Posted by : Joko
8 Apr 2016
Sahabat dunia islam, siapa yang tidak
sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadist yang biasa kita
kenal adalah Abu Hurairah, Dalam Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muhammad Khalid ketika menarasikan biografinya Abu Hurairah,
tidak ketinggalan pula menelusuri rahasia di balik kelebihan Abu
Hurairah dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah ketimbang
sahabat-sahab lainnya dalam sisi produktivitas meriwayatkan hadits.
Sahabat Nabi yang masuk Islam pada tahun
ketujuh setelah Hijrah ini memang dikenal sebagai sahabat yang paling
banyak meriwayatkan hadits. Padahal terhitung sejak Abu Hurairah
berbaiat masuk Islam di hadapan Nabi sampai wafatnya hanya menjumpai
waktu kurang lebih empat tahun. Artinya dapat dikatakan Abu Hurairah
bukan termasuk golongan sahabat yang masuk Islam pada periode awal. Tapi
kenapa sebagai mukharrij awwal (perawi pertama) Abu Hurairah
secara kuantitatif (jumlah) hadits yang diriwayatkannya lebih banyak
melebihi para sahabat lain yang notabene jauh lebih lama menjumpai dan
mendampingi Nabi.
Ternyata sebagai sahabat yang masuk
Islamnya tidak pada periode awal Islam, dia menyadari bahwa dirinya
memang termasuk orang yang masuk Islam belakangan. Kenyataan demikian
membuat Abu Hurairah bertekad untuk mengejar ketertinggalannya, dengan
cara mengikuti Rasul terus-menerus dan secara konsisten mengikuti
majelisnya.
“Ketahuilah bahwa sahabat-sahabatku
orang-orang Muhajirin itu sibuk dengan perdagangan mereka di
pasar-pasar. Sedangkan sahabat-sahabatku orang-orang Anshar sibuk dengan
tanah pertanian mereka. Sedangkan aku adalah seorang miskin yang paling
banyak menyertai majelis Rasulullah, maka aku hadir saat yang lain
absen,” ujar Abu Hurairah menjelaskan.
Dengan kata lain, meski Abu Hurairah
mendampingi dan menjumpai Nabi hanya sekitar empat tahun, tapi dalam
tempo yang pendek tersebut dia benar-benar fokus menyertai Nabi. Selama
rentang waktu itu, dia tidak memiliki kegiatan sampingan lain semisal
berdagang atau bertani. Sementara sebagian sahabat lain, di samping
menghadiri majelis Nabi, tapi umumnya juga masih memiliki kesibukan
lain.
Bila kita analogikan pada konteks
sekarang pun pernyataan Abu Hurairah di atas masih sangat relevan. Meski
sama-sama belajar ilmu agama Islam, apakah hasilnya sama antara anak
yang belajar mengikuti pendidikan di Pondok Pesanren secara reguler
dengan anak yang cuma belajar di pesantren kilat. Walaupun keduanya
sama-sama memperoleh ilmu, namun jelas lulusan yang dihasilkan jauh
berbeda.
Begitu pula di pendidikan formal,
kendati sama-sama kuliah dan dapat ijazah misalnya, apakah sama antara
mahasiswa yang kuliah di kelas reguler dan mengikuti alur akademik
sebagaimana mestinya dibandingkan dengan mahasiswa yang mengambil jalur
khusus dengan beban belajar yang jauh lebih ringan. Tentu secara mutu
dan kualitas alumninya tidak sama.
Hujjah selanjutnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah
berbicara kepada para shahabat pada suatu hari, “Siapa yang
membentangkan sorbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia
meraihnya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah
didengarnya dariku,” demikin Nabi bersabda.
“Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau
berbicara padaku, kemudian kuraih kain itu, dan demi Allah tak ada satu
pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar dari Nabi”, terang
Abu Hurairah.
Berkah doa Nabi tersebut kepada Abu
Hurairah, didukung pula sebelumnya Abu Hurairah secara pembawaan memang
sudah mempunyai daya ingat yang kuat dan mahir dalam menghafal.
Dan alasan ketiga adalah adanya
kesadaran dan rasa kewajiban pada diri Abu Hurairah untuk menyampaikan
apa yang telah diperolehnya dari Rasulullah kepada umat Islam yang belum
mengetahuinya. Dalam hal ini Abu Hurairah menyatakan, demi Allah kalau
tidaklah karena ada ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan soal
kewajiban ini, niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikitpun.
Ayat yang dimaksud adalah:
Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa
keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah kami nyatakan kepada manusia
di dalam kitab mereka. Itulah yang dikutuk oleh allah dan dikituk oleh
para pengutuk (Al-Baqarah: 159)
Dengan demikian sebagai kesimpulan, menurut hemat kami, setidaknya ada Tiga Alasan Mengapa Abu Hurairah Terbanyak Meriwayatkan Hadits argumen ini menguatkan sahabat Abu Hurairah kenapa dia seorang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.
Pertama, karena Abu Hurairah meluangkan waktu untuk menyertai Nabi Muhammad jauh lebih banyak daripada para sahabat lainnya.
Kedua, karena ia memiliki daya ingatan
yang kuat, yang telah diberi berkat doa oleh Rasulullah hingga daya
ingatnya menjadi semakin kuat.
Ketiga, ia menceritakan hadits bukan
karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan
hadita-hadits merupakan tanggungjawabnya terhadap agama dan hidupnya.
Diberdayakan oleh Blogger.







