Posted by : Joko
24 Mar 2016

Nama: Musa bin Imran
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒
Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub
as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats
⇒ Imran ⇒ Musa as
Usia: 120 tahun
Periode sejarah: 1527 - 1407 SM
Tempat diutus (lokasi): Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak): 2 anak (namanya Azir dan
Jarsyun), dari istrinya yang bernama Shafura
Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu') di Jordania
(sekarang)
Sebutan kaumnya: Bani Israil dan Fir'aun (gelar raja
Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 136 kali
Musa (Mose, Musse, Moses) adalah seorang nabi yang
menerima Kitab Taurat. Nama Musa diberi keluarga Firaun, "Mu" berarti
air dan "sa" adalah tempat penemuannya di tepi sungai Nil. Musa
mendapat julukan Kalimullah yang artinya orang yang diajak bicara oleh Allah.
Pada masa Nabi Yusuf, sekelompok bani Israil telah
menetap di daerah Mesir setelah bermigrasi dari negeri Kan'an. Mereka adalah
pemeluk agama tauhid yang berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim, berbeda
dengan para fir'aun yang menyembah patung dan berhala. Seiring kemajuan zaman,
petumbuhan bani Israil pun berkembang pesat.
Para fir'aun khawatir jika mereka mencampuri urusan
politik dan agama kehidupan masyarakat Mesir. Akhirnya, mereka menyiksa bani
Israil dengan siksaan yang pedih. Hal ini terekam dalam firman Allah, "(ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari
(Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang
seberat-beratnya. Mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan
hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat
cobaan-cobaan yang besar dari Rabbmu," (QS. Al-Baqarah [2]: 49).
Ditengah kesulitan yang dialami bani Israil, Allah
berkehendak atas kelahiran Musa. Sang ibu pun menyembunyikan kelahirannya,
sebagaimana firman Allah, "Dan kami
ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir
terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir
dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan
mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para
rasul," (QS. Al-Qashash [28]: 7).
Janji Allah untuk untuk menjaga bayi ini pun terbukti.
Fir'aun memperbolehkan istrinya mencari seorang ibu yang mau menyusui bayi
tersebut. Dia pun menemukan ibu Musa dan menyuruhnya agar menyusui sang bayi.
Musa dibesarkan di lingkungan istana Fir'aun, di
tangan para dukun dan pemuka-pemuka agama mereka. Ketika dewasa, Allah
memberinya ilmu dan hikmah. Pada suatu hari, ada orang Mesir yang mengejek dan
memaksa seseorang bani Israil melakukan suatu pekerjaan untuknya. Orang bani
Israil itu lantas meminta pertolongan Nabi Musa. Dia pun menolongnya dan
memukul orang Mesir itu, dan tanpa sengaja orang itu mati.
Pada hari berikutnya, orang bani Israil kembali
berkelahi dengan orang Mesir yang lain. Orang bani Israil itu lantas meminta
pertolongan lagi kepada Nabi Musa. Akan tetapi Nabi Musa malah membentak dan
memarahi orang Israil itu karena seringnya dia berbuat buruk. Orang Israil itu
mengira Musa akan membunuhnya. Dia pun segera bertanya, "Apakah engkau ingin membunuhku seperti orang Mesir
kemarin?"
Mendengar cerita pembunuhan itu, orang Mesir tersebut
segera menemui kaumnya dan menceritakan apa yang terjadi. Fir'aun pun segera
mengirim pasukan mencari Musa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun,
salah seorang yang menyayangi Musa segera memberi tahunya setelah mendengar
sesuatu yang terjadi di istana Fir'aun. Dia menyuruh Musa pergi meninggalkan
bahaya ancaman Fir'aun. Musa pun pergi meninggalkan Mesir menuju Madyan, daerah
di bagian barat laut Jazirah Arab.
Di Madyan, Musa tinggal di rumah orang tua yang
beriman, yaitu Nabi Syuaib. Setelah orang tua itu (Nabi Syuaib) melihat
keluhuran akhlak dan tanggung jawab Musa yang sangat tinggi, dia lalu
menikahkan Musa dengan salah satu putri beliau. Musa kemudian ingin kembali ke
mesir setelah beberapa lama tinggal di Madyan.
Ketika sampai di Bukit Tursina, Musa tersesat. Tibalah
waktu malam saat Allah hendak memberikan tugas kenabian dan wahyu kepadanya.
Pada saat itu, malam terasa dingin dan Musa melihat cahaya api dari kejauhan.
Dia lantas menyuruh keluarganya agar tidak meninggalkan tempat mereka karena
dia ingin pergi mencari sedikit api untuk penerangan. Tatkala dia sampai ke
tempat api tersebut, Allah berfirman kepadanya, "Sungguh,
Aku ini Allah, tidak ada ilah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah
shalat untuk mengingat-Ku," (QS. Thaha [20]: 14).
Hal itu kemudian menjadi tanda awal kenabian Musa
sebagai Kalimullah. Permintaan Musa pun dikabulkan dan Allah mengutus pula
saudaranya, Harun sebagai pendampingnya.
Allah memerintahkan mereka berdua (Musa dan Harun) agar
bertutur lemah lembut saat memperingatkan Fir'aun. Selain itu, mereka juga
diperintahkan untuk mengatakan kepada Fir'aun, "Kami
adalah utusan Rabb alam semesta kepadamu. Lepaskanlah bani Israil dan jangan
siksa mereka. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk."
Pada saat itulah kesombongan menguasai Fir'aun hingga
dia berkata kepada Musa, "Bukanlah kami
yang mengasuhmu sewaktu kecil?" Dia pun menyebutkan berbagai
kebaikannya terhadap Musa, bahkan mulai mengejek dan menuduh Nabi Musa dan Nabi
Harun melakukan sihir. Fir'aun lalu memerintahkan tukang sihirnya untuk
menghadapi mereka berdua. Ahli sihir Fir'aun pun berdatangan dan melemparkan
tali-tali mereka dan menyihirnya menjadi ular untuk menandingi Musa. Nabi Musa
lantas melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular dan menelan
ular-ular mereka atas pertolongan Allah.
Melihat mukjizat itu, para ahli sihir Fir'aun pun
mengimani Musa dan syariat Allah yang dia bawa. Mereka juga tidak memedulikan
berbagai ancaman Fir'aun. Mereka semua berkata seperti yang diabadikan
al-Qur'an, "Sesungguhnya kami telah beriman
kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang
telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya)
dan lebih kekal (adzab-Nya)," (QS. Thaha [20]: 73).
Fir'aun lalu berencana membunuh Musa dan Harun serta
semakin keras menyiksa bani Israil. Nabi Musa memerintahkan mereka untuk
menguatkan jiwa dan bersabar. Dia kemudian berdoa kepada Allah agar menurunkan
adzab yang pedih kepada Fir'aun dan kaumnya. Allah berfirman,"Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu,
katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti yang jelas,
tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. ),"
(QS. Al-A'raf [7]: 133).
Ketika Fir'aun dan kaumnya sudah tidak berdaya dengan
adzab dengan adzab yang menimpa mereka, dia pun meminta kepada Musa agar berdoa
kepada Allah untuk menghentikan siksaan itu. Fir'aun kemudian berjanji tidak
akan lagi menyiksa bani Israil. Nabi Musa lantas memohon kepada Allah agar
menghentikan siksaan itu dan Allah pun mengakhirinya. Namun, Fir'aun ingkar
janji, dan dia kembali menyiksa bani Israil untuk kedua kalinya.
Sementara itu, bani Israil berkumpul dan meminta
kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar dia membawa mereka keluar dari Mesir. Nabi
Musa dan Nabi Harun pun membawa kaumnya dan berangkat ke arah negeri Kan'an
melewati Sinai. Fir'aun beserta bala tentaranya mengejar mereka. Namun, Nabi
Musa dan Nabi Harun beserta kaumnya dapat menyeberangi laut dengan mukjizat
yang telah Allah berikan kepada Musa. Fir'aun dan pasukannya juga ikut
menyeberang laut mengejar mereka, tetapi Allah menenggelamkan Fir'aun beserta
seluruh tentaranya.
Nabi Musa dan Nabi Harun serta bani Israil tiba di
padang pasir negeri Sinai. Setelah melihat banyak perbedaan antara daerah itu
dan negeri sungai Nil yang subur (Mesir), mereka mengajukan berbagai permintaan
kepada Nabi Musa. Nabi Musa telah menerima Taurat. Di dalamnya terdapat beragam
syariat samawiyah. Kaumnya mulai menyeleweng, terlebih setelah Nabi Musa pergi
untuk menerima lembaran wahyu. As-Samiri telah mempengaruhi bani Israil untuk
menyembah anak sapi sehingga mereka meminta kepada Musa agar dibuatkan patung
untuk disembah.
Nabi Musa lantas marah dan mengecam permintaan mereka.
Dia ingin menjadikan sebuah pusat pemerintahan untuk kaumnya. Dia kemudian
pergi menuju kota Ariha (Jericho), tetapi kaumnya tidak mau dan berkata seperti
termaktub dalam al-Qur'an, "Mereka berkata,
'wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasuki, selagi mereka ada di
dalamnya, karena itu, pergilah engkau bersama Rabbmu, dan berperanglah kalian
berdua, biarlah kami tetap (menanti) di sini saja,' " (QS. Al-Ma'idah [5]:
24).
Di saat mereka menolak untuk masuk negeri yang
disucikan itu, Allah membalasnya dengan adzab. Mereka pun tersesat di lembah
Tih selama 40 tahun. Beberapa tahun setelah itu, Nabi Harun wafat lalu disusul
Nabi Musa. Setelah Nabi Musa wafat, bani Israil baru merasakan buruk dan
bodohnya perbuatan serta tingkah laku mereka kepada Nabi Musa. Karena itu,
mereka mengangkat Yusya' bin Nun sebagai Raja. Dialah yang kemudian membawa
mereka menyeberangi sungai Jordan (asy-Syari'ah) menuju kota Ariha dan tinggal
di sana.
Prof. Afifuddin Thabbarah menyebutkan bahwa Mineptah
bin Ramses II menggantikan kepemimpinan ayahnya. Dialah Fir'aun yang kepadanya
Musa diutus Allah untuk mengeluarkan bani Israil dari Mesir. Dia pula yang
mengejar Musa ke laut hingga dia tenggelam bersama pasukannya. Jasadnya masih
utuh hingga saat ini. Allah berfirman,
"Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar kamu dapat menjadi pelajaran
bagi orang-orang yang datang setelahmu," (QS. Yunus [10]: 92).
Mayatnya ditemukan pada galian-galian di makam
Amenhotep II. Saat ini, jasadnya berada di museum Mesir. Penulis berhenti
sejenak untuk melihat jasadnya dan memohon kepada Allah agar terhindar dari
akhir kehidupan yang buruk. Pantas disebutkan bahwa peninggalan makam Mineptah
tidak dipersiapkan layaknya pemakaman untuk raja seperti dia. Sebab,
kematiannya tidak diperkirakan hingga tidak disediakn kuburan khusus.
Piramid
Para fir'aun Mesir meyakini kekekalan jiwa dan
kehidupan kedua setelah kematian. Karena itu, mereka sangat memerhatikan
pembangunan makam dengan beragam bentuk. Contohnya, mashtabah (makam yang
digali berbentuk kursi teras dari batu); bangunan bertangga seperti Piramida Saqqarah,
makam berbentuk seperti Piramida di Giza.
Piramida selalu terdiri dari beberapa lorong dan
ruangan yang tidak berjendela. Di salah satu ruangan rahasianya terdapat makam
Fir'aun. Selain itu, ada juga pemakaman yang dipahat di batu. Bagian pertama piramida
berbentuk ruang bawah tanah dengan banyak tikungan, turunan, dan tangga lalu
bercabang ke berbagai tempat. Pada salah satu ruangan, secara rahasia
diletakkan jasad. Setelah para arkeolog mengungkap berbagai penemuan yang terus
berkembang, mereka telah mampu menemukan semakin banyak mumi berbalsem. Namun,
ilmu modern masih kesulitan untuk memecahkan rahasia ilmiahnya.
Nabi Musa dan Nabi Harun diutus Allah untuk memimpin
kaum Israel ke jalan yang benar. Beliau merupakan anak Imran dan Yukabad binti
Qahat, dan bersaudara dengan Nabi Harun, dilahirkan di Mesir pada pemerintahan
Ramses Akbar sang Firaun.
Pada masa kelahiran Musa, Firaun membuat peraturan untuk
membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Tindakan itu diambil karena dia
sudah terpengaruh oleh paranormal kerajaan yang menafsirkan mimpinya. Firaun
bermimpi Mesir terbakar dan penduduknya mati, kecuali kaum Israel, sedangkan
paranormalnya mengatakan kekuasaan Fir'aun akan jatuh ke tangan seorang
laki-laki dari bangsa Israel. Karena cemas, dia memerintahkan setiap rumah
digeledah dan jika menemukan bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh.
Yukabad melahirkan seorang bayi laki-laki (Musa), dan
kelahiran itu dirahasiakan. Karena risau dengan keselamatan Musa, akhirnya Musa
dihanyutkan ke Sungai Nil ketika berusia 3 bulan. Kemudian Musa ditemukan oleh
Asiyah istri Firaun, yang sedang mandi dan kemudian membawanya ke istana.
Melihat istrinya membawa seorang bayi laki-laki, Firaun ingin membunuh Musa.
Istrinyapun berkata: "Jangan membunuh anak
ini karena aku menyayanginya. Lebih baik kita mengasuhnya seperti anak kita
sendiri karena aku tidak mempunyai anak." Dengan kata-kata dari
istrinya tersebut, Firaun tidak sampai hati untuk membunuh Musa.
Kemudian istri Firaun mencari pengasuh, tetapi tidak
seorang pun yang dapat menyusui Musa dengan baik, dia menangis dan tidak mau
disusui. Selepas itu, ibunya sendiri mengajukan diri untuk mengasuh dan membesarkannya
di istana Firaun. Diceritakan dalam Al-Quran: "Maka
Kami kembalikan Musa kepada ibunya supaya senang hatinya dan tidak berduka cita
dan supaya dia mengetahui janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahuinya."
Pada suatu hari, Firaun memangku Musa yang masih
kanak-kanak, tetapi tiba-tiba janggutnya ditarik Musa hingga dia kesakitan,
lalu berkata: "Wahai istriku, mungkin anak inilah yang akan menjatuhkan
kekuasaanku." Istrinya berkata: "Sabarlah,
dia masih anak-anak, belum berakal dan belum mengetahui apa pun."
Sejak berusia tiga bulan hingga dewasa Musa tinggal di istana itu sehingga
orang memanggilnya Musa bin Firaun. Nama Musa sendiri diberi keluarga Firaun.
"Mu" berarti air dan "sa" adalah tempat penemuannya di tepi
sungai Nil.
Musa mendapat julukan Kalimullah yang artinya orang
yang diajak bicara oleh Allah. Bahkan tidak jarang dia berdialog dengan Allah,
dialog antara seorang hamba yang sangat dekat dengan Sang Kekasih Yang Maha
Pengasih. Namun, melihat julukan yang diberikan oleh Allah pada diri Musa,
tampaknya Musa memang satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan itu.
Pada satu peristiwa Musa meninjau sekitar kota dan
kemudian beliau melihat dua laki-laki sedang berkelahi, yang seorang dari
kalangan Bani Israel bernama Samiri dan seorang lagi bangsa Mesir, bernama
Fatun. Melihat perkelahian itu, Musa mau melerai mereka, tetapi ditepis Fatun.
Tanpa sengaja Musa lalu mengayunkan satu batu ke atas Fatun, dan Fatun
tersungkur kemudian meninggal dunia.
Ketika laki-laki itu meninggal dunia karena
tindakannya, Musa memohon ampun kepada Allah seperti dinyatakan dalam al-Quran: "Musa berdoa: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah
menganiayai diriku sendiri karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya,
sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Tetapi, tidak lama kemudian orang banyak mengetahui
kematian Fatun disebabkan Musa dan berita itu disampaikan kepada pemimpin kanan
Firaun. Akhirnya mereka akan menangkap Musa. Karena terdesak, Musa mengambil
keputusan keluar dari Mesir. Beliau berjalan tanpa arah dan tujuan, akhirnya,
beliau sampai di kota Madyan, yaitu kota Nabi Syu'aib di timur Semenanjung
Sinai dan Teluk Aqabah di selatan Palestina.
Musa tinggal di rumah Nabi Syu’aib beberapa lama,
kemudian menikah dengan anak gadisnya bernama Shafura. Selepas menjalani
kehidupan suami istri di Madyan, Musa meminta izin Syu’aib untuk pulang ke
Mesir. Dalam perjalanan itu, akhirnya Musa dan isterinya tiba di Bukit Sinai.
Dari jauh, beliau melihat api, lalu terpikir ingin mendapatkannya untuk
dijadikan obor penerang jalan. Musa meninggalkan istrinya sebentar untuk
mendapatkan api itu. Sampai di tempat api menyala itu, beliau menemukan api
menyala pada sebatang pohon, tetapi tidak membakar pohon tersebut. Ini membingungkannya
dan ketika itu beliau mendengar suara wahyu daripada Tuhan: "....Wahai Musa sesungguhnya Aku Allah, yaitu Tuhan
semesta alam."
Kemudian Allah berfirman lagi: "Dan lemparkan tongkatmu, kemudian tongkat itu
menjadi ular, Musa mundur tanpa menoleh. Wahai Musa datanglah kepada-Ku,
janganlah kamu takut, sungguh kamu termasuk orang yang aman."
Tongkat menjadi ular dan tangan putih berseri-seri itu adalah dua mukjizat yang
dikurniakan Allah kepada Musa.
Firaun cukup marah mengetahui kepulangan Musa yang mau
membawa ajaran lain, sehingga Firaun memanggil semua ahli sihir untuk
mengalahkan dua mukjizat Musa. Ahli sihir Firaun masing-masing mengeluarkan
keajaiban, ada antara mereka melempar tali lalu menjadi ular. Namun, semua ular
yang dibawa ahli sihir itu ditelan ular besar yang berasal dari tongkat Musa.
Firman Allah: "Dan
lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, pasti ia akan menelan apa yang
mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanya tipu daya tukang sihir
dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja ia datang."
Semua keajaiban ahli sihir itu dihancurkan Musa
menggunakan dua mukjizat tersebut. Hal ini menyebabkan sebagian pengikut
Firaun, termasuk istrinya mengikuti ajaran yang dibawa Musa. Hal ini membuat
Firaun marah, sehingga menghukum mereka semua.
Nabi Musa bersama orang beriman terpaksa melarikan
diri sehingga mereka sampai di Laut Merah. Namun, Firaun dan tentaranya yang
sudah marah, mengejar mereka dari belakang, akhirnya Firaun dan pengukitnya
(tentaranya) mati tenggelam di dasar Laut Merah.
Al-Quran menceritakan:
"Dan ingatlah ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu
dan Kami tenggelamkan Firaun dan pengikutnya sedang kamu sendiri
menyaksikan."
Selepas keluar dari Mesir, Nabi Musa bersama sebagian
pengikutnya dari kalangan Bani Israel menuju ke Bukit Sina untuk mendapatkan
kitab Allah. Namun, sebelum itu Musa disyaratkan berpuasa. Sewaktu bermunajat,
Musa berkata: "Ya Tuhanku, nampakkanlah
zat-Mu kepadaku supaya aku dapat melihatMu." Allah berfirman: "Engkau
tidak akan sanggup melihatKu, tetapi coba lihat bukit itu. Jika ia tetap
berdiri tegak di tempatnya seperti sediakala, maka niscaya engkau dapat
melihatku." Musa terus memandang ke arah bukit yang dimaksudkan itu dan
dengan tiba-tiba bukit itu hancur. Musa terperanjat dan gementar seluruh
tubuhnya lalu pingsan.
Ketika sadar, Musa terus bertasbih dan memuji Allah,
sambil berkata: "Maha besarlah Engkau ya
Tuhan, ampuni aku dan terimalah taubatku dan aku akan menjadi orang pertama
beriman kepadaMu." Sewaktu bermunajat, Allah menurunkan
kepadanya kitab Taurat. Menurut ahli tafsir, kitab itu berbentuk kepingan batu
atau kayu, namun padanya terperinci segala panduan ke jalan yang diredhai
Allah.
Sebelum Musa pergi ke bukit itu, beliau berjanji
kepada kaumnya tidak akan meninggalkan mereka lebih dari 30 hari. Tetapi Nabi
Musa tertunda 10 hari, karena terpaksa mencukupkan 40 hari puasa. Bani Israel
kecewa karena Musa tidak segera kembali kepada mereka. Ketiadaan Musa membuat
mereka seolah-olah dalam kegelapan dan ada antara mereka berpikir keterlaluan
dengan menyangka beliau tidak akan kembali lagi. Dalam keadaan tidak menentu
itu, seorang ahli sihir dari kalangan mereka bernama Samiri mengambil
kesempatan menyebarkan perbuatan syirik. Dia juga mengatakan Musa tersesat
dalam mencari tuhan dan tidak akan kembali. Ketika itu juga, Samiri membuat
sapi betina dari emas. Dia memasukkan segumpal tanah, dan patung itu dijadikan
Samiri bersuara. Kemudian Samiri berseru: "Wahai
kawan-kawanku, rupanya Musa sudah tidak ada lagi dan tidak ada gunanya kita
menyembah Tuhan Musa itu. Sekarang, mari kita sembah anak sapi yang terbuat
dari emas ini. Ia dapat bersuara dan inilah tuhan kita yang patut
disembah."
Selepas itu, Musa kembali dan melihat kaumnya
menyembah patung anak sapi. Beliau marah dengan tindakan Samiri. Firman Allah: "Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah
dan bersedih hati. Berkata Musa: wahai kaumku, bukankah Tuhanmu menjanjikan
kepada kamu suatu janji yang baik. Apakah sudah lama masa berlalu itu bagimu
atau kamu menghendaki supaya kemurkaan Tuhanmu menimpamu, karena itu kamu
melanggar perjanjianmu dengan aku."
Musa bertanya kepada Samiri, seperti diceritakan dalam
al-Quran: "Berkata Musa; apakah yang
mendorongmu berbuat demikian Samiri, Samiri menjawab: Aku mengetahui sesuatu
yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam tanah (bekas tapak
Jibril) lalu aku masukkan dalam patung anak sapi itu. Demikianlah aku menuruti
dorongan nafsuku."
Kemudian Musa berkata:
"Pergilah kamu dan pengikutmu dariku, patung anak sapi itu akan aku bakar
dan lemparkannya ke laut, sesungguhnya engkau akan mendapat siksa."
Ditengah-tengah kutbah Musa dihadapan Bani Israil, ada
salah seorang yang bertanya kepada Musa, dengan pertanyaannya, apakah ada
manusia yang paling pandai saat ini. Musa hanya menjawab dialah orang yang
pandai dimuka bumi ini. Dengan pernyataan Musa inilah Allah Maha Mendengar
siapa yang berkata baik dengan diucapkan maupun tidak. Allah langsung menegur
Musa dengan firmanNya," Wahai Musa, Aku mempunyai hamba yang lebih pandai
dari kamu" Setelah Musa mendapat teguran Allah, dia sangat terkejut dan
dengan tunduk berkata," Dimanakah kami dapat bertemu hambaMu yang lebih
pandai dari aku". Kemudian Allah menjawab," Hamba-Ku bisa ditemui
disuatu tempat yang disebut Majma Al Bahrain". Dari sinilah awal pencarian
Musa untuk bertemu hamba Allah yang lebih pandai darinya yang kita kenal dengan
Nabi Khidir.
Diberdayakan oleh Blogger.







