Posted by : Joko
2 Apr 2016
Miraj Nabi dan Turunnya
Perintah Shalat
Diriwayatkan
dari Anas bin Malik:
Malik bin
Sha’sha’ah berkata bahwa Rasulullah Saw mendeskripsikan kepada mereka perihal
perjalanan malamnya (dengan berkata) : “pada saat aku berbaring di Al – Hathim
atau Al – Hijr, tiba-tiba seseorang datang dan membelah tubuhku dari sini
kesini”. Perawi hadis ini berkata, “yaitu mulai dari daerah kerongkongan hingga
di sekitar pinggang Nabi Saw”. (lebih jauh Nabi Saw bersabda), “kemudian ia
mengambil jantungku. Sebuah nampan emas penuh dengan keimanan dibawa ke hadapanku.
Kemudian jantungku dicuci dan diisi (dengan iman) lalu dikembalikan ke
tempatnya. Kemudian seekor binatang putih yang lebih kecil dari seekor baghal dan lebih besar dari
seekor keledai dibawa ke hadapanku”. Perawi hadis ini berkata, “itu adalah
Buraq”.
Kemudian
Nabi Saw bersabda, “Langkah yang diayunkan hewan itu (sedemikian lebarnya)
hingga dapat mencapai sebuah tempat yang lebih jauh dari jangkauan
pandangannya. Aku mengendarai binatang itu ditemani Jibril hingga tiba di
langit terdekat. Ketika ia meminta pintu langit dibuka, penjaganya bertanya,
‘siapa?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ia bertanya, ‘siapa yang bersamamu?’ Jibril
menjawab, ‘Muhammad’. Ia bertanya lagi, ‘apakah Muhammad dipanggil?’ Jibril
membenarkan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘selamat datang. Sungguh kunjungan
yang menyenangkan.’
Pintu langit
dibuka dan kulihat disana Adam. Jibril berkata, ‘ini adalah ayahmu, Adam.
Berilah ia salam’. Maka aku memberikan salam dan ia membalas salamku dan
berkata, ‘selamat datang wahai anak yang saleh dan Nabi yang saleh’. Lalu aku
dan Jibril naik ke langit kedua. Jibril meminta pintu langit dibuka. Penjaganya
bertanya, ‘siapa?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ia bertanya, ‘siapa yang
bersamamu?’ Jibril berkata, ‘Muhammad’. Ditanyakan kepadanya, ‘apakah Muhammad
dipanggil?’ Jibril membenarkan. Ia berkata, ‘selamat datang, sungguh kunjungan
yang menyenangkan.’ Pintu terbuka.
Saat
kumasuki langit kedua, disana kulihat Yahya dan Isa; keduanya adalah saudara
sepupu. Jibril berkata, ‘ini adalah Yahya dan Isa. Berilah mereka salam’. Maka
aku member mereka berdua salam dan mereka menjawab salamku seraya berkata,
‘selamat datang wahai saudara yang shaleh dan Nabi yang shaleh’.
Kemudian aku
dan Jibril naik ke langit ketiga dan minta pintu langit dibuka. Penjaganya bertanya,
‘siapa?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ia bertanya, ‘siapa yang bersamamu?’ Jibril
berkata, ‘Muhammad’. Ditanyakan kepadanya, ‘apakah Muhammad dipanggil?’ Jibril
membenarkan. Ia berkata, ‘selamat datang, sungguh kunjungan yang menyenangkan.’
Pintu terbuka. Dan ketika kumasuki pintu langit ketiga, disana kulihat Yusuf.
Jibril berkata, ‘ini adalah Yusuf. Berilah ia salam’. Maka aku memberi ia salam
dan ia membalas salamku seraya berkata, ‘selamat datang wahai saudara yang
shaleh dan Nabi yang shaleh’.
Kemudian aku
dan Jibril naik ke langit keempat dan minta pintu langit dibuka. Penjaganya
bertanya, ‘siapa?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ia bertanya, ‘siapa yang
bersamamu?’ Jibril berkata, ‘Muhammad’. Ditanyakan kepadanya, ‘apakah Muhammad
dipanggil?’ Jibril membenarkan. Ia berkata, ‘selamat datang, sungguh kunjungan
yang menyenangkan.’ Pintu terbuka. Dan ketika kumasuki pintu langit keempat,
disana kulihat Idris. Jibril berkata, ‘ini adalah Idris. Berilah ia salam’.
Maka aku memberi ia salam dan ia membalas salamku seraya berkata, ‘selamat
datang wahai saudara yang shaleh dan Nabi yang shaleh’.
Kemudian aku
dan Jibril naik ke langit kelima dan minta pintu langit dibuka. Penjaganya
bertanya, ‘siapa?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ia bertanya, ‘siapa yang
bersamamu?’ Jibril berkata, ‘Muhammad’. Ditanyakan kepadanya, ‘apakah Muhammad
dipanggil?’ Jibril membenarkan. Ia berkata, ‘selamat datang, sungguh kunjungan
yang menyenangkan.’ Pintu terbuka. Dan ketika kumasuki pintu langit kelima,
disana kulihat Harun. Jibril berkata, ‘ini adalah Harun. Berilah ia salam’.
Maka aku memberi ia salam dan ia membalas salamku seraya berkata, ‘selamat
datang wahai saudara yang shaleh dan Nabi yang shaleh’.
Kemudian aku
dan Jibril naik ke langit keenam dan minta pintu langit dibuka. Penjaganya
bertanya, ‘siapa?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ia bertanya, ‘siapa yang
bersamamu?’ Jibril berkata, ‘Muhammad’. Ditanyakan kepadanya, ‘apakah Muhammad
dipanggil?’ Jibril membenarkan. Ia berkata, ‘selamat datang, sungguh kunjungan
yang menyenangkan.’ Pintu terbuka. Dan ketika kumasuki pintu langit keenam,
disana kulihat Musa. Jibril berkata, ‘ini adalah Musa. Berilah ia salam’. Maka
aku memberi ia salam dan ia membalas salamku seraya berkata, ‘selamat datang
wahai saudara yang shaleh dan Nabi yang shaleh’.
Ketika
kutinggalkan, ia (Musa) menangis. Seseorang bertanya kepadanya, ‘mengapa kamu
menangis?’ Musa berkata, ‘aku menangis karena setelah aku, Allah mengutus
seorang Rasul (Muhammad Saw) yang jumlah pengikutnya yang masuk surga jauh
lebih besar daripada jumlah pengikutku.
Kemudian aku
dan Jibril naik ke langit ketujuh dan minta pintu langit dibuka. Penjaganya
bertanya, ‘siapa?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ia bertanya, ‘siapa yang
bersamamu?’ Jibril berkata, ‘Muhammad’. Ditanyakan kepadanya, ‘apakah Muhammad
dipanggil?’ Jibril membenarkan. Ia berkata, ‘selamat datang, sungguh kunjungan
yang menyenangkan.’ Pintu terbuka. Dan ketika kumasuki pintu langit ketujuh,
disana kulihat Ibrahim. Jibril berkata, ‘ini adalah ayahmu, Ibrahim. Berilah ia
salam’. Maka aku memberi ia salam dan ia membalas salamku seraya berkata,
‘selamat datang wahai saudara yang shaleh dan Nabi yang shaleh’.
Kemudian aku
naik ke Sidrat al-Muntaha. Wahai ! buah-buahannya bagaikan pundi-pundi Hajar.
Daun-daunnya lebar nian, selebar telinga gajah. Wahai ! ada empat sungai
mengalir disana, dua tersembunyi dan dua jelas tertangkap pelupuk mata. Aku
bertanya, ‘sungai-sungai apa ini Jibril?’ Jibril berkata, ‘dua sungai yang
tersembunyi adalah sungai-sungai surga, dan dua yang terlihat adalah Nil dan
Eufrat’.
Lalu Bait
Al-Ma’mur diperlihatkan kepadaku. Tujuh puluh ribu malaikat masuk kedalamnya
setiap hari. Kemudian bejana-bejana berisi khamar, susu dan madu dibawa
kehadapanku. Aku memilih bejana berisi susu. Jibril berkata, ‘ini adalah agama
islam yang akan diikuti olehmu dan pengikutmu’. Kemudian perintah shalat
diberikan kepadaku: lima puluh waktu dalam sehari semalam.
Ketika aku
kembali, aku bertemu Musa yang bertanya, ‘apa yang diperintahkan Tuhanmu
kepadamu?’ aku berkata, ‘aku diperintahkan mengerjakan shalat lima puluh waktu
sehari semalam’. Musa berkata, ‘umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Demi
Allah, aku pernah mencobakannya kepada orang-orang sebelummu dan aku pernah
mencobakannya kepada orang-orang terbaik dari Bani Israil. Kembalilah kepada
Tuhanmu, mintalah kepada-Nya keringanan’.
Maka aku pun
kembali dan Allah mengurangi perintah shalat hingga sepuluh waktu dari
sebelumnya. Kemudian aku bertemu Musa dan ia mengatakan hal yang sama seperti
yang ia katakana sebelumnya. Aku kembali menemui Allah dan meminta
menguranginya sepuluh waktu lagi. Aku bertemu Musa lagi dan kembali ia
mengatakan kepadaku apa yang ia katakan sebelumnya. Aku pun menemui Allah dan
meminta menguranginya sepuluh (waktu) sehari semalam. Ketika aku kembali, aku
bertemu Musa yang memberiku nasihat yang sama. Maka aku pun kembali menemui
Allah dan Dia memberikan perintah mengerjakan shalat lima (waktu) sehari
semalam. Ketika aku kembali, aku bertemu Musa dan ia berkata, ‘Bagaimana?’ aku
berkata, ‘aku diperintahkan mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam’. Ia
berkata, ‘umatmu tidak akan sanggup, dan sesungguhnya aku belajar dari
pengalaman orang-orang sebelummu, dan aku telah mencobakannya pada orang-orang
terbaik dari Bani Israil, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah
kepada-Nya keringanan untuk umatmu’. Aku berkata, ‘aku telah meminta terlalu
banyak dari Tuhanku dan itu membuatku malu tetapi aku rasa sekarang aku merasa
gembira dan berserah diri kepada perintah Allah’. Ketika aku pergi, aku mendengar
sebuah suara berkata, ‘Aku telah memberikan perintah-Ku dan telah mengurangi
beban para hamba-Ku’.
Diberdayakan oleh Blogger.







