Posted by : Joko
23 Mar 2016
Nama: Ayub (Ayyub) bin Amush
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim
as ⇒ Ishaq as ⇒
al-'Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh
⇒ Amush ⇒ Ayub as
Usia: 120 tahun
Periode sejarah: 1540 - 1420 SM
Tempat diutus (lokasi): Dataran Hauran
Jumlah keturunannya (anak): 26 anak
Tempat wafat: Dataran Hauran
Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Amori, di daerah
Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 4 kali
Ayub adalah seorang nabi sangat sabar, bahkan bisa
dikatakan bahwa beliau berada di puncak kesabaran. Ayub menjadi simbol
kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran. Allah telah memujinya
dalam kitab-Nya yang berbunyi: "Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub)
seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat
(kepada Tuhannya)." [QS. Shad [38]: 44]
Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan bentuk dari
penyakitnya, dan banyak cerita-cerita dongeng yang mengemukakan tentang
penyakitnya. Dikatakan bahwa beliau terkena penyakit kulit yang dahsyat
sehingga manusia-manusia enggan untuk mendekatinya. Dalam cuplikan kitab Taurat
disebutkan berkenaan dengan Nabi Ayub: "Maka keluarlah setan dari
haribaan Tuhan dan kemudian Ayub terkena suatu luka yang sangat mengerikan dari
ujung kakinya sampai kepalanya." Tentu kita menolak semua ini sebagai
suatu hakikat yang nyata. Kami pun tidak mentolerir jika itu dianggap sebagai
perbuatan seni semata. Perhatikanlah ungkapan dalam Taurat: "Kemudian
setan keluar dari haribaan Tuhan kita," sebagai orang-orang Muslim,
kita mengetahui bahwa setan telah keluar dari haribaan Tuhan sejak Allah SWT
menciptakan Adam as. Maka, kapan setan kembali keharibaan Tuhan? Kita berada di
hadapan ungkapan seni, tetapi kita tidak berada di hadapan suatu hakikat.
Lalu, bagaimana hakikat sakitnya Nabi Ayub dan
bagaimana kisahnya? Yang populer tentang cobaan Nabi Ayub dan kesabarannya
adalah riwayat berikut: para malaikat di bumi berbicara sesama mereka tentang
manusia dan sejauh mana ibadah mereka. Salah seorang di antara mereka berkata: "Tidak ada di muka bumi ini seorang yang lebih baik
daripada Nabi Ayub. Beliau adalah orang mukmin yang paling sukses, orang mukmin
yang paling agung keimanannya, yang paling banyak beribadah kepada Allah SWT
dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan selalu berdakwah di jalan-Nya."
Setan mendengarkan apa yang dikatakan lalu ia merasa terganggu dengan hal itu.
Kemudian ia pergi menuju ke Nabi Ayub dalam rangka berusaha menggodanya tetapi
Nabi Ayub adalah seorang Nabi di mana hatinya dipenuhi dengan ketulusan dan
cinta kepada Allah SWT sehingga setan tidak mungkin mendapatkan jalan untuk
mengganggunya.
Ketika setan berputus asa dari mengganggu Nabi Ayub,
ia berkata kepada Allah SWT: "Ya Rabbi,
hamba-Mu Ayub sedang menyembah-Mu dan menyucikan-Mu namun, ia menyembah-Mu
bukan karena cinta, tapi ia menyembah-Mu karena kepentingan-kepentingan
tertentu. Ia menyembah-Mu sebagai balasan kepada-Mu karena Engkau telah
memberinya harta dan anak dan Engkau telah memberinya kekayaan dan kemuliaan.
Sebenarnya ia ingin menjaga hartanya, kekayaannya, dan anak-anaknya.
Seakan-akan berbagai nikmat yang Engkau karuniakan padanya adalah rahasia dalam
ibadahnya. Ia takut kalau-kalau apa yang dimilikinya akan binasa dan hancur.
Oleh karena itu, ibadahnya dipenuhi dengan hasrat dan rasa takut. Jadi, di
dalamnya bercampur antara rasa takut dan tamak, dan bukan ibadah yang murni
karena cinta."
Riwayat tersebut mengatakan bahwa Allah SWT berkata
kepada iblis: "Sesungguhnya Ayub adalah
hamba yang mukmin dan sejati imannya. Ayub menjadi teladan dalam keimanan dan
kesabaran. Aku membolehkanmu untuk mengujinya dalam hartanya. Lakukan apa saja
yang engkau inginkan, kemudian lihatlah hasil dari apa yang engkau
lakukan."
Akhirnya, setan pergi dan mendatangi tanah Nabi Ayub
dan berbagai tanaman dan kenikmatan yang dimilikinya. Kemudian setan itu
menghancurkan semuanya. Keadaan Nabi Ayub pun berubah dari puncak kekayaan ke
puncak kefakiran. Kemudian setan menunggu apa tindakan Nabi Ayub. Nabi Ayub
berkata: "Oh musibah dari Allah SWT. Aku
harus mengembalikan kepada-Nya amanat yang ada di sisi kami di mana Dia saat
ini mengambilnya. Allah SWT telah memberi kami nikmat selama beberapa masa.
Maka segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat yang diberikannya, dan Dia
mengambil dari kami pada hari ini nikmat-nikmat itu. Bagi-Nya pujian sebagai
Pemberi dan Pengambil. Aku dalam keadaan ridha dengan keputusan Allah SWT.
Dia-lah yang mendatangkan manfaat dan mudharat. Dia-lah yang ridha dan Dialah
yang murka. Dia adalah Penguasa. Dia memberikan kerajaan kepada siapa yang di
kehendaki-Nya, dan mencabut kerajaan dari siapa yang dikehendaki-Nya; Dia
memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang
dikehendaki-Nya." Kemudian Nabi Ayub sujud dan Iblis tampak
tercengang melihat pemandangan tersebut.
Lalu setan kembali kepada Allah SWT dan berkata: "Ya Allah, jika Ayub tidak menerima nikmat kecuali
dengan mengatakan pujian, dan tidak mendapatkan musibah kecuali mendapatkan kesabaran
maka hal itu sebagai bentuk usahanya karena ia mendapatkan anak. Ia
mengharapkan dengan melalui mereka kekayaannya meningkat dan melalui mereka ia
dapat menjalani kehidupan yang lebih mudah." Riwayat mengatakan
bahwa Allah SWT membolehkan bagi setan untuk berbuat apa saja kepada anak-anak
Ayub. Kemudian setan menggoncangkan rumah yang di situ anak-anaknya tinggal
sehingga mereka semua terbunuh. Dalam keadaan demikian, Nabi Ayub berdialog
kepada Tuhannya dan menyeru: "Allah memberi
dan Allah mengambil. Maka bagi-Nya pujian saat Dia memberi dan mengambil, saat
Dia murka dan ridha, saat Dia mendatangkan manfaat dan mudharat. Kemudian Ayub
pun sujud dan iblis lagi-lagi tampak tercengang dan merasa malu."
Iblis kembali menemui Allah SWT dan mengatakan bahwa
Ayub dapat bersabar karena badannya sehat. Seandainya Engkau memberi kekuasaan
kepadaku, ya Rabbi, untuk mengganggu badannya niscaya dia akan berhenti dari
kesabarannya. Riwayat mengatakan bahwa Allah SWT menginzinkan setan untuk
mengganggu tubuh Ayub. Dikatakan bahwa setan memukul tubuh Nabi Ayub dari
kepalanya sampai kakinya sehingga Nabi Ayub sakit kulit di mana tubuhnya
membusuk dan mengeluarkan nanah, bahkan keluarganya dan sahabat-sahabatnya
meninggalkannya kecuali isterinya. Namun lagi-lagi Nabi Ayub tetap bersabar dan
bersyukur kepada Allah SWT. Beliau memuji-Nya pada hari-hari kesehatannya dan
ia tetap memuji Allah SWT saat mendapatkan ujian sakit. Dalam dua keadaan itu,
Nabi Ayub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT.
Melihat pemandangan itu, amarah setan semakin
meningkat namun ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Di sini setan
mengumpulkan para penasihatnya dari pakar-pakar dan ia menceritakan tentang
kisah Ayub dan meminta mereka mengeluarkan pendapat—setelah ia menyampaikan
rasa putus asanya saat menggodanya atau mencoba menghilangkan sifat sabarnya
dan syukurnya.
Salah seorang setan berkata: "Sungguh engkau telah mengeluarkan Adam bapak
manusia dari surga, lalu darimana engkau mendatanginya? Oh, yang engkau maksud
adalah Hawa?" Terbukalah di hadapan Iblis suatu ide yang baru. Lalu ia
pergi ke istri Ayub dan memenuhi hatinya dengan rasa putus asa sehingga ia
pergi ke Ayub dan berkata padanya: "Sampai kapan Allah SWT menyiksamu? Di
mana harta, keluarga, teman dan kaum kerabat? Di mana masa jayamu dan
kemuliaanmu dahulu?"
Mendengar perkataan isterinya itu, Nabi Ayub menjawab:
"Sungguh engkau telah dikuasai oleh setan.
Mengapa engkau menangisi kemuliaan yang telah berlalu dan anak yang telah
mati?" Perempuan itu berkata: "Mengapa
engkau tidak berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan cobaan darimu dan
menyembuhkanmu serta menghilangkan kesedihannmu?" Nabi Ayub
berkata: "Berapa lama kita merasakan
kebahagiaan?" Istrinya menjawab: "Delapan
tahun." Ayub berkata:
"Berapa lama kita mendapat penderitaan?" Istrinya
menjawab: "Tujuh tahun." Ayub
berkata: "Aku malu jika aku meminta agar
Allah SWT melepaskan penderitaanku ketika aku melihat masa kebahagiaanku.
Sungguh imanmu tampak melemah dan keputusan Allah SWT membuat hatimu menjadi
sempit. Seandainya aku sembuh dan kembali kepada kekuatanku, niscaya aku akan
memukulmu dengan seratus kali pukulan dari tongkat. Sejak hari ini, aku tidak
memakan dari makananmu dan dari minumanmu atau memerintahkanmu untuk melakukan
suatu urusan. Maka pergilah kau dariku."
Akhirnya, isteri Nabi Ayub pergi sehingga Nabi Ayub
tinggal sendirian dalam keadaan sabar menanggung penderitaanya. Penderitaan
yang seandainya ditimpakan kepada gunung niscaya gunung tidak akan mampu
menahannya. Kemudian Nabi Ayub berdoa kepada Allah SWT dalam keadaan penuh
kasih sayang dan meminta belas kasih kepada-Nya. Beliau berdoa agar Allah SWT
menyembuhkannya. Dan akhirnya, doanya dikabulkan oleh Allah SWT. Demikianlah
riwayat yang populer berkenaan dengan penderitaan Nabi Ayub dan kesabarannya.
Menurut hemat kami riwayat ini palsu karena ia sesuai
dengan teks Taurat yang menjelaskan sakitnya Nabi Ayub. Begitu juga kami tidak
menerima jika dikatakan bahwa penyakitnya sangat buruk sekali yang menyebabkan
masyarakat lari darinya sebagaimana dikatakan oleh dongeng-dongeng kuno. Bagi
kami, riwayat semacam itu bertentangan dengan kedudukan kenabian. Yang perlu
kita perhatikan dan perlu kita pastikan adalah apa-apa yang telah disampaikan
oleh Al-Qur'an berkenaan dengan cerita Nabi Ayub. Al-Qur'an adalah kitab
satu-satunya yang pasti benar yang tiada kebatilan di depan dan di belakangnya.
Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru
Tuhannya: ('Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah
Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.' Maka Kami pun
memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyahit yang ada padanya dan
Kami kembalihan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka,
sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua
yang menyembah Allah." (QS. al-Anbiya': 83-84)
Kita telah memahami bahwa Nabi Ayub adalah hamba yang
saleh dari hamba-hamba Allah SWT. Allah SWT menginginkan untuk mengujinya dalam
hartanya, keluarganya, dan badannya. Hartanya hilang sehingga ia menjadi orang
fakir setelah sebelumnya ia termasuk orang yang paling kaya. Kemudian ia
ditinggalkan oleh istrinya dan keluarganya sehingga ia merasakan arti kesunyian
dan kesendirian lalu ia ditimpa penyakit dalam tubuhnya dan ia merasa menderita
karenanya, tetapi beliau tetap sabar menghadapi semua itu dan tetap bersyukur
kepada Allah SWT.
Sakit yang dideritanya cukup lama sehingga beliau
menghabiskan waktu-waktu dan hari-harinya dalam keadaan sendirian bersama
penyakitnya, rasa sedihnya, dan kesendiriannya. Demikianlah Nabi Ayub merasakan
segi tiga penderitaan. Segi tiga penderitaan dalam hidupnya, yaitu sakit,
kesedihan, dan kesendirian. Di saat beliau mendapat cobaan seperti itu, pada
suatu hari datang pada beliau salah satu pemikiran setan. Pikiran itu
berputar-putar di relung hatinya; pikiran itu mengatakan padanya, wahai Ayub
penyakit ini dan penderitaan yang engkau rasakan oleh karena godaaan dariku.
Seandainya engkau berhenti sabar dalam satu hari saja niscaya penyakitmu akan
hilang darimu. Kemudian manusia-manusia berbisik-bisik dan berkata: Seandainya
Allah SWT mencintainya niscaya ia tidak akan merasakan penderitaan yang begitu
hebat. Demikianlah pemikiran yang jahat itu. Setan tidak mampu untuk mengganggu
seseorang kecuali dengan izin Allah SWT sebagaimana Allah SWT tidak menjadikan
cinta-Nya kepada manusia identik dengan kesehatan mereka. Sesungguhnya Allah
SWT menguji mereka sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
Pikiran setan itu berputar di sekitar hati Nabi Ayub
seperti berputarnya lalat di musim panas di sekitar kepala manusia, namun
beliau mampu menghilangkan pikiran ini dan sambil tersenyum kepada dirinya
beliau berkata: "Keluarlah hai setan! Sungguh aku tidak akan berhenti
bersabar, bersyukur, dan beribadah." Akhirnya, pikiran jahat itu dengan
rasa putus asa keluar dari akal Nabi Ayub. Nabi Ayub duduk dalam keadaaan marah
karena setan berani untuk mengganggunya. Beliau membayangkan bahwa boleh jadi
setan berani menggodanya dengan memanfaatkan kesendiriannya, penderitaannya,
dan penyakitnya.
Istri Nabi Ayub datang dalam keadaan terlambat dan
mendapati Nabi Ayub dalam keadaan marah. Istrinya itu menutupi kepalanya dengan
suatu kain tertutup. Istri Nabi Ayub menghadirkan atau menghidangkan makanan
yang baik untuknya. Nabi Ayub bertanya padanya: "Dari mana engkau
mendapati uang?" Nabi Ayub telah bersumpah akan memukulnya seratus kali
pukulan dengan tongkat ketika beliau sembuh, tetapi kesabarannya sungguh sangat
luas seperti sungai yang besar. Dan di waktu sore, setelah mengetahui kehalalan
makanan yang dihidangkan, beliau pun memakannya. Kemudian Nabi Ayub keluar
menuju ke gunung dan berdoa kepada Tuhannya.
Allah SWT berfirman:
"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia
menyeru Tuhannya: 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan
siksaan.' (Allah berfirman): 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk
mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali)
keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai
rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan
ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan
janganlah kamu melanggar sumpah. Sesugguhnya Kami mendapati dia (Ayuh) seorang
yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (hepada
Tuhannya)." (QS. Shad: 41-44)
Bagaimana kita memahami perkataan Nabi Ayub,
"Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan."? Nabi
Ayub ingin mengadukan kepada Tuhannya perihal keberanian setan padanya di mana
setan membayangkan bahwa ia dapat mengganggunya. Nabi Ayub tidak percaya bahwa
sakit yang dideritanya adalah datang karena pengaruh setan.
Demikianlah pemahaman yang sesuai dengan kemaksuman
para nabi dan kesempumaan mereka. Allah SWT memerintahkan beliau untuk mandi di
salah satu mata air di gunung. Allah SWT memerintahkannya agar beliau minum
dari mata air ini. Kemudian Nabi Ayub melaksanakan perintah ini dan mandi serta
minum. Belum lama beliau minum pada tegukan yang terakhir sehingga beliau
merasakan sehat dan sembuh total dari penyakitnya. Kemudian suhu panas dalam
tubuhnya pun kembali normal seperti biasanya. Allah SWT memberikan kepada Ayub
dan keluarganya dan orang-orang yang seperti mereka suatu rahmat dari sisi-Nya
sehingga Nabi Ayub tidak kembali sendirian. Allah SWT memberinya berlipat-lipat
kekayaan dan kemuliaan dari sisi-Nya sehingga Ayub tidak menjadi fakir.
Nabi Ayub kembali mendapatkan kesehatannya setelah lama
merasakan penderitaan dan sakit; Nabi Ayub bersyukur kepada Allah SWT. Beliau
telah bersumpah untuk memukul istrinya sebanyak seratus pukulan dengan tongkat
ketika beliau sembuh. Sekarang beliau sembuh maka Allah SWT mengetahui bahwa
beliau tidak bermaksud untuk memukul istrinya. Namun agar beliau tidak sampai
melanggar janjinya dan sumpahnya, Allah SWT memerintahkannya agar segera
mengumpulkan seikat ranting dari bunga Raihan yang berjumlah seratus dan
hendaklah beliau memukulkan itu kepada istrinya dengan sekali pukulan. Dengan
demikian, beliau telah memenuhi sumpahnya dan tidak berbohong. Allah SWT
membalas kesabaran Ayub dan memujinya dalam Al-Qur'an sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya Kami dapati dia
(Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat
(kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44)
Diberdayakan oleh Blogger.







