendengar ada suara yang datang dari sisi
mesjid. Ia bangun dalam keadaan ketakutan dan mengira bahwa syaikh atau gurunya
memanggilnya. Ia segera menuju gurunya dan bertanya: "Apakah engkau memang memanggilku?" Guru itu
tidak ingin menakut-nakutinya maka ia berkata: "Ya,
ya." Anak itu pun tidur kembali. Kemudian suara itu lagi-lagi
memanggilnya untuk kedua kalinya dan ketiga hingga ia bangun dan melihat
malaikat Jibril memanggilnya: "Tuhanmu
telah mengutusmu kepada kaummu." Pada suatu hari, Bani Israil
menemui nabi yang mulia ini. Mereka bertanya kepadanya: "Tidakkah kami orang-orang yang teraniaya?"
Dia menjawab: "Benar."
Mereka berkata: "Tidakkah kami orang-orang
yang terusir?" Dia menjawab: "Benar."
Mereka mengatakan: "Kirimkanlah
untuk kami seorang raja yang dapat mengumpulkan kami di bawah satu bendera agar
kita dapat berperang di jalan Allah SWT dan agar kita dapat mengembalikan tanah
kita dan kemuliaan kita." Nabi mereka berkata kepada mereka dan
tentu ia lebih tahu daripada mereka:
"Apakah kalian yakin akan menjalankan peperangan jika diwajibkan
peperangan atas kalian?"
Mereka menjawab: "Mengapa
kami tidak berperang di jalan Allah SWT sedangkan kami telah terusir dari
negeri kami, dan anak-anak kami pun terusir serta keadaan kami makin
memburuk." Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya
Allah SWT telah mengutus Thalut sebagai penguasa bagi kalian." Mereka
berkata: "Bagaimana ia menjadi penguasa
atas kami sedangkan kami lebih berhak mendapatkan kekuasaan itu daripadanya.
Lagi pula, ia bukan seorang yang kaya, sedangkan di antara kami ada orang yang
lebih kaya daripadanya."
Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya
Allah SWT memilihnya atas kalian karena ia memiliki keutamaan dari sisi ilmu
dan fisik. Dan Allah SWT memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa pun yang Dia
kehendaki." Mereka berkata:
"Apa tanda kekuasaa-Nya?" Nabi menjawab: "Kitab Taurat yang dirampas musuh kalian akan
kembali kepada kalian. Kitab itu akan dibawa oleh para malaikat dan diserahkan
kepada kalian. Ini adalah tanda kekuasaan-Nya." Mukjizat
tersebut benar-benar terjadi di mana pada suatu hari Taurat kembali kepada
mereka.
Pembentukan pasukan Thalut dimulai. Thalut telah
menyiapkan tentaranya untuk memerangi Jalut. Jalut adalah seseorang yang
perkasa dan penantang yang hebat di mana tak seorang pun mampu mengalahkannya.
Pasukan Thalut telah siap. Pasukan berjalan dalam waktu yang lama di
tengah-tengah gurun dan gunung sehingga mereka merasakan kehausan. Raja Thalut
berkata kepada tentaranya: "Kita akan
menemui sungai di jalan. Barangsiapa yang meminumnya maka hendaklah ia akan
keluar dari pasukan dan barangsiapa yang tidak mencicipinya dan hanya sekadar
membasahi kerongkongannya maka ia akan dapat bersamaku dalam pasukan."
Akhirnya, mereka mendapati sungai dan sebagian tentara
minum darinya dan kemudian mereka keluar dari barisan tentara. Thalut telah
menyiapkan ujian ini untuk mengetahui siapa di antara mereka yang menaatinya
dan siapa yang membangkangnya; siapa di antara mereka yang memiliki tekad yang
kuat dan mampu menahan rasa haus dan siapa yang memiliki keinginan yang lemah
dan gampang menyerah.
Thalut berkata kepada dirinya sendiri: "Sekarang kami mengetahui orang-orang yang pengecut
sehingga tidak ada yang bersamaku kecuali orang-orang yang berani." Jumlah
pasukan memang berpengaruh tetapi yang paling penting dalam pasukan adalah,
sifat keberanian dan iman, bukan semata-mata jumlah dan senjata. Lalu datanglah
saat-saat yang menentukan bagi pasukan Thalut. Mereka berdiri di depan pasukan
musuhnya, Jalut. Jumlah pasukan Thalut sedikit sekali tetapi pasukan Musuh
sangat banyak dan kuat.
Sebagian orang-orang yang lemah dari pasukan Thalut
berkata: "Bagaimana mungkin kita dapat
mengalahkan pasukan yang perkasa itu?"
Kemudian orang-orang mukmin dari pasukan Thalut menjawab: "Yang penting dalam pasukan adalah keimanan dan
keberanian. Berapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang
banyak dengan izin Allah SWT." Allah SWT berfirman:
"Apakah kamu tidak memperhatikan
pemuka-pemuka Bani Israil sesudah nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada
seorang nabi mereka: 'Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami berperang (di
bawah pimpinannya) dijalan Allah. Nabi mereka menjawab: 'Mung-kin sehali jika
kamu diwajibkan berperang, kamu tidah akan berperang.' Mereka menjawab:
'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami sesungguhnya
telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala
perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang
yang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim.
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: 'Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab: 'Bagaimana Thalut memerintah kami,
padahal kami lebih berhak mengendalihan pemerintahan daripadanya, sedang diapun
tidak diberi kekayaan yang banyak?' (Nabi mereka) berkata: 'Sesungguhnya Allah
telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang
perkasa.' Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah
Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka mengatakan kepada
mereka: 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut
kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari
peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang
beriman. Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata:
'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara
kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada rneminumnya,
kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku. Kemudian mereka
meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang
yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah
minum berkata: 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan
tentara-nya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah
berkata: 'Berapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orangyang
sabar.'" (QS. al-Baqarah: 246-249)
Jalut tampak membawa baju besinya bersama pedangnya.
Tampaknya ia menantang seseorang untuk berduel dengannya. Semua tentara Thalut
merasa takut untuk menghadapinya. Di saat-saat tegang ini, muncullah dari
pasukan Thalut seorang pengembala kambing yang kecil, yaitu Daud. Daud adalah
seorang yang beriman kepada Allah SWT. Ia mengetahui bahwa keimanan kepada
Allah SWT adalah hakikat kekuatan di alam ini, dan bahwa kemenangan bukan
semata-mata ditentukan banyaknya senjata dan kuatnya tubuh.
Daud maju dan meminta kepada raja Thalut agar
mengizinkannya berduel dengan Jalut. Namun si raja pada hari pertama menolak
permintaan itu. Daud bukanlah seorang tentara, ia hanya sekadar pengembala
kambing yang kecil. Ia tidak rnemiliki pengalaman dalam peperangan. Ia tidak
memiliki pedang, senjatanya adalah potongan batu bata yang digunakan untuk
mengusir kambingnya. Meskipun demikian, Daud mengetahui bahwa Allah SWT adalah
sumber kekuatan yang hakiki di dunia ini. Karena ia seorang yang beriman kepada
Allah SWT, maka ia merasa lebih kuat daripada Jalut.
Pada hari kedua, ia kembali meminta izin agar diberi
kesempatan untuk memerangi Jalut. Lalu raja memberikan izin kepadanya. Raja
berkata kepadanya: "Seandainya engkau berani memeranginya, maka engkau
menjadi pemimpin pasukan dan akan menikahi anak perempuanku." Daud tidak
peduli dengan iming-iming tersebut. Ia hanya ingin berperang dan memenangkan
agama. Ia ingin membunuh Jalut, seorang lelaki yang sombong yang lalim dan
tidak beriman kepada Allah SWT, Raja mengizinkan kepada Daud untuk berduel
dengan jalut.
Daud maju dengan membawa tongkatnya dan lima buah batu
serta katapel. Jalut maju dengan dilapisi senjata dan baju besi. Jalut berusaha
mengejek Daud dan merendahkannya serta menertawakan kefakirannya dan
kelemahannya. Kemudian Daud meletakkan batu yang kuat di atas katapelnya, lalu
ia melepaskannya di udara sehingga batu itu pun meluncur dengan keras. Angin
menjadi sahabat Daud karena ia cinta kepada Allah SWT sehingga angin itu
membawa batu itu menuju ke dahi Jalut. Batu itu membunuhnya. Jalut yang
dibekali senjata yang lengkap itu tersungkur ke tanah dan mati.
Daud, seorang pengembala yang baik, mengambil
pedangnya. Dan berkecamuklah peperangan di antara kedua pasukan. Peperangan
dimulai saat pemimpinnya terbunuh dan rasa ketakutan menghinggapi seluruh
pasukannya, sedangkan pasukan yang lain dipimpin oleh seorang pengembala
kambing yang sederhana.
Allah SWT berfirman:
"Tatkala mereka tampak oleh jalut
dan tentaranya, mereka pun berdoa: 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas
diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami terhadap orang-orang kafir.' Mereka
(tentara Thalut) mengalahkan tentarajalut dengan izin Allah memberinya
kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan
mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi
ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam."
(QS. al-Baqarah: 250-251)
Setelah Daud membunuh jalut, ia mencapai puncak
ketenaran di tengah-tengah kaumnya sehingga ia menjadi seorang lelaki yang
paling terkenal di kalangan Bani Israil. Beliau menjadi pemimpin pasukan dan
suami dari anak perempuan raja. Namun Daud tidak begitu gembira dengan semua
ini. Beliau tidak bertujuan untuk mencapai ketenaran atau kedudukan atau kehormatan,
tetapi beliau berusaha untuk menggapai cinta Allah SWT. Daud telah diberi suatu
suara yang sangat indah dan mengagumkan. Daud bertasbih kepada Allah SWT dan
mengagungkan-Nya dengan suaranya yang menarik dan mengundang decak kagum. Oleh
karena itu, setelah mengalahkan Jalut, Daud bersembunyi. Beliau pergi ke gurun
dan gunung. Beliau merasakan kedamaian di tengah-tengah makhluk-makhluk yang
lain. Di saat mengasingkan diri, beliau bertaubat kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Dan sesungguhnya telah Kami
berikan kepada Daud karunia Kami. (Kami berfirman): 'Hai gunung-gunung dan
burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud', dan Kami telah
melu-nakkan besi padanya. (Yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan
ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat
apa yang kamu kerjakan." (QS. Saba': 10-11)
"Dan telah Kami tundukkan
gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud, dan Kamilah yang
melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi kepada kamu,
guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada
Allah)." (QS. al-Anbiya': 79-80)
Ketika Daud duduk, maka ia bertasbih kepada Allah SWT
dan memuliakan-Nya. Allah SWT memilih Daud sebagai Nabi dan memberinya Kitab
Zabur. Allah SWT berfirman:
"Dan Kami berikan Kitab Zabur
kepada Daud." (QS. al-Isra': 55)
Zabur adalah kitab suci seperti Kitab Taurat. Daud
membaca kitab tersebut dan bertasbih kepada Allah SWT. Saat beliau bertasbih,
gunung-gunung juga ikut bertasbih, dan burung-burung pun berkumpul bersama
beliau.
Allah SWT berfirman:
"Dan ingatlah hamba Kami Daud yang
mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya
Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu pagi
dan petang, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul.
Masing-masing amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami
berikan hikmah dan kebijaksanaan dalam menyeksaikan perselisihan." (QS. Shad:
17-20)
Gurun terbentang sehingga mencapai ufuk. Ini adalah
hari puasa Daud. Nabi Daud berpuasa pada suatu hari dan berbuka pada hari yang
lain. Inilah yang disebut dengan Shiam ad-Dahr. Daud membaca Kitab Zabur dan
merenungkan ayat-ayatnya. Gunung-gunung bertasbih bersamanya. Gunung
menyempurnakan pembacaan ayat tersebut, dan terkadang beliau diam sementara
gunung itu menyempurnakan tasbihnya. Bukan hanya gunung yang bertasbih bersama
beliau, burung-burung pun ikut bertasbih. Ketika Daud mulai membaca Kitab Zabur
yang suci maka burung-burung, binatang-binafang buas, dan pohon-pohon pun
berkumpul di sisinya, bahkan gunung-gunung ikut bertasbih. Bukan hanya karena
ketulusan Daud yang menjadi penyebab bertasbihnya gunung-gunung atau
burung-burung bersama beliau; bukan hanya keindahan suaranya yang menjadi
penyebab bertasbihnya makhluk-makhluk yang lain bersama beliau, namun ini
adalah mukjizat dari Allah SWT kepadanya sebagai Nabi yang memiliki keimanan
yang agung, yang cintanya kepada Allah SWT sangat tulus. Bukan hanya ini
mukjizat yang diberikan kepada beliau, Allah SWT juga memberinya ilmu atau
kemampuan untuk memahami bahasa burung dan hewan-hewan yang lain.
Pada suatu hari, beliau merenung dan mendengarkan
ocehan burung yang berdialog satu sama lain. Lalu beliau mengerti apa yang
dibicarakan burung-burung itu. Allah SWT meletakkan cahaya dalam hatinya
sehingga ia memahami bahasa burung dan bahasa hewan-hewan yang lain. Daud
sangat mencintai hewan dan burung. Beliau berlemah lembut kepada hewan-hewan
itu, bahkan beliau merawatnya ketika hewan-hewan itu sakit sehingga
burung-burung dan binatang yang lain pun mencintainya. Di samping kemampuan
memahami bahasa burung, Allah SWT juga memberinya hikmah (ilmu pengetahuan).
Ketika Daud memperoleh ilmu dari Allah SWT atau ketika ia mendapatkan mukjizat
maka bertambahlah rasa cintanya kepada Allah SWT dan bertambah juga rasa
syukumya kepada-Nya, begitu juga ibadahnya semakin meningkat. Oleh karena itu,
beliau berpuasa pada suatu hari dan berbuka pada hari yang lain. Allah SWT
sangat mencintai Daud dan memberinya kerajaan yang besar. Dan masalah yang
dihadapi oleh kaumnya adalah, banyaknya peperangan di zaman mereka. Karena itu,
pembuatan baju besi sangat penting. Baju besi yang dibuat oleh para ahli sangat
berat sehingga seorang yang berperang tidak mudah bergerak dengan bebas ketika
memakai baju besi itu.
Pada suatu hari, Nabi Daud duduk sambil merenungkan
masalah tersebut dan di depan beliau ada potongan besi yang beliau
main-mainkan. Tiba-tiba, beliau mengetahui bahwa tangannya dapat membikin besi
itu lunak. Allah SWT memang telah melunakkan besi bagi Daud. Lalu Daud
memotong-motongnya dan membentuknya dalam potongan-potongan kecil dan
melekatkan sebagian pada yang lain, sehingga beliau mampu membuat baju besi
yang baru, yaitu baju besi yang terbentuk dari lingkaran-lingkaran besi yang
jika dipakai oleh seseorang yang berperang maka ia akan leluasa untuk bergerak
dan tubuhnya tetap terlindung dari pedang dan kampak. Baju besi itu lebih baik
dari semua baju besi yang ada pada saat itu.
Allah SWT melunakkan baju besi baginya. Yakni, Nabi
Daud adalah orang yang pertama kali menemukan bahwa besi dapat menjadi leleh
dengan api dan ia dapat dibentuk menjadi ribuan rupa. Kami merasa puas dengan
tafsir seperti ini. Nabi Daud bersyukur kepada Allah SWT. Kemudian banyak
pabrik-pabrik berdiri untuk membuat baju besi yang baru. Ketika selesai
pembuatan baju besi itu dan diberikan kepada pasukannya maka musuh-musuh Daud
mengetahui bahwa pedang mereka tidak akan mampu menembus baju besi ini. Baju
besi yang dipakai oleh para musuh itu sangat berat dan dapat ditembus oleh
pedang. Baju besi yang mereka pakai tidak membuat mereka bergerak dengan bebas
dan tidak dapat melindungi mereka saat berperang, tidak demikian halnya dengan
baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud. Setiap peperangan yang diikuti oleh
tentara Daud maka beliau selalu mendapatkan kemenangan; setiap kali beliau
memasuki kancah peperangan maka beliau merasakan kemenangan. Beliau mengetahui
bahwa kemenangan ini semata-mata datangnya karena Allah SWT sehingga rasa
syukurnya kepada-Nya semakin bertambah dan tasbih yang beliau lakukan pun
semakin meningkat serta kecintaan kepada Allah SWT pun semakin bergelora.
Ketika Allah SWT mencintai seorang nabi atau seorang
hamba dari hamba-hamba-Nya maka Dia menjadikan manusia juga mencintainya.
Manusia mencintai Nabi Daud sebagaimana burung-burung, hewan-hewan, dan
gunung-gunung pun mencintainya. Raja melihat hal yang demikian itu lalu
timbullah rasa cemburu dalam dirinya. Ia mulai berusaha untuk menyakiti Nabi
Daud dan membunuhnya. Ia menyiapkan pasukan untuk membunuh Daud. Daud
mengetahui bahwa raja cemburu kepadanya. Oleh karena itu, beliau tidak
memerangi raja namun apa yang beliau lakukan? Beliau mengambil pedang raja saat
ia tidur lalu beliau memotong sebagian dari pakaiannya dengan pedang itu.
Kemudian beliau membangunkan raja dan berkata kepadanya: "Wahai raja, engkau telah berencana untuk
membunuhku, namun aku tidak membencimu dan tidak ingin membunuhmu. Seandainya
aku ingin membunuhmu maka aku lakukan saat engkau tidur. Ini bajumu telah
terpotong. Aku telah memotongnya saat engkau tidur. Aku bisa saja memotong
lehermu sebagai ganti dari memotong baju itu, tetapi aku tidak melakukannya.
Aku tidak suka untuk menyakiti seseorang pun. Ajaran yang aku bawa hanya berisi
cinta dan kasih sayang, bukan kebencian. Raja menyadari bahwa
dirinya salah dan ia meminta maaf kepada Daud."
Kemudian berlalulah hari demi hari dan raja terbunuh
dalam suatu peperangan yang tidak diikuti oleh Nabi Daud, karena raja itu
cemburu kepadanya dan menolak bantuannya. Setelah itu, Nabi Daud menjadi raja.
Masyarakat saat itu mengetahui bahwa Daud melakukan apa saja demi kebaikan dan
kebahagiaan mereka sehingga mereka rela untuk menjadikannya raja bagi mereka. Jadi,
Daud menjadi Nabi yang diutus oleh Allah SWT sekaligus menjadi raja. Kekuasaan
tersebut justru meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT dan meningkatkan
ibadahnya kepada-Nya serta mendorong beliau untuk lebih meningkatkan kebaikan
dan menyantuni orang-orang fakir serta menjaga kepentingan masyarakat umum.
Allah SWT memperkuat kerajaan Daud. Allah selalu
menjadikannya menang ketika melawan musuh-musuhnya. Allah menjadikan
kerajaannya sangat besar sehingga ditakuti oleh musuh-musuhnya meskipun tidak
dalam peperangan. Allah menambah nikmat-Nya kepada Daud dalam bentuk memberinya
hikmah. Selain memberi kenabian kepada Daud, Allah SWT memberi hikmah dan
kemampuan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Nabi Daud mempunyai
seorang anak yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah anak yang cerdas dan
kecerdasannya itu tampak sejak masa kecilnya. Usia Sulaiman mencapai sebelas
tahun ketika terjadi kisah ini. Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah kisah) Daud dan
Sulaiman, di waktu keduanya memberihan keputusan mengenai tanaman, karena
tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami
menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah
memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan
kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. " (QS.
al-Anbiya': 78-79)
Seperti biasanya, Daud duduk dan memberikan keputusan
hukurn kepada manusia dan menyelesaikan persoalan mereka. Seorang lelaki
pemilik kebun datang kepadanya disertai dengan lelaki yang lain. Pemilik kebun
itu berkata kepadanya: "Tuanku wahai Nabi,
sesungguhnya kambing laki-laki ini masuk ke kebunku dan memakan semua anggur
yang ada di dalamnya. Aku datang kepadamu agar engkau menjadi hakim bagi kami.
Dan aku menuntut ganti rugi."
Daud berkata kepada pemilik kambing: "Apakah benar bahwa kambingmu memakan kebun lelaki
ini?" Pemilik kambing itu berkata: "Benar
wahai tuanku."
Daud berkata: "Aku
telah memutuskan untuk memberikan kambingmu sebagai ganti dari apa yang telah
dirusak oleh kambingmu." Sulaiman berkata: "Allah telah memberinya hikmah di samping ilmu yang
diwarisi dari ayahnya— aku memiliki hukum yang lain, wahai ayahku."
Daud berkata: "Katakanlah
wahai Sulaiman." Sulaiman berkata:
"Aku memutuskan agar pemilik kambing mengambil kebun laki-laki ini yang
buahnya telah dimakan oleh kambingnya. Lalu hendaklah ia memperbaikinya dan
menanam di situ sehingga tumbuhlah pohon-pohon anggur yang baru. Dan aku
memutuskan agar pemilik kebun itu mengambil kambingnya sehingga ia dapat
mengambil manfaat dari bulunya dan susunya serta makan darinya. Jika pohon
anggur telah besar dan kebun tidak rusak atau kembali seperti semula, maka
pemilik kebun itu dapat mengambil kembali kebunnya dan begitu juga pemilik
kambing pun dapat mengambil kambingnya."
Daud berkata: "Ini
adalah keputusan yang hebat wahai Sulaiman. Segala puji bagi Allah SWT yang
telah memberimu hikmah ini. Engkau adalah Sulaiman yang benar-benar
bijaksana." Nabi Daud—meskipun kedekatannya kepada Allah SWT
dan kecintaannya kepada-Nya—selalu belajar kepada Allah SWT. Allah SWT telah
mengajarinya agar ia tidak memutuskan suatu perkara kecuali setelah ia
mendengar perkataan kedua belah pihak yang bertikai.
Pada suatu hari Nabi Daud duduk di mihrabnya yang di
situ ia salat dan beribadah. Ketika ia memasuki kamarnya, ia memerintahkan para
pengawalnya untuk tidak mengizinkan seseorang pun masuk menemuinya atau
mengganggunya saat ia salat. Tiba-tiba, beliau dikagetkan ketika melihat dua
orang lelaki berdiri di hadapannya.
Daud takut kepada mereka berdua karena mereka berani
masuk, padahal ia telah memerintahkan agar tak seorang pun masuk menemuinya.
Daud bertanya kepada mereka: "Siapakah kalian berdua?" Salah seorang
lelaki itu berkata: "Janganlah takut wahai
tuanku. Aku dan laki-laki ini berselisih pendapat. Kami datang kepadamu agar
kamu memutuskan dengan cara yang benar." Daud bertanya: "Apa masalahnya?" Laki-laki yang
pertama berkata: "Saudaraku ini mempunyai
sembilan puluh sembilan kambing betina, sedangkan aku hanya mempunyai satu. Ia
telah mengambilnya dariku." Ia berkata: "Berikanlah kepadaku, lalu ia mengambilnya
dariku." Daud berkata tanpa mendengar pendapat atau argumentasi
pihak yang lain: 'Sesungguknya dia telah berbuat
lalim kepadamu dengan meminta kambingmu untuk ditambahkan kepada kambingnya.
Dan sesungguhnya dari kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian
mereka berbuat lalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orangyang
beriman.'
Daud terkejut ketika tiba-tiba dua orang itu
menghilang dari hadapannya. Kedua orang itu bersembunyi laksana awan yang
menguap di udara. Akhirnya, Daud mengetahui bahwa kedua lelaki itu adalah
malaikat yang diutus oleh Allah SWT kepadanya untuk memberinya pelajaran:
hendaklah ia tidak mengambil keputusan hukum di antara dua orang yang
berselisih kecuali setelah mendengar perkataan mereka semua. Barangkali pemilik
sembilan puluh sembilan kambing itu yang benar. Daud tunduk dan bersujud serta
rukuk kepada Allah SWT dan meminta ampun kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
"Dan sampaikah kepadamu berita
orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk
(menemui) Daud lalu ia terkejut dengan (kedatangan) mereka. Mereka berkata:
'Janganlah kamu merasa takut, (kami) adalah dua orang yang berperkara yang
salah seorang dari kami berbuat lalim kepada yang lain; maka berilah keputusan
di antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan
tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai
sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka
dia berkata: 'Serahkanlah kambing itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam
perdebatan.' Daud berkata: 'Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu
dengan meminta kambingmu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya
dari kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat lalim
kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui
bahwa kami mengujinya; maka ia meminta. ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur
sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan
sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali
yang baik." (QS. Shad: 21-25)
Banyak cerita dongeng atau bohong yang disampaikan
orang-orang Yahudi tentang godaan yang dialami oleh Daud. Dikatakan bahwa ia
tertarik dengan istri dari salah seorang pemimpin pasukannya lalu ia mengutus
pemimpin itu di suatu peperangan di mana ia mengetahui apa yang terjadi
dengannya. Kemudian Daud menguasai istrinya.
Itu adalah kepalsuan yang mengada-ada. Manusia yang
hatinya berhubungan dengan bintang tertinggi di langit dan tasbihnya
berhubungan dengan tasbih makhluk-makhluk dan benda-benda mati, maka mustahil
baginya untuk hanya melihat atau tertarik dengan keindahan atau kecantikan
wajah wanita atau fisiknya. Seseorang yang melihat puncak keindahan di alam dan
berhubungan dengannya secara langsung dan menundukkannya dengan tasbihnya maka
mustahil baginya untuk tunduk kepada naluri seksual. Daud adalah seorang hamba Allah
SWT dan tidak mungkin ia menjadi hamba dari nalurinya sebagaimana yang
dikemukakan oleh cerita-cerita palsu Bani Israil.
Nabi Daud kembali menyembah Allah SWT dan bertasbih
kepada-Nya serta melantunkan senandung cinta kepada-Nya sampai akhir hayatnya. Nabi Daud berpuasa sehari dan berbuka sehari.
Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw bersabda: "Sebaik-baik puasa adalah
puasanya Daud. Beliau berpuasa satu hari dan berbuka satu hari. Beliau membaca
Zabur dengan tujuh puluh suara; beliau melakukan salat di tengah malam dan
menangis di dalamnya, dan karena tangisannya segala sesuatu pun ikut menangis,
dan suaranya dapat menyembuhkan orang yang gelisah dan orang yang
menderita." Nabi Daud meninggal secara tiba-tiba sebagaimana
dikatakan oleh berbagai riwayat.
Matahari mengganggu manusia, lalu Sulaiman memanggil
burung dan berkata: "Naungilah Daud." Maka
burung itu menaunginya.
Sulaiman berkata kepada awan: "Naungilah manusia dari sengatan matahari.'
Dan angin menjadi tenang. Ini untuk pertama kalinya orang-orang menyaksikan
kekuasaan Sulaiman.
Diberdayakan oleh Blogger.







