Posted by : Joko
24 Mar 2016

Nama: Yusuf bin Ya'qub
(Yusuf bin Yakub)
Garis Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris
as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh
as ⇒ Sam ⇒
Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim
as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya'qub
as ⇒ Yusuf as
Usia: 110 tahun
Periode sejarah: 1745 - 1635 SM
Tempat diutus (lokasi): Mesir
Jumlah keturunannya (anak): 3 anak (2 laki-laki, 1
perempuan)
Tempat wafat: Nablus
Sebutan kaumnya: Heksos dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 58 kali
Yusuf bin Yaqub merupakan salah satu dari 12 putra Yaqub dan
merupakan cucu dari Ishaq as, serta cicit dari Ibrahim as.
Pengutusan Nabi Yusuf
Dia adalah salah satu rasul yang tidak termasuk dalam
kelompok Ulul Azmi. Rasulullah memuji beliau dalam sabdanya, "Dia adalah orang yang mulia, anak orang mulia,
cucu orang mulia, dan cicit orang yang mulia: Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin
Ibrahim," (HR. al-Bukhari).
Nabi Yusuf dilahirkan di negeri Kan'an. Dia memiliki
seorang saudara kandung yang bernama Bunyamin dan sepuluh saudara seayah.
Ibunda Yusuf dan Bunyamin lebih dahulu meninggal, sehingga sang ayah sangat
mencintai mereka berdua. Perhatian yang dicurahkan Nabi Ya'qub kepada keduanya
menimbulkan sara iri di hati saudara-saudaranya yang lain. Mereka lantas
merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Yusuf seperti yang tertera dalam
al-Qur'an, "Bunuhlah Yusuf atau buanglah
dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepada kalian, dan setelah
itu kalian menjadi orang yang baik," (QS. Yusuf [12]: 9).
Saudara-saudara Yusuf lalu meminta izin kepada sang
ayah agar dia diizinkan ikut bersama mereka bermain di luar kota. Di sanalah
Yusuf dilempar ke dalam sebuah sumur tua. Hal ini terekam dalam firman Allah, "Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya
kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang
kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada
kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar." Dan Mereka datang
membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Yakub berkata:
"Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk)
itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang
dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." Dan kemudian
datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil
air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini
seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang
dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan," (QS. Yusuf
[12]: 17-19).
Nabi Ya'qub merasa terpukul atas kejadian itu hingga
kedua matanya memutih akibat kesedihan yang mendalam.
Sementara itu, kafilah yang menemukan Yusuf membawanya
ke negeri Mesir lalu menjualnya di pasar budak. Pembesar Mesir kemudian
membelinya dan memberikan Yusuf kepada istrinya yang belum memiliki anak.
Setelah beliau dewasa, Allah memberikannya ilmu dan hikmah di negeri Mesir.
Beliaupun menjadi terkenal dengan kepiawaiannya menakwilkan mimpi dan menjaga
kehormatan diri dari rayuan tuannya.
Pada satu waktu, Nabi Ya'qub mengutus anak-anaknya,
kecuali Bunyamin untuk membeli hasil bumi kepada seorang menteri Mesir, yaitu
Yusuf. Nabi Yusuf meminta mereka agar membawa Bunyamin pada kedatangan
berikutnya. Mereka pun datang ke Mesir untuk yang kedua kalinya bersama
Bunyamin, dan Yusuf telah mengenalinya secara diam-diam. Beliau lantas
memerintahkan para pembantunya untuk meletakkan sukatan di dalam karung
Bunyamin. Bunyamin pun ditahan. Saudara-saudara yang berusaha membebaskannya
namun sia-sia belaka.
Akhirnya mereka pulang tanpa Bunyamin. Ya'qub semakin
sedih dengan hilangnya dua putra beliau. Untuk ketiga kalinya, Nabi Ya'qub
memerintahkan mereka berangkat ke Mesir guna membebaskan Bunyamin. Saat mereka
bertemu, Yusuf memberitahu mereka keadaan yang sebenarnya, sebagaimana yang
tertera dalam firman Allah, "Aku Yusuf dan
ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada
kami" (QS. Yusuf [12]: 90).
Saudara-saudara Yusuf merasa amat bersalah dan
berdosa, tetapi Nabi Yusuf memaafkan mereka. Selain itu, dia memberikan bajunya
agar diserahkan kepada sang ayah. Baju ini sebagai tanda bahwa dia masih hidup.
Setelah mereka bertemu sang ayah, secara bersamaan Nabi Ya'qub telah mencium
bau Yusuf, dan membuat penglihatannya kembali normal. Peristiwa ini sesuai
dengan firman Allah, "Maka tatkala mereka
masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merangkul kedua orang tuanya dan dia berkata:
"Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman."
Dan ia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya)
merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai
ayahku inilah takbir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah
menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik
kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu
dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan
saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia
kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(QS. Yusuf [12]: 99-100).
Penggunaan Dirham
Disebutkan dalam surah Yusuf ayat 20 sebagai berikut, "Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah,
yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada
Yusuf."(QS. Yusuf [12]: 20).
Profesor Bassam Jarrar berkata tentang teks tersebut, "Ayat
ini menunjukkan tingkat peradaban masyarakat Mesir saat itu. Mereka sudah
menggunakan dirham, mata uang perak yang berfungsi sebagai alat tukar dalam
sistem perdagangan. Di sisi lain, kita juga menemukan saudara-saudara Yusuf
yang datang dari desa menawarkan barang-barang untuk membeli bahan makanan.
Allah berfirman, "Yusuf berkata kepada pelayan-pelayannya, 'Masukkanlah
barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka,"
(QS. Yusuf [12]: 62).
Perhatikan juga firman Allah, "Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka
berkata: "Wahai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan
dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka penuhilah jatah
(gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi
balasan kepada orang-orang yang bersedekah". (QS. Yusuf [12]: 88).
Al-Qur'an mengawali kisah Yusuf saat ia masih muda. Ia
bermimpi melihat sebelas planet, matahari, dan bulan bersujud padanya (Yusuf
[12]:4). Mimpi itu ia beritahukan kepada ayahnya, Yaqub yang menyuruhnya agar
tidak memberitahukan mimpi itu kepada saudara-saudaranya yang pencemburu (Yusuf
[12]:5). Yusuf juga merupakan anak yang paling disayangi Yaqub, sehingga
saudaranya merasa cemburu dan mereka merencanakan suatu rencana untuk membuang
Yusuf (Yusuf [12]:8). Saudara-saudara Yusuf meminta izin pada Yaqub untuk
membawa Yusuf pergi bersama mereka, dan mereka diizinkan. Dalam perjalanan,
Yusuf dimasukkan ke dalam sumur dan ditinggal pergi oleh saudara-saudaranya
hingga kemudian ia ditemukan oleh kafilah dagang yang kemudian menjualnya di
Mesir. Orang yang membeli Yusuf adalah Qithfir, seorang raja Mesir yang
mempunyai julukan Al Aziz.
Yusuf didalam Al-Qur'an dikatakan sebagai pria yang
sangat tampan. Pernyataan ini digambarkan ketika Yusuf tumbuh remaja, istri
tuannya yang bernama Zulaikha menggodanya karena tidak bisa menahan daya tarik
ketampanannya dan setiap wanita yang melihatnya pasti terkesima, namun Yusuf
menolaknya (Yusuf [12]:23). Sehingga ia mengancam Yusuf akan dipenjarakan, jika
tidak mengikuti perintahnya (Yusuf [12]:32). Namun, Yusuf tetap teguh dan ia
akhirnya dipenjarakan (Yusuf [12]:33). Yusuf dipenjarakan bersama dua orang
tahanan. Di dalam penjara, mereka mengetahui bahwa Yusuf memiliki kejujuran
yang tinggi dan dapat menafsirkan mimpi (Yusuf [12]:36). Yusuf berhasil dalam
menafsirkan mimpi 2 tahanan lainnya, mimpi mereka adalah bahwa salah satu dari
mereka akan dihukum mati, dan yang lainnya akan dibebaskan dan kembali bekerja
sebagai penuang air minum raja. Maka, Yusuf meminta pada temannya yang akan
dibebaskan untuk mengemukakan masalahnya kepada raja. Namun, ketika dibebaskan,
ia melupakan Yusuf, sehingga ia tetap dipenjara.
Beberapa tahun kemudian, raja bermimpi dan menanyakan
apa artinya. Penuang minuman tersebut akhirnya ingat pada Yusuf, dan ia
menanyakan Yusuf apa arti mimpi raja. Yusuf menafsirkan mimpi raja bahwa akan
terjadi tujuh panen yang berlimpah, kemudian diikuti tujuh panen yang sedikit,
dan kemudian ada tahun yang penuh dengan hujan. Raja yang mendengar tafsir
Yusuf, akhirnya memanggilnya. Namun, sebelumnya Yusuf meminta kepada
orang-orang yang menuduhnya ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Zulaikha
akhirnya mengakui apa yang dilakukannya pada Yusuf. Yusuf akhirnya dibebaskan
dan raja menghendaki ia bekerja untuknya. Yusuf akhirnya meminta agar ia ditugaskan
untuk mengurus hasil bumi di negeri itu.
Selama tahun-tahun yang diramalkan paceklik,
saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk meminta makanan. Mereka
diperbolehkan menghadap Yusuf yang mengenal mereka, namun mereka tidak. Yusuf
meminta mereka jika ingin meminta makanan lagi, mereka diharuskan membawa adik
laki-laki bungsu mereka. Mereka akhirnya membawa adik bungsu mereka pada
pertemuan berikutnya. Pada adik bungsunya itulah, Yusuf mengungkapkan kisahnya
bahwa ia dipelakukan jahat oleh kakak-kakaknya. Yusuf akhirnya bekerja sama
dengan adiknya. Adiknya untuk sementara ditinggal bersamanya. Yusuf
berpura-pura bahwa adiknya ditahan karena mencuri gelas minum raja. Pada saat
itu juga, Yaqub kehilangan penglihatannya karena merasa kehilangan Yusuf dan
saudaranya.
Ketika saudara-saudara Yusuf datang lagi kepadanya,
Yusuf mengungkapkan jati dirinya pada mereka. Saudara-saudara Yusuf akhirnya
meminta maaf atas tindakan mereka. Yusuf kemudian meminta mereka membawakan
bajunya kepada ayahnya dan mengusapkan pada wajah ayahnya untuk memulihkan
penglihatannya dan juga memerintahkan mereka untuk membawa orangtua dan
keluarga mereka ke Mesir. Setelah tiba di Mesir, orang tua dan
saudara-saudaranya bersujud untuk menghormatinya. Yusuf kemudian mengingatkan akan
mimpinya di masa muda yang ditafsirkan oleh ayahnya; sebelas planet, matahari,
dan bulan bersujud padanya.
Diberdayakan oleh Blogger.







