Posted by : Joko
23 Mar 2016
Kisah Sahabat Nabi: Abdurrahman bin Auf, "Manusia
Bertangan Emas"
Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khathab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.
Pada masa
Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah
memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah
menjadikan rumah Al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari
Allah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam.
Seperti kaum
Muslimin yang pertama-tama masuk Islam lainnya, Abdurrahman bin Auf tidak luput
dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Namun ia tetap sabar dan
tabah. Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah bersama kawan-kawan seiman untuk
menyelamatkan diri dan agama dari tekanan Quraiys.
Tatkala
Rasulullah SAW dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman
menjadi pelopor kaum Muslimin. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini,
Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin
Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.
Sa'ad
termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah, ia berniat membantu saudaranya
dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata,
"Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!"
Sa'ad
kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman
berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan
uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata,
"Saya ingin menikah, ya Rasulullah," katanya.
"Apa
mahar yang akan kau berikan pada istrimu?" tanya Rasul SAW.
"Emas
seberat biji kurma," jawabnya.
Rasulullah
bersabda, "Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan
menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan
hartamu."
Sejak itulah
kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu,
maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan
Allah kepadanya sampai ia dijuluki 'Sahabat Bertangan Emas'.
Pada saat
Perang Badar meletus, Abdurrahman bin Auf turut berjihad fi sabilillah.
Dalam perang itu ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, di antaranya Umar
bin Utsman bin Ka'ab At-Taimy. Begitu juga dalam Perang Uhud, dia tetap
bertahan di samping Rasulullah ketika tentara Muslimin banyak yang meninggalkan
medan perang.
Abdurrahman
bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak
segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang
Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda
mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi SAW. Ia
memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah
emas.
Mengetahui
hal tersebut, Umar bin Al-Khathab berbisik kepada Rasulullah, "Sepertinya
Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk
keluarganya."
Rasulullah
bertanya kepada Abdurrahman, "Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk
istrimu?"
"Ya,"
jawabnya. "Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang
kusumbangkan."
"Berapa?"
tanya Rasulullah.
"Sebanyak
rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah."
Pasukan
Muslimin berangkat ke Tabuk. Dalam kesempatan inilah Allah memuliakan
Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Ketika
waktu shalat tiba, Rasulullah terlambat datang. Maka Abdurrahman bin Auf yang
menjadi imam shalat berjamaah. Setelah hampir selesai rakaat pertama,
Rasulullah tiba, lalu shalat di belakangnya dan mengikuti sebagai makmum. Sungguh
tak ada yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan
pemimpin para nabi, yaitu Muhammad SAW.
Setelah
Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan
keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung
jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu
mulia itu bila mereka bepergian.
Suatu ketika
Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani
Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan
kepadanya, ia bertanya, "Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?"
"Abdurrahman
bin Auf," jawab si petugas.
Aisyah
berkata, "Rasulullah pernah bersabda, 'Tidak ada orang yang kasihan kepada
kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar."
Begitulah,
doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa
melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para
sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia
peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan
Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk
konglomerat terbesar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang
dipenuhi iman dan takwa.
Berbahagialah
Abdurrahman bin Auf dengan limpahan karunia dan kebahagiaan yang diberikan
Allah kepadanya. Ketika meninggal dunia, jenazahnya diiringi oleh para sahabat
mulia seperti Sa'ad bin Abi Waqqash dan yang lain. Dalam kata sambutannya,
Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, "Engkau telah mendapatkan kasih
sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah
selalu merahmatimu." Amin.
Diberdayakan oleh Blogger.







