Posted by : Joko
6 Apr 2016
PERANG TABUK

Pada
suatu hari di tahun 9 Hijriyah, kaum Muslimin menerima kabar dari para pedagang
yang kembali dari negeri Syam bahwa pasukan Romawi sedang merencanakan
penyerangan besar-besaran terhadap Islam. Pasukan berjumlah 40.000 personil ini
mendapat dukungan dari orang-orang Arab Nasrani yang berada di bawah kekuasaan
kekaisaran yang berpusat di Konstantinopel itu.
Kekaisaran
Romawi meski menyatakan diri sebagai kerajaan Nasrani, sebenarnya mereka hanya
menjadikan agama sebagai tameng. Mereka mencampur-adukkan agama dengan
paganisme dan berbagai kebathilan lainnya. Mereka tidak menempatkan kekuasaan
dan hukum Allah diatas segalanya. Agama digunakan sebagai alat untuk menjajah
rakyat dan bangsa-bangsa di sekitarnya. Itu sebabnya kemenangan demi kemenangan
yang dicapai Islam di seluruh jazirah Arabia, yang memang telah dikisahkan
dalam Taurat maupun Injil, membuat para penguasa yang haus kekuasaan ini
menjadi ketakutan.
Mendengar
itu, Rasulpun tidak tinggal diam apalagi gentar. Beliau segera menyiapkan
pasukannya yang terdiri atas 30.000 orang untuk menyambut serbuan orang-orang
yang tidak menyukai ajaran yang dibawa Rasulullah dan berkembang amat pesat
tersebut. Secara bergantian, 1 ekor unta untuk 2-3 orang, pasukan bergerak
menuju medan perang. Bahkan karena kekurangan air minum, beberapa untapun
terpaksa disembelih.
Imam
Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya dari Abu Hurairah ra ia berkata: “Pada
waktu perang Tabuk kaum Muslimin mengalami kelaparan sehingga mereka berkata: “Wahai
Rasulullah saw, ijinkanlah kami menyembelih onta-onta kami untuk dimakan.“ Nabi
saw menjawab: “Lakukanlah!“ Tetapi Umar ra datang seraya berkata: “Wahai
Rasulullah saw, kalau mereka menyembelih onta-onta itu niscaya kendaraan kita
berkurang. Tetapi perintahkanlah saja agar mereka mengumpulkan sisa perbekalan
mereka kemudian do‘akanlah semoga Allah memberkatinya.“ Lalu
Nabi saw memerintahkan agar sisa-sisa perbekalan mereka kumpulkan di atas tikar
yang telah digelar. Maka orang-orang pun berdatangan. Ada yang membawa
segenggam gandum dan ada pula yang membawa segenggam kurma, sehingga
terkumpullah perbekalan makanan yang tidak terlalu banyak, kemudian Nabi saw
memohonkan keberkahannya. Setelah itu Nabi saw berkata kepada mereka: “Ambillah
dan penuhilah kantong-kantong makanan kalian!“ Kemudian mereka
pun memenuhi kantong-kantong makanan mereka sampai tidak ada tempat makanan
yang kosong di perkemahan kecuali mereka telah memenuhinya. Mereka juga telah
makan hingga kenyang. Bahkan makanan itu masih tersisa. Kemudian Nabi saw
bersabda: “Aku bersaksi tidak ada Ilah selian Allah dan sesungguhnya aku adalah
Rasul Allah. Seorang hamba yang menghadap Allah dengan dua kalimat tersebut,
tanpa ragu, pasti tidak akan dihalangi masuk surga.“
Perang
ini berlangsung pada bulan Rajab, di puncak musim panas dan ketika orang-orang
menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Pada saat yang sama, musim buah-buahan
Madinah mulai dapat dipanen. Itu sebabnya banyak kaum Muslimin yang enggan
menjalankan ajakan Rasulullah untuk berjihad di jalan Allah. Berbagai alasan
dikemukan. Allah swt mengabadikan bermacam keberatan tersebut dalam
ayat-ayat berikut :
“Diantara mereka ada orang yang berkata:
“Berikanlah saya ijin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan
saya terjerumus ke dalam fitnah.“ Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke
dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang
yang kafir.“ (QS At-Taubah(9): 49).
“ Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut
berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah
saw, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah
dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas
terik ini. …… “ (QS.At- Taubah(9):81).
Sebaliknya
kaum Muslimin dari kalangan sahabat dekat Rasulullah yang selama ini telah
dikenal keimanannya tanpa ragu tetap memperlihatkan kwalitas mereka. Turmidzi
meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari bapaknya, ia berkata:“Aku
pernah mendengar Umar ra berkata: Rasulullah saw memerintahkan kami bersodaqoh
dan kebetulan waktu itu aku sedang punya harta, lalu aku berucap: Sekarang aku
akan mengalahkan Abu Bakar, jika memang aku dapat mengalahkannya pada suatu
hari. Kemudian aku datang kepada Rasulullah saw membawa separuh hartaku. Nabi
saw bertanya kepadaku: “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?“ Kujawab:
“Sebanyak yang kuserahkan.“ Kemudian Abu Bakar ra datang membawa semua
hartanya. Nabi saw bertanya “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk
keluargamu?“ “Allah dan Rasul-Nya.“ Akhirnya aku berkata: “Aku tidak akan dapat
mengalahkannya (dalam perlombaan melaksanakan kebaikan) untuk selama-lamanya”.
Sementara
Ustman ra menyerahkan 300 keping uang sebanyak 1000 dinar yang diletakkan di
kamar Rasulullah saw. Menanggapi ini Rasulullah berujar :“”Tidak
akan membahayakan Ustman apa yang dilakukan sesudahnya.“
Beberapa
orang dari kaum Muslimin yang dikenal dengan panggilan Al-Buka‘un(orang-orang
yang menangis) datang kepada Rasulullah saw meminta kendaraan guna pergi
berjihad bersamanya. Akan tetapi Nabi saw menjawab mereka: “Aku tidak
punya kendaraan lagi untuk membawa kalian.“ Kemudian mereka kembali
dengan meneteskan air mata karena sedih tidak dapat ikut serta berjihad.
Namun
tampaknya ajakan perang kali ini hanya merupakan ujian belaka. Karena setiba di
Tabuk, para hamba Allah ini tidak menemukan pasukan musuh. Demikianlah Sang
Khalik menguji keimanan hamba-Nya.
Bahkan
tak lama kemudian, Yohanna, gurbernur Ailah, datang kepada Nabi saw meminta
diadakan perjanjian damai. Untuk itu menyatakan kesediaannya membayar jizyah.
Demikian pula yang dilakukan penduduk Jarba‘ dan Adzrah. Rasulullahpun menerima
permintaan damai tersebut. Maka dibuatlah surat perjanjian antara ke dua belah
pihak… Allahuakbar ..
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada
Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa
yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama
yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada
mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.(QS.
At-Taubah(9):29).
Setelah
itu Rasulullah dan pasukan kembali ke Madinah dan langsung memasuki masjid
untuk mendirikan shalat 2 raka’at. Nabi saw kemudian duduk dikelilingi para
sahabat, baik yang baru pulang dari perjalanan perang yang baru lalu maupun
yang tidak. pergi
Terhitung
ada sekitar 80 orang yang tidak ikut dalam perang. Di tempat inilah
masing-masing kemudian mengajukan alasan mengapa mereka tidak datang memenuhi
panggilan Rasulullah. Setelah mendengarkan dengan seksama, dengan bijaksana,
Rasulullahpun menerima pernyataan dan alasan mereka. Lalu Rasulullah berdoa dan
memohonkan ampunan Allah swt bagi mereka. Kecuali Ka‘ab bin Malik,
Murarah bin Ar Rabi‘ dan Hilal bin Umaiyah. Rasulullah tidak dapat
menerima alasan ketiganya. Rasulullah hanya berkata bahwa Allah swt sendiri
yang akan memberikan keputusan-Nya.
Ka‘ab
ra dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
mengungkapkan kisahnya sendiri sebagai berikut :
Diantara
kisahku bahwa aku tidak ikut dalam berperang itu. Aku segera memulai persiapan
untuk maju ke medan perang bersama kaum Muslimin, tetapi aku kembali lagi dan
belum mempersiapkan sesuatu, kemudian aku berkata dalam hati: Aku sebenarnya
mampu (ikut ke medan perang). Aku terus berusaha mempersiapkan untuk berangkat
tetapi ternyata aku belum mendapatkan apa-apa untuk berangkat. Ketika kaum
Muslimin sudah berangkat dan berjalan jauh menuju medan perang akupun masih
belum mempersiapkan apa-apa. Lalu aku berkeinginan untuk menyusul mereka andai
aku telah melakukannya tetapi aku pun tidak ditakdirkan untuk itu.
Setelah
Rasulullah saw berangkat, aku keluar menemui orang-orang. Aku sangat sedih
karena aku tidak melihat kecuali orang yang kental sekali kemunafikannya atau
orang lemah yang diberi dispensasi oleh Allah.
Ketika
kudengar Nabi saw telah bergerak pulang, aku merasa gelisah. Terlintas pula
keinginan untuk berbohong demi menyelamatkan diri dari kemarahan beliau nanti!
… Kemudian aku meminta pandangan setiap orang yang pantas memberikan pandangan
dari keluargaku. Ketika diberitahukan bahwa Rasulullah saw telah datang,
hilanglah segala kebathilan dari pikiranku dan aku putuskan untuk berkata jujur
kepada beliau. Aku datang menemui Rasulullah saw seraya mengucapkan salam
kepadanya tetapi beliau tersenyum sinis kemudian berkata: “Kemarilah!“ Setelah
aku dihadapannya, beliau bertanya:“Kenapa
kamu tidak berangkat? Bukankah kamu telah membeli kendaraan?“ Aku
jawab: “Ya, benar!. Demi Allah sekiranya aku sekarang ini berhadapan dengan
orang lain dari penduduk dunia, tentu mudah bagiku mencari alasan untuk
menghindari kemarahannya. Apalagi aku adalah orang ynag pandai berdebat. Demi
Allah aku tahu jika aku hari ini berbicara bohong kepada engkau sehingga engkau
tidak memarahiku, sungguh pasti Allah yang mengetahui kebohongan itu akan
memarahi engkau karena aku. Jika aku berkata jujur kepada engkau niscaya engkau
memarahiku. Namun aku akan tetap berkata jujur demi mengharap ampunan Allah.
Demi Allah, sungguh aku tidak punya halangan (udzur) apa-apa. Demi Allah,
sebenarnya aku saat itu dalam keadaan kuat dan sanggup berangkat ke medan
perang!“.
Rasulullah
saw menyahut: “Ya, itu memang tidak bohong. Pergilah sampai Allah menentukan sendiri
persoalanmu!“. Aku lalu pergi.
Ketika
aku pergi, beberapa orang dari Banu Salmah menyusul dan menyalahkan tindakanku
(karena tidak mengemukakan alasan sebagaimana orang lain). Kutanyakan kepada
mereka: “Apakah ada orang lain yang berbuat sama seperti yang kulakukan?“ Mereka
menjawab: “Ya, ada dua orang, dua-duanya mengatakan kepada Rasulullah saw seperti
yang telah engkau katakan, dan beliau juga mengatakan kepada mereka, seperti
yang beliau katakan kepadamu!“ Aku bertanya lagi: “Siapakah
kedua orang itu?“ Mereka menjawab: “Murarah
bin Ar-Rabi‘ dan Hilal bin Umaiyah.“ Mereka lalu menerangkan bahwa
dua-duanya itu orang shaleh dan pernah ikut perang Badr. Dua-duanya dapat
dijadikan contoh.
Kemudian
Rasulullah saw mencegah kaum Muslimin bercakap-cakap dengan kami bertiga,
sebagai orang yang tidak turut serta berangkat ke medan perang Tabuk. Semua
orang menjauhkan diri dari kami dan berubah sikap terhadap kami, hingga aku
sendiri merasa seolah-olah bumi yang kuinjak bukan bumi yang kukenal.
Keadaan
seperti ini kualami selama lima puluh hari. Dua orang temanku tetap tinggal di
rumah masing-masing dan selalu menangis sedang aku sendiri sebagai orang muda
dan berwatak keras tetap keluar seperti biasa, shalat jama‘ah bersama kaum
Muslimin dan mondar-mandir ke pasar. Selama itu tak seorangpun ynag mengajakku
bercakap-cakap. Akhirnya aku datang menghadap Rasulullah saw, kuucapkan salam
kepadanya saat sedang duduk sehabis shalat. Dalam hati aku bertanya: Apakah
beliau menggerakkan bibir membalas ucapan salamku atau tidak. Kemudian aku
shalat dekat beliau sambil melirik ke arah beliau. Ternyata di saat aku masih
shalat beliau memandangku, tetapi setelah selesai shalat dan aku menoleh
kepadanya, beliau memalingkan muka.
Pada
suatu hari di saat aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba seorang
asing penjaja dagangan yang datang dari Syam bertanya-tanya:“Siapakah
yang dapat membantu saya menunjukkan orang yang bernama Ka‘ab bin Malik?“ Banyak
orang menunjukkannya. Ia kemudian menghampiriku lalu menyerahkan sepucuk surat
kepadaku dari Raja Ghassan. Setelah kubuka ternyata berisi sebagai berikut: “Amma
ba‘du, kudengar bahwa sahabatmu (yakni Rasulullah saw) telah mengucilkan
dirimu. Tuhan tidak akan membuat dirimu hina dan nista. Datanglah kepadaku,
engkau pasti kuterima dengan baik….“
Setelah
kubaca aku berkata: “Ini juga termasuk cobaan!“ Kunyalakan api kemudian
surat itu kubakar.
Setelah
lewat empat puluh hari, datanglah utusan Rasulullah saw kepadaku. Ia berkata: “Rasulullah
saw memerintahkan supaya engkau menjauhkan diri dari istrimu!“ Aku
bertanya: “Apakah ia harus kucerai ataukah bagaimana?“ Ia
menjawab: “Tidak! Engkau harus menjauhinya, tidak boleh mendekatinya!“
Kepada dua orang temanku (yang senasib) Rasulullah saw juga menyampaikan perintah yang sama. Kemudian kukatakan kepada istriku: “Pulanglah engkau kepada keluargamu, dan tetap tinggal di tengah-tengah mereka hingga Allah menetapkan keputusann-Nya mengenai persoalanku!“
Kepada dua orang temanku (yang senasib) Rasulullah saw juga menyampaikan perintah yang sama. Kemudian kukatakan kepada istriku: “Pulanglah engkau kepada keluargamu, dan tetap tinggal di tengah-tengah mereka hingga Allah menetapkan keputusann-Nya mengenai persoalanku!“
Tinggal
sepuluh hari lagi lengkaplah masa waktu lima puluh hari sejak Rasulullah saw
melarang kaum Muslimin bercakap-cakap dengan kami. Tepat pada hari kelima puluh
aku shalat subuh memikirkan keputusan apa yang akan ditetapkan Allah dan Rasul-Nya
atas diriku yang tengah mengalami penderitaan berat ini, hingga bumi yang luas
ini kurasa amat sempit. Tiba-tiba kudengar suara orang berteriak dari bukit: “Hai Ka‘ab
bin Malik, bergembiralah…!“
Seketika
itu juga aku sujud (syukur) karena aku sadar bahwa ampunan Allah telah datang.
…
Setelah mengimami shalat subuh berjama‘ah Rasulullah saw mengumumkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah berfirman berkenan menerima taubat kami. Banyak orang berdatangan memberitahukan kabar gembira itu kepada kami bertiga.
Setelah mengimami shalat subuh berjama‘ah Rasulullah saw mengumumkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah berfirman berkenan menerima taubat kami. Banyak orang berdatangan memberitahukan kabar gembira itu kepada kami bertiga.
Setelah
orang yang kudengar suaranya dari atas bukit itu datang untuk menyampaikan
kabar gembira kepadaku, kulepas dua baju yang sedang kupakai, kemudian
dua-duanya kuberikan kepadanya dengan senang hati. Demi Allah, aku tidak
mempunyai baju selain yang dua itu. Aku berusaha mencari pinjaman baju kepada
orang lain, dan setelah kupakai aku segera pergi menemui Rasulullah saw. Banyak
orang yang menyambut kedatanganku mengucap selamat atas ampunan Allah yang
telah kuterima.
Aku
kemudian masuk ke dalam masjid. Kulihat Rasulullah saw sedang duduk dikelilingi
para sahabatnya. Thalhah bin Ubaidillah berdiri kemudian berjalan
tergopoh-gopoh kepadaku. Selain Thalhah tidak ada orang lain dari kaum
Muhajirin yang berdiri menyambut kedatanganku. Kebaikan Thalhah itu tidak dapat
kulupakan.
Setelah
aku mengucapkan salam kepada Rasulullah saw , beliau dengan wajah berseri-seri
kegirangan berkata: “Gembiralah menyambut hari baik yang belum pernah engkau alami sejak
lahir dari kandungan ibumu!“ Aku bertanya: “Apakah
itu dari anda sendiri, wahai Rasulullah? Ataukah dari Allah?“ Beliau
menjawab:“Bukan dari aku, melainkan dari Allah.“
Kemudian
aku berkata: “Wahai Rasulullah saw, sebagai tanda taubatku, aku hendak menyerahkan
seluruh harta bendaku kepada Allah dan Rasul-Nya.“ Tetapi
beliau menjawab: “Lebih baik engkau ambil sebagian dari hartamu itu!“.
Selanjutnya
kukatakan kepada beliau: “Wahai
Rasulullah, Allah telah menyelamatkan diriku karena aku berkata benar. Setelah
aku bertaubat, selama sisa umurku aku tidak akan berkata selain yang benar!“
Kemudian
turunlah firman Allah kepada Rasul-Nya :
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi,
orang-orang Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan,
setelah hati segolongan dari mereka nyaris berpaling (tergelincir), namun
kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesunguhnya Allah Mahaya Penyayang
terhadap mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan
taubatnya) sehingga bumi yang luas ini mereka rasakan amat sempit, dan jiwa
mereka pun dirasa sempit oleh mereka, kemudian mereka menyadari bahwa tidak ada
temapt lari dari (siksaan) Allah selain kepada-Nya, kemudian Allah menerima
taubat mereka agar mereka tetap bertaubat. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hari orang-orang yang beriman, tetapi
bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang selalu
benar“.(QS At-Taubah(9):117-119).
Sementara
itu, semenjak kepulangan Rasullullah dan pasukan Muslim dari perang Tabuk,
Rasulullah menerima sejumlah utusan yang datang berduyun-duyun menyatakan
ke-Islaman mereka. Sebaliknya, Rasulullah juga aktif mengirim beberapa utusan
untuk memperkenalkan Islam. Diantaranya yaitu Khalid bin Walid yang dikirim ke
Najran, Ali bin Abi Thalib ra yang dikirim ke Yaman dan Abu Musa Al-Asy’ari
serta Mu’adz bin Jabal ke pelosok Yaman.
Dalam
kesempatan tersebut, Rasulullah berwasiat, “ Permudah
dan jangan mempersulit ! Gemarkan dan jangan membuat orang lari, berusahalah
dengan penuh keikhlasan dan kekuatan!”
Wallahu’alam
bish shawwab.
Diberdayakan oleh Blogger.







